Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
NILAI PLUS.


__ADS_3

Di kediaman keluarga Billi.


Risa teringat akan pesan dari orang tuanya. Lalu Risa terbangun dari tidurnya. Ia segera menarik kopernya dan membereskan seluruh pakaiannya. Hari ini Risa akan pergi ke Jepang untuk melakukan misi yang sudah diberikan oleh mereka. Dengan hati senang Risa bernyanyi-nyanyi agar moodnya baik sepanjang hari.


"Rasanya gue pengen masuk ke dalam perusahaan gede itu. Kanata's Groups. Perusahaan terbesar di dunia yang menaungi seluruh onderdil hingga pembuatan mobil terbesar di dunia. Rasanya kalau masuk ke sana Gue sangat beruntung sekali. Cepat atau lambat gue akan mengeruk semua aset di sana. Enak saja bapak ibuku dipecat tanpa hormat. Lalu perusahaannya diinjak-injak seperti ini. Gue akan berbuat sesuatu agar orang tua bangga," ucap Risa dalam hati dengan wajah sinis.


Di dapur Fatin tidak memasak apapun. Ia lebih memilih bersantai ketimbang meladeni wanita ular itu. Lebih baik dirinya menjadi ratu ketimbang menjadi pembantu. Lalu bagaimana dengan anaknya Risa? Fatin berharap Risa pergi secepatnya dari rumah ini. Wanita paruh baya itu pun merencanakan akan menaruh putrinya Risa di panti asuhan.


Jujur Fatin tidak menyukai anak itu. Bahkan Fatin berusaha untuk melenyapkannya. Namun Billi menolaknya dengan keras. Ia lebih memutuskan untuk menaruhnya di panti asuhan. Memang mereka adalah keluarga yang tidak punya hati dan sangat jahat sekali. Untung saja Sascha tidak menjadi bagian dari keluarga itu.


"Kapan ya itu Risa pergi dari sini? Tiap malam selalu buatin susu buat tuyulnya itu. Seenaknya gue dijadikan pembantu?" geram Fatin sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kalau bisa sekarang aja Bu. Aku juga sudah muak dengan Risa. Lebih baik kita lakukan malam nanti. Biasanya aku tidur nyenyak nggak bisa tidur," keluh Billi.


"Ide lu bagus juga," ucap Fatin sambil tertawa.


Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya datang menghampirinya. Pria itu menghempaskan bokongnya sambil menatap Fatin dan Billi. Sebelum mengeluarkan suaranya datanglah Risa. Risa memutuskan untuk berpamitan dan memberinya wewenang untuk bayinya itu.


Dengan lantang Fatin mengucapkan kata-kata yaitu ingin menaruh bayinya Risa di panti asuhan. Risa pun menyetujuinya karena dirinya juga kesulitan mengurusnya. Sesuai kesepakatan yang sah Risa akhirnya pergi meninggalkan keluarga itu.


Melihat kepergian Risa, Fatin tersenyum bahagia. Dirinya sudah tidak ada lagi yang menindasnya. Dalam waktu dekat Fatin akan mencari korban untuk dieksekusi.

__ADS_1


"Kalau lu nggak bisa mendapatkan Sascha lagi, lu cari yang lain saja. Masih banyak kok perempuan-perempuan seperti itu," ujar Fatin yang membuat Billi tersenyum kemenangan.


"Tapi ma, Aku tidak akan melepaskan Sascha begitu saja. Mau tidak mau aku akan membuatnya menderita begitu juga dengan Dewa. Itulah sumpahku!" Billi bersumpah akan menyakiti Sascha dan Dewa.


"Bagus itu. Jangan sampai dilepaskan. Kalau perlu Mama juga ikut-ikutan menyiksa mereka," sahut Fatin.


"Oh ya ada kabar bagus. Putra kita Anton akan segera keluar dari penjara. Kita bisa mengajak Anton untuk melancarkan aksi Billi," seru Firly.


Mendengar nama Anton, Fatin dan Billi tersenyum lebar. Mereka akan mengajak kerjasama untuk menghabisi Sascha. Fatin sudah tidak sabar menanti kedatangan putra pertamanya itu.


"Kalau begitu biarkan aku yang menyusulnya. Aku sangat merindukan kakakku itu. Aku tahu kak Anton sangat marah sekali kepada Dewa. Gara-gara dia kak Anton masuk penjara. Aku akan berusaha membujuknya untuk membuat rencana agar menghabisi Dewa," kata Billi sambil menerima acungan jempol dari kedua orang tuanya itu.


"Iya sana sudah... Susul segera kakakmu itu. Jangan biarkan kakakmu menjadi orang baik. Kamu harus bisa mempengaruhinya menjadi jahat dan balas dendam," suruh Fatin dengan semangat.


Setelah lepas landas dari bandara, Sascha menatap awan-awan yang mendekati pesawatnya itu. Hatinya bahagia karena hari ini adalah hari pertama melakukan perjalanan bulan madu bersama orang tercintanya. Sambil meraih biskuit Sascha memakannya dan menatap Dewa.


"Sepertinya aku ingin berjalan-jalan di kawasan Labuan Bajo," ucap Sascha.


"Kamu tahu di Labuan Bajo ada sirkuit Mandalika. Aku ingin ke sana dan melakukan balapan. Kemungkinan besar anak-anak akan menyusul ke sana. Kalau nggak salah tiga hari atau empat hari sesudahnya," sahut Dewa yang membuat Sascha ingin ikut balapan.


"Kalau begitu aku juga ikut. Aku ingin balapan bersama mereka," seru Sascha.

__ADS_1


Dewa hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat sang istri ingin ikut balapan juga. Bagaimana bisa sang istri juga ikut-ikutan melakukan kompetisi pria itu? Seharusnya istrinya itu diam dan melihat mereka balapan. Namun Sascha bersikeras untuk tetap ikut.


"Kalau nggak boleh ikut balapan, aku akan demo ke Papa Devan. Aku ingin bilang ke papa kalau kamu melarangku balapan. Bagaimana kak Dewa?" tanya saja sambil tersenyum miring.


"Astaga, apa-apaan ini! Kamu kan perempuan. Nggak boleh ikutan balapan seperti ini. Sebaiknya kamu bersama Dita membeli boneka sana," gerutu Dewa dengan kesal.


"Menikah nggak menikah pun sama.Sascha yang dulu sama Sascha yang sekarang juga masih sama. Biarkanlah aku ikut balapan. Sudah hampir setahun aku tidak ikut balapan sama sekali," ujar Sascha. "Rasanya kalau ingin balapan ingat-ingat Mas Kobe. Apakah Mas kopi mau ikutan balapan juga?"


"Tidak boleh!" tegas Dewa sambil menekan suaranya.


"Ayolah... Atau kamu tidak akan mendapatkan jatah selama seminggu," ancam Sascha.


"Kalau begitu baiklah. Aku tidak akan melarangmu lagi. Kalau sudah begini habislah aku," keluh Dewa.


Sepanjang perjalanan Dewa sudah tidak ingin berdebat. Karena setiap berdebat pun dirinya akan kalah. Memang betul apa yang dikatakan setiap pria. Kalau wanita itu selalu menang walaupun salah.


"Memang betul apa yang dikatakan oleh Bima dan lainnya. Kalau kaum perempuan itu ingin menang sendiri. Maka kaum laki-laki selalu teraniaya. Meskipun begitu aku harus menjinakkan wanitaku ini," ucap dewa dalam hati yang dibaca oleh Sascha.


"Kamu nggak perlu menyesal seperti itu. Memang sudah menjadi kodratnya kalau wanita itu selalu menang. Tapi kamu harus bersyukur. Kalau tidak ada wanita Bagaimana kamu bisa hidup?" tanya Sascha. "Begitu juga dengan aku. Aku juga merasa tidak ada pria pun, diriku tidak bisa hidup. Jadinya kita adalah simbiosis mutualisme. Yang artinya kita memiliki hubungan saling menguntungkan. Kamu yang untung aku juga yang untung. Jika tidak maka kamu akan susah. Lalu siapa yang akan merawatmu kelak?"


Sascha bisa saja membuat Dewa tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Kaum pria dan wanita saling berhubungan. Ditambah lagi jika sudah terikat dalam janji suci, jiwa mereka bisa menyatu.

__ADS_1


"Ada benarnya juga kamu mengeluarkan petuah tersebut pada pagi-pagi begini. Jujur aku sangat bangga sekali kepadamu. Kalau begitu kamu mendapatkan nilai plus dariku," puji Dewa.


"Nilai plus apa?" tanya Sascha.


__ADS_2