
Terpaksa Kinanti membukakan pintu tersebut. Dengan nada ketusnya Kinanti menyapa Pak Andika.
"Ada apa sih Pak? Gangguin aja," ketus Kinanti.
"Dicari sama Pak Darto di depan sana. Dipanggil-panggil malah nggak ada suara," kesal Pak Andika segera berlalu meninggalkan Kinanti.
Kinanti semakin semangat karena kedatangan pelanggannya. Ia bergegas menuju ke depan sambil menyapa Pak Darto dengan nada lembut.
"Selamat pagi Pak Darto," sapa Kinanti dengan lembut sambil sedikit mendesah.
"Pagi-pagi sudah mendesah seperti ini. Apakah kamu ingin melakukannya?" goda Pak Darto.
"Nanti siangan pak, nanti aku susul ke kantor," goda Kinanti balik.
Tidak sengaja bu Nirmala melihat kedatangan Pak Darto. Matanya membulat sempurna dan membuat jantung Bu Nirmala semakin berdetak.
Cepat-cepat Bu Nirmala masuk ke dalam sambil menentralkan perasaannya. Lalu wanita paruh baya itu menghembuskan nafasnya secara kasar.
Jujur saja Bu Nirmala sangat terkejut ketika juragan bawang itu datang. Dirinya tidak menyangka kalau Sang Putri sangat akrab sekali dengan juragan itu. Kemudian Bu Nirmala menatap wajah Pak Andika dengan pucat.
"Pak," sapa Bu Nirmala.
"Ada apa Bu?" tanya Pak Andika.
"Kinanti, bisa-bisanya juragan bawang itu ke sini hanya demi mencari Kinanti. Perasaan Ibu tidak enak sama sekali. Kenapa Kinanti bisa bersama dengan Pak Darto?" tanya Bu Nirmala balik.
"Bapak nggak tahu apa-apa soal itu. Yang pastinya Pak Darto hanya bilang ingin bertemu Kinanti," jawab Pak Andika.
"Pertemuan ini tidak baik dilihat oleh tetangga. Karena Pak Darto sudah memiliki lima istri. Sedangkan Kinanti sedang mengandung. Jika warga mengamuk, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Bu Nirmala dengan sendu.
"Begitu juga dengan bapak. Bapak ndak habis pikir, Kenapa Kinanti mau berteman dengan bapak-bapak seperti itu," ujar Pak Andika dengan sendu.
__ADS_1
"Kita harus bagaimana Pak?" tanya Bu Nirmala.
"Entahlah. Bapak sudah nggak tahu apa lagi. Bapak rindu sama Sascha," jawab Pak Andika.
"Apakah Sascha kembali ke sini?" tanya Bu Nirmala dengan gusar.
"Bapak nggak boleh mengharapkan terlalu jauh. Karena Sascha sudah memiliki keluarga baru," jawab Pak Andika. "Apalagi keluarganya itu adalah keluarga yang berpengaruh di dunia ini."
Bu Nirmala tampak sedih dan kecewa atas perkataan Pak Andika. Mau bagaimana lagi? Sascha harus kembali ke keluarganya. Sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ahli waris sesungguhnya dari Khans Company.
Jakarta Indonesia.
Sascha sedang sibuk mengerjakan tugas-tugasnya mendadak mendapat ide. Ia mendapat bisikan kalau dirinya harus mengecek rekening keuangan perusahaan.
Sascha akhirnya masuk ke dalam ruangan Eric. Ketika masuk ada Dewa dan Bima berada di sana. Terpaksa Sascha mengurungkan niatnya untuk meminta izin memeriksa rekening perusahaan.
Melihat kedatangan Sascha, Dewa memandang wajah Sascha dengan tersenyum. Lalu Bima yang berada di sampingnya langsung memukul Dewa agar segera sadar. Untung saja hari ini mood Dewa sangat baik sekali. Jadi siang-siang begini Dewa masih bisa diajak bercanda.
"Ada apa Sa?" tanya Dewa.
"Enggak... Kami hanya berkumpul di sini saja," jawab Bima. "Memangnya ada apa?"
Sementara Eric yang sedang sibuk mengangkat kepalanya. Ia melihat Sascha sambil bertanya, "Apa yang bisa aku bantu?"
"Bolehkah aku mengecek tentang rekening perusahaan ini?" tanya Sascha yang meminta izin untuk mengetahui isi rekening perusahaan ini.
"Boleh saja. Kalau gitu lakukanlah. Dengan itu kita bisa mendapatkan sebuah informasi tentang pencurian uang tiga miliar itu," jawab Dewa yang memberikan izin terlebih dahulu.
"Baiklah kalau begitu. Aku undur diri dulu," pamit Sascha.
Setelah itu Sascha langsung berseluncur ke dunia perbankan. Ia segera mengecek satu persatu pengeluaran dan pemasukan selama tiga bulan terakhir ini.
__ADS_1
Dua jam berlalu. Ada seorang pria sambil membawa paperbag mendekati Sascha. Ia menaruh paperbag itu di atas meja. Matanya tertuju pada Sascha yang tersenyum manis. Kemudian pria itu menghempaskan bokongnya di hadapan Sascha.
"Apakah sudah ketemu?" tanya pria itu.
"Kak Leo?" pekik Sascha.
"Iya ini aku. Maaf, seharusnya kemarin aku pulang. Tapi aku harus menunda perjalananku. Di sana masih ada satu kendala teknis lagi. Mau tidak mau aku harus turun tangan terlebih dahulu. Oh iya... Aku rasa yang mengambil uangnya adalah orang dalam. Seluruh sistem yang aku pakai tidak bisa dipecahkan kodenya oleh siapapun," jawab Leo.
"Aku tahu itu Kak. Ini sangat aneh sekali. Aku pernah bekerja sama dengan seseorang berasal dari Shanghai menyuruhnya untuk meretas kode keamanan perusahaan ini. Jujur saja temanku bingung dan mendapatkan serangan balik oleh sang pencipta programmer tersebut. Aku sangat yakin sekali. Program milik Kak Leo sangat berhasil membuat dunia hacker terkecoh," puji Sascha dengan tulus.
"Kamu jangan mengajak ada dengan cara memujiku seperti itu. Aku tidak mau kamu memujiku seperti itu. Aku takut kepalaku menjadi besar sekali," ucap Leo yang membuat Sascha tertawa.
"Aish... Kak Leo ini. Apakah Kak Leo tidak takut ketika aku menyerap ilmu darimu?" tanya Sascha.
"Aku tidak pernah takut jika seseorang yang ingin meminta ilmu dariku. Bukankah ilmu yang kita punya bisa dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Agar orang itu ikut merasakan kesuksesan. Oh... Ya... Aku sudah mengirimkan beberapa pesan kepadamu. Apakah kamu sudah menerimanya?" tanya Leo.
"Aku sudah memeriksa pesan itu semuanya. Aku rasa orang itu berada di sekeliling kita. Aku belum mau mengeksekusinya tapi aku segera mencari bukti-bukti kuat untuk menjebloskan ke dalam penjara jadi Kakak sabar saja ya," jawab Sascha.
"Baguslah kalau begitu. Kamu bisa melakukannya dengan suka hati. Oh ya.. apakah kamu sudah makan?" tanya Leo lagi.
"Aku belum makan Kak. Aku sedang memesan makanan melalui online," jawab Sascha.
"Okelah kalau begitu. Jika kamu sudah menemukannya segera hubungi aku ya. Aku ingin melihat orangnya siapa?" pinta Leo.
"Beres itu Kak. Sekarang kakak duduk aja terlebih dahulu untuk beristirahat," Sascha menjawab dengan lembut.
"Jangan kamu keluarkan suara rambutmu kepada siapapun. Kamu tahu kan Kalau suamimu itu pencemburu berat. Kalau kamu menjawab seperti itu, maka kami yang terkena masalah. Lebih baik aku pergi ke ruanganku sebelum dewa melihat ini semua. Bisa-bisa aku digantung lagi di atas menara," kesal Leo yang membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.
Kemudian Sascha melanjutkan pekerjaannya lagi yang hampir selesai. Ia sangat fokus sekali untuk berkirim email kepada pihak bank. Jujur saja Sascha adalah seorang wanita yang pemberani. Ia akan mencari barang bukti itu sampai ketemu.
Bandara Soetta.
__ADS_1
Gerre bersama Chloe sudah sampai di Jakarta. Kedua pasangan suami istri itu bergandengan mesra layaknya orang sedang menjalin hubungan untuk pertama kalinya.
Seketika banyak orang meliriknya sambil berkata dalam hati, mereka sangat mesra ya. Aku jadi iri melihat mereka. Kenapa suamiku tidak seperti itu? Bahkan jalan pun kami terpisah? Memang sial nasib ini. Begitulah isi hati orang-orang yang melihatnya.