Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BERTEMU DENGAN TOMMY LAGI.


__ADS_3

“Sudah pergi dari tadi,” jawab Sascha yang masuk ke dalam kamar.


“Beneran sudah pergi?” tanya Dewa yang sedang mencari kucing itu.


“Astaga... Kak Dewa... sebegitunya kakak takut banget sama itu kucing. Kucing itu adalah hewan yang sangat lucu sekali. Saking lucunya kucing itu sangat menggemaskan dan ingin aku pekuk dan mengajaknya bermain,” jelas Sascha.


Dewa malah bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Sascha. Ia tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Sascha. Ia sangat membenci kucing itu dan mengusap wajahnya berkali-kali.


“Tadi Timothy mengirim pesan kepadaku,” ucap Dewa yang membuat Sascha menatap ke arah Dewa.


“Lalu?” tanya Sascha.


“Kamu kan pesan kedua anjing yang sangat lucu sekali. Katanya besok anjung itu datang ke Jakarta. Aku suruh saja kesini dengan jet pribadiku,” jawab Dewa.


“Rasanya aku ingin sekali memegang anjing itu. Apakah mereka sesuai ekspetasi?” tanya Sascha.


“Jangan ditanya dech. Timothy bisa diandalkan segala urusan. Dia bisa disuruh menjadi apapun mau,” jawab Dewa.


“Aku akan menyuruhnya menjadi seorang asisten kamu seumur hidup,” ucap Sascha yang duduk di tepi ranjang.


“Aku sudah membicarakan ini sama  Timothy. Dia melepaskan perusahaannya. Dia tidak ingin mempertahankan perusahaannya itu,” ujar Dewa yang sengaja duduk di samping Sascha.


“Lalu siapa yang memegang perusahaannya itu?” tanya Sascha  sambil memegang tangan kekar Dewa.


“Kakaknya dan juga adiknya. Mereka meminta Timothy untuk bergabung dengannya. Tapi Timothy tidak mau sama sekali. Dia lebih memilih menjadi asistenku,” jelas Dewa.


“Kamu berikan saja bonus kepadanya. Jangan biarkan Kak Timothy kebahagiaan,” pinta Sascha.


“Sudah semestinya aku akan memberikan bonus itu kepada Timothy. Aku sudah menganggapnya sebagai keluarga. Setelah aku menikah, aku berharap Timothy akan mendapatkan jodoh,” ujarDewa yang sengaja mendoakan Timothy agar segera mendapatkan jodoh.


“Amin,” balas Sascha yang membuat Sascha tersenyum manis.

__ADS_1


Malam itu malam yang sangat indah sekali. Mereka sudah membersihkan tubuhnya masing-masing. Mereka akhirnya duduk di halaman belakang sambil menunggu kedatangan Tommy. Mereka berharap kalau Tommy mengakui semuanya.


“Hai,” sapa Tommy sembari mendekati mereka.


“Bagaimana perjalanan kakak?” tanya Sascha.


“Tidak enak. Jalanan macet parah,’ jawab Tommy. “Ada apa aku disuruh kesini?”


“Aku ingin bertanya sesuatu. Aku harap kamu mau mengakuinya,” jawab Dewa yang memberikan ponsel itu kepada Tommy.


Tommy segera meraihnya dan melihat sebuah artikel. Ia sangat terkejut apa yang dibacanya. Ia lalu berkeringat dingin dan menghela nafasnya dan menatap wajah Tommy.


“Apakah kamu tidak menyadarinya? Jika mama kamu adalah Anette Teodore,” tanya Dewa yang membuat Tommy menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu itu. Kamu tahukan masa laluku bagaimana?” tanya Tommy.


“Memangnya masa lalu kak Tommy bagaimana?” tanya Sascha yang bingung.


“Makanya setiap liburan tiba. Kak Tommy memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Bahkan Kak tommy sendiri memilih untuk jalan-jalan sendiri,” celetuk Sascha.


“Itu benar. Aku memang tidak pernah pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk menetap di Jakarta. Jika bosan aku memutuskan untuk tidur sendiri di kamar,” jawab Tommy yang mengakui semuanya.


“Jadi kamu enggak kenal sama nenek sihir itu?” tanya Dewa.


“Ya enggaklah. Mama enggak pernah cerita tentang keluarganya itu. Di dalam pikirannya adalah ambisi yang harus dilaksanakan. Bahkan kebahagiaan anak-anaknya sudah direnggutnya,” jelas Tommy yang berkata dengan jujur.


“Lalu selanjutnya bagaimana?” tanya Dewa.


  “Aku tahu masalah ini semakin besar. Aku meminta maaf karena ini menyangkut keluargaku,” jelas Tommy.


“Jika kakak enggak tahu siapa nenek sihir itu, aku tidak akan menyalahkan kakak. Aku sendiri baru mengetahui semuanya tadi. Jadinya aku tidak bisa menyalahkan kakak begitu saja,” jelas Sascha yang sebenarnya sudah merasakan ini.

__ADS_1


“Jadi keputusan terakhir bagaimana?” tanya Tommy.


“Aku akan membuat nenek sihir itu tunduk kepadaku dan merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Karena yang dimilikinya adalah milik perusahaan Khans Company,” jawab Sascha.


“Semuanya terserah kamu. Aku tidak ingin ikut-ikutan masalah ini,” kata Tommy yang pasrah akan keadaannya.


“Aku tidak akan mengganggu hidupmu. Aku juga tidak akan membuat kamu menderita. Kamu bisa mengikuti aku bekerja di perusahaan ini. Tapi aku memintamu lupakanlah Dita. Biarkanlah Dita hidup sendiri dan meraih cita-citanya. Aku ingin membentuk karakter dalam dirinya menjadi wanita tangguh,” pinta Dewa.


“Aku paham itu. Aku tidak ingin mengganggu adikmu itu. Aku ingin hidup Dita bahagia,” jelas Tommy yang sudah ikhlas melepaskan Dita.


“Kita balik ke rencana awal. Aku ingin kamu bekerja untukku. Kamu akan naik jabatan setelah ini. Perusahaan D’Stars Inc. Akan berubah nama menjadi Nakata cabang sesuai nama kotanya. Terus kamu boleh memilih inign menempati yang mana?” pinta Dewa yang memberikan sebuah opsi ke Tommy.


Tommy hanya menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan apa yang diminta oleh Dewa. Ia juga akan memikirkan akan tinggal dimana.


“Aku akan memikirkan matang-matang. Aku ingin bersembunyi dari keluargaku. Nanti aku akan memberitahukan kamu,” jelas Tommy.


“Baiklah. Aku akan menunggumu,” balas Dewa. “Sebentar lagi aku akan pergi ke New York mengurusi masalah Khans Company.”


“Apakah kamu akan lama tinggal di sana?” tanya Tommy.


“Aku sendiri belum tahu. Berapa lama aku harus tinggal di sana? Masalah ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat agar tidak menjadi masalah lebih besar lagi. Aku yakin nenek sihir itu sedang mencari sekutu untuk menghancurkan keluarga Atmaja,” jelas Dewa.


“Kalau begitu aku ikut denganmu. Aku merasa memiliki firasat yang cukup kuat. Kemungkinan besar mamaku ikut dengan nenek sihir Itu demi menghancurkan keluarga Atmaja,” perintah Tommy.


“Ini masih diselidiki satu persatu. Kita tidak bisa menarik kesimpulan dengan cepat. Mata-matanya Papa Gerre sudah lebih dulu terjun. Tinggal Choi yang baru saja aku turunkan untuk mencari informasi lebih valid lagi. Aku yakin semuanya ini akan beres dalam waktu sekejap. Sekarang kamu nggak usah ke New York City. Jika kamu ke sana, bisa jadi mamamu akan memutar balikan fakta. Biar aku yang membereskan semuanya. Aku tidak akan membunuh keluargamu dan menghabisinya. Aku hanya meminta nenek sihir itu hidup-hidup. Dan aku berjanji tidak akan membunuhnya. Aku akan menyerahkan seluruh bukti kejahatannya kepada pihak kepolisian yang berada di distrik New York,” jelas Dewa yang tidak membiarkan Tommy ikut dengannya.


“Aku tidak enak sama kamu. Kamu sering banget membantu kehidupanku mulai dari SMP hingga detik ini. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi mengucapkan terima kasih untukmu. Karena aku tidak ingin semuanya menjadi hutang kepadaku,” ucap Tommy.


“Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Bukankah kita dulu adalah seorang sahabat kental yang merasakan pahit manisnya kehidupan bersama?” tanya Dewa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2