
Pagi yang cerah.Sascha terbangun dari tidurnya. Ia menatap wajah Dewa sembari tersenyum manis. Jari tangan lentiknya memegang pipi Dewa yang tirus itu. Baginya Dewa adalah seorang pria sempurna di matanya.
"Sayang," panggil Dewa yang memegang tangan Sascha.
"Apa sayang?" sahut Sascha.
"Hmmmp... lebih baik kita tidur lagi yuk," ajak Dewa.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudah jam tujuh pagi. Lebih baik kita mandi lalu bersiap meeting," ucap Sascha yang memegang tangan Dewa sambil menaruhnya di pipinya.
"Oh.. iya... jam delapan ada meeting. Maaf aku lupa," jelas Dewa. "Cabang Surabaya sudah sangat mengkhawatirkan. Aku bisa membuatnya bangkrut terlebih dahulu. Lalu aku bangun dengan yang baru."
"Terserah kamu. Kalau kamu membangun pabrik cabang Surabaya. Kamu bisa menghabiskan uang banyak lagi," ujar Sascha yang membuat Dewa menganggukan kepalanya.
"Ya... mau bagaimana lagi. Kalau enggak dibangun ulang, kasihan sama para karyawan yang sudah lama bekerja.Aku memang menghargai mereka. Aku harus membuat mereka bahagia.Jika aku tutup, bagaimana dengan keluarga mereka?" tanya Dewa.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa.Sascha juga bingung dengan keputusan besar ini. Jika tidak dibangun ulang dan dibesarkan. Bagaimana dengan nasib lainnya?
__ADS_1
"Sepertinya aku memiliki options lain. Aku enggak tahu kamu setuju apa tidak?" tanya Sascha sambil memainkan tangan Dewa.
"Bolehkah aku tahu? Apa itu?" tanya Dewa.
"Hmmp... sebaiknya kita pindahkan saja ke cabang terdekat," jawab Sascha.
"Ide kamu bagus juga," ujar Dewa. "Yang menjadi pertanyaannya, apakah mereka mau untuk dipindahkan ke cabang?"
"Kalau enggak mau gimana?' tanya Sascha yang bingung dengan pertanyaan Dewa sambil memijit tangan sang suami.
"Itulah yang membuat aku gelisah. Kasihan mereka yang jauh dari keluarganya," jawab Dewa. "Jalan satu-satunya ya membuat bangkrut. Kita rumahkan saja mereka selama beberapa bulan ke depan. Kita bisa menggajinya setengah. Ya anggap saja mereka beristirahat."
"Paling lama enam bulan.Tapi kita bisa mengusahakan hingga tiga bulan," jelas Dewa. "Aku harap kamu mau tinggal disini selama tiga bulan ke depan."
"Bagaimana dengan kabar perusahaanku?" tanya Sascha.
"Nanti kita bicarakan dengan papa Gerre. Aku harap papa bisa membantu kamu. Maaf aku terlalu egois," jawab Dewa. "Atau kita juga bisa mengerjakannya secara virtual?"
__ADS_1
"Kamu enggak terlalu egois. Tapi kamu juga sibuk disini. Ada salah satu yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Atau kuta biarkan saja?" tanya Sascha.
"Hmmp... biarkan saja terlebih dahulu. Kamu sudah memegang kunci sistem keamanan pusat. Kita bisa mengecek semua pekerjaannya. Apalagi di perusahaan masih ada papa," jawab Dewa yang memberikan sebua solusi.
"Ah... benar juga. Kenapa kita enggak terpikirkan akan hal itu?" tanya Sascha tersenyum manis.
"Karena kamu terlalu khawatir sama nasib perusahaan Khans. Jadi kamu enggak memikirkan kesana," jelas Dewa yang membuat Sascha tersenyum manis.
"Sepertinya aku harus belajar dari kamu dech?' tanya Sascha.
"Kamu sudah hebat kok. Kamu perlu mendalami semuanya. Ilmu kamu sudah menyamai aku," jawab Dewa yang memuji kehebatan Sascha. "Apakah kamu mau kuliah lagi?"
"Sebenarnya aku perlu kuliah," jawab Sascha. "Berhubung aku sudah hamil. Aku tidak akan kuliah lagi."
"Kuliah melalui online. Nanti aku akan mendaftarkan kamu di Harvard," ujar Dewa.
"Terus aku di rumah?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Yupz... kamu bisa tinggal di rumah dengan penuh kebahagiaan," jawab Dewa yang bahagia akan solusinya itu.
"Apakah aku tidak merepotkanmu?" tanya Sascha. O