
Sekembalinya dari restoran itu Sascha duduk di tepi ranjang. Sascha merasakan kebingungan ketika menghadapi kedua orang itu. Tak lama Dewa mendekati Sascha dan duduk di sebelahnya. Tangannya meraih Sascha lalu berkata, "Kamu enggak perlu takut seperti itu."
"Aku enggak takut. Aku bingung. Kenapa orang besar itu membuat pernyataan kalau aku putrinya?" tanya Sascha.
"Jangankan mereka yang mengklaim kamu adalah anaknya. Aku juga merasakan ada hal yang aneh dalam dirimu," jawab Dewa.
"Aneh bagaimana?" tanya Sascha.
"Wajahmu seratus persen mirip Gerre Atmojo. Gaya perintahmu juga mirip sekali dengan Gerre. Namun gaya bicaramu yang lembut mirip sekali dengan Chloe," jawab Dewa.
"Aku kan sudah bilang kalau diriku ini putri dari Pak Andika," ketus Sascha.
"Sa... Dengarkan aku dulu. Kamu boleh marah sama keadaan. Tapi jangan marah ke mereka. Aku tahu bagimu ini sangat berat," ucap Dewa yang memeluk tubuh mungil Sascha.
Sascha menganggukan kepalanya dan paham akan situasi seperti ini. Sascha mengendus aroma maskulin dari tubuh Dewa. Sascha akhirnya tenang dan tidak marah pada keadaan.
"Apakah kamu mau test DNA?" tanya Dewa.
"Buat apa aku test DNA?" tanya Sascha balik.
"Kamu harus melakukannya. Jika kamu tidak melakukannya, mereka akan mendesak kamu. Bisa dipastikan mereka akan melakukan jalur hukum untuk menjerat kamu," jawab Dewa.
"Baiklah... Aku akan melakukannya," balas Sascha.
"Sekarang kamu tidur. Kamu sudah lelah sekali," pinta Dewa.
Sascha melepaskan Dewa sambil tersenyum manis. Entah kenapa Sascha merasakan jantungnya berdetak kencang. Sascha akhirnya memutuskan untuk berbaring.
"Apakah kamu tidak melakukan anu-anuan?" tanya Sascha ke Dewa yang sengaja menjebak.
"Apa maksudnya?" tanya Dewa yang sebenarnya paham.
"Biasanya kalau orang berbeda jenis kelamin jika satu kamar akan melakukan sesuatu," jawab Sascha. "Seperti malam pertama setelah menikah."
"Kamu itu... Ya enggak boleh melakukan seperti itu sebelum menikah. Kamu tahu aku tidak akan merusak tubuh wanita yang kucintai," ucap Dewa dengan jujur.
Sascha semakin terhipnotis dengan Dewa. Dewa memang menjaga keutuhan tubuh milik Sascha. Dewa sudah mempunyai janji di dalam hati.
"Tidurlah. Besok pagi aku akan ada rapat lanjutan. Sorenya kita harus tes DNA ke rumah sakit!" titah Dewa.
__ADS_1
Sascha memejamkan matanya dan mulai masuk ke alam mimpi. Dewa segera meraih ponselnya dan melihat banyak pesan dari Jake. Matanya membulat sempurna dan terkejut. Setelah itu matanya beralih ke arah Sascha dengan menelan salivanya secara kasar. Dewa menggelengkan kepalanya sambil menjambak rambutnya, "Ternyata gadisku nekat masuk ke dunia bawah tanah."
Dewa bingung mau menerimanya apa tidak. Baginya Sascha tidak cocok menjadi lady mafia. Alasannya ini sangat bahaya sekali. Bahkan nyawanya akan menjadi pertaruhan.
Dewa terpaksa menerimanya. Jika tidak menerimanya cepat atau lambat Sascha akan mencari organisasi mafia lainnya. Jika itu terjadi Dewa tidak akan bisa tenang. Bisa jadi nyawa Sascha nyawa dalam bahaya.
Di tempat lain Jake menerima pesan dari Dewa. Jake mendapatkan ijin dari Dewa kalau Sascha boleh masuk. Tetapi apakah Sascha tahu kalau para anggota mafia Black Tiger adalah orang yang sering ditemuinya di kantor. Bahkan di tempat lain. Wajahnya tidak asing dan Sascha sangat mengenalnya.
"Dewa mengijinkan Sascha masuk ke Black Tiger," ucap Jake.
"Apa!" pekik Bima.
Timothy semakin terkejut mendengar pernyataan Jake. Timothy hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah kamu yakin Dewa mau menerima Sascha menjadi anggota mafia Black Tiger?"
"Ya itu benar," jawab Jake.
"Ada kemungkinan besar jika Sascha masuk kesini. Dewa bisa menggembleng menjadi wanita yang tangguh. Disisi lain Dewa bisa menjaga Sascha dengan baik. Jika terjadi apa-apa Dewa langsung bertindak," jawab Tommy. "Jika Dewa tidak menerimanya bisa dipastikan kalau Sascha akan mencari anggota mafia yang lainnya."
"Kalau dipikir-pikir benar apa adanya. Jika Sascha masuk ke mafia lain bisa dipastikan akan menyerang Dewa dan kita," tambah Timothy yang menganalisis kejadian masa depan.
"Syukurlah. Dewa bisa mengambil keputusan secara cepat," puji Jake.
"Papa!" jerit Sascha.
"Sa," panggil Dewa yang memegang kepala Sascha yang demam. "Sa... Bangun Sa!"
Sascha bangun dan melihat Dewa. Lalu Sascha melihat Dewa dan memeluknya. Sascha menangis karena merasakan kepalanya sangat sakit sekali, "Kak Dewa... Kepalaku sakit!"
Dewa memeluk erat sambil merasakan Sascha tidak baik-baik saja. Dewa membisiki Sascha dengan kata-kata lembut, "Sa... Kita ke rumah sakit sekarang."
"Aku tidak mau. Kepalaku sangat sakit sekali," ucap Sascha.
Dewa meraih ponselnya dan menghubungi pengawalnya untuk menyiapkan mobil. Setelah itu Dewa mengangkat Sascha lalu menggendongnya. Sedangkan Sascha pingsan di dada Dewa. Sascha tidak kuat merasakan kepalanya sakit.
Ketika keluar dari kamar Dewa melihat Devan dan Tara. Dewa meminta ijin ke Devan ke rumah sakit, "Ma...Dewa ke rumah sakit terlebih dahulu. Sascha merasakan kepalanya sakit."
"Apa?" pekik Devan.
"Mama ikut," ucap Tara.
__ADS_1
Dewa menganggukan kepalanya untuk menuju ke lift. Sementara Devan langsung menghubungi pihak rumah sakit agar menyiapkan brangkar di lobi. Setelah itu Devan segera menyusul mereka.
Di kamar lain Gerre merasakan perasaan yang tidak enak. Gerre semakin gelisah dan merasakan jantungnya berdetak kencang. Gerre menatap wajah Chloe yang tertidur lelap. Namun tiba-tiba saja Chloe berteriak memanggil Aulia. Gerre membangunkan Chloe dan memeluknya, "Apakah kamu mimpi buruk lagi?"
"Pa... Aulia... Aulia... Dipukul kepalanya dengan orang yang tidak dikenal," jawab Chloe.
Gerre mengambil air minum di atas nakas dan memberikan ke Chloe. Chloe segera meraih air itu dan meminumnya hingga setengah gelas. Tak lama ponsel Gerre berdering. Gerre langsung meraih ponsel itu dan mengangkatnya, "Hallo."
"Gerre... Aku Devan," jawab Devan yang gelisah dengan keadaan Sascha.
"Ada apa?" tanya Gerre.
"Sascha masuk rumah sakit. Kepalanya sangat sakit sekali," jawab Devan.
"Apa?" pekik Gerre yang terkejut.
Tak lama Chloe mengangkat kepalanya dan melihat Gerre yang berteriak. Lalu Chloe merasakan perasaannya yang tidak menentu. Tak lama Chloe menatap wajah Gerre sambil meminta penjelasan.
"Dev... Lebih baik kamu shareloc!" perintah Gerre.
Baik," balas Devan.
Tut.
Sambungan terputus.
Gerre menatap sang istri sedang harap-harap cemas. Gerre menceritakan kalau Sascha masuk ke rumah sakit dan menceritakan kepalanya sangat sakit sekali. Chloe terkejut dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah sakit. Gerre pun akhirnya menyetujuinya dan bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.
Bandung Indonesia.
Billi yang sedang duduk menatap kedatangan Santi. Billi memutar bolanya dengan malas hingga membuat Santi jengah.
"Setiap gue pulang lu pasti malas melihat gue. Kenapa lu Bil?" tanya Santi.
"Gue malas saja melihat wajah lu yang judes itu," jawab Billi yang blak-blakan.
"Gue bilangin lu sama mama. Biar dicoret dari kartu keluarga!" bentak Santi.
"Apa lu bilang?" tanya Billi dengan suara meninggi.
__ADS_1