Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
CINTA SEJATI


__ADS_3

Tepat


jam tiga sore, Dewa keluar dari kamar. Habis itu Sascha mengikuti Dewa di


belakangnya. Mereka sengaja mencari keberadaan orang tua mereka. Karena mereka


ingin berpamitan terlebih dahulu.


Mereka


memutuskan untuk menuju ke belakang rumah. Benar kedua orang tua mereka berada


di sana. Mereka akhirmya mendekati kedua orang tuanya terlebih dahulu.


“Ma.” panggil


Dewa.


“Ada


apa?” sahut Devan dan Gerre yang hampir bersaman.


“Kami


ingin pergi ke Surabaya. Ada yang ingin kami kerjakan,” jawab Dewa.


“Lalu,


kalian pergi berdua?” tanya Chloe.


“Iya


ma... kemungkinan kami menginap di apartemen milik papa Devan. Sudah saatnya


kami megeksekusi cabang Surabaya,” jawab Dewa yang mendapatkan anggukan dari


Devan.


“Ya itu


benar. Apa yang dikatakan oleh Dewa benar. Cabang Surabaya angat


mengkhawatirkan. Banyak sekali para manager sedang mengadakan penggelapan dana


kas secara besar-besaran. Yang lainnya sudah berangkat dari tadi. Sekarang


tinggal Dewa yang belum,” jelas Devan yang membicarakan jawaban dari Dewa.


“Oke


dech... hati-hati di jalan. Jangan mengebut. Ini bukan Jerman. Kalian enggak


bisa mengebut seenaknya,” pesan Gerre.


Mereka


menganggukan kepalanya sambil tersenyum kompak. Mereka langsung menuju ke


depan. Sebelum pergi Dewa memberikan kode pada Marty dan Almond. Ketua pengawal


milik Black Tiger dan Black Swan langsung mendekatinya. Mereka memberikan


hormat lalu menngangkat wajahnya.


“Ada apa


Tuan Dewa?” tanya Almond,


“Kalian


berdua ikut aku ke cabang Surabaya. Ada yang harus kita kerjakan sekarang.


Kalian memakai mobil berbeda,” jawab Dewa segera meninggalkan mereka.


“Baik


Tuan,” seru mereka dengan kompak.


Dewa dan


Sascha satu mobil. Dewa langsung menancapkan gasnya menuju ke Surabaya.


Diam-diam Sascha memiliki rencana. Namun Dewa tidak mengetahuinya sama sekali. Di


dalam perjalanan Sascha sangat mengantuk sekali. Ia memilih untuk tidur. Jujur


semenjak terkena morning sicness, Sascha sekarang menjadi sangat pemalas. Jujur


sebenarnya ia tidak menyukai akan hal itu. Sascha sangat menyukai hal-hal


berbau energik.


Bagaimana


menurut Dewa? Dewa hanya membiarkan saja. Tanpa sepengetahuan Sascha, Dewa


mulai mempelajari pola ibu hamil. Dewa mempelajari semuanya dari internet. Ia


tidak tanggung-tanggung belajar dari ahlinya. Mereka adalah Tara dan Chloe.


Menurut


Dewa, Sascha sangat istimewa sekali. Ia selalu memberikan perlindungan yang


berlapis. Ia tidak mau kejadian masa lalunya terulang lagi seperti kehilangan


Ssacha.


Perjaalanan

__ADS_1


menuju ke Suranaya ditempuh waktu kuraang lebih tiga jam. Sascha massih saaja


tertidur. Biasaanya Sascha sering sekali berceloteh tetng hal yang tidak


penting. Hal itu bisa membuat Dewa menjadi semangat. Namun Sascha saat ini


memilih diam dan tidak membahaas apapun.


Malaam


menjekang, Sascha dan Dewa akhiernya sampai ke Surabaya. Mereka memilih untuk


pergi ke apartemen milik Devan. Untung saja, Devan masih memiliki apartemen


yaang masih bisa dihuni. Dewa langsung saja mengajak Sascha langsung pergi unit


apartemen milik Devann tersebut.


“Hmmp...


selama berada di Surabaya kamu menginap di mana?” tanya Dewa. “Kalau sedang


tugas.”


“Aku


diberi uang sama Mas Kobe unutk menginap di area pabrik. Apalagi kantor dan


pabrik di Surabaya menjadi satu. Hingga akhirnya aku memilih disana,” jelas


Sascha.


“Kenapa


enggak di apartemen?” tanya Dewa yang membukaa pintu.


“Jauh


tempatnya. Aku sabgat malas membawa mobil. Aku lebih suka berjalan kaki.


Karenna berjalan kaki bisa membuat kakiku menjadi kuat,” jelas Sascha.


“Apa


kamu enggak capek berjalan? Padahal dari rumah kontrakan sangat jauh sekali,”


ucap Dewa yang melihat kebersihan aparteeme.


“Aku


enggak pernah capek. Tapi aku sendiri sekarang sangat capek sekali,” jawab


Sascha yang menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. “Aku sekarang sanagt malas


sekali menjadi orang. Aku tidak seenerjik dahulu.”


“Sepertinya


“Hmmp...


iya ya... besok iang sudah sibuk,” ucap Sascha membenarkan apa kata Dewa.


“Tapi


kamu enggak capek?” tanya Dewa.


“Aku


enggak vapek sama sekali,” jawab Sascha. “Tapi aku sekarang pemalas.”


“Kalau


kamu menjadi pemalas tidak apa-apa. Kamu memang ditakdirkan untuuk diam di


rumah sembari kamu menunggu aku pulaang,” ujar Dewa sambil tersenyum manis.


“Hmmp...


tapi aku ingin bekerja. Aku ingin memprogram laptop baru,” kata Sascha dengan


lirih.


“Laptopnya


saja masih di toko. Aku juga belum membelikan apapun buat kamu,” ucap Dewa.


“Belikan


ya? Aku ingin memprogeam laptopku,” pinta Sascha yamg  membuat Dewa menganggukan kepalamya.


“Kamu


ini sangat aneh sekali. Biasanya sih kalau ibu hamil itu mintanya tas,


apartemen dan lainnya. Lha ini malahan minta laptop,” gerutu Dewa.


Sascha


memegangi perutnya lalu tertawa melihat Dewa menggerutu. Memang benar apa yang


dikatakan oleh Dewa. Setahunya, orang hamil itu ngidam cari baju, makanan enak,


tas branded dan laainnya. Tapi Sascha lebih memilih lapotop.  Seketika Sascha berhenti karena Dewa


menciumnya secara mendadak. Ia lnngsung mengambill bantal sofa dan menutup


wajahnya. Jujur ia sangat malu sekali. Karena Sascha mendadak mendapatkan


serangan.

__ADS_1


“Ish...


kakak,” kesal Sascha sambil tersenyum malu.


Melihat


Sscha tersenyum malu, Dewa mulai menggoda Sascha. Ia memegang tangan Sascha


sambil menggenggam tangan mungil itu.


“Kamu


tahu, kalau aku sangat bahagia sekali,” ucap Dewa yang membuat Sascha


tersenyum.


“Aku


tahu itu. Taoi apakah kamu mau tinggal sama wanita malas?” tanya Sascha sambil


tersenyum manis.


“Apapun


keadaan untuk saat ini bahkan selamanya. Aku tidak akan berpaling dari kamu,”


jelas Dewa. Yang namanya cinta sejati akan menerima apapun tentang pasangannya.”


“Apa


arti cinta sejati menurut kamu?” tanya Sascha yang mulai bangun dan memberikan


Dewa tempat duduk.


Dewa


menghempaskan bokongnya di hadapan Sascha. Ia tersenyum manis sambil mengangkat


kakinya sambil duduk bersila. Ia tersenyum manis sambil menggenggam tangan sang


istri.


“Cinta


sejati adalah cinta yang dimana akan tumbuh hingga akhir hayat. Aku tidak akan


pernah mau kehilangan kamu. Aku ingin selamanya hidup bersama kamu. Memiliki


anak banyak dan cucu. Kelak aku mengajarkan mereka menjadi manusia baik,” jelas


Dewa yang membuat Sascha terharu.


Sascha


memeluk Dewa sambil menangis. Malam ini Sascha sangat sensitif sekali. Sascha


dulu yang orangnya blak-blakan sekarang gampang sekali menangis. Lalu Dewa


memegang punggung Sascha. Dewa bisa memakluminya. Ia tidak marah sama sekali.


Malahan Dewa ingin melihat Sascha manja dan merengek seperti cewek-cewek lainnya.


“Sudah


jangan menangis. Nanti bedakmu hilang,” pinta Dewa yang melepaskan Sascha.


“Kalau


bedakku hilang, apakah kamu mau membelikan aku?” tanya Sascha.


“Jangankan


bedak. Aku akan membelikan kamu satu set lengkap,” jelas Dewa.


“Apakah


itu benar?” tanya Sascha yang matanya berbinar.


“Iya itu


benar. Aku ingin sekali membelikan kamu satu set alat make up. Nanti kamu spil


mereknya ya,” ucap Dewa.


“Ya...


nanti aku kirimkan nama mereknya,” ujar Sascha yang mengulas senyumnya yang


manis.


“Kapan


kita berangkat ke rumah sakitt?” tanya Dewa.


“Sekarang


bang. Kalau begitu ayo kita berangkat!” ajak Sascha semangat.


“Semangat


sekali kamu,” ledek Dewa.


“Aku


ingin sekali melihat bayiku. Apakah dia masih kecil atau sudah sebesar melebihi


biji kacang,” ucap Sascha.


“Memangnya

__ADS_1


calon bayi kita sebesar itu?” tanya Dewa yang baru tahu kalau ukuran bayimya


kecil.


__ADS_2