Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
NEGOSIASI YANG ALOT.


__ADS_3

"Enggak dech... Aku enggak jadi memiliki anak banyak," jawab Dewa yang menggelengkan kepalanya.


"Kenapa enggak jadi? Bukannya kakak ingin membangun sebuah klub sepakbola?" tanya Sascha.


"Ah... Iya... Tapi kamu yang berada di rumah mengurus mereka. Jika kamu bekerja aku yang susah," jawab Dewa lemah.


"Susah bagaimana?" tanya Sascha.


"Aku takut kamu kecantol sama pria yang ada di luaran sana," jawab Dewa.


Gerre memandang wajah Dewa yang benar-benar ketakutan dengan raut wajah yang aneh. Gerre baru tahu kalau Dewa sangat mencintai Sascha dengan tulus.


"Baiklah. Aku yang mengalah. Tapi sebagai gantinya kita memiliki anak hanya dua saja ya,'' ucap Sascha.


"Tidak. Empat saja,'' ucap Dewa yang mulai bernegosiasi.


"Kenapa enggak dilebihkan satu menjadi lima? Kalau mereka berantem kan ada satu anak lagi yang memisahkan,'' saran Devan yang dianggukan oleh Gerre.


"Ya itu benar. Yang satu harus melerai,'' ujar Sascha yang menyetujui saran dari Devan.


"Deal!" ujar Dewa yang semangat.


Seketika Gerre baru sadar kalau ruangan kerjanya sedang ada nego soal momongan. Gerre bingung harus mengatakan apa kepada pasangan itu? Gerre tidak akan ambil pusing dengan apa yang direncanakan oleh mereka.


"Apakah kalian akan ke kantor?'' tanya Gerre.


"Ya... kami akan mencari barang bukti milik Rosita Yi. Kemungkinan besar akan ada yang ditemukan,'' jawab Sascha.


"Apakah kamu tidak memanggil tim kamu?'' tanya Devan.


"Selama kami bisa mengatasi kasus ini kemungkinan besar kamu berjalan sendiri. Tapi aku menyuruh mereka bersiap-siap dan aka terbang kesini,'' jawab Dewa.


"Oh... ya... periksa semua ruangan milik Amran dan Lucas!" titah Devan.


"Kita butuh papa sekarang. Enggak mungkin kan kita jalan sendiri,'' ucap Dewa.


"Kalau begitu papa akan menjadi saksi. Ketika memberontak mereka tidak akan melakukannya. Setelah barang bukti ditemukan aku akan mengadakan rapat pemegang saham dan memecat mereka. Kita bisa mengambil karyawan yang bagus untuk menduduki kursi jabatan itu,'' usul Sascha.

__ADS_1


"Pintar sekali. Ya... lebih baik kamu memecatnya,'' puji Devan.


"Tapi papa tidak akan lengser dari kursi CEO. Aku sudah berjanji sama Kak Dewa untuk menjadi asistennya,'' ujar Sascha.


"Apakah kamu akan menetap di sin?" tanya Gerre.


''Entahlah pa. Aku masih bingung. Aku akan ikut Kak Dewa enaknya gimana?'' jawab Sascha yang masih bingung dengan jawabannya.


"Semuanya itu terserah kamu. Papa hanya bertanya saja,'' ucap Gerre yang tidak mau kehilangan Sascha


"Kalau aku mengajaknya ke Jakarta?'' tanya Dewa.


"Bolehkah papa ikut bersama kalian?'' tanya Gerre dengan sendu.


"Boleh. Aku ingin dekat sama kalian,'' jawab Dewa yang tidak ingin kehilangan mereka.


"Kenapa kamu tidak memberikan perusahaan kamu ke Dita?'' tanya Devan.


"Papa tahu Dita tidak menyukai dunia bisnis yang berhubungan dengan pabrik. Aku pernah menawarkan ke Dita tapi ditolak. Katanya kenapa kakak tidak membangun rumah mode buat Dita,'' jawab Dewa yang mengetahui tabiat sang adik.


"Aku oleh usul enggak? Bagaimana kalau Dita joinan rumah mode bersama mama. Siapa tahu Dita bisa berkembang menjadi seorang desainer terkenal,'' usul Sascha.


"Boleh juga. Kemungkinan besar Dita bisa memegang cabang Asia. Kita akan membicarakan lebih lanjut lagi tapi tidak sekarang,'' balas Devan.


Yang dikatakan oleh Sascha benar apa adanya. Sascha tidak mungkin akan mengerjakan semuanya. Kemungkinan besar Sascha akan membangun rumah mode di kawasan Asia. Sascha akan meminta Dita memegangnya. Apalagi di kawasan Asia sangat bagus sekali untuk membuka bisnis fashion. Ditambah lagi Dita bisa memakai artis K-Pop yang lagi happening sekarang ini.


Kemudian Sascha berpamitan untuk pergi ke kantor. Namun sang papa ingin ikut dengannya. Entah akhir-akhir ini Gerre sekarang menjadi lengket kaya perangko. Ya... Gerre sangat mencintai putrinya. Bahkan Gerre rela menjadi pengawalnya Sascha karena ingin menebus kesalahan di masa lalu.


Lalu bagaimana dengan Chloe? Chloe tidak jadi masalah. Di mata Chloe, Gerre adalah pria yang hangat ketika bersama keluarga. Bahkan Sascha bisa membuat dunia Gerre menjadi berwarna.


Di tempat lain, seorang wanita yang usianya cukup dikatakan sudah menua sedang menuang whiskey. Selesai menuang whiskey wanita itu mengambil rokok yang berada di depannya. Tak lama wanita itu kedatangan seorang pria paruh baya dengan wajah lesu. Pria itu berjalan sambil mendekatinya sambil menghempaskan bokongnya.


"Tumben kakak kok wajahnya lesu,'' ucap wanita itu yang menyulutkan rokok di mulutnya. "Ada apa?''


"Aku hancur! Rosita!" bentak pria itu.


Wanita itu ternyata adalah Rosita Yi. Dan pria yang mengatakan dirinya hancur adalah Theodore Yi. Mata Rosita membelalak sempurna dan tidak percaya apa yang dikatakan sang kakak. Bagaimana bisa sang kakak hancur? Perasaan Rosita semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Apakah kakak sedang menghamili seorang gadis?" tanya Rosita yang menghembuskan nafasnya.


"Aku tidak pernah menghamili wanita. Kamu tahu kalau aku memakai pengaman jika sedang berhubungan!" geram Theodore dengan wajah murka.


"Lalu?" tanya Rosita.


"Perusahaanku hancur. Dan sekarang perusahaanku sudah berganti nama yang aku tidak tahu. Sampai detik ini aku menyuruh Hugo untuk melacaknya. Tapi enggak berhasil sama sekali. Aku bingung apa yang harus aku lakukan?" tanya Theodore dengan wajah pucat.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Rosita. "Bukannya perusahaan itu adalah milik orang tua kita!"


Tiba-tiba saja Rosita menjadi geram dan hendak memaki sang kakak. Namun Rosita langsung mengurungkan niatnya. Dalam pikirannya ada yang tidak beres. Kemudian Rosita berspekulasi bahwa di belakang ini semua ada konspirasi yang ingin menjatuhkannya.


"Ini ada yang tidak beres!" ucap Rosita dengan nada meninggi.


"Apa maksudnya?" tanya Theodore.


"Apakah kakak enggak pake logika sedikit? Dimana kecerdasan kakak sekarang ini? Apakah kakak kehilangan kecerdasan?" tanya Rosita dengan nada membentak sambil menyodorkan whiskey ke arah Theodore.


"Apa maksudnya?'' tanya Theodore yang tidak paham sama sekali.


"Minum dulu setelah itu aku ceritakan!" geram Rosita.


Malam ini Rosita menjadi geram karena ulah Theodore. Bagaimana bisa sang kakak kehilangan logikanya begitu saja? Theodore langsung meminumnya dan menghela nafasnya.


"Apakah kakak lagi mengkonsumsi ekstasi?'' tanya Rosita.


"Baru sore tadi aku mengkonsumsinya. Kamu tahu kepalaku pusing,'' jawab Theodore.


"Pantas saja kakak langsung oleng. Bukannya kakak sudah berhenti memakai obat-obatan itu?'' tanya Rosita.


"jangan pernah mengatur hidupku! Aku enggak minta pendapatmu tentang hidupku! Lebih baik kamu cari seseorang yang bisa memberikan data siapa yang membeli perusahaan!" kesal Theodore sambil meninggikan suaranya.


"Selalu saja begitu. Kalau ada kesalahan yang dibuatnya aku yang selalu membereskannya,'' decih Rosita.


Theodore memutar bola matanya dengan malas. Setelah memberikan sebuah tugas Theodore langsung pergi meninggalkan Roswita yang sendirian di ruangan itu. Rosita akhirnya mencari informasi di bursa saham. Namun Rosita tidak berhasil mendapatkannya.


Sesampainya di kantor, Sascha langsung menatap Choi yang sedang gelisah. Sepertinya hari ini Choi tidak semangat untuk bekerja. Choi menatap wajah Dewa sambil berkata, "Orangnya Theodore sedang mencariku.''

__ADS_1


"Apa?" pekik Sascha.


__ADS_2