Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
USULAN DEWA.


__ADS_3

"Kalau berangkat besok ya sudah. Aku nggak jadi masalah kalian berangkat jam berapa. Aku ingin pergi beristirahat terlebih dahulu," ucap Sascha.


"Apakah kakak sakit?" tanya Dita.


"Aku nggak sakit. Tapi tubuhku agak lemah sedikit. Aku ingin beristirahat terlebih dahulu," jawab Sascha.


"Sebelum beristirahat makanlah terlebih dahulu. Jangan biarkan perutmu kosong seperti itu!" perintah Dewa.


"Iya... Aku ingin makan terlebih dahulu," sahut Sascha.


"Apakah Kakak sedang hamil?" Tanya Dita yang penasaran sekali.


"Enggak. Mana ada orang baru nikah hamil," jawab Sascha.


"Siapa tahu Kakak hamil. Kan Kak Dewa yang menjadi masalah utama kalau kakak hamil," sahut Dita dengan serius.


Dewa langsung matanya membulat sempurna. Ia tidak menyangka kalau dirinya dituduh sebagai penjahat. Namun sang adik dan Sascha malah tertawa.

__ADS_1


"Kalian ini sangat kompak sekali membuat aku menderita seperti ini," keluh Dewa.


"Ya... Kami harus kompak terlebih dahulu. Agar kami bisa menjatuhkan Kakak dalam waktu sekejap saja," sahut Dita.


"Astaga, apa salahku selama ini? Selalu menjadi bulan-bulanan kedua wanita ini," tanya Dewa sambil menatap kedua wanita itu.


Sementara Sascha membukakan tempat makan milik Dewa. Ia menahan tawanya melihat sang suami sedang menderita. Lalu Sascha memberikan tempat itu ke arah Dewa.


"Adanya nasi daging bawang. Untungnya si Ibu sudah memasak daging bawang itu," ucap Sascha.


"Nggak apa-apa. Yang penting bisa mengisi perut untuk bekerja setengah hari saja," ucap Dewa.


"Nggak tahu. Kemungkinan besar aku ikut sama Kak Dewa. Soalnya wanita kalau sudah menikah harus mengikuti suami," jawab Sascha yang bijak.


"Aku sangka Kakak akan ke sini," ucap Dita.


"Pastinya akan ke sini. Tapi nggak tahu kapan. Ujung-ujungnya nanti menengok tempat peristirahatan Ibu Nirmala sama Pak Andika," sahut Dewa.

__ADS_1


Teringat akan kedua orang tua angkat, Sascha menjadi sedih sekali. Memang Dewa berhak untuk mengingatkan kedua orang tua angkat tersebut. Dewa ingin menjadi orang yang bijak. Di sisi lain Sascha tidak akan melupakan jasa-jasanya. Mengingat dirinya hidup bersama Pak Andika maupun Bu Nirmala.


"Kakak benar. Aku tidak akan mungkin melupakan mereka. Meski aku telah kembali ke dalam pelukan keluargaku," sahut Sascha.


"Makanya itu. Aku sengaja mengingatkan mereka. Aku harap kamu tidak akan lupa dengan mereka," sahut Dewa.


"Jujur saja... Ketika aku mengunjungi rumah Ibu Nirmala. Hatiku sangat sejuk sekali. Dan berharap bisa tinggal di sana. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Pasalnya aku sendiri sibuk di dalam dunia akting," jelas Dita.


"Apakah kamu betah di sana?" Tanya Dewa.


"Betah. Ketika jalan-jalan sama Kak Sascha ke sawah," jawab Dita.


"Aku sudah lama tidak ke sawah. Aku bingung dengan sawah milik ibu Nirmala dan Pak Andika. Siapa yang ingin mengasuh sawah itu ya? Mereka sudah tidak memiliki sanak saudara lagi. Kemarin berita yang aku dengar, Kinanti dihukum mati. Jika sampai itu terjadi, semua sawah tidak ada yang mengurusnya," ucap Sascha.


"Lebih baik kamu ambil saja. Kamu urus dari tempat kita," sahut Dewa.


"Maksud kamu apaan? Itu sawah bukan milik aku. Milik Pak Andika dan Bu Nirmala," jawab Sascha.

__ADS_1


"Maksud aku... Lebih baik kamu kelola menjadi hal yang berguna buat sesama manusia. Biarkan sawah itu tetap ada. Kamu bisa sewakan sawah itu kepada orang-orang. Banyak loh sawah yang dimiliki sama Bu Nirmala. Kalau kita sewakan bisa jadi berguna untuk masyarakat sekitar. Anggap saja sebagai tanah pinjaman. Kita nggak perlu mengambil hasilnya. Biar mereka yang menikmati semuanya," Dewa mengusulkan tentang sawah milik Bu Nirmala.


"Apakah kakak serius?" tanya Sascha.


__ADS_2