
"Tidak. Aku tidak akan mengajarimu ilmu bela diri lagi," jawab Gerre.
"Kenapa kamu tidak mengajariku? Bukankah aku masih pantas belajar ilmu bela diri?" tanya Chloe.
"Bukannya aku tidak mengajarimu belajar ilmu bela diri. Mengingat usiamu sudah bertambah tiap tahunnya. Aku tidak mau tulang remuk karena latihan itu," jawab Gerre.
"Yang benar saja. Aku gini-gini masih kuat loh," ucap Chloe.
"Pokoknya kamu nggak boleh belajar ilmu bela diri. Sudah cukup aku nggak mau kamu masuk rumah sakit. Hanya karena tulang-tulangmu itu yang tidak sehat," jelas Gerre sambil menatap wajah sang istri.
Chloe pun mengangguk batu atas perintah Gerre. Kemudian Chloe memeluk tubuh sang suami dengan erat. Diam-diam Chloe berbisik, "Bisa nggak ya kita lepas dari masalah ini?"
"Bisa. Kalau kita menyatukan kekuatan menjadi satu. Kita bisa menyerangnya bersama-sama. Jujur saja aku sendiri sudah muak dengan semuanya ini. Mereka hanya ingin mengambil jerih payah kita tanpa harus bekerja," balas Gerre.
Chloe hanya bisa diam. Anda kenapa hatinya seakan tidak rela. Bila Cathy harus merebut semua yang dia punya. Jujur saja ia tidak bisa membayangkan Bagaimana seandainya itu terjadi.
Jakarta Indonesia.
Devan yang mendapatkan laporan dari pengawalnya sangat terkejut. Ia membaca laporan itu lalu mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka kalau aksi pembajakan itu dilakukan oleh Damar.
"Apakah laporan kamu itu serius?" tanya Devan.
"Itu benar tuan. Beberapa anggota Black Tiger sedang makan siang di sebuah restoran. Di sebelah meja mereka ada Damar dan pria yang sudah berusia senja. Damar jelas sekali mengatakan kalau dirinya membajak pesawat Gerre," jawab pengawal itu.
"Kalau begitu siapkan aku pesawat pribadiku! Aku sekarang akan berangkat ke sana!" perintah Devan dengan nada menekan.
__ADS_1
Pengawal itu menuruti apa kata Devan. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi pilotnya itu.
Di tempat lain Fatin yang sedang sendiri di rumah sangat bahagia. Ia sudah tidak memperdulikan anak dan suaminya itu. Fatin tidak segan-segan mengumbar senyum manisnya itu. Bahkan dirinya sering sekali bertemu dengan teman sosialitanya itu.
Di sisi lain Fatin sudah mendapatkan pekerjaan baru. Ia bekerja di sebuah perusahaan. Yang di mana perusahaan itu sangat mewah sekali. Tugas Fatin adalah sebagai kepala marketing. Memang Fatin sangat jago sekali melakukan marketing.
Akan tetapi di belakangnya, Fatin memiliki sebuah rencana. Fatin akan melakukan kejahatannya lagi. Namun sang pemilik tidak mengetahuinya.
Bagaimana kabar Billi, Anton dan juga Firly? Mereka sudah berada di luar pulau. Mereka mendapatkan jabatan sesuai dengan ijazahnya. Namun mereka tidak mempersalahkan soal jabatan itu.
Mereka hanya ingin bekerja untuk menyambung hidup saja. Mereka juga tidak berpikiran untuk melakukan kecurangan. Di waktu tertentu Billi teringat akan senyuman Sascha. Jujur saja Billi masih sangat menyayangi Sascha.
Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Sascha tidak akan pernah kembali ke dalam pelukannya. Billi juga tidak akan mau menghubungi Sascha kembali. Yang ia tahu Dewa memiliki sifat temperamen. Yang di mana sifat itu tidak akan pernah ditunjukkan kepada Sascha. Malah sifat itu akan keluar jika ada datangnya bahaya.
Bagaimana dengan Sascha sendiri? Sascha tidak pernah takut dengan Dewa. Justru Dewa Sudah memberitahukan tentang sifatnya itu. Jika Dewa sudah temperamen, Sascha harus meninggalkannya dalam beberapa jam. Itulah perjanjian persahabatan mereka bahkan sampai nanti.
Tiba-tiba saja datang Anton. Lalu Anton duduk di samping Billi. Ia tahu kalau sang adik sedang gundah gulana. Bahkan dirinya tahu kalau sang adik sangat merindukan mantan kekasihnya itu.
"Kamu masih ingat dia?" tanya Anton yang melepaskan topi proyeknya itu.
"Ya mau bagaimana lagi bang. Gadis itu sangat menggemaskan dan baik hati. Jika tidak karena mama. Kemungkinan besar aku sudah bersatu dengannya," jawab Billi.
"Percuma kamu mengingatnya secara terus-menerus. Sascha sudah bahagia dengan suaminya itu. Andai saja jika usahaku berdiri. Kemungkinan besar aku akan mencarikan informasi tentang Sascha," ungkap Anton yang bersedih karena ulah Fatin sendiri.
"Biarkanlah dia bahagia bersama pilihannya itu. Memang buat aku nyesek sekali. Andaikan saja kalau aku tidak menuruti mama. Kemungkinan besar Mama tidak akan membuat kita menderita," jelas Billi.
__ADS_1
"Kalau begitu lupakanlah saja dia. Masih banyak gadis-gadis cantik di sini. Kamu bisa memilihnya. Tapi dengan syarat, kamu harus bekerja keras. Karena perempuan zaman sekarang membutuhkan biaya yang banyak," ujar Anton yang memberikan pesan kepada adiknya itu.
"Kapan ya Mama berubah?" tanya Billi.
"Abang nggak tahu kapan mama mau berubah. Jika sifatnya begitu Aku tidak berani membawa kekasihku pulang ke rumah. Kamu tahu kan sendiri Mama bagaimana?" tanya Anton balik.
"Entahlah bang. Kemarin aku bertukar pesan kepada Wati. Abang pasti tahu kan waktu itu siapa?" tanya Billy sambil memberikan teka-teki buat sang kakak.
"Wati yang mana ya?" tanya Anton yang mengerutkan keningnya.
"Wati tetangga samping kita. Aku sering berkirim pesan sama Wati jika tidak ada di rumah. Kemarin Wati ngasih aku informasi. Kalau mama sedang bekerja di perusahaan x. Yang di mana perusahaan itu sangat besar sekali. Kalau nggak salah sih perusahaan itu ternyata membuat komponen-komponen untuk ponsel."
"Lalu?"
"Mama mendapatkan gaji yang fantastis. Jujur hatiku tidak enak sekali. Cepat atau lambat Mama akan melakukan kesalahan dalam perusahaan itu. Kamu tahu sendiri kan rencana jahat Mama itu banyak sekali. Yang intinya Mama itu bisa membeli barang-barang branded seharga ratusan juta hingga miliaran."
Sontak saja Anton terkejut. Ia tidak mau kalau perusahaan itu bangkrut karenanya. Anton menatap wajah Billi sambil bertanya, "Kenapa ini bisa terjadi? Aku nggak mau perusahaan itu hancur berkeping-keping gara-gara mama."
"Itulah bang yang aku rasakan sekarang. Banyak pegawai yang bekerja di sana untuk menggantungkan hidup. Jika mama melakukan kecurangan dan tidak bertanggung jawab. Bisa jadi perusahaan itu hancur. Bagaimana caranya kita mencegahnya?"
"Kita tulis surat saja ke ceo-nya. Kemungkinan besar yang punya akan tahu sifat aslinya mama. Jujur lebih baik aku mengorbankan mamaku sendiri. Daripada mengorbankan perusahaan itu jangan sampai bangkrut. Kalau sudah bangkrut bagaimana kabar karyawannya itu?"
"Apakah kita tidak terlalu kejam soal itu?"
"Menurutku tidak. Jika kita tidak mencegahnya terlebih dahulu. Kamu tahu kan apa yang terjadi? Kamu bisa lihat sendiri usahaku dulu seperti apa! Aku Memiliki segalanya dengan hasil kerja kerasku. Diam-diam Mama mencuri uangku sedikit demi sedikit. Hingga puncaknya mama mencuri seluruh asetku untuk membeli perhiasan dan barang-barang branded. Barang-barang seperti itu hanya dibuat pamer oleh geng sosialitanya. Itulah kenapa aku nggak rela kalau perusahaan itu bangkrut."
__ADS_1
"Bagaimana caranya Kakak akan berkirim pesan ke perusahaan itu?" Tanya Billi yang bertanya-tanya pada Anton.