Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Gara-Gara Pesawat.


__ADS_3

"Aku belum tidur Kak. Pinjem laptopnya lagi Kak. Aku ingin mengecek sesuatu," jawab Sascha yang meminta laptopnya kembali.


Dewa pun memberikan laptop tersebut ke arah Sascha. Kemudian Sascha menerimanya dan membuka laptop tersebut. Dengan konsentrasi yang tinggi, Sascha mulai mengecek ponselnya dan SIM card-nya.


Tiba-tiba saja, Sascha mendapat sesuatu di ponselnya. Ternyata diam-diam ponselnya ada yang menghack. Kemudian Sascha menatap layar laptop itu sambil menggaruk kepalanya.


"Aku kok merasakan ada yang aneh akhir-akhir ini. Untung saja aku tidak berbicara tentang perusahaan melalui ponsel ini. Ternyata yang melakukannya adalah orang Amerika. Dengan terpaksa aku akan mencari orangnya itu dan memberikan sebuah hadiah yang menyakitkan," ucap Sascha dalam hati.


Melihat sang istri sedang sibuk, Dewa menatap laptopnya sambil mengecek Apa yang dilakukannya itu. Namun dirinya sangat terkejut bahwa ponsel Sascha ada yang menyadapnya. Ternyata diam-diam istrinya memiliki bakat terpendam. Kenapa juga dirinya harus memanggil Leo? Jika harus menyelidiki lewat cyber.


Selesai mencari siapa pelakunya, Sascha tersenyum kemenangan. Ia meminta Leo mengirim antivirus di ponselnya. Sekalian Sascha memasang virus yang mematikan di ponselnya itu. Jika ada yang berusaha menyadapnya lagi. Maka orang itu akan terkena bahaya.


"Kamu itu ternyata sangat misterius sekali," puji Dewa.


Sascha mendekati Dewa lalu memajukan wajahnya dan membisiki sesuatu.


"Kalau ngomong jangan kenceng-kenceng. Aku mulai mencurigai di dalam pesawat ini ada beberapa orang adalah penyusup," ucap Sascha yang menjauhi Dewa.


Sementara itu Dewa tersenyum manis. Ternyata sang istri memiliki insting yang kuat. Dari tadi Dewa sudah mengetahui kalau ada penyusup di dalam pesawat ini. Namun Dewa memilih diam saja ketimbang ketahuan.


Hampir lima jam terbang. Sascha menyuruh Dewa untuk tidak memakan apa-apa. Istilahnya Sascha menyuruh Dewa berpuasa terlebih dahulu. Karena di dalam pesawat ini sangat genting sekali. Jika salah satu dari mereka makan. Nanti akan ada korban.


"Di belakang punggungku. Ada airsoft gun dua. Aku memang sengaja menaruhnya di belakangku. Jika mereka bergerak sedikit pun atau melakukan pergerakan. Kamu bisa menembaknya dengan cepat. Aku tahu di sini sangat genting sekali. Semoga kita bisa mendarat dengan selamat," ucap Dewa sambil berbicara dengan pelan.


Dengan terpaksa Sascha menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dirinya merasakan hal yang aneh. Lalu Sascha membuka ponsel satunya lagi. Sascha memang memiliki dua ponsel. Ponsel yang satunya itu jarang pernah dipakai.

__ADS_1


Jari lentiknya mulai menari-nari indah di layar ponselnya itu. Ia melihat salah satu pramugari sedang melakukan panggilan. Untung saja saja memakai earphone. Sascha langsung mendengarkan perkataan pramugari itu.


Diam-diam Sascha melakukan penyadapan percakapan itu. Ternyata pramugari itu adalah suruhan seseorang. Kemudian Sascha mendengar jelas apa yang dikatakan oleh pramugari itu. Ternyata pramugari itu disuruh membunuh Sascha.


"Apakah ini yang dinamakan kode dari Mas Kobe?" tanya Sascha dalam hati.


Kemudian Sascha lebih memilih untuk menghubungi Kobe dari email. Lalu Sascha mengirimkan sesuatu ke Kobe. Hanya dalam hitungan detik, Kobe langsung membalasnya. Setelah itu Sascha memutuskan membaca email itu.


"Ternyata oh ternyata... Pilot dan beberapa pramugari itu adalah penyusup. Rasanya aku ingin meminta bantuan saja," sahut Sascha.


Dengan tenang Sascha memejamkan kedua matanya. Ia tidak mungkin mengacaukan penerbangan ini. Meskipun diam otak Sascha berpikir menghindari mereka.


"Bentar lagi akan ada peperangan antara Aku dan mereka. Aku sudah lama tidak menghajar orang. Bisa nggak Kak Dewa memberikan aku izin?" tanya Sascha.


"Maksud kamu apa?" tanya Dewa balik.


"Pasti kamu ingin membahas soal penyusupan ini," jawab Dewa.


"Kakak benar," ucap Sascha.


"Kalau begitu kamu tenang saja. Aku sudah meminta Leo dan Tommy untuk melacak pesawat ini. Kedua orang itu meskipun wajahnya slengean. Tapi mereka jago untuk mencari radar pesawat," bisik Dewa.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sascha.


"Diam-diam saja. Nggak usah banyak ngomong. Anggap saja kita berada di tempat lain. Lebih baik kamu istirahat. Tapi ingat kamu jangan lengah sedikitpun. Aku diam-diam berkomunikasi dengan Leo dan Tommy. Aku harap kita masih bisa selamat dari mereka," jawab Dewa sambil meminta Sascha dengan tenang.

__ADS_1


Di pesawat lain, Tommy dan Leo sangat terkejut sekali. Bagaimana bisa pesawat milik Sascha dibajak oleh orang yang tidak dikenal. Untung saja Kobe memberitahukan dengan cepat. Jika tidak mengatakannya, mereka tidak akan bisa melacak keberadaan pesawat tersebut.


"Untung saja bang Kobe memberitahukan dengan cepat. Aku nggak tahu apa yang terjadi nanti jika bang Kobe nggak ngasih tahu," jawab Leo.


"Aku baru saja dikasih tahu sama papa Gerre. Jika tidak dikasih tahu. Kemungkinan besar melesat begitu saja. Aku takut mereka akan menghabisi Sascha sama Dewa," ucap Kobe.


"Dari mana Papa Gerre mengetahui kalau pesawat saja dibajak?" tanya Tommy.


"Masa kamu nggak tahu. Pesawat sehat maupun tidak sehat. Sepertinya kamu harus belajar dengan teliti soal pembajakan itu. Jika tidak kamu akan terjebak di dalam pesawat," jawab Kobe.


"Ini tidak mungkin. Kenapa juga pesawat Sascha dibajak?" tanya Tommy yang menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Ada kemungkinan besar dengan pesawat itu. Pesawat yang dipakai Sascha sering dipakai oleh papa Gerre. Bahkan pesawat itu sering dipublikasikan di sosial media milik Gerre. Bisa dikatakan pesawat itu sudah menjelma sebagai alat transportasi milik papa Gerre yang cukup terkenal. Seandainya pihak lawan ingin menghancurkan Papa Gerre. Mereka bisa saja menyusupkan orang-orang ke dalam pesawat itu. Namun naas untuk sekarang ini. Sascha lah yang kena batunya. Untung saja di dalam pesawat itu ada Dewa. Aku harap semuanya baik-baik saja," jelas Kobe.


"Memang brengsek itu orang yang ingin menghancurkan kredibilitas keluarga Atmaja. Padahal kalau dilihat. Keluarga Atmaja sangat kaya namun dermawan sekali. Sangking dermawannya papa Gerre tidak pernah memperhitungkan jika ada bencana yang sedang terjadi. Lalu kenapa keluarga Atmaja menjadi sasaran empuk bagi lawan-lawan yang tidak jelas itu?" tanya Leo.


"Namanya juga pembisnis. Dewa juga memiliki orang yang ingin menghancurkan karirnya. Tapi saat ini belum terdeteksi. Jangan sampai si rubah kecil itu akan turun tangan dan menghabisi satu persatu rival Dewa," jawab Kobe.


"Aku rasa ini sangat menyeramkan sekali. Aku tidak bisa membayangkan jika rubah kecil itu keluar dari persembunyiannya dan mengobrak-abrik mereka," tambah Tommy yang tertawa membayangkan Sascha sedang marah besar.


"Dia memang pantas untuk dijadikan sebuah perisai. Apalagi dia sangat pemberani sekali jika ada orang yang menikamnya dari belakang. Tapi sayang... Dewa lah orang yang berhasil mendapatkannya. Banyak orang yang mengejar-ngejarnya. Tapi mereka tidak berhasil mendapatkannya," ujar Kobe.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Tommy.


"Aku mohon kalian bisa memantau radar mereka. Aku akan suruh pilot untuk mengikutinya," jawab Kobe.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin bisa. Pekerjaan itu seharusnya dilakukan oleh Co Pilot. Dan kamu adalah seorang pangeran dari Nakata's Groups," sahut Leo.


"Kamu benar. Bagaimana caranya aku memberitahukan mereka untuk mengikuti pesawat Sascha?" tanya Kobe yang mulai frustasi dengan keadaannya.


__ADS_2