
"Yang penting buat papa dan seluruh pria dewasa itu, bagaimana caranya kamu membuat bahagia wanita yang berada di samping kamu,'' jawab Devan.
"Aku kira apa?' kesal Dewa.
"Bagaimana dengan pekerjaan yang papa berikan?" tanya Devan.
Sascha terdiam dan menatap Dewa dan Devan secara bergantian. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar sambil menjawab, "Maaf pa. Seluruh laporan dari beberapa divisi dan papa itu selisihnya banyak. Aku ingin meminta laporan selama enam bulan belakangan ini. Aku merasa curiga dengan tiga divisi yang berada di sini."
"Maksudnya?" tanya Devan yang mengerutkan keningnya.
"Beberapa dari mereka melakukan penggelapan dana. Kasus ini harus diselidiki mendalam. Jika tidak maka perusahaan akan hancur berkeping-keping," ucap Dewa dengan serius.
"Apa?" pekik Devan yang baru saja sadar.
"Ya pa. Ini tidak main-main. Laporan yang papa buat adalah laporan prediksi papa untuk bulan ini kan," jawab Dewa.
"Sembarangan saja kamu kalau ngomong! Ini laporan beneran. Papa memiliki sistem tersendiri yang bisa menghubungkan ke seluruh divisi. Meskipun papa tidak ada di kantor, papa selalu saja memeriksa semuanya," ucap Devan dengan nada datar.
"Kalau begitu... Papa harus cepat membentuk tim khusus agar kasus ini terdeteksi," pinta Dewa.
"Sebagai gantinya kamu dan Sascha yang akan bekerja di sini!" perintah Devan.
"Apa?" teriak mereka secara serentak.
"Ya... Kamu bersama Sascha. Ayolah... Sebagai gantinya papa akan memberi kamu sebuah mansion baru," ujar Devan yang tersenyum manis.
Dewa dan Sascha hanya bisa menepuk jidatnya karena ulah Devan. Bisa-bisanya kasus seperti ini diberikan kepada mereka. Well, mereka bukan seorang akuntan audit perusahaan besar seperti ini. Namun apa daya sekali mengeluarkan perintah mereka hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Aish... Kalau ada maunya saja merayunya memakai mansion mewah," kesal Dewa.
"Ayolah boy... Tolong aku," ucap Devan yang pura-pura sedih.
"Aku akan membicarakan ini ke Sascha," pinta Dewa sambil tersenyum yang memiliki arti.
"Senyuman kamu mengandung arti jika ingin kabur dari pekerjaan ini," kesal Devan yang membaca mimik wajah Dewa.
__ADS_1
Dewa langsung memasang wajahnya dengan datar. Lalu Dewa membuang wajahnya ke sembarang arah. Dalam hatinya Dewa menggerutu kalau sang papa membaca mimik wajahnya.
"Aku kasih waktu empat hari untuk memecahkan kasus ini. Jika lebih aku akan menahanmu disini. Dan aku akan berkata pada Gerre kalau pernikahan kalian batal," ancam Devan.
Bagai petir di siang bolong. Dewa langsung berkeringat dingin. Bagaimana bisa dirinya mendapatkan sebuah ancaman seperti ini? Sudah lama menantikan pelukan hangat saat tidur di ranjang bersama Sascha. Malah Dewa menelan kekecewaan seperti ini.
"Oke... Empat hari. Bonus dua mobil sport keluaran baru," kesal Dewa.
"Aish... Kenapa gue kena peras ya sama anak sendiri!" kesal Devan yang membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.
"Salah sendiri. Lagian juga empat hari ini akan ada persiapan pernikahan. Kenapa juga aku harus bekerja dadakan seperti ini!" umpat Dewa.
"Sa, semoga kamu kuat menghadapi orang gila ini," umpat Devan yang menatap wajah sang calon menantunya.
"Kalau begitu aku pulang," pamit Dewa.
"Mau tidur dimana?" tanya Devan.
"Tidur di apartemenlah," jawab Dewa.
"Enggak. Sascha akan tidur bersamaku! Aku sudah lama tidak satu ranjang bersama kekasihku itu!" tegas Dewa.
Beberapa saat kemudian datang Gerre yang sengaja menjemput Sascha. Kemudian Sascha beranjak dari duduknya sambil mendekatinya, "Papa."
"Ayo pulang. Biarkan Dewa bersama papanya itu. Papa akan menunjukkan sesuatu," ajak Gerre yang memegang tangan Sascha.
Sascha menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Lalu Gerre mengajaknya pulang ke mansion. Melihat kepergian Sascha dari sisinya, Dewa merasa kehilangan separuh jiwanya. Dewa langsung memasang wajah murung. Sedangkan Devan hanya bisa menahan tawanya.
"Jomblo lagi. Kasian dirimu boy," ejek Devan.
Dewa memutar bola matanya dengan malas. Lalu Dewa menatap Devan sambil menggelengkan kepalanya, "Senang ya papa meledek anak sendiri!"
"Kamu itu dari bayi hingga detik ini masih lucu. Makanya papa hobi banget ngerjain kamu," ucap Devan yang secara terang-terangan.
"Ok... Aku ambil pekerjaan ini. Tapi enggak tahu Sascha bagaimana?" tegas Dewa.
__ADS_1
"Aku rasa empat hari selesai," celetuk Devan.
"Aku usahain semuanya selesai. Jujur saja aku sama Sascha sudah curiga dari enam bulan yang lalu kalau perusahaan papa sedang gonjang-ganjing," sahut Dewa yang mengetahui perusahaan Devan.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Devan.
"Sascha yang menemukannya. Papa tahukan kalau kakek Aoyama memberinya hak istimewa untuk menjelajah dari satu ke perusahaan lain. Bahkan Sascha sendiri sudah tergabung dalam organisasi yang dibentuk oleh Mas Kobe memberantas perusahaan utama dan cabang," jelas Dewa.
"Jadi kamu mau?" tanya Devan.
"Itu tugas pa. Meski papa enggak ngasih aku apa-apa. Kami tetap jalan. Papa enggak usah ngasih aku mansion mewah. Aku bingung mau nempatin dimana. Sementara kami sibuk lompat kesana kemari hanya untuk mengamankan perusahaan," ungkap Dewa.
"Makasih ya wa. Kamu sudah menolong papa. Langkah selanjutnya apa?" tanya Devan.
"Semua barang bukti sudah terkumpul. Kemungkinan dua hari ini aku bersama Sascha akan kembali ke Indonesia untuk melihat pembangunan beberapa resort di Labuhan Bajo. Sekalian mampir ke Jakarta untuk mengambil laptopku,' jawab Dewa.
"Lakukanlah terbaik buat papa. Papa kehilangan perusahaan tidak jadi masalah. Lalu para pekerja lainnya," ucap Devan.
Deg.
Jantung Dewa berhenti sejenak ketika papa kehilangan perusahaan. Bagi Devan itu tidak jadi masalah. Lalu bagaimana dengan para karyawan yang sudah mencapai puluh ribuan yang mengabdikan pada perusahaan Devan. Mereka akan menganggur. Lalu dari mana mereka mendapatkan uang ketika menyambung hidup.
"Aku usahakan biar cepat selesai. Aku juga enggak ngira akhir-akhir ini perusahaan papa gonjang-ganjing. Jika pelakunya ketemu segera aku kabari. Oh ya pa.. aku meminta akses perusahaan ini. Agar aku sama Sascha bisa keluar masuk dengan mudah terutama pada malam hari," pinta Dewa dengan serius.
"Kenapa enggak pagi atau siang?" tanya Devan.
"Enggak bisa pa. Kami tidak bisa menyelidikinya secara mendalam jika siang hari. Kalau malam kami bisa melakukannya," ucap Dewa.
"Baiklah. Kamu bisa melakukannya pada malam hari. Aku akan memberikan akses agar leluasa keluar masuk sini," balas Devan yang optimis karena Dewa dan calon menantunya bisa menyelesaikan semuanya.
"Doain saja pa. Aku mau pulang ke apartemen," pamit Dewa yang beranjak berdiri.
"Ngapain kamu pulang ke apartemen? Kamu kan punya mansion di sini!" geram Devan yang melihat Dewa tidak ingin pulang.
"Bukannya aku tidak ingin pulang pa. Jarak antara mansion papa mertua ke apartemen sangat dekat sekali," ejek Dewa yang tersenyum kemenangan.
__ADS_1
"Bener-bener deh ini anak! Bisa-bisanya mencuri kesempatan dalam kesempitan!" teriak Devan yang frustasi.