Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KENYATAAN YANG SEBENARNYA.


__ADS_3

“Beda ya?” tanya Gerre yang mencium mulut Chloe.


“ Ya... bedalah... sekarang Sascha menjadi wanita yang kuat dan tangguh,” ujar Chloe.


“Ah... rasanya aku ingin pensiun. Biarkan Dewa yang memegang perusahaan,” ucap Gerre.


“Oh... ya... bagaimana jika Dewa membangun Khans Company di Indonesia? Yang di Amerika dibuat cabang?” tanya Chloe.


“Tak apa. Aku paham dengan kondisi Dewa. Tubuh Dewa tidak bisa terkena cuaca dingin secara terus menerus. Tubuhnya harus terkena sinar matahari minimal setengah jam,” beber Gerre yang hampir lupa akan fakta tentang Dewa. “Kalau kamu bagaimana?”


“Aku enggak jadi masalah. Bahkan aku ingin tinggal di Indonesia. Aku bisa mengajak Sascha pergi berkeliling Indonesia bersama cucu-cucuku,” jawab Chloe.


“Kalau begitu bersiaplah.. kita akan pergi ke Jakarta. Aku tidak akan menunda pernikahannya. Kalau bisa mereka harus besok mendapatkan buku nikah Aku semakin dengan kelakuan Dewa yang seperti singa jantan yang ingin menerkam mangsanya,” keluh Gerre.


“Kalau begitu baiklah,” balas Chloe yang bersiap-siap.


Jakarta Indonesia.


Dewa yang tidak kuat menahan hasratnya langsung menggendong Sascha. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya mulai beraksi. Ia memutuskan untuk menuntaskan hasratnya di kamar pribadi miliknya. Sementara itu Tarra masuk ke dalam sambil mengelus dadanya. Bisa-bisanya sang putra melakukan hal itu di dalam kantor. Bagaimana jika ada yang melihatnya?


Setelah tidak ada kedua insan yang sedang memadu kasih, Tarra duduk di kursi kebesaran sang putra. Setelah itu Timothy masuk dan menghadap ke Dewa.


“Wa... lu harus lihat ini?” saran Timothy yang mengangkat wajahnya sambil menelan salivanya. “Ketua?”


“Ya,” jawab Tarra. “Ada apa?”


“Maaf ketua, apakah Dewa ada?” tanya Timothy balik.


“Ada,” jawab Tarra. “Dewa berada di dalam kamar bersama Sascha.

__ADS_1


Sontak saja Timothy terkejut mendengar pernyataan dari Tarra. Timothy langsung memiliki banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Tarra. Namun Timothy terdiam sambil menghembuskan nafasnya secara kasar.


“Kamu kenapa?” tanya Tarra. “Sebaiknya kamu duduk dulu saat bicara.”


“Baik ketua,” balas Timothy.


Timothy segera duduk di hadapan Tarra lalu menceritakan kronologi penyerangan tersebut. Tarra langsung terkejut dan matanya membulat. Tarra hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil berkata, “Bisa-bisanya Liodra menyerang calon menantuku seperti itu!”


“Entahlah ketua. Ini hanya persaingan untuk mendapatkan perhatian Dewa. Yang aku tahu sedari dulu Dewa tidak pernah menebarkan pesonanya di wanita manapun. Dewa akan menebarkan pesonanya ke Sascha saja,” jawab Timothy yang paham dengan sikap sahabatnya.


“Kemungkinan Liodra sangat iri melihat Sascha. Dia bisa memutar balikkan fakta. Tapi Dewa sudah memecatnya tanpa pesangon,” ucap Timothy.


“Baguslah. Kita harus membuat menambah poin itu di surat perjanjian kerja. Jika kita tidak mencantumkan beberapa poin tersebut maka malah ini akan terjadi penindasan sesama pegawai. Aku ingin membuat kantor ini sangat nyaman tanpa ada saling permusuhan?” tanya Tarra.


“Sudah ketua. Semenjak Sascha masuk ke dalam perusahaan, Dewa sengaja menambah poin itu ke dalam surat perjanjian tersebut,” ucap Timothy.


“Baiklah kalau begitu,” balas Tarra.


 Tiba-tiba saja Risa datang dengan membawa beberapa pakaian. Ia sangat kesal karena telah diusir dari apartemen. Lalu Lisa melemparkan tasnya ke sembarang arah sambil berkata, “Dasar Sascha sialan!”


Mendengar nama Sascha, telinga Billi langsung menangkap sinyal. Ia tersenyum dan jantungnya berdetak kencang. Billi segera mendekatinya dan melihat Risa yang sedang marah. Lalu Billi bertanya tentang keberadaan Sascha.


“Apakah benar Sascha sudah kembali?” tanya Billi.


Risa semakin geram melihat Billi mengetahui nama Sascha. Ia langsung mendekatinya dan memukuli Billi. Ketika Risa memukuli Billi datanglah Fatin sambil membawa mangkok. Fatin yang melihat anaknya disiksa langsung membuang mangkok itu hingga berantakan.


“Jangan pukul anakku!” bentak Fatin yang tidak terima anaknya disiksa.


Risa berhenti secara sambil menatap Fatin. Ia tidak menyangka kalau putra yang dibencinya itu ternyata dibela. Ia tersenyum sinis sambil mengejek dan memutarbalikkan fakta, “Siapa yang memukul anakmu? Kamu tahu kan kalau pria sudah beristri tidak baik menanyakan nama mantan di depan istrinya? Dan anak kamu itu bodoh tidak menjaga perasaan istrinya!”

__ADS_1


“Kamu yang bodoh. Kamu yang nggak pernah menghargai kami. Kamu yang selalu membuat kami menderita! Seenaknya kamu memutar balikan fakta. Kamu bukan istrinya melainkan orang lain!” bentak Fatin.


“Cih.... Sejak kapan kamu lupa? Bukannya kamu yang menyuruhku menikahi Billi? Lalu, kenapa kamu mengelak Billi bukan suamiku?” tanya Risa sambil tertawa mengejek.


“Kamu!” geram Fatin sambil menunjuk Risa dengan wajah penuh amarah.


“Kenapa? Dulu kamu muja-mujaku untuk menjadi menantu. Sampai-sampai nggak mau kehilangan aku. Sekarang, kenapa kok jadi terbalik?” tanya Risa sambil tersenyum kemenangan.


“Karena kamu nggak pantes menjadi menantuku!” bentak Fatin dengan nada meninggi.


“Kenapa nggak pantes?” tanya Risa.


“Karena kamu adalah manusia sampah yang pernah aku temukan! Dan yang pantas adalah Sascha!” tegas Fatin yang membuat Risa tertawa terbahak-bahak.


Bisa tertawa terbahak-bahak karena pengakuan Fatin. Setahun Risa dulu Fatin selalu memaki dan membentak Sascha begitu saja. Ia tidak menyangka kalau ibu mertuanya itu sangat membela Sascha. Fatin berpikir sejenak sambil merangkai kata-katanya yang tepat untuk membuat Fatin marah.


“Sejak kapan kamu membela si ****** itu?” tanya Risa dengan mata menyipit.


“Oh.. jangan salah gara-gara Sascha hidup gue aman dari elu. Gue nggak pernah dapat perlakuan seperti ini dari Sascha. Semenjak kedatangan lu, seluruh keluarga gue jadi kayak gini!” bentak Fatin lagi.


“Kok gue baru tahu ya, kali ini lu bisa membela Sascha seenaknya. Apa sih kehebatannya? Gue lihat keluarga ini kok tambah aneh dan nyeleneh. Dulu memang benar-benar benci. Kalau datang langsung dimaki terkadang dibentak-bentak. Terus setelah pergi dipuja-puja. Padahal seharusnya Sascah sama gue itu kalah jauh. Sascha anaknya orang miskin. Gue anaknya orang kaya. Bahkan bapak gue pengusaha terkenal. Lah sekarang kok lu membela anak miskin itu! Hidup di sini tidak sesuai dengan ekspektasi!” ejek Risa hingga membuat Fatin geram.


“Biarin orang miskin! Dia nggak nyusahin kok,” ucap Billi sengaja membela Sascha.


“Belain aja terus. Lu mau kembali ya sudah ajak dia kembali. Gua bilangin Sascha sekarang sudah nggak mau terima elu semua. Kalau mau nerima itu tandanya kalian beruntung. Sekarang Sascha itu pintar dan nggak bodoh lagi. Jangankan Sascha, wanita manapun kalau sudah ditipu kayak gitu pasti nggak mau. Dipacarin terus diambil uangnya, setelah miskin dibuang. Yakin deh nggak ada yang mau. Dan lu Billi, lu nggak seharusnya membela cewek itu. Karena status lo itu udah jadi milik gue. Kalau lu minta cerai gue bisa nuntut. Banyak sekali barang-barang yang lo minta dari gue dengan harga yang fantastis. Sascha aja nggak bisa beliin buat lu. Jika lu minta cerai gue minta semua barang-barang dikembalikan dengan bentuk uang tunai ke gue. Kalau dihitung-hitung bisa menjadi tiga triliun. Kalau nggak bisa gue tuntut dengan cara kasus pemerasan dan penipuan. Dan buat ibu lo juga sama. Ibu lu tambah parah. Saking parahnya banyak memakan korban. Oh iya kemungkinan besar gue juga mau ngajak kerjasama Sasha buat njeblosin kalian ke dalam penjara. Udah ah capek gua mau tidur,” jelas Risa sambil meninggalkan mereka.


Jujur mereka sangat terkejut sekali dengan pernyataan Risa. Apa yang dikatakan Risa itu benar apa adanya. Bayangkan saja mereka mencari korban dengan cara merayu dan menjadikan diri sebagai umpannya. Setelah dapat dipuja-puja setelah itu diberikan hak spesial. Dalam diam mereka melakukan aksi dengan berbagai cara. Untung saja Sascha sudah diperingatkan oleh Dewa dari jauh-jauh hari. Dirinya sekarang sudah paham dengan kelakuan satu keluarga itu.


“Lama amat sih ini bocah. Nggak mau ngasih informasi malah asik-asikan di kamar,” keluh Timothy.

__ADS_1


“Siapa yang lu maksud?” tanya Bima.


__ADS_2