
“Geledah itu semuanya! Kalau ada sesuatu di dalam perutnya ambil semuanya!” geram Bima yang tidak bisa menghabisi Damar.
Para pengawal itu melucuti baju milik Damar. Sedangkan Bima dan Timothy menunggunya hingga selesai. Beberapa saat kemudian datang Ian, Gerre dan Devan. Ketiga pria itu melihat Damar sedang dilucuti pakaiannya. Mereka bertiga melihat Bima dan juga Timothy.
“Ada apa?” tanya Devan. “Kenapa nggak dihabisi sih?”
“Maaf pa... dia memakai alat di tubuhnya. Makanya sedari tadi dia tidak kesakitan dan mengeluarkan darahnya,” jawab Timothy yang membuat Gerre tersenyum sinis dengan mengalihkan pandangannya ke arah Damar.
“Memang sedari dulu dia memiliki otak licik. Dengan kelicikannya dia sering memperdaya korbannya,” jawab Gerre jujur.
“Hmmpp... kok bisa ya?” tanya Devan.
“Ya... aku mengetahui kelicikannya dari seseorang kawan lama. Dia menceritakan kalau Damar memiliki otak licik. Bahkan dia menyuruhku untuk memecatnya,” jawab Gerre. “Tapi aku masih berbaik hati kepadanya sebelum Chloe melahirkan. Aku saat itu sedang berbaik hati. Tapi dia makin patah. Dia bekerja sama dengan Fatin dan juga Cathy untuk memisahkan aku dari putri kecilku,” Gerre mengungkapkan rasa sakit hatinya ke Damar.
Selesai digeledah, para pengawal menemukan lempengan besi bercampur emas. Ia membuangnya ke segala arah. Ia segera menghadap ke Bima sambil membungkukkan badannya sambil berkata, “Sudah selesai Tuan Bima.”
“Terima kasih,” ucap Bima yang membuat mereka mengundurkan dirinya segera menjauh.
“Akhirnya kamu sudah lepas dari pengaman. Haha... sekarang waktunya aku akan mengantarmu habis-habisan,” ungkap Bima dengan nada mengejek sambil melihat Damar yang memancarkan amarah.
Bima akhirnya mendekati Damar sambil membawa pisau lipatnya. Ia menatap tajam ke arah Damar sambil tersenyum iblis. Bima mulai meledek Damar sambil berkata, “Sepertinya kamu akan mati suri ini?”
__ADS_1
Kalimat itu sering sekali didengarkan oleh Timothy dan Ian. Memang dengan nada biasa. perkataan itu sangat menyeramkan. Bagi mereka Bima adalah seorang iblis yang menakutkan.
Jika Bima menyeramkan seperti itu. Kenapa dirinya tidak menjadi ketua mafia Black Tiger? Bima tidak ingin saja menjadi ketua mafia. Ia sudah meminta ke Dewa, kalau ada musuh atau tawanan yang tertangkap, maka Dewa harus memberikan mereka ke tangan Bima. Permintaan Bima memang disetujui oleh Dewa dan Tarra. Mereka sengaja memberikan mereka ke Bima. Karena mereka tidak susah lagi mengotori tangannya buat mengeksekusi tawanannya.
Malam ini Bima mulai bertingkah seperti psikopat. Ia langsung menancapkan pisau itu ke arah perut Damar. Ia malah tertawa dan memandang wajah Damar seperti ingin marah. Namun sebelum menusuknya, Bima bertanya kepada Gerre dan Devan.
“Ada yang mau disampaikan untuk terakhir kalinya?” tanya Bima.
“Sepertinya aku harus mengatakan ini ke dia,” celetuk Gerre sambil mendekati Damar.
“Silakan pa,” ucap Bima yang menggeser tubuhnya sambil membiarkan Gerre berkata, “Mulai saat ini kamu tidak bisa menyentuh keluargaku! Terutama pada putriku! Sedari dulu aku memberikan kamu kesempatan untuk hidup dan memiliki fasilitas, Tapi kamu enggak pernah berterima kasih sama sekali. Kamu telah menghancurkan perusahaanku dengan pelan-pelan. Kamu telah menyiksa putriku dengan terus-terusan. Lalu kamu memisahkan aku dengannya. Jujur kamu sangat licik sekali,” jelas Gerre yang masih menggunakan suara datarnya. “Sekarang kamu harus mati!”
Selesai mengucapkan seperti itu, Bima langsung tersenyum iblis di hadapan Damar. Namun sebelum Bima mendekati Damar, Gerre memberikan sebuah perintah. Yang dimana saja perintah itu membuat Devan bergidik ngeri.
“Nggak kurang banyak pa?” tanya Bima.
“Terserah kamu,” jawab Gerre yang membuat Bima semakin bersemangat.
“Hmmp... sepertinya kamu akan mati malam ini,” ejek Bima.
“Kau!” bentak Damar.
__ADS_1
“Jangan suka membentakku seperti itu! Sedari dulu aku memang tidak suka dibentak. Ditambah lagi dengan seseorang memanggil namaku denganmu nada kasar. Aku tidak suka itu!” bentak Bima balik.
Dari sekalian anggota Black Tiger, Bima adalah anggota paling aneh dan lucu. Namun anggota lainnya tidak memperdulikannya itu. Ditambah lagi Bima adalah seorang playboy cap kakap. yang dimana playboy cap kakap berhasil memperdaya lima orang wanita sekaligus. Bayangkan saja jika Bima merayu mereka dengan kata-kata cinta. Mereka langsung jatuh cinta dan membiarkan mengejar Bima. Untung saja saat itu Sascha tidak terkena rayuannya. Sekalinya terkena kemungkinan besar Sascha akan patah hati untuk selamanya. Jujur, banyak yang mengatakan kalau Bima itu adalah pria tampan. Kalau dibayangkan Bima mirip sekali dengan artis Hollywood yang sedang happening banget untuk tahun ini. Inilah yang jadi pertanyaan kenapa banyak orang yang mengejarnya?
Akhirnya Damar mau tidak mau menyerah dari keadaan. Damar sendiri sudah ketahuan melakukan korupsi besar-besaran di perusahaan Khans Company. Yang di mana Damar saat itu disuruh oleh istrinya sendiri. Kebetulan sekali Damar ingin mengambil sebagian aset milik keluarga Atmaja tersebut. Maka dari itu Aulia atau Sascha dan Shane sengaja disingkirkan. Sebab kedua anak itu sudah mengetahui kelicikan Damar. Itulah sepenggal kisah dari Damar.
Keesokan paginya Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak? Semalam dirinya ingin mengerjai sang suami. Namun apa daya ia malah dihajar habis-habisan. Untung saja Sascha langsung bangun dan melihat jam.
“Sudah jam delapan pagi ternyata. Tubuhku remuk seperti dihantam beton sebesar sepuluh ton saja,” keluh Sascha.
“Bukankah kamu yang menginginkannya pada malam tadi?” tanya Dewa yang masih memejamkan matanya.
“Kamu ini ada-ada saja. Aku hanya mengerjaimu habis-habisan. Tapi kamu malah berbuat yang aneh-aneh,” kesal Sascha yang membuat sang suami tertawa.
“Bukankah kamu yang memintanya? Lalu kenapa kamu menjadi marah seperti itu? Padahal semalam kamu juga melakukannya dengan semangat,” tanya Dewa yang sengaja bangun.
“Di sini nggak ada yang bisa disalahkan. Percuma kita saling menyalahkan satu sama lain. Lagian juga malam tadi itu adalah malam yang indah buat aku. Ditambah lagi ada suara deburan ombak yang sangat indah menambah suasana menjadi lebih baik lagi,” ucap Sascha yang memerah.
“Apakah kamu ingin memiliki rumah di dekat pantai?” tanya Dewa yang memandang wajah sang istri sedang memerah seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari pancinya.
“Ya aku sangat menginginkan rumah seperti ini. Tapi aku takut ada ombak datang yang menghantam rumahku nanti,” ujar Sascha yang aslinya masih trauma dengan kenangan masa lalunya.
__ADS_1
Wajah Dewa yang ceria tiba-tiba saja berubah menjadi sendu. Ia paham akan keadaan sang istri. Ketika deburan ombak yang dahsyat, Fatin dan Firly menculiknya. Sebelum menculiknya Fatin memukul kepala Sascha dengan memakai balok yang besar. Itulah kenapa dirinya sangat ketakutan jika berada di lautan.
“Kalau begitu kita akan mencari villa di area New York sana. Kalau tidak ada aku akan membangunnya untukmu. Bersabarlah... Aku nggak mau kamu trauma lagi untuk kesekian kalinya,” ucap Dewa dengan tulus. “Apakah kamu menjadi pergi ke Nganjuk hari ini?”