
Lama-lama aku tidak nyaman bersama pramugari itu. Ketika aku ingin bicara, salah satu pramugari itu seakan mengancamku dengan tatapan tajamnya. Jujur aku tidak takut sama sekali. Malah aku sangat tertantang untuk mengerjai pramugari itu.
Hingga ketinggian dua ribu kaki aku memutuskan untuk tidak meminum dan memakan pemberian pramugari itu. Kemudian aku masuk ke dalam dan mengambil MacBook. Aku mulai mengecek kondisi perusahaanku. Namun aku tidak bisa melakukannya. Karena Kak Dewa memberikan sebuah informasi untuk tidak masuk ke dalam sistem keamanan.
Saat itulah aku merasa tertantang. Sebelum masuk ke dalam kamar, Aku sengaja pergi ke dapur. Saat masuk ke dapur aku melihat beberapa pramugari melihat botol obat. Aku mengambil ponselku dan mengambil obat tersebut. Diam-diam aku pergi dari sana.
Setelah itu aku masuk. Mas Kobe menghubungiku dan memberitahukan kalau ponselku sedang disadap. Aku memeriksa semua komponennya tapi tidak menemukannya. Dengan terpaksa aku kembali lagi ke posisiku semula. Aku mulai mengecek nomorku. Benar saja ada seseorang yang menyadap ponselku itu. Orang tersebut tidak mencuri data-dataku. Malahan orang itu ingin mengetahui pembicaraan dengan orang-orang terdekatku.
Aku mulai stres dan mencari orang itu. Akan tetapi aku tidak menemukannya. Kemungkinan besar otakku tidak sinkron dengan tanganku. Karena otakku sedang memikirkan tentang pramugari itu.
Untung saja Kak Dewa tidak memakan dan meminum apa yang telah diberikan pramugari itu. Aku sangat bersyukur sekali. Jika sampai Kak Dewa meminumnya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
Diam-diam aku memperingatkan Kak Dewa. Aku bilang kalau pramugari di sini sangat bahaya sekali. Kak Dewa pun sudah mengetahuinya sebelum aku. Kemungkinan besar Kak Dewa memiliki insting yang sangat kuat sekali. Kenapa Kak Dewa tidak memperingatkanku? Mungkin saja tak Dewa nggak mau melihatku panik.
Beberapa saat kemudian ada penyerangan dari pramugari itu. Untung saja aku bisa melakukan karate plus yudo. Kedua ilmu beladiri itu sengaja aku pelajari dari Kak Dewa. Namun sialnya Kak Dewa tidak mau membantuku. Dia hanya duduk santai sambil memandangiku.
Dalam hitungan menit, aku bisa melumpuhkan pramugari yang menyerangku. Setelah itu seluruh pramugari yang berada di sana langsung mengepungku. Dengan cepat Kak Dewa mengambil airsoft gun nya dan menembaknya ke arah jantung seluruh pramugari itu.
Namun yang membuat aku kesal, Kak Dewa menembak mereka tidak melihat arah tembakan itu. Ingin rasanya aku menangis. Tapi apa mau dikata. Kak Dewa sangat hebat sekali bisa mengenai jantung para pramugari itu. Aku bersyukur Kak Dewa sudah mengambil keputusan yang tepat. Jika tidak kemungkinan akulah yang menjadi korban mereka.
Selesai menembak mereka, Kak Dewa langsung mengganti posisi. Kak Dewa menjadi pemimpin dan mengambil alih posisi co pilot. Lalu aku sendiri menyekap co pilot itu di kursi penumpang. Jujur aku sengaja mengancam co pilot itu. Namun tak lama pesawatku mendarat di Berlin Jerman. Di sanalah kami lepas dari pembajakan pesawat itu.
***
__ADS_1
Masih di dalam pesawat, Kobe dan lainnya sangat lega mendengar kabar dari Dewa. Mereka bersyukur sekali bahwa masalah pembajakan pesawat itu selesai. Entah apa yang terjadi jika mereka tidak mendarat darurat. Jawabannya adalah entah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke New York. Mereka berharap bisa bertemu dengan Dewa dan juga Sascha.
Pagi yang cerah di kota Berlin. Dewa melihat Sasha yang sudah bangun. Lalu Dewa memeluknya dari belakang sambil menyapanya, "Selamat pagi sayang."
"Selamat pagi," sapa Sascha.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dewa.
"Aku baik-baik saja kak. Aku nggak trauma soal itu. Tapi aku sebel sama kakak," jawab Sascha.
"Kenapa sebel?" tanya Dewa.
"Pokoknya aku sebel sama kakak. Bagaimana tidak aku dibiarkan berjuang melawan pramugari sialan itu. Untung saja aku tidak mati karena mereka."
"Sudah puas ya Kakak seperti itu. Untung saja aku tidak takut. Memang diam-diam Kakak resek sekali," kesal Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.
"Habis gini kamu pesan tiket pesawat menuju ke Amerika. Hari ini kita berangkat ke Amerika memakai pesawat komersil. Aku tidak memakai pesawat pribadiku. Pilotku sedang beristirahat," pinta Dewa.
"Kayaknya bukan itu deh alasannya."
"Memang bukan. Aku memang sengaja memesan tiket pesawat komersil. Pesawatku sekarang berada di Jakarta. Nggak mungkin kalau kita menunggu. Kalau nggak salah penerbangan ke New York malam hari. Aku minta kamu memesan dua tiket sekaligus."
__ADS_1
"Semoga tidak ada serangan lagi."
"Sudah tidak ada. Sebentar lagi pasukan khususku akan turun menyelidiki mereka. Mereka akan ke sini siang hari."
"Baiklah. Tapi aku akan menjual pesawat itu. Aku akan membeli pesawat baru. Aku nggak mau pesawatku dilacak sama orang yang tidak ada gunanya itu. Jika aku masih memakai pesawat itu. Kemungkinan besar orang Tak ada guna itu akan menyerangku lagi."
"Bicarakanlah semua pada papa. Aku tidak berhak memberimu izin untuk menjual pesawat itu. Karena pesawat itu bukan milikku. Kalau begitu aku akan membersihkan tubuhku," ucap Dewa yang melepaskan Sascha lalu pergi ke toilet.
New York Amerika.
Damar yang mengetahui kalau pengawalnya mati sangat geram sekali. Bisa-bisanya pengawal itu yang menyamar menjadi pramugari kehilangan nyawa dengan konyol. Semua rencana itu percuma saja.
Tak lama seorang pengawal masuk ke dalam ruangan kerjanya itu. Lalu pengawal itu membungkuk sambil menyapa Damar, "Selamat pagi Tuan."
"Ada kabar apa? Jangan katakan kalau Gerre masih hidup!" bentak Damar.
"Itu benar tuan. Sejam yang lalu pesawat Gerre mendarat mulus di bandara John F Kennedy. Namun sialnya Gerre dikawal oleh pengawal Black Tiger. Mereka sengaja melakukan pengawalan ketat," jelas pengawal itu yang membuat Damar amarahnya semakin memuncak.
"Black Tiger?" tanya Damar.
"Itu benar tuan. Black Tiger adalah sekelompok mafia yang cukup terkenal di dunia ini. Ketuanya adalah Tara Anggraini. Di samping itu juga Black Tiger dipegang oleh putranya Tara. Nama putranya adalah Arie Dewantara. Yang lebih dikenal adalah Dewa. Dewa cukup piawai dalam memimpin kelompok tersebut. Semakin lama Dewa mengembangkan sayapnya untuk membangun Black Tiger di Asia maupun Eropa. Selama ini banyak mafia yang segan terhadapnya. Mereka tidak mau berurusan dengan Dewa. Sekalinya berurusan Dewa tidak akan membiarkan musuhnya hidup. Dewa akan mengejar musuhnya itu hingga ke dalam neraka tingkat tujuh sekalipun," jelas pengawal itu.
"Berikan informasi tentang Dewa sekarang juga!" perintah Damar.
__ADS_1
"Maaf tuan. Dewa tidak pernah mempublikasikan informasi tersebut," ucap pengawal itu dengan cepat.
"Kenapa bisa?" tanya Damar yang geram kepada Dewa.