Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ULAH DAMAR.


__ADS_3

“Tato bergambar singa berwarna putih,” jawab Sascha. 


“Bukankah mereka adalah musuh bebuyutanmu?” tanya Gerre yang tiba-tiba saja membuka suatu fakta.


“Itu memang benar pa. Beberapa tahun terakhir belakangan ini. Kelompok mafia yang berjulukan White Lion itu mati suri. Aku bersama Bima mencarinya kemana-mana. Eh ujung-ujungnya ketemu di sini,” jawab Dewa dengan jujur.


“Kebetulan sekali,” celetuk Sascha.


“Kebetulan bagaimana?” tanya Gerre.


“Sebenarnya kelompok itu belum mati. Aku pernah masuk ke dalam organisasi tersebut. Yah mereka bisa dikatakan kelompok mafia paling licik sedunia. Bilangnya sudah mati. Ujung-ujungnya masih hidup,” jawab Sascha. “Yang menjadi pertanyaannya adalah mereka bekerja sama dengan Damar. Jujur aku pernah mengacak-ngacak website ilegal mereka. Saat itu aku sangat kesal sama mereka. Karena mereka sudah meremehkanku sebagai wanita.”


“Maksud kamu apa?” tanya Dewa lagi yang tidak paham dengan pernyataan Sascha.


“Mereka telah melecehkanku sebagai seorang wanita. Katanya wanita itu adalah makhluk lemah. Sangking lemahnya mereka mengatakan kalau aku tidak cocok masuk ke dalam kelompok tersebut. Padahal aku saat itu hanya bertanya saja. Padahal aku sendiri tidak tertarik masuk ke sana. Maka dari itu aku bersumpah akan menghancurkan mereka satu persatu jika bertemu,” jelas Sascha yang diiringi gelak tawa dari Dewa. 


Pernyataan Sascha membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak seorang wanita lemah lembut bisa bersumpah ingin menghancurkan kelompok mafia tersebut. Padahal banyak yang melihat kalau Sascha adalah wanita lemah lembut. Namun pernyataan itu salah besar. Sascha bisa berubah menjadi rubah kecil yang pemarah dan menghancurkan segalanya. 


Bagaimana dengan tanggapan Dewa? Berhubung sang istri sudah mengibarkan bendera peperangan, Dewa akhirnya akan mengambil jalan untuk kedepannya. Ditambah lagi kelompok mafia tersebut adalah musuh bebuyutannya. 


Dengan penuh amarah Sascha membuka pintu itu dengan cara menendang. Ia langsung masuk menuju ke sel sambil menatap wajah Damar. 


“Damar,” panggil Sascha dengan nada meninggi. 


Damar hanya tersenyum tipis sambil memandang wajah Sascha. Dengan wajah meledaknya, Damar meminta Sascha untuk melepaskannya. 


“Lepaskan aku sekarang juga. Jika kamu tidak ingin mati berdiri!” ucap Damar dengan nada rendah. 

__ADS_1


“Cih, bisa-bisanya kamu mengatakan seperti itu? Apakah kamu berpikir dia sama dengan kelompok mafia dari New York city yang bernama White Lion? Tapi sayang, kelompok mafiamu itu telah mati di tanganku. Soal skill kelompok mafiamu itu tidak ada apa-apanya. Ditambah lagi kelompokmu itu sangat menyebalkan. Kemungkinan besok aku akan menyerang markas mereka,” jelas Sascha yang membuat Damar terkejut.


“Apa yang kamu bilang? Kamu meremehkan kelompok mafia. Kamu telah menghina organisasi milikku. Setelah aku lepas dari sini, aku akan menuntutmu ke pengadilan!” ancam Damar.


“Kamu itu lucu sekali ya. Bisa-bisanya kamu menuntut ke pengadilan karena mengejek organisasi hitam itu. Tapi kamu nggak menyadari sama sekali. Organisasi hitam itu telah menjadi incaran pihak interpol dunia. Jika kamu ingin melaporkannya ke pengadilan maupun ke kepolisian. Pihak hukum akan menjadi bahagia dan tersenyum sumringah. Karena mereka tidak perlu susah payah menangkap kamu dan organisasi hitam itu. Cepat atau lambat berita itu akan menyebar ke seluruh dunia. Seluruh para penghuni yang hidup di dunia ini akan menertawaimu. Kenapa mereka menertawaimu? Jawabannya adalah karena kamu bodoh. Ah sudahlah... Aku sudah tidak ada lagi sangkut pautnya dengan kamu. Semuanya akan aku serahkan kepada papaku,” beber Sascha dengan fakta sesungguhnya. 


Damar tercekat dan tidak dapat berbicara apa-apa. Ternyata selama ini dirinya telah meremehkan Sascha. Bahkan dirinya telah membuat pernyataan kalau Sascha adalah wanita yang lemah.


“Berapa orang kamu memiliki pengawal di White Lion?” tanya Sascha sambil menatap tajam ke arah Damar.


“Aku tidak akan memberitahukannya kepadamu,” jelas Damar yang tidak ingin memberitahukannya kepada Sascha.


“Tenang saja. Hanya sekali klik aku sudah mendapatkan banyak informasi dari dark web,” ejek Sascha. “Ya meskipun kamu menyembunyikannya secara rapat. Semuanya dengan mudah aku membobolnya. Jangan samakan aku dengan istrimu itu. Yang diam-diam bisa kamu bohongi seenaknya. Udah itu aja aku capek berdebat dengan orang bodoh sepertimu.”


Tak lama kemudian datang Dewa dan Gerre. Mereka masuk membawa aura dingin yang pekat. Mereka juga tidak akan melepaskan Damar begitu saja. Kemudian Dewa melihat tongkat bisbol yang berada di pinggir. Ketika ingin mengambilnya, Bima berteriak dan mendekati Dewa.


Dewa hanya menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa Bima masuk tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu? Ah rasanya tidak mengkonfirmasi pun, Bima dengan mudah mengakses villa ini. Namanya juga Bima adalah sang pemilik villa ini.


Ketika Bima memegang tongkat baseball tersebut, Dewa dengan cepat meraih tangan Sascha. Dewa mengajak sang istri untuk keluar dari ruangan sel itu. 


Sascha yang tidak paham menghentikan langkah Dewa. Namun Dewa menoleh sambil berkata, “Kamu kan belum puas melakukannya. Ayo kita lakukan lagi.”


Sascha menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. Karena dirinya belum puas melihat Damar tersiksa. Terpaksa Dewa melepaskan sang istri untuk kembali ke sel. Ketika sampai di sel, Sascha melihat Bima mengangkat tongkat itu. Lalu Bima menghantamkannya ke arah Damar tepat berada di ulu hatinya. Hingga akhirnya Damar berteriak kesakitan. 


Dengan langkah kakinya yang cepat, Sascha mendekati Dewa sambil berkata, “Ternyata kak Bima sangat menyeramkan.”


“Dia memiliki jiwa psikopat yang parah. Sudah hampir setengah tahun dia belum pernah membunuh orang lagi. Kebetulan sekali Damar telah merusak villanya. Jadinya Bima seperti orang kesetanan menghajar Damar. Itulah kenapa aku tidak mau kamu melihatnya. Nanti kamu akan muntah dan tidak mau makan,” jelas Dewa yang membuat Sascha mengerti. 

__ADS_1


Wanita berparas cantik itu pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya Dewa mengajak Sascha keluar dari ruangan bawah tanah. Sementara para pengawal membersihkan para mayat itu. Ternyata oh ternyata Sascha menarik tangan Dewa dan masuk ke dalam kamar. 


“Apakah Damar akan mati?” tanya Sascha. 


“Jika semuanya berada di tangan Bima. Tawanan Black Tiger tidak akan selamat sama sekali. sebab Bima adalah orang yang doyan menghabisi orang dengan kejam seperti itu. Aku sebagai ketua mafia nya memilih mundur dan membiarkannya menghabisinya,” jawab Dewa. 


“Ternyata sangat mengerikan sekali Kak Bima,” celetuk Sascha yang menghempaskan bokongnya di tepi ranjang. 


“Ya begitulah. Makanya aku suruh kamu menjauh dari sana. Agar kamu tidak trauma dengan Bima. Aku tahu hubungan kamu sama Bima seperti adik dan kakak. Bima sudah menganggapmu sebagai adik kandungnya sendiri. Maka dari itu jika ada yang menyakitimu, Bima yang akan menghabisinya,” jelas Dewa yang membuka bajunya. 


“Apakah kakak sering bertarung seperti ini?” tanya Sascha yang sangat penasaran sekali dengan kegiatan Dewa di dunia bawah tanah.


“Black Tiger adalah kelompok organisasi bawah tanah yang tidak ingin membuat masalah. Bisa dikatakan kami adalah kelompok mafia yang pasif dalam pertarungan. Bukan berarti kami tidak bisa bertarung. Malahan Kami memang sengaja menghindari banyak masalah. Jika dari mereka yang menyenggol Black Tiger. Meskipun itu ringan atau berat aku akan menurunkan Choi atau lainnya pergi ke markas tersebut. Aku menyuruhnya untuk mengkonfirmasi masalah tersebut. Berhubung mereka tidak sengaja melakukannya. Kami bisa memaafkannya dengan hati yang lega. Jika mereka sengaja melakukannya dan membuat rusuh dengan kami. Kami terpaksa meneladaninya dan menghabisi seluruh para anggota kelompok mafia tersebut. Sebab kelompok ini ditugaskan untuk menjaga perusahaan Nakata’s Groups,” ungkap Dewa sambil membeberkan kenyataan di lapangan. 


“Berarti aku salah masuk dong?” tanya Sascha yang membuat Dewa bingung. 


“Salah masuk bagaimana? Kamu nggak salah masuk. Justru kamu akan merasakan sensasi bagaimana kita menjadi saudara seutuhnya. Aku sebagai sang ketua tidak akan membuat semuanya menjadi kacau. Sebab aku ingin menciptakan rasa persahabatan dan perdamaian ditambah rasa kekeluargaan di antara kita,” jelas Dewa yang duduk di samping Sascha. 


“Kok aku baru tahu ya ada kelompok mafia seperti itu? Biasanya mereka selalu membuat ulah dan berperang satu sama lain,” tanya Sascha. 


“Ngapain juga kita berperang seperti itu? Aku tidak ingin membuat ulah sedikitpun. Aku ingin menciptakan perdamaian di muka bumi ini,” jawab Dewa. 


“Sepertinya kelompok ini harus dilanjutkan hingga ke anak cucu kita. Sebab aku ingin mengajarkan mereka untuk menjadi manusia yang penuh dengan kedamaian,” ungkap Sascha yang berharap anak-anaknya kelak bisa menyebarkan kedamaian di dunia ini. 


“Bagus itu. Lebih baik kita bisa melakukannya sekarang juga. Ayo kita tidur!” ajak Dewa sambil memegang tangan Sascha. 


“Ngapain kita tidur?” tanya Sascha balik.

__ADS_1


__ADS_2