Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
HARAP-HARAP CEMAS.


__ADS_3

"Ya... Anak sama orang tua sama saja. Sudah terbukti kalau Fatin dan Firly melakukan korupsi di perusahaan papa. Sekarang anaknya yang bernama Santi telah mengambil uang perusahaan sebesar dua milyar," jawab Dewa dengan serius.


"Apa itu benar?" tanya Devan.


"Ya... Sascha tahu Santi itu siapa?" jawab Dewa.


"Ya... Mau gimana lagi. Kita tidak bisa menjebloskan orang itu ke dalam penjara. Karena kita belum punya cukup bukti," jawab Gerre.


"Lalu?" tanya Dewa.


"Bukti-bukti yang kita punya sekarang sudah dibabat habis sama Firly. Mereka bisa melakukan apapun asal bisa selamat," jawab Gerre.


"Apa yang kita harus mencari bukti-bukti itu untuk menjebloskan semuanya?" tanya Dewa.


"Jangan sekarang. Lebih baik kita bebaskan mereka sekarang. Selama berada di samping kamu selamanya Sascha sangat aman sekali. Aku yakin mereka tidak akan sanggup memegang seujung rambut Sascha. Aku percaya sama kamu," jawab Gerre yang memberi saran.


Sementara itu kedua wanita paruh baya sangat gelisah. Mereka menginginkan Sascha cepat sadar dan mengenal dirinya. Yang Tara tahu Sascha adalah gadis yang periang dan baik. Dibalik kebaikannya sering dimanfaatkan oleh Risa dan Billi sekeluarga.


"Aku ingin Sascha bisa mengingat dirinya yang bernama Aulia," ucap Chloe.


"Berdoalah... Jangan bersedih. Kelak Sascha akan menjadi Aulia," tutur Tara dengan lembut.


"Kalau Sascha enggak ingat aku bagaimana?" tanya Chloe.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Kemungkinan besar Sascha akan ingat tentang kamu, Gerre, masa kecilnya dan Dewa yang sangat menginginkan menjadi suami baik buat dirinya," jawab Tarra.


Chloe menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu Chloe memandang wajah Tarra yang juga bersedih. Terkadang juga Tarra sangat menyesali kejadian itu. Karena sebelum kejadian itu Chloe sudah mengajaknya.


"Maaf... Sebelum kejadian itu aku tidak datang. Waktu itu Dewa sedang sakit demam. Aku harus terpaksa membatalkan semua pekerjaanku demi menjaga Dewa," ucap Tarra yang menyesali perbuatannya.


"Tak apa. Devan sudah cerita tentang keadaan Dewa waktu itu. Apalagi saat itu Devan sedang sibuk bekerja," ucap Chloe.

__ADS_1


Yang dikatakan Tarra benar. Posisi saat itu Tarra ingin pergi Okinawa Jepang. Namun Dewa sedang sakit. Devan sudah memberi ijin kalau Tara berangkat sendiri bersama para pelayan dan pengawal kepercayaannya. Jika Dewa tidak sakit kemungkinan besar akan ikut.


Sejam... Dua jam... Tiga jam... Empat jam... Operasi Sascha sudah selesai. Gerre mengaku lega sedikit. Namun hatinya masih bergelut dengan waktu. Gerre selalu yakin jika putri tercintanya akan sembuh dan bisa mengenali dirinya. Tak lama Dewa memberikan sebuah sampel darah ke Gerre. Gerre segera mengambilnya dan menuju ke ruangan dokter yang bernama Thomas. Thomas adalah teman baik Gerre saat sekolah dulu. Tanpa ketuk pintu Gerre masuk ke dalam dan melihat Thomas yang sedang sibuk.


"Bisakah kamu menyambutku dengan baik?" tanya Gerre dengan kesal.


Sang pria yang masih memakai jas putih itu sangat serius ketika mengetahui Gerre datang. Matanya membulat sempurna dan menatap wajah Gerre dengan lesu. Thomas segera menaruh pulpennya dan berdiri.


"Ngapain kamu disini?" tanya Thomas dengan serius. "Apakah Chloe sakit?"


"Enak saja istriku baik-baik saja. Aku ingin kamu mengecek sampel darah ini dengan darahku," jawab Gerre yang memberi perintah sambil menyodorkan sampel darah itu.


Thomas langsung meraih sampel darah itu dan bertanya, "Darah siapa itu?'


"Darah Sascha... Bisa dikatakan Sascha adalah asisten Dewa," jawab Gerre.


"Apakah itu benar?" tanya Thomas yang curiga.


Melihat Thomas dengan curiga, Gerre menatap Thomas dengan instens. Gerre mengerutkan keningnya sambil bertanya balik, "Sepertinya kamu curiga dengan Sascha?"


"Jadi kamu tahu semuanya tentang Sascha?" tanya Gerre.


"Ya... Aku tahu semuanya. Karena Sascha sudah dianggap cucu kesayangan dari kakek Aoyama sendiri," jawab Thomas.


"Sungguh beruntung nasibnya. Tapi nasib percintaannya kurang begitu beruntung. Pernah dibohongi oleh pacar dan keluarganya," keluh Gerre yang sangat khawatir dengan keadaan Sascha.


"Bersabarlah... Orang baik enggak akan terus-menerus tersakiti seperti itu. Aku tahu Sascha adalah gadis yang kuat," puji Thomas ke Sascha.


"Sepertinya kamu mengenalnya?" tanya Gerre.


"Ya... Kamu benar. Aku memang mengenal Sascha ketika Tuan Dewa memperkenalkannya pada Tuan Aoyama. Aku juga yang memegang tuan muda Dewa pas waktu overdosis dan menanganinya hingga sembuh. Sejak saat itulah aku dekat dengan Sascha ketika tuan muda sakit," jawab Thomas.

__ADS_1


"Apa itu benar?" tanya Gerre.


"Itu benar. Makanya jika Dewa sakit Saschalah yang merawatnya," jawab Thomas.


Gerre menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya secara kasar, "Sascha dirawat di sini. Kepalanya pusing dari semalam. Setelah diperiksa ternyata Sascha memiliki gumpalan darah di otaknya."


"Untunglah Sascha tidak apa-apa. Aku enggak ingin Sascha sakit. Karena aku tahu prestasi yang dibuat Sascha sangat epic," puji Thomas sekali lagi.


"Aku enggak mau kamu lama-lama DNA itu keluar!" perintah Gerre. "Aku ingin satu jam selesai."


"Untuk kamu spesial. Sejam jadi," ujar Thomas.


Gerre pergi meninggalkan ruangan Thomas. Namun sebelum Gerre keluar, Thomas berseru, "Gerre apakah kamu tidak memberikan sampel darahmu terlebih dahulu?"


Gerre menoleh dan menatap wajah Thomas sambil bertanya balik, "Bukannya kamu pernah memiliki sampel darahku?"


"Iya ya... Ah... Kenapa aku lupa? Sekarang pergilah. Jika Sascha sembuh aku akan kesana," usir Thomas.


Gerre tidak memperdulikan perkataan Thomas. Untung saja Thomas adalah teman sekolahnya dulu hingga bisa menjalin persahabatan erat dengan Gerre sampai saat ini. Bagaimana dengan orang lain? Bisa dipastikan Gerre akan meminta pihak rumah sakit untuk menonaktifkan sementara. Hanya sebagai balasan dari Gerre.


Setelah itu Gerre kembali ke tempat semula. Gerre menatap wajah Dewa, Devan, Chloe dan Tara. Sebelum mengeluarkan suaranya Ming keluar dari ruang operasi itu.


"Selamat siang," sapa Ming sambil menunduk.


"Bagaimana dengan keadaan Sascha tuan? Apakah Sascha baik-baik saja?" tanya Dewa beruntun.


"Setelah ini Nona Sascha akan dipindah ke ruangan VVIP. Namun sebelum dipindahkan saya memberitahukan kalau operasinya sukses. Seluruh darah bekunya sudah dibersihkan," jawab Ming.


"Syukurlah kalau begitu," jawab Dewa dengan tersenyum manis.


Beberapa saat kemudian para suster mendorong Sascha yang berada di brankar itu. Wajahnya pucat dan tidur dengan pulas. Kepalanya dibalut dengan kain kasa hingga membuat orang yang melihat hatinya seperti tercabik-cabik. Setelah itu suster membawanya ke ruangan VVIP yang masih berada di lantai ini. Mereka berharap Sascha akan sembuh dari penyakitnya.

__ADS_1


Sore pun tiba. Dewa masih setia menjaga Sascha sambil memegang tangan Sascha. Sedari tadi Dewa selalu berdoa ke Sang Maha Kuasa. Agar Sascha cepat pulih dan sadar. Dewa rindu dengan suaranya. Rindu dengan godaannya bahkan rindu dengan senyumannya yang manis.


"Sayang... Cepatlah sembuh," bisik Dewa ke Sascha.


__ADS_2