
“Kalau kakak nggak mau ya sudah,” jawab Dita yang merajuk.
“Maulah... Apalagi kamu yang mengajak!” seru Tommy.
“Dita,” panggil Tara yang menghampiri Dita.
“Ada apa Ma?” tanya Dita yang menatap wajah sang mama.
“Tolong hubungi kakakmu. Sepertinya kita tidak boleh kucing-kucingan membahas masalah ini. Kedua kakakmu harus meluncur ke sini. Ini sangat penting sekali. Mama nggak bisa cerita sekarang,” pinta Tara ke Dita.
“Memangnya ada apa Ma?” tanya Dita yang penasaran.
“Sudah hubungi saja. Biar cepet ke sini. Ini masalah keluarganya Billi yang akan membuat ulah!” perintah Tara lalu pergi meninggalkan Dita.
“Baiklah Ma,” balas Dita yang meraih ponselnya. “Ada apa ya Kok Mama sampai panik gitu?”
Lalu Dita mencari nomor Dewa di layar ponselnya. Ia sangat khawatir tentang keluarga Billi yang akan membuat ulah. Setelah menemukan nomor Dewa, Dita langsung menghubunginya.
“Ngga tahu,” jawab Tommy yang melihat Dita khawatir.
Sascha yang selesai memasak menghidangkan satu nasi goreng di piring besar. Lalu ia menyadarkan nasi goreng itu ke hadapan Dewa. Saat mengambil sendok dan garpu ponsel Dewa berdering. Mau tidak mau Sascha mengambil ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya Dewa.
“Kak,” panggil Sascha.
“Ada apa?” tanya Dewa sambil memegang sendok dan garpu.
“Dita menghubungi kakak,” jawab Sascha sambil menyodorkan ponsel itu ke hadapan Dewa.
“Kamu angkat gih. Aku lapar banget,” perintah Dewa.
Mau tidak mau Sascha meninggalkan Dewa terlebih dahulu. Ia segera mengangkat ponsel itu kemudian menyapa Dita, “Halo.”
“Kak Dewa ke mana?” tanya Dita.
__ADS_1
“Lagi makan,” jawab Sascha. “Ada apa?”
“Mama minta kalian pergi ke villa Kak Bima,” jawab Dita yang agak panik sedikit.
“Memangnya ada apa ya?” tanya Sascha yang merasakan Dita panik.
“Ngga tahu Kak. Mama bilang suruh ke sini,” jawab Dita.
“Tunggu Kak Dewa makan ya... Selesai makan kami akan ke sana,” balas Sascha.
Sascha segera kembali ke dapur dan melihat Dewa sedang makan. Ia memutuskan untuk duduk di hadapan Dewa. Sambil melihat Dewa makan, Sascha sangat penasaran sekali dengan perintah Dita. Namun tak sengaja Dita melontarkan nama Billi. Hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Kenapa dengan Billy? Apakah Billy akan membuat masalah? Kalau membuat masalah akan menjadi besar dan aku yang main?
“Ada apa?” tanya Dewa sambil memasukkan nasi satu sendok ke mulutnya.
“Dita menyuruh kita ke villanya Kak Bima. Sepertinya Mama memiliki firasat yang berhubungan dengan Billi. Aku pun juga merasakan seperti itu. Apakah Billi akan membuat kekacauan?” jawab Sascha.
“Kalau sudah genting begini, maka kita disuruh berkumpul. Kamu harus ikut juga. Karena kamu sudah menjadi bagian organisasi mama yaitu Black Tiger. Kamu harus meluangkan waktu jika ada pertemuan mendadak. Kalau ada pekerjaan tolong hentikan sementara. Karena ini menyangkut perusahaan maupun pribadi. Peraturan Black Tiger adalah saling melindungi satu sama lain. Jika ada yang sakit maka kita saling menguatkan satu sama lain. Aku harap kamu mengerti akan peraturan itu,” ujar Dewa yang sedang memberitahukan peraturan apa saja di dalam grup Black Tiger.
“Memang sedih deh peraturan itu. Hanya kamu saja yang boleh menggangguku. Selebihnya nggak boleh,” kesal Dewa.
“Habiskanlah nasi goreng itu. Aku segera mengambil jaketmu,” suruh Sascha yang beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Dewa.
Dewa akhirnya menghabiskan nasi goreng itu dan meminum air putih. Sebelum pergi meninggalkan dapur Dewa mencuci piring terlebih dahulu. Lalu pria itu meraih ponselnya kemudian menuju ke garasi.
Sedangkan Sascha buru-buru mengambil ponselnya. Tak lama Sascha mendapatkan pesan dari Billi. Ia segera membukanya dan langsung membaca pesan tersebut. Isi pesan itu adalah SEGERA TINGGALKAN DEWA LALU KEMBALILAH KEPADAKU!
Dalam hati, Sascha mengatakan kalau Billi sudah kurang ajar. Tepat dugaannya sebelum pergi ke lobby, ternyata Billi melihatnya sekilas. Ia tidak menyangka kalau kejadian ini membuat prahara besar. Mau tidak mau Sascha akan mengatakan ini semua kepada Dewa.
Sesampainya di depan saja melihat Dewa sudah berada di dalam mobil. Dengan cepat Sasha masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat Dewa melihat bayangan Billi. Ia hanya menghembuskan nafasnya sambil berkata sabar. Sabar untuk tidak menghajar orang malam-malam.
“Ada apa kak?” tanya Sascha.
“Aku melihat ada bayangan Billi di sini,” jawab Dewa.
__ADS_1
“Kenapa sih kok ada Billi di sini?” tanya Sascha kesal.
“Aku nggak tahu,” jawab Dewa sambil menyalakan mobil.
“Lama-lama Aku kesel sendiri. Yang namanya sudah putus putus aja. Kenapa juga harus mengejar-ngejar seperti ini. Bukankah dirinya sudah memiliki istri dan anak?” gerutu Sascha.
“Percuma kamu bilang gitu. Dia itu menyesal telah kau tinggalkan begitu saja. Sudah dikasih yang baik malah disia-siakan. Ditambah orang tuanya juga ikut campur menilai kamu sebagai orang kismin!” geram Dewa.
“Entahlah... Kalau begitu kita berangkat saja,” suruh Sascha.
“Kamu nggak nyesel ninggalin Billi?” tanya Dewa yang meledek Sascha.
“Ngapain juga nyesel?” tanya Sascha balik.
“Berarti sudah legowo nih ceritanya. Sudah nggak sakit hati lagi. Terus sekarang sudah punya gandengan baru. Gandengannya keren lagi. Sekali menggaet langsung dapat pangeran,” ledek Dewa yang membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.
“Memangnya nggak boleh ya?” tanya Sascha.
“Boleh saja. Malah sang pangeran pun menjadi senang dan bahagia,” jawab Dewa yang mendapat pukulan dari Sascha.
“Kakak mah selalu membuat aku salting,” ucap Sascha.
“Nggak apa-apa. Salting sama cowok sendiri kan nggak dilarang,” ujar Dewa yang mulai menancapkan gasnya.
Di kegelapan malam, Billi yang sedang memperhatikan rumah Dewa sangat kesal. Ia tidak menyangka kalau Sascha berdua dengan Dewa. Lalu Billi tangannya mengepal erat. Karena Sascha sangat menurut sekali dengan Dewa. Hatinya semakin panas seperti air bersuhu tiga ribu derajat Celcius.
“Dasar brengsek Sascha! Bener apa yang dikatakan Risa! Ternyata dia adalah simpanan bos-bos! Jual mahal banget sama gue! Cepat atau lambat gue akan ngancurin Lo! Jangan harap lo bahagia! Apalagi lo sudah dekat sama Dewa kayak perangko!”geram Billi.
Kemudian Billi pergi dari rumah Dewa untuk mencari seseorang. Ia ingin membalas dendam kepada Sascha. Dua kata buat Billi adalah sakit hati. Entah kenapa dirinya seakan-akan tersakiti. Padahal yang menjadi korban sesungguhnya adalah Sascha. Akan tetapi Billy mencari cara agar Sascha kembali lagi ke pelukannya. Mau tidak mau Billy harus memakai cara kekerasan.
Namun, apakah Billi tahu jika Sascha sudah menjadi lady mafia? Cepat atau lambat siapa yang akan menang dalam pertarungan ini? Sascha sang lady mafia ingin membalas dendam ke orang tuanya Billy. Atau Billy yang berhasil mendapatkan Sascha dengan memakai kekerasan?
Kita tunggu bab selanjutnya.
__ADS_1