
"Kamu itu membuat pertanyaan konyol. Mama sangat pusing sekali mendengar pertanyaanmu itu," jawab Tara yang beranjak berdiri lalu mengambil piringnya.
"Kami memang melakukannya atas dasar suka sama suka. Jadinya kondisinya bagaimana kalau Sascha hamil duluan sebelum menikah?" tanya Dewa yang membuat pertanyaan membingungkan.
"Apa maksudmu sih?" tanya Tara balik sambil ngegas.
"Ya nggak gitu kali. Jika posisinya aku menghamili putrinya dari tuan Gerre. Apa yang Mama lakukan setelah ini?" tanya Dewa.
"Kalau sama Aulia ya. Lebih baik kamu pergi ke bapaknya yang galak itu. Lalu kamu minta baik-baik dan mau bertanggung jawab atas kehamilan anaknya. Beres kan!" jawab Tara.
"Kalau orang lain gimana ma?" tanya Sascha.
"Maaf. Mama tidak mengizinkan Dewa menikahinya terlebih dahulu. Bisa-bisa wanita itu memiliki otak yang sangat licik sekali. Kamu tahu kan Apa maksud Mama sebenarnya?" tanya Tara sambil menjelaskan jawaban sebenarnya.
"Ini sungguh sangat rumit buat aku. Kalau begitu ya sudahlah. Bubar jalan dari dapur. Aku akan latihan fisik bersama mereka. Mereka sudah menunggu sedari tadi," pamit Dewa yang meninggalkan mereka semuanya.
Melihat kepergian Dewa, Sascha hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak marah sama sekali tentang jawaban dari Tara. Sascha sengaja menyimpulkan bagaimana perasaan seorang mama ketika anaknya sudah melakukan di atas hal yang wajar. Inilah yang dimaksud dengan perasaan seorang wanita. Apakah Tara hatinya hancur jika Dewa berbuat kurang ajar terhadap seorang wanita? Pastinya hancur. Jangankan Tara, Sascha juga merasakan hal yang sama ketika putranya sudah melakukannya. Sascha akan marah besar dan menunggu anak itu lahir. Setelah itu Sascha sengaja melakukan tes DNA untuk mencari kebenaran tentang cucunya itu.
__ADS_1
Pagi menjelang siang, Sascha memutuskan untuk pergi ke atas. Sebelum masuk ke kamarnya, Sascha menuju ke kamar Dita. Ia masuk ke dalam dan melihat Dita sedang membereskan pakaiannya.
"Kita akan bertemu setelah kasus ini selesai ya. Kamu baik-baik jaga diri di sana," ucap Sascha.
Dita tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dita memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya itu. Ia lalu menghempaskan bokongnya sambil duduk di samping Sascha.
"Aku tidak apa-apa Kak. Aku juga harus belajar mandiri agar bisa menyambut hari-hariku tanpa ada bantuan dari orang lain. Anaknya mafia Kok nggak bisa mandiri?" ujar Dita yang membuat Sascha tersenyum. "Sebenarnya aku malu sama kakak. Setelah kita berkenalan, Kakak adalah wanita yang sangat mandiri dan juga tangguh. Aku harus menjadikan Kakak dan juga mama sebagai wanita mandiri."
"Yang nggak gitu kali. Mandiri sih boleh saja. Tapi kamu harus meminta bantuan kepada orang lain. Jika kamu memerlukannya. Kita adalah manusia sosial yang saling membutuhkan satu sama lain," pinta Sascha agar Dita tidak terlalu menjadi wanita mandiri.
"Maksud kamu apa?" tanya Sascha.
"Maksud aku, gimana perasaan setelah menikah dengan Kak Dewa?" tanya Dita sekali lagi.
"Iya beginilah. Kamu takut kalau kakak meninggalkan Kak Dewa gitu ya?" tanya Sascha yang menebak isi otak dari adik iparnya itu.
"Itu benar Kak. Aku takut kakak meninggalkan Kak Dewa," jawab Dita.
__ADS_1
"Yang nggak gitu kali. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kakakmu sendirian. Kamu tahu apa yang dinamakan takdir untuk bersama pasangannya? Takdir itu telah mengikat Kakak bersama Kak Dewa untuk selamanya. Jadi Kakak memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkannya sedetikpun. Karena Kak Dewa orangnya sangat berarti bagi hidup Kakak sendiri," ucap Sascha.
"Lalu Bagaimana sifat Kak Dewa dengan sifatnya Billi?" tanya Dita yang sengaja membandingkan kakaknya dengan orang lain.
"Ya beda jauh. Mereka sama-sama pria tapi memiliki sifat berbeda. Tapi aku lebih memihak ke kakakmu itu. Bukan berarti kakakmu adalah seorang CEO dari perusahaan ternama di dunia ini. Sikap santunnya itu yang membuat aku jatuh cinta. Dan kebaikannya ditambah lagi dengan wajah konyolnya itu," jawab Sascha. "Kak Dewa adalah cinta pertamaku. Memang sedari kecil kami sudah berkenalan dan menjalin persahabatan sebelum aku menghilang dari pandangannya."
"Jadi selama ini Kakak?" tanya Dita yang benar-benar terkejut atas pernyataan dari Sascha.
"Itu benar. Makanya kamu hadir ke dunia ini gara-gara kakak menghilang. Tapi kamu juga sudah aku anggap sebagai adik kandungku. Aku sangat bahagia ketika memiliki kamu yang sangat polos," jawab Sascha sambil tersenyum manis dan membuat Dita memeluk tubuhnya.
"Ternyata aku baru sadar atas kehadiranku di dunia ini. Tapi aku tidak apa-apa dan protes. Kenapa aku berada di dunia ini?" kata Dita dengan mata berbinar.
"Kamu benar. Jangan pernah menyesali keadaan. Suatu hari nanti kamu akan berguna bagi banyak orang," bisik Sascha.
"Kakak benar," sahut Dita yang melepaskan Sascha sambil tersenyum tulus.
"Jadi berangkat sore hari?" tanya Sascha.
__ADS_1