
"Hanya firasatku saja. Beberapa bulan belakangan ini aku sedang menyelidikinya," jawab Sascha.
"Aku juga begitu. Beberapa bulan ini aku sering melihat kejanggalan mereka. Tapi aku belum bisa menyimpulkan," sahut Choi.
"Okelah. Kita bagi tugas. Aku akan mencari bukti-bukti tertulis di perpustakaan perusahaan. Dan Sascha aku perintahkan untuk mencari laporan enam bulan belakang versi mereka!" titah Dewa.
"Memangnya ada ya?" tanya Sascha.
"Untuk membuktikan apakah benar demikian. Dan kamu Choi... Kamu aku tugaskan mengecek gudang. Barang apa saja yang masuk dan keluar. Jika kita bisa menemukan semuanya, kita bisa mencocokan semuanya. Waktu kita enggak banyak hanya empat hari ke depan!" perintah Dewa.
"Apa?" pekik Choi.
"Ya... Aku harus pergi ke Indonesia. Pokoknya yang terpenting itu barang bukti harus dicari terlebih dahulu," jawab Dewa dengan nada menekan.
Sascha dan Choi menganggukan kepaalanya. Mulai malam ini mereka bekerja mencari seluruh barang bukti. Sementara itu Devan yang berada di kamar sangat gelisah. Devan mondar-mandir tidak jelas tujuannya. Baru kali ini Devan mendeteksi adanya kecurangan dalam perusahaan. Melihat sang istri sedang membersihkan make-upnya, Devan menghempaskan bokongnya sofa. Setelah itu Tara menghembuskan nafasnya secara kasar. Tarra mulai beranjak dari duduknya sambil melihat sang suami sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Tara yang menghampiri Devan lalu menghempaskan bokongnya di samping Devan. "Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"
"Beberapa hari ini aku merasa ada yang janggal di perusahaan. Penjualan velg menurun tiga puluh persen," jawab Devan.
"Apa itu benar?" tanya Tara yang baru tahu.
"Iya. Kalau diteruskan ya bisa the end kita," jawab Devan.
"Apakah kamu tidak meminjam pasukan pusat untuk menyelidiki kasus ini?" tanya Tara.
"Aku sudah meminta Dewa dan Sascha turun. Mulai malam ini mereka akan menyelidikinya," jawab Devan.
Tara terdiam lalu mencoba mengingat beberapa waktu yang lalu. Tara menatap wajah Devan sambil mengusap wajahnya, "Sepertinya aku ingat sesuatu."
"Maksudnya?" tanya Devan yang menatap Tara.
"Aku melihat Rosita Yi bertemu dengan Theodore," jawab Tara yang ketakutan.
__ADS_1
"Theodore? Maksud kamu Theodore CEO Masters Corps?" tanya Devan.
"Iya," jawab Tara.
"Ngapain Rosita bertemu dengan Theodore?" tanya Devan yang mengerutkan keningnya.
"Entahlah," jawab Tara.
"Apakah kamu ingat dimana Rosita bertemu dengan Theodore?" tanya Devan.
"Ya... Aku ingat. Di restoran pusat kota yang bernama Sally Cafe," jawab Tara.
Devan menganggukkan kepalanya sambil meraih ponselnya di meja. Devan segera menghubungi Dewa untuk menceritakan pertemuan antara Rosita Yi dan Theodore. Kemungkinan besar informasi yang didapatkan dari Tara bisa membantu mereka. Devan pun menatap Tara dengan menyelidiki mata sang istri untuk mencari kebohongan. Namun Devan tidak menemukan kebohongan di mata Tara.
"Kemungkinan ini bisa jadi petunjuk buat mereka," ucap Devan dengan lirih.
"Bukannya Masters Corps sudah bangkrut?" tanya Tara dengan serius.
"Entahlah," jawab Devan dengan mengedikkan bahunya. "Atau?"
Sontak saja Devan terkejut. Bagaimana bisa Dewa menghancurkan perusahaan milik sang rival? Devan meminta jawaban kepada Tara. Namun Tara hanya mengedikkan bahunya. Tara hanya tersenyum sambil berkata, "Tanyakan saja pada putramu itu."
"Dia juga putramu. Kamu yang mengandung dan melahirkannya," kesal Devan yang tidak diberikan jawaban oleh Tara.
"Ya... Jangan salahkan aku. Aku hanya menanam bibit berkualitas di dalam perut kamu itu," ujar Devan yang berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Tara yang mengangkat kepalanya.
"Mau ke perusahaan. Aku akan membantu Dewa untuk mencari barang bukti," jawab Devan.
"Aku ikut!" seru Tara.
DT Groups adalah sebuah anak perusahaan milik Nakata's Groups. DT Groups dulunya memproduksi kursi jok untuk mobil yang diproduksi oleh Nakata's Groups di Jepang. Namun ketika berpindah tangan ke Devan, maka perusahaan itu memproduksi velg mobil mewah.
__ADS_1
Ketika DT Groups berdiri dan mulai memperbanyak cabang di beberapa kota besar di negara Amerika, Kanada dan Argentina. Nama DT Groups menjadi besar karena kerja keras Devan. Devan adalah termasuk pria yang cekatan. Lima tahun belakang DT Groups pernah berganti CEO. Saat itu Dewa memutuskan untuk melanjutkan S1 bisnis dan manajemen di Harvard University. Devan secara terang-terangan memberikan kursi CEO buat Dewa agar bisa berkembang. Akan tetapi Dewa mengubah sistem DT Groups menjadi besar. Sambil kuliah Dewa mengembangkan bakat bisnisnya. Hal itu membuat DT Groups menjadi berkembang pesat.
Disisi lain ada salah satu rival DT Groups yang sangat membenci perusahaan tersebut. Rival itu adalah Theodore Yi dari perusahaan Masters Corps yang lebih dulu disebut raja velg dunia. Namun ketika Dewa menjabat dan melakukan banyak inovasi pada produknya, perusahaan Masters Corps akhirnya mulai tersisih.
Dewa yang menemukan beberapa dokumen baru saja ingat dengan perkataan Devan tadi. Dewa menatap Choi yang mengambil beberapa dokumen dengan tersenyum smirk. Tanpa sengaja Choi melihat Dewa yang tersenyum smirk langsung menelan salivanya dengan susah payah.
"Kenapa kamu tersenyum smirk seperti itu?" tanya Choi yang bergidik ngeri.
"Papa tadi menghubungi aku tentang Rosita Yi," jawab Dewa yang membawa beberapa map itu.
"Rosita Yi?" tanya Choi.
"Ya... Kamu enggak kenal Rosita Yi?" tanya Dewa yang masih diam di tempatnya.
"Rosita Yi adalah adik dari Theodore Yi," jawab Choi.
"Apa?" pekik Dewa yang terkejut.
Dewa langsung memasang wajah datarnya. Baru saja ia mendengar kalau Rosita Yi adalah adiknya Theodore Yi. Dewa baru saja mendapatkan umpan baru untuk berburu. Namun Dewa akan mengajak Sascha untuk berpetualang menangkap Theodore Yi.
Di ruangan VVIP di sebuah klub malam, seorang pria yang bernama Theodore tersenyum puas. Theodore melihat jurnal keuangan milik DT Groups turun drastis. Theodore tersenyum manis sambil berkata, "Hari ini adalah hari kemenangan kita. Kita harus merayakannya dengan menghabiskan uang milik Devan!"
Semua tamu yang diundang oleh Theodore tertawa terbahak-bahak. Mereka adalah para petinggi-petinggi DT Groups yang selingkuh. Ya... Mereka sebenarnya adalah anak buah Theodore yang ditempatkan olehnya di posisi terpenting.
"Apakah Devan bodoh mengetahui rencana kita?" tanya Rosita.
"Aku yakin tidak," jawab Theodore.
"Jangan lupakan Dewa anaknya Devan. Dia memang pendiam tapi menghanyutkan," ucap Amar.
"Bocah kecil itu ya? Ah... Dia bukan lawan sepadan. Aku bisa menangkapnya hari ini kalau mau," ejek Theodore.
"Apa hebatnya Dewa?" tanya Rosita.
__ADS_1
"Dia memang hebat. Dia adalah CEO D'Stars Inc anak cabang Nakata's Groups. Di tangan dinginnya Dewa bisa membangun D'Stars Inc cepat berkembang. Ditambah lagi otaknya yang jenius di atas rata-rata. Bahkan Dewa dinobatkan sebagai pembisnis muda yang berbakat," jawab Amar.
"Apa yang kamu bilang?" tanya Theodore yang menggebrak meja.