
Risa baru saja keluar dari kamar melihat Fatin dan Billi sedang bertengkar. Tiba-tiba saja namanya dibuat melemparkan kesalahan. Jujur saja Risa sangat kesal dan membentak mereka berdua.
"Enak saja lo! Nama gue dibawa! Lu tahu yang bikin kesalahan itu adalah anak lu sendiri! Dan sekarang lu nyesel gitu? Setelah gua miskin lu membuang gue! Jangan harap lu bisa ngelakuin semuanya! Karena rumah ini dan seisinya semuanya milik gue. Soalnya lo berdua punya hutang banyak sama gue," ucap Risa yang membuat mereka terkejut.
Bagaimana bisa Risa mengklaim rumah itu adalah miliknya? Sedangkan pemilik rumah itu adalah Fatin. Lalu Fatin menggelengkan kepalanya sambil berkata, "enak saja kamu ngomong ya! Gue yang bangun rumah ini elu yang ngeklaim. Cepat atau lambat lu bisa masuk penjara! Apa lu paham?"
"Halah... Sedari dulu lo bisa ngancem aja. Buktinya lu nggak bakalan bisa masukin gue ke dalam penjara? Soalnya lu takut sama gue. Dengan kata lain Lu itu adalah penjahat. Nggak anak nggak ibu sama saja," ujar Risa tertawa terbahak-bahak sambil menyindir mereka.
Risa merasa puas dengan ucapannya itu. Dirinya tidak mau disangkut pautkan dalam masalah besar keluarganya. Sepanjang jadi kekasihnya Risa selalu diminta membiayai keluarga Billi. Sekarang gantian, Risa ingin hidupnya dibiayai oleh mereka. Jika mereka ingin menuntut, Risa sudah memiliki bukti-bukti kuat. Anggap saja mereka bayar hutang. Yang hutangnya sebanyak tiga triliun rupiah.
"Lu nggak bakalan bisa nuntut Gue begitu saja. Masukin ke dalam penjara juga nggak bakalan bisa. Karena gue punya bukti kuat. Bukti-bukti itu tinggal kau lempar ke pengadilan saja. Lu tidak akan bisa berkutik. Dan sebagai gantinya rumah ini akan disita oleh negara. Jujur rumah lo ini nggak ada harganya. Jadi jangan macam-macam lu sama gue," bisik Risa yang membuat Fatin tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Memang kenyataannya Billi dan keluarganya selalu meminta uang untuk biaya hidupnya. Terkadang biaya itu sangat mahal. Bukan untuk dibuat makan melainkan membeli tas-tas branded. Yang akhirnya barang-barang seperti itu dipamerkan ke acara arisan Fatin.
Kembali lagi ke Surabaya.
Setelah check in Dewa mengajak sang istri masuk ke dalam hotel. Kemudian Dewa melemparkan tasnya sambil berkata, "Aku mau ngomong apa ya tadi?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu," Sascha melepas sepatunya sambil menatap Dewa.
Diam-diam Sascha mulai menarik roknya hingga kelihatan paha mulusnya di depan Dewa. Dengan nakalnya Sascha mulai menggoda Dewa dengan siulan. Entah kenapa Dewa yang duduk itu tidak sengaja melihat apa yang dilakukan oleh sang istri. Lalu dirinya mulai menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dewa yang merasakan tubuhnya panas dingin.
"Aku tidak apa-apa," jawab Sascha sambil menggoda Dewa. "Aku hanya kepanasan saja."
"Benarkah itu?" tanya Dewa yang beranjak berdiri sambil duduk di samping sang istri.
"Kok pindah ke sini?" tanya Sascha.
"Aku ingin pindah dan duduk di sampingmu," jawab Dewa sambil memegang kancing baju Sascha.
"Apa yang kamu lakukan?" Sascha mulai curiga kepada sang suami.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membantumu melepaskan baju itu," dengan senyumnya yang khas Dewa menatap wajah Sascha dengan sayu.
"Alasan yang tidak masuk akal," ucap Sascha sambil memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Aku sedang baik nih sayang. Makanya aku sengaja membuka kancing bajumu itu. Aku tahu kamu sangat kepanasan sekali. Hingga bajumu basah semua," ujar Dewa yang membuat Sascha curiga.
"Curiga nich aku. Bisa-bisanya Kak Dewa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itulah pria zaman now. Hingga membuat aku bingung setengah mati," sahut Sascha.
"Diamlah! Jangan banyak bicara seperti itu! Sekarang kamu duduk manis saja! Tanganmu nggak boleh banyak bergerak! Biarkan tanganku, otakku dan hatiku yang bekerja. Aku merasa mereka sinkron menjadi satu," bisik Dewa yang membuat Sascha mengalah.
"Terpaksa Aku mengalah," geram Sascha dalam hati.
"Iya... Kamu harus mengalah. Biarkanlah mereka bermain," ujar Dewa yang membaca isi hati sang istri.
"Bisa nggak sih? Kamu nggak baca isi hatiku? Soalnya aku nggak bisa mengumpat kamu lagi?" tanya Sascha dengan kesal.
"Jangan kau lakukan itu. Nanti dosa menganiaya suami tanpa ada kekerasan fisik," jawab Dewa yang mulai nakal.
Akhirnya Dewa mulai melakukan adegan panas di siang hari. Lalu, bagaimana dengan Sascha? Wanita berparas cantik itu hanya diam dan mengalah. Jujur semua ini salahnya sendiri. Kenapa dirinya memancing ikan di air yang keruh? Coba saja tadi dirinya tidak melakukan hal itu? Kemungkinan Sascha akan selamat dari cengkraman Dewa.
Namun Sascha juga menikmatinya. Dirinya sangat nyaman dan membuat sang suami semakin bersemangat.
Sore pun tiba. Selesai melakukan adegan itu, pasangan suami istri akhirnya membersihkan tubuhnya. Di dalam toilet Dewa menambah adegan itu lagi. Sebagai sang istri tentunya dirinya sangat pasrah menerima itu.
"Sudah empat ronde yang kita lakukan. Rasanya malam ini aku tidak akan bisa keluar dari hotel. Tubuhku sangat remuk bagaikan dihantam beton seratus ton. Jika kamu keluar pesenin aku makan malam terserah apa yang kamu belikan," ucap Sascha yang berbaring di atas ranjang.
"Iya," jawab Sascha.
Dewa meraih ponselnya dan membuka aplikasi berwarna hijau. Ia segera memesan makanan di berbagai tempat. Dengan gaya santainya Dewa menatap wajah sang istri sangat pasrah.
"Aku sudah pesan makanan banyak sekali. Aku harap kamu bisa menghabiskannya. Aku nggak mau kamu kecapean seperti ini. Maafkanlah Aku," ucap Dewa.
"Nggak usah minta maaf. Aku memang salah. Aku nggak seharusnya melakukan adegan itu," ujar Sascha membuat Dewa terkekeh.
"Kamu tahu istilah nasi menjadi bubur?" tanya Dewa.
"Ya aku tahu itu. Ditambah lagi dengan kekonyolan kamu. Mulai saat ini aku tidak akan melakukan seperti itu lagi," jawab Sascha.
Dewa tertawa terbahak-bahak melihat sang istri sepertinya menyesal. Lalu pria bertubuh kekar itu menarik tubuh mungil Sascha. Ia memeluk Sascha sambil berkata, "Jangan pernah menyesal seperti itu. Karena kamu memang harus melakukannya."
"Kak," panggil Sascha.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Apakah aku mengambil keputusan yang salah?"
"Keputusan apa?"
"Keputusan yang di mana Aku menghukum Kinanti."
"Kamu nggak salah kok. Katanya kamu bertemu Ibu Nirmala dan Pak Andika di dalam mimpi. Lalu mereka berkata jangan pernah melepaskan Kinanti dari penjara."
"Iya itu benar Kak. Jujur saja dalam hati kecilku ada perasaan bersalah."
"Sini aku jelaskan. Jika Kinanti salah jangan terlalu kamu umbar. Kalau kamu umbar terus-terusan dan melepaskannya. Maka Kinanti akan menjadi besar kepala. Suatu hari nanti dirinya akan menjadi bumerang buat kamu."
"Tapi."
"Sayang, kamu tahu kalau mimpimu itu adalah permintaan mereka. Mereka sudah bosan apa yang dilakukan Kinanti. Yang lebih parahnya lagi semasa hidup mereka, Kinanti tidak pernah menyayanginya. Padahal kamu tahu sendiri, mereka tidak pernah memanjakan kamu dan Kinanti. Soal prestasi atau apapun yang kamu capai itu hasil kerja kerasmu. Kerja keras yang di mana kamu berusaha mendapatkannya. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada mereka. Kamu itu seperti papamu. Papamu sangat ulet dan giat bekerja. Begitu juga dengan mamamu. Meskipun papa kamu kaya, mamamu tidak pernah berpangku tangan. Ada saja yang idenya untuk membuat baju untuk dijual. Aku salut kepada mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang bekerja keras."
"Aku nggak tahu, sampai sekarang aku bingung dengan Kinanti. Dari kemarin aku selalu menjadi musuh utama dalam hidupnya. Padahal aku nggak pernah mengusiknya sekalipun."
"Itu beda sayang. Aku juga nggak tahu harus ngomong apa. Jujur selama Ibu Nirmala hidup semua kehidupan kamu yang menanggungnya semua. Begitu juga dengan uang bulanan Kinanti. Jika Kinanti adikku aku akan melakukan hal yang sama. Terpaksa aku menegurnya. Lalu memenjarakannya selama beberapa bulan ke depan."
"Bagaimana dengan Ricky?"
"Aku harus memberitahukanmu satu fakta tentang Ricky. Aku harap kamu jangan kaget semuanya. Selama ini Ricky sengaja mendekati Kinanti. Rencana utamanya adalah ingin membunuhmu. Rencana itu sudah disusun oleh Ricky dan Risa. Sebelum Kinanti menikah, Ricky berusaha mendekatimu. Dia menyamar sebagai office boy di perusahaanku. Diam-diam dirinya memasukkan racun ke dalam minumanmu. Untung saja setiap sudut pantry ada cctv-nya. Aku bisa mengecek dan mengumpulkan bukti itu semua."
"Kenapa Ricky ingin membunuhku?"
"Pertanyaanmu bagus sekali. Sudah aku bilang Risa sangat membencimu semenjak sekolah. Jadi mau tidak mau Risa melakukan cara yang licik. Kamu tahu nggak kalau Ricky itu adalah dokter bedah?"
"Aku tidak tahu Kak. dia nggak pernah cerita apapun ke ibu Nirmala dan Pak Andika. Dia hanya bilang tenang saja uangku banyak kok bisa membiayai hidup putrimu itu."
"Namanya juga dokter bedah yang ditugaskan khusus untuk organisasi bawah tanah. Aslinya Ricky tidak bisa melakukan apa-apa. Dirinya memang diajarkan untuk membedah seseorang. Itulah kisahnya Ricky."
"Memang hebat sekali itu Ricky. Bisa-bisanya ia melakukan pekerjaan kotor itu. Untung saja Aku tidak bilang kepada mereka. Kalau mereka tahu aku tidak bisa membayangkan Bagaimana sedihnya mereka."
"Kamu benar. Jika kamu mengatakannya. Maka mereka sangat kecewa sekali dengan pilihan Kinanti. Cepat atau lambat kamu mendapatkan masalah."
__ADS_1
"Masalah apa Kak? Apakah masalah itu berat buatku? Kok aku jadi penasaran dengan masalah itu?"