
Mata Sascha berubah menjadi sendu. Akhir-akhir ini mimpi buruk itu datang. Sascha memandang wajah Dewa dan berkata, "Mimpi itu datang lagi."
"Maksudnya?" tanya Dewa.
"Aku bermimpi ketika berusia delapan tahun. Aku tersesat di hutan mangrove. Yang di mana hanya aku sendirian. Kemudian ada seseorang datang dengan membawa pisau dan mengancamku agar ikut dengannya. Jika tidak mereka akan membunuh kedua orang tuaku," jawab Sascha yang ketakutan.
Seketika Dewa mengingat apa yang dikatakan oleh Bryan sang partnernya. Apa benar Sascha adalah putrinya Gerre? Jika mendengar penuturan Bryan dan Sascha sepertinya benar. Dewa memutuskan untuk menyimpan pertanyaannya itu.
Risa yang selesai melakukan ritual ranjangnya bersama Billi sangat bahagia. Karena malam ini Risa bisa memuaskan Billi. Lalu Billi menatap wajah Risa yang bahagia, "Apakah kamu bahagia?"
"Ya aku sangat bahagia bisa bersamamu," jawab Risa.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Billi.
"Apa itu?" tanya Risa balik.
"Bolehkah aku meminta mobil sport keluaran terbaru?" tanya Billi yang memang sangat menginginkan mobil baru.
"Kamu mau itu?" tanya Risa lagi.
"Ya. Aku mau itu," jawab Billi dengan senyum yang manis.
"Ok... Besok pagi mobil itu akan datang tepat berada di garasi mobilmu," jawab Risa yang mengambil ponselnya.
Setelah itu Risa mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk membelikan mobil. Orang yang berada di sana sangat menyetujuinya. Risa juga memberi perintah agar mobil itu sudah sampai ke garasi rumah Billi.
"Setelah ini bayi kita lahir. Apakah kamu tidak menyiapkan kamar buat mereka?" tanya Risa.
"Mereka!" pekik Billi. "Mereka ada berapa?"
"Tiga. Aku sedang mengandung ketiga bayimu," jawab Risa.
Billi sungguh terkejut ketika mendengar bayinya ada tiga. Namun Billi tidak memperdulikan itu. Setelah itu mereka melanjutkan lagi dengan berbagai gaya. Lalu bagaimana dengan Santi adik dari Billi? Santi berhasil mengambil uang perusahaan D'Stars sebesar dua milyar. Santi memang sangat ahli dalam mencuri uang perusahaan besar di Indonesia.
Sedangkan sang manager keuangan Bima mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bima mulai mengecek seluruh keuangan dan melihat pengeluaran yang sangat aneh. Bima adalah seorang pria yang memiliki kepekaan tinggi. Bima bisa merasakan ada sesuatu di sekitarnya. Namun Bima bukan seorang indigo atau memiliki Indra keenam.
Anggota Black Tiger yang memiliki indra keenam adalah Dewa. Jika ada apa-apa disekitaran Dewa orang yang paling tahu. Dan kesedihan Sascha, Dewalah orang yang pertama kali yang merasakannya. Setelah Sascha tenang, Dewa menutup matanya dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada yang tidak beres?" geram Dewa.
Sedari tadi Sascha melihat Dewa yang berubah menjadi curiga. Sascha merasa kalau ada masalah dengan dirinya. Dengan penuh ketakutan Sascha melihat wajah Dewa yang berubah menjadi iblis.
__ADS_1
"Kak," panggil Sascha.
"Iya, ada apa?" tanya Dewa yang mulai normal lagi.
"Apakah kamu marah?" tanya Sascha balik. "Terutama sama aku?"
"Ah... Tidak. Aku tidak marah sama kamu," jawab Dewa. "Apakah kamu mengantuk?"
"Tidak. Aku tidak mengantuk. Aku tidak ingin tidur," jawab Sascha.
"Kalau begitu, tolong kamu cek uang perusahaan!" perintah Dewa.
"Siap Bosque!!!" seru Sascha.
Sascha segera mengambil laptopnya dan mengecek seluruh keuangan perusahaan D'Stars. Dengan penuh ketelitiannya Sascha menemukan sesuatu yang janggal. Kemudian Sascha memanggil Dewa, "Pak bos."
"Hmmp," sahut Dewa yang mengecek email.
"Pak bos," lirih Sascha.
"Hmmp," sahut Dewa lagi.
"Pak bos," seru Sacha.
"Kenapa sih ini orang? Dipanggil hmmp doank! Bukannya berbicara," cebik Sascha.
"Sudah tahu aku enggak mau dipanggil pak bos! Malah diterusin!" kesal Dewa dalam hati.
"Pak bos... Pak bos tahu enggak sih. Kalau malam ini ada transaksi dua milyar?" tanya Sascha.
Dewa malah membuang mukanya dan semakin kesal terhadap Sascha. Dewa tidak memperdulikan lagi soal uang dua miliar itu. Asalkan Sascha bisa memanggilnya sayang, Dewa akan menoleh.
"Bisa enggak malam ini kita profesional?" tanya Sascha.
"Enggak," jawab Dewa yang masih kesal terhadap Sacha.
"Lalu?" tanya Sascha yang mulai galak. "Aku harus ngapain?"
"Jika kamu memanggilku sayang, aku bisa serius," jawab Dewa yang tersenyum melihat Sascha dalam mode galak.
"A... A... Apa!" pekik Sascha yang wajahnya mulai berubah aneh.
__ADS_1
"Iya. Kamu harus memanggilku sayang atau cinta," ucap Dewa dengan senyum merekah hingga membuat Sascha semakin terpesona.
Apa-apaan ini? Sascha menjadi kesal terhadap ulah Dewa. Bagaimana bisa Dewa menebarkan senyumnya yang manis itu. Sascha hanya menghela nafasnya dan berkata, "Untunglah malam ini tidak ada kuntilanak di kamar ini."
Mata Dewa membulat sempurna. Bagaimana bisa Sascha berharap ada kuntilanak berada di sini? Lalu Dewa bertanya, "Apakah kamu mendoakan ada kuntilanak di sini?"
Sascha malah tersenyum dan menepuk jidatnya. Kemudian Sascha berpikir secara gamblang, apa benar ada kuntilanak di sini? Sascha menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Memang ada ya kuntilanak di sini?"
"Tidak," jawab Dewa. "Ada apa memangnya?"
"Gini bos," jawab Sascha.
"Hmmp," ucap Dewa.
"Kumat lagi penyakitnya," kesal Sascha.
"Bisakah sih enggak kamu manggil aku sayang?" tanya Dewa yang kesal.
Dengan mata membulat sempurna Sascha menjadi bingung. Kemudian Sascha menggelengkan kepalanya, "Aku belum bisa."
"Kamu harus bisa melakukannya. Karena aku adalah calon suamimu," pinta Dewa.
"Kalau tidak bisa bagaimana?" tanya Sascha.
"Aku terpaksa menghukummu dengan cara menciumi kamu," jawab Dewa secara blak-blakan.
"Kamu selalu saja begitu," kesal Sascha.
"Jika kamu tidak bisa melakukannya aku terpaksa," ujar Dewa yang tersenyum devil.
Sascha menghela nafasnya sambil mencari jalannya transaksi. Sascha sangat bingung terhadap Dewa. Seumur-umur Sascha baru melihat Dewa yang bahagia dan hatinya juga ikut bahagia. Sascha tidak pernah membayangkan bagaimana dirinya bisa bersanding dengan Dewa? Dahulu Sascha adalah seorang gadis miskin yang tidak memiliki apapun. Jangankan harta, teman saja tidak punya sama sekali. Malah Sascha sering dicibir oleh orang disekelilingnya.
"Kak Dewa, apakah aku boleh ikut seminar yang diadakan oleh Tuan Gerre?" tanya Sascha.
"Oh... Seminar tentang pentingkah adanya sistem operasi keamanan di ponsel maupun laptop?" tanya Dewa lagi.
"Iya. Mumpung Tuan Gere membuka pendaftaran secara gratis dan terbatas. Kemungkin aku bisa mengamankan ponsel kakak dari perempuan-perempuan gatal," celetuk Sascha yang secara tidak sadar akan ucapannya.
"Itu sangat bagus sekali. Jika kamu tidak melakukannya kemungkinan mereka akan merebut aku darimu," tambah Dewa.
"Nyesek banget kalau itu. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!" geram Sascha.
__ADS_1
"Yakinlah kepadaku. Aku tidak akan selingkuh sedikitpun. Aku bukan Billi yang suka mengobral janji dan celap celup sana sini. Jujur aku masih perjaka. Dan keperjakaanku hanya buat kamu," ujar Dewa dengan polos hingga membuat mata Sascha kembali membulat.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha yang menggelengkan kepalanya yang bingung.