
“Kamu boleh ikut dengannya. Tapi asal kamu tunaikan permintaan
Bu Nirmala,” jawab Dewa yang membuat Sascha tersenyum manis.
“Baiklah,” Sascha menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis.
“Sayang,” panggil Dewa yang mengarah ke wajah sascha.
“Ada apa?” tanya Sascha.
“Aku pengen makan mie rebus,” jawab Dewa yang membuat Kobe
terkejut.
“Wa,” panggil Kobe yang menatap Dewa.
“Apa bang?” tanya Dewa.
“Biasanya kamu nggak suka makan mie rebus? Jika aku mau
ngajakin kamu... malah kamu yang mulai ceramah habis-habisan,” kesal Kobe.
“Akhir-akhir ini Kak Dewa aneh paman,” sahut Dita yang menatap
Kobe.
“Memang sangat aneh sekali. Padahal abangmu itu sedari dulu
nggak suka dengan mie rebus,” jawab Kobe yang masih bingung.
“Mungkin saja Sascha sedang hamil kali,” celetuk Ian yang meraih
kopinya.
“Apa?” pekik Kobe yang mengulas senyumnya yang khas itu.
“Hmmp... kalau Sascha hamil. Akulah orang yang pertama membuat
acara syukuran besar-besaran,” sahut Bima yang mengejek Dewa.
“Terserah apa katamu,” ucap Dewa dengan pasrah.
“Terima kasih Kak Bima,” ucap Sascha.
Bima langsung mengacungkan jempolnya dan tersenyum manis kepada
Sascha. Ia sangat bersyukur sekali mendapatkan teman-teman yang baik. Ia juga
berharap bahwa kebersamaan seperti ini tidak akan luntur selamanya.
Sedari tadi Dewa memandang Kobe dan tersenyum penuh arti. Ia
akhirnya memiliki pikiran licik sambil menyuruh Kobe, “Abang.”
Kobe yang sedari tadi memiliki perasaan yang tidak enak, hanya
bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Wajahnya yang ceria berubah menjadi
pucat dan menundukkan kepalanya. Rasanya ia ingin berlari dan pergi dari
hadapannya. Namun otak licik Kobe sudah diketahui oleh Dewa. Lalu Dewa berseru,
“Abangku yang baik.”
“Apa?” tanya Kobe yang mulai merasakan keringatan padahal
hawanya belum panas.
“Tolong ambilkan aku degan hijau di atas pohon yang berada di
depan itu,” jawan Dewa yang tersenyum manis.
Jederrrrrrrrrrrrrrrr.
Bagai petir di pagi hari. Kobe langsung merasakan badannya
lemas. Ia mencoba berakting tubuh lemas. Ia akhirnya meminta izin ke Dewa untuk
beristirahat terlebih dahulu. Namun Dewa mengetahui akal-akalan Kobe.
“Abang,” panggil Dewa.
__ADS_1
“Iya, Oh.. iya... aku ingin meminta izin kepada kamu. Kalau aku
tidak bisa melakukannya. Karena tubuhku sangat lemas sekali,” jawab Kobe sambil
meminta izin kepada Dewa.
“Nggak bisa begitu bang. Apakah abang melupakan janjimu
kepadaku?” tanya Dewa.
“Janji apa itu?” tanya Kobe yang pura-pura lupa.
“Janji yang dimana abang ketika aku sedang koma,” jawab Dewa
yang mengingatkan janji dimana Kobe pernah berjanji saat itu.
Flashback On.
Kuta Bali.
Ketika terbangun dari tidurnya Sascha mencari keberadaan Dewa. Ia
lalu masuk ke dalam kamar Dewa dan mencarinya. Tiba-tiba saja Dewa terbaring di
ranjang dengan mulut berbusa, Sascha akhirnya tak sengaja melihat ada serbuk
putih yang berada di sampingnya. Ia melihatnya dengan seksama dan mulai
curiga. Diam-diam Sascha berkata, “Kenapa ada obat-obatan terlarang? Kenapa kak
Dewa memakai obat-obatan seperti ini?”
Sascha akhirnya memeriksa denyut nadinya. Ia tidak menyangka
kalau denyut nadinya sangat lemah sekali. Bisa dikatakan nyawa Dewa hampir
tidak diselamatkan.
Sascha meraih ponsel Dewa dan menghubungi Bima. Untung saja Bima
saat itu ikut dengan mereka. Karena mereka sedang mengecek beberapa resort dan
hanya untuk melepas penat.
Bima yang baru saja mendapatkan telepon dari Sascha segera
menuju ke kamar Dewa. Disana Bima sudah melihat Sascha yang menangis
sesenggukan. Ia juga melihat Dewa yang overdosis.
“Apakah kamu sudah menghubungi ambulans?” tanya Bima yang
menyentuh tangan Dewa.
“Aku sudah menghubunginya. Mereka sudah menuju kesini,” jawab
Sascha yang ketakutan sekali.
Bima yang melihat Dewa dengan kondisi seperti itu hanya bisa
berteriak memanggil nama Dewa. Namun Dewa tidak bereaksi apa-apa. Bima akhirnya
memandang wajah Dewa dan memukuli wajah Dewa. Bima berharap jika Dewa bisa
bereaksi. Namun semuanya nihil. Dewa tidak bereaksi apapun. Malahan Dewa tetap
berada di posisi yang sama.
Beberapa saat kemudian petugas ambulans datang. Untungnya mereka
membawa brankar dan langsung mengangkat Dewa dari ranjang, Mereka segera
membawa Dewa pergi ke rumah sakit terdekat. Lalu Sascha? Bima meminta Sascha
mengikutinya.
Mereka langsung pergi ke rumah sakit. Sedangkan Bima langsung
mengurusi kamar Dewa. Ia terkejut banyaknya plastik klip yang berada di
ranjang. Ia juga menemukan beberapa serbuk putih dan matanya membelalak. Ia
__ADS_1
mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Apakah Dewa memakai barang ini?”
Bima menggelengkan kepalanya lalu terdiam. Ia tidak menyangka
kalau Dewa memakai barang-barang seperti itu. Ia akhirnya menyimpan obat-obatan
terlarang itu.
Sementara itu mereka akhirnya sampai ke rumah sakit. Petugas
rumah sakit itu pun membawa Dewa ke ruangan UGD. Di sanalah Dewa akhirnya
dirawat. Selama berjam-jam dokter tidak keluar juga. Sascha akhirnya berputus asa.
Ia tidak menyangka kalau sahabatnya adalah pemake. Dengan penuh cemas Sascha
akhirnya berdoa biar Dewa sembuh.
Tak lama Devan dan Tara datang. Tara langsung memeluk Sascha.
Sebagai seorang ibu, hati Tara tidak bisa tenang. Sementara Sascha saat itu menangis
ketakutan. Tara bertambah sedih mendengar tangisan Sascha.
Beberapa menit kemudian Tara berpesan kepada Sascha agar tidak
menangis. Ia ingin melihat Sascha tersenyum manis. Setelah semuanya tenang,
Sascha akhirnya bercerita tentang keadaan Dewa dan juga menemukan obat-obatan
terkarang.
Devan dan Tara sangat
terkejut mendengar obat-obatan terlarang itu. Mereka tahu kalau Dewa tidak
pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Devan menatap wajahnya Tara seakan
meminta jawabannya. Namun Tara hanya mengedikkan bahunya sambil berkata tidak
tahu.
Malam pun tiba para tim dokter keluar. Salah satu dari mereka
langsung menceritakan keadaan Dewa. Sascha sangat shock mendengar keadaan Dewa.
Nyawa Dewa berada di bawah tanduk. Sascha tidak bisa membayangkan kalau hidup
Dewa tinggal sedikit. Air mata sascha mengucur deras. Ia tidak rela jika Dewa pergi meninggalkan
dirinya.
Jujur saat ini dokter saat ini tidak dapat membantu Dewa. Para
tim dokter menyerah. Kondisi jantung Dewa lemah. Devan, Tara dan Sascha menyaksikan
itu akhirnya menghubungi pihak rumah sakit Nakata's Groups di Sydney. Devan
menyuruh menyiapkan kamar khusus untuk Dewa. Pihak rumah sakit langsung
menyiapkan dan menunggu kedatangan Dewa.
Malam itu juga Dewa langsung diterbangkan ke rumah sakit. Tara
meminta Sascha untuk ikut bersamanya. Karena ia tahu kalau Dewa bisa sembuh
dengan adanya kehadiran Sascha. Akhirnya Sascha ikut bersama mereka.
Kurang lebih tujuh jAm mereka berada di atas awan. Dua dokter
yang merawat Dewa ikut bersama mereka. Demi untuk memastikan kalau selama
perjalanan Dewa baik-baik saja.
Suasana saat itu sangat menegangkan. Mereka tidak ada yang
bicara sama sekali. Sascha yang biasanya banyak tersenyum hanya memilih untuk
diam saja. Tangannya tak henti-henti memegang tangan Dewa supaya bisa sadar
dari tidurnya.
__ADS_1