
Tepat
jam tiga sore, Dewa keluar dari kamar. Habis itu Sascha mengikuti Dewa di
belakangnya. Mereka sengaja mencari keberadaan orang tua mereka. Karena mereka
ingin berpamitan terlebih dahulu.
Mereka
memutuskan untuk menuju ke belakang rumah. Benar kedua orang tua mereka berada
di sana. Mereka akhirmya mendekati kedua orang tuanya terlebih dahulu.
“Ma.” panggil
Dewa.
“Ada
apa?” sahut Devan dan Gerre yang hampir bersaman.
“Kami
ingin pergi ke Surabaya. Ada yang ingin kami kerjakan,” jawab Dewa.
“Lalu,
kalian pergi berdua?” tanya Chloe.
“Iya
ma... kemungkinan kami menginap di apartemen milik papa Devan. Sudah saatnya
kami megeksekusi cabang Surabaya,” jawab Dewa yang mendapatkan anggukan dari
Devan.
“Ya itu
benar. Apa yang dikatakan oleh Dewa benar. Cabang Surabaya angat
mengkhawatirkan. Banyak sekali para manager sedang mengadakan penggelapan dana
kas secara besar-besaran. Yang lainnya sudah berangkat dari tadi. Sekarang
tinggal Dewa yang belum,” jelas Devan yang membicarakan jawaban dari Dewa.
“Oke
dech... hati-hati di jalan. Jangan mengebut. Ini bukan Jerman. Kalian enggak
bisa mengebut seenaknya,” pesan Gerre.
Mereka
menganggukan kepalanya sambil tersenyum kompak. Mereka langsung menuju ke
depan. Sebelum pergi Dewa memberikan kode pada Marty dan Almond. Ketua pengawal
milik Black Tiger dan Black Swan langsung mendekatinya. Mereka memberikan
hormat lalu menngangkat wajahnya.
“Ada apa
Tuan Dewa?” tanya Almond,
“Kalian
berdua ikut aku ke cabang Surabaya. Ada yang harus kita kerjakan sekarang.
Kalian memakai mobil berbeda,” jawab Dewa segera meninggalkan mereka.
“Baik
Tuan,” seru mereka dengan kompak.
Dewa dan
Sascha satu mobil. Dewa langsung menancapkan gasnya menuju ke Surabaya.
Diam-diam Sascha memiliki rencana. Namun Dewa tidak mengetahuinya sama sekali. Di
dalam perjalanan Sascha sangat mengantuk sekali. Ia memilih untuk tidur. Jujur
semenjak terkena morning sicness, Sascha sekarang menjadi sangat pemalas. Jujur
sebenarnya ia tidak menyukai akan hal itu. Sascha sangat menyukai hal-hal
berbau energik.
Bagaimana
menurut Dewa? Dewa hanya membiarkan saja. Tanpa sepengetahuan Sascha, Dewa
mulai mempelajari pola ibu hamil. Dewa mempelajari semuanya dari internet. Ia
tidak tanggung-tanggung belajar dari ahlinya. Mereka adalah Tara dan Chloe.
Menurut
Dewa, Sascha sangat istimewa sekali. Ia selalu memberikan perlindungan yang
berlapis. Ia tidak mau kejadian masa lalunya terulang lagi seperti kehilangan
Ssacha.
Perjaalanan
__ADS_1
menuju ke Suranaya ditempuh waktu kuraang lebih tiga jam. Sascha massih saaja
tertidur. Biasaanya Sascha sering sekali berceloteh tetng hal yang tidak
penting. Hal itu bisa membuat Dewa menjadi semangat. Namun Sascha saat ini
memilih diam dan tidak membahaas apapun.
Malaam
menjekang, Sascha dan Dewa akhiernya sampai ke Surabaya. Mereka memilih untuk
pergi ke apartemen milik Devan. Untung saja, Devan masih memiliki apartemen
yaang masih bisa dihuni. Dewa langsung saja mengajak Sascha langsung pergi unit
apartemen milik Devann tersebut.
“Hmmp...
selama berada di Surabaya kamu menginap di mana?” tanya Dewa. “Kalau sedang
tugas.”
“Aku
diberi uang sama Mas Kobe unutk menginap di area pabrik. Apalagi kantor dan
pabrik di Surabaya menjadi satu. Hingga akhirnya aku memilih disana,” jelas
Sascha.
“Kenapa
enggak di apartemen?” tanya Dewa yang membukaa pintu.
“Jauh
tempatnya. Aku sabgat malas membawa mobil. Aku lebih suka berjalan kaki.
Karenna berjalan kaki bisa membuat kakiku menjadi kuat,” jelas Sascha.
“Apa
kamu enggak capek berjalan? Padahal dari rumah kontrakan sangat jauh sekali,”
ucap Dewa yang melihat kebersihan aparteeme.
“Aku
enggak pernah capek. Tapi aku sendiri sekarang sangat capek sekali,” jawab
Sascha yang menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. “Aku sekarang sanagt malas
sekali menjadi orang. Aku tidak seenerjik dahulu.”
“Sepertinya
“Hmmp...
iya ya... besok iang sudah sibuk,” ucap Sascha membenarkan apa kata Dewa.
“Tapi
kamu enggak capek?” tanya Dewa.
“Aku
enggak vapek sama sekali,” jawab Sascha. “Tapi aku sekarang pemalas.”
“Kalau
kamu menjadi pemalas tidak apa-apa. Kamu memang ditakdirkan untuuk diam di
rumah sembari kamu menunggu aku pulaang,” ujar Dewa sambil tersenyum manis.
“Hmmp...
tapi aku ingin bekerja. Aku ingin memprogram laptop baru,” kata Sascha dengan
lirih.
“Laptopnya
saja masih di toko. Aku juga belum membelikan apapun buat kamu,” ucap Dewa.
“Belikan
ya? Aku ingin memprogeam laptopku,” pinta Sascha yamg membuat Dewa menganggukan kepalamya.
“Kamu
ini sangat aneh sekali. Biasanya sih kalau ibu hamil itu mintanya tas,
apartemen dan lainnya. Lha ini malahan minta laptop,” gerutu Dewa.
Sascha
memegangi perutnya lalu tertawa melihat Dewa menggerutu. Memang benar apa yang
dikatakan oleh Dewa. Setahunya, orang hamil itu ngidam cari baju, makanan enak,
tas branded dan laainnya. Tapi Sascha lebih memilih lapotop. Seketika Sascha berhenti karena Dewa
menciumnya secara mendadak. Ia lnngsung mengambill bantal sofa dan menutup
wajahnya. Jujur ia sangat malu sekali. Karena Sascha mendadak mendapatkan
serangan.
__ADS_1
“Ish...
kakak,” kesal Sascha sambil tersenyum malu.
Melihat
Sscha tersenyum malu, Dewa mulai menggoda Sascha. Ia memegang tangan Sascha
sambil menggenggam tangan mungil itu.
“Kamu
tahu, kalau aku sangat bahagia sekali,” ucap Dewa yang membuat Sascha
tersenyum.
“Aku
tahu itu. Taoi apakah kamu mau tinggal sama wanita malas?” tanya Sascha sambil
tersenyum manis.
“Apapun
keadaan untuk saat ini bahkan selamanya. Aku tidak akan berpaling dari kamu,”
jelas Dewa. Yang namanya cinta sejati akan menerima apapun tentang pasangannya.”
“Apa
arti cinta sejati menurut kamu?” tanya Sascha yang mulai bangun dan memberikan
Dewa tempat duduk.
Dewa
menghempaskan bokongnya di hadapan Sascha. Ia tersenyum manis sambil mengangkat
kakinya sambil duduk bersila. Ia tersenyum manis sambil menggenggam tangan sang
istri.
“Cinta
sejati adalah cinta yang dimana akan tumbuh hingga akhir hayat. Aku tidak akan
pernah mau kehilangan kamu. Aku ingin selamanya hidup bersama kamu. Memiliki
anak banyak dan cucu. Kelak aku mengajarkan mereka menjadi manusia baik,” jelas
Dewa yang membuat Sascha terharu.
Sascha
memeluk Dewa sambil menangis. Malam ini Sascha sangat sensitif sekali. Sascha
dulu yang orangnya blak-blakan sekarang gampang sekali menangis. Lalu Dewa
memegang punggung Sascha. Dewa bisa memakluminya. Ia tidak marah sama sekali.
Malahan Dewa ingin melihat Sascha manja dan merengek seperti cewek-cewek lainnya.
“Sudah
jangan menangis. Nanti bedakmu hilang,” pinta Dewa yang melepaskan Sascha.
“Kalau
bedakku hilang, apakah kamu mau membelikan aku?” tanya Sascha.
“Jangankan
bedak. Aku akan membelikan kamu satu set lengkap,” jelas Dewa.
“Apakah
itu benar?” tanya Sascha yang matanya berbinar.
“Iya itu
benar. Aku ingin sekali membelikan kamu satu set alat make up. Nanti kamu spil
mereknya ya,” ucap Dewa.
“Ya...
nanti aku kirimkan nama mereknya,” ujar Sascha yang mengulas senyumnya yang
manis.
“Kapan
kita berangkat ke rumah sakitt?” tanya Dewa.
“Sekarang
bang. Kalau begitu ayo kita berangkat!” ajak Sascha semangat.
“Semangat
sekali kamu,” ledek Dewa.
“Aku
ingin sekali melihat bayiku. Apakah dia masih kecil atau sudah sebesar melebihi
biji kacang,” ucap Sascha.
“Memangnya
__ADS_1
calon bayi kita sebesar itu?” tanya Dewa yang baru tahu kalau ukuran bayimya
kecil.