
Anggoro dan Melly semakin kesal terhadap Bima. Mereka menganggap Bima adalah orang yang tidak sopan sama sekali terhadap dirinya. Entah ada setan apa yang merasuki mereka berdua hingga membuat mengamuk.
Bagaimana dengan tanggapan Bima? Bima tidak pedulikan akan hal itu. Malah Bima tersenyum mengejek kepada mereka. Jujur saja Bima adalah saksi hidup Anggoro dan Melly. Di mata awak media mereka berdua pura-pura baik dan mendapatkan sanjungan yang epic. Namun sebaliknya tidak, mereka berdua malahan memaki-maki orang-orang yang lewat di depannya.
Menurut Bima mereka sangat mirip sekali seperti keluarga Billi. Berharap dirinya tidak ingin bertemu sama model seperti Billi. Namun itu tidak mungkin, Bima harus menemuinya dan melihatnya secara langsung.
Ketika sampai di markas, Bima menyuruh para pengawalnya untuk tidak memberlakukan dengan baik. Jujur Bima sangat sakit hati terhadap mereka. Andai saja mereka tidak memakai topeng apapun, kemungkinan besar Bima tidak akan sekasar itu terhadap pasangan tersebut.
Di ambang pintu Dewa menatap Bima sambil tersenyum. Pria bertubuh kekar itu mendekati Bima lalu bertanya, "Seharusnya bukan kamu yang turun. Ian atau Tommy lah yang turun dalam perburuan ini."
"Aku lagi menganggur saja saat ini. Mereka sedang beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aku tidak akan mengganggu mereka. Jadi biarkanlah aku yang berjalan. Mencari mereka tidak akan sesulit itu. Apalagi mereka gampang sekali dilacaknya. Dengan berita-berita miring yang sering dibuatnya. Hanya mencari nomor teleponnya aku bisa mendeteksi keberadaan mereka," ucap Bima dengan jujur.
"Kalau begitu ya sudahlah. Risa sudah tertangkap tangan olehku. Aku nggak tahu bagaimana reaksinya jika sang kakek masih hidup?" tanya Dewa sambil menatap langit yang bertabur bintang sambil tersenyum manis.
"Jujur Risa akan terkejut. Seorang penjahat gadungan akan kalah dengan penjahat sesungguhnya. Aku nggak tahu apa yang dipikirkan oleh Risa. Yang ada hanyalah menindas istrimu itu," jawab Bima yang membalas Dewa.
"Aku nggak peduli soal itu. Sascha tetaplah Sascha. Dia adalah wanita yang tangguh dan kuat. Aku tidak pernah menyesal memilih Sascha. Karena sedari dulu saja sudah ditakdirkan bersamaku," ucap Dewa.
"Iya kamu benar. Yang namanya jodoh tetaplah jodoh. Mau bagaimanapun Sascha adalah jodoh sejatimu. Meskipun terpisah kalian tetap menyatu dan abadi selamanya. Aku berharap kalian bisa hidup bahagia selamanya. Tinggal aku yang belum mendapatkan seseorang. Semoga tahun depan mendapatkan jodoh yang baik untuk pria brengsek ini," ungkap Bima sambil tersenyum kecut.
"Jangan bicara seperti itu. Suatu hari nanti kamu akan menemukan seseorang yang penting untuk hidupmu. Aku mau melihat gambaran jodohmu itu adalah wanita tangguh. Ya nggak pernah lelah untuk merawatmu. Meskipun lemah lembut wanita itu akan baik terhadap kamu dan keluargamu. Janganlah bersedih seperti itu. Kelak jodohmu akan datang dengan sendirinya. Sekarang fokus pada yang ada dulu. Jangan pernah nakal lagi. Jika kamu nakal biarkanlah Sascha yang menghukummu," ancam Dewa sambil tersenyum bahagia.
Setelah mendapatkan wejangan dari Dewa, Bima memutuskan untuk masuk ke dalam. Di sana Bima melihat Kakek Aoyama yang sedang duduk dengan santai. Bima langsung mendekatinya dan menunduk sambil memberi hormat. Namun dengan cepat kakek Aoyama tidak membiarkan Bima melakukan hal seperti itu. Karena kakak tahu kalau Bima adalah teman baiknya Dewa dan juga saja.
__ADS_1
"Janganlah kamu seperti itu. Bukankah kamu adalah temannya Dewa?" tanya kakek Aoyama.
"Itu benar kek. Tapi Aku jarang sekali bertemu denganmu," jawab Bima yang memberikan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua.
"Aku nggak peduli itu. Kamu sudah sangat baik sekali pada cucuku. Kamu nggak perlu sungkan terhadapku. Kalau begitu duduklah," pinta Kakek Aoyama.
"Yang diminta oleh kakek Aoyama lakukanlah saja kak Bima. Tenang saja kakek nggak pernah jahat Kok sama orang," seru Sascha sambil berteriak agar Bima duduk di depan kakek Aoyama.
Bima langsung duduk di hadapan kakek dan tersenyum manis. Syukurlah dirinya bisa diterima oleh sang kakek. Dalam hatinya, Bima takut akan kemarahan kakek karena memiliki riwayat hidup yang sangat buruk sekali. Namun Kakek pun mengerti soal itu. Kakak juga tidak mempermasalahkan masa lalu Bima. Di sisi lain Kakak juga pernah merasakan hal di mana menjadi seorang bad boy.jadi wajarlah kakek nggak pernah menjudge orang seenaknya.
"Kenapa kamu takut sama aku seperti itu Bima? Kamu tahu kalau aku adalah orang pertama yang menunggumu datang ke sini selama bertahun-tahun. Sedangkan lainnya aku tidak pernah menunggunya. Karena mereka sangat rajin sekali datang ke hadapanku dan say hello saja. Aku harap kamu mengerti soal itu," ucap kakek Aoyama.
"Terima kasih kek sudah menerimaku. Aku tidak menyangka kalau kakek menungguku selama ini. Jujur aku sangat pintar sekali ketika kakek mengatakan hal itu. Bagaimana bisa seorang pria yang memiliki dosa sebanyak apapun ternyata ada yang mau menerimanya," ujar Bima yang tidak pernah bertemu sama sekali dengan sang kakek Aoyama.
"Aku tidak memperdulikan soal itu. Tidak selamanya orang buruk akan selamanya buruk. Orang baik juga nggak selamanya baik. Kamu tahu kan istilah itu? Jika kamu nggak tahu maka belajarlah lagi dengan tekun. Kelak kamu akan mendapatkan jawabannya sendiri," Kakak Aoyama sengaja memberikan wejangan untuk Bima agar tidak terjerumus ke lembah Hitam.
"Apakah kamu sudah menangkap mereka?" tanya kakek Aoyama.
"Sudah kek… Aku harap kakak tidak akan menyesal jika bertemu mereka," jawab Bima yang memberikan kode buat kakek Aoyama.
"Aku paham soal itu. Mereka adalah seorang penjahat kelas kakap. Biar bagaimanapun juga mereka memakai cara agar para korban masuk ke dalam perangkapnya. Untung saja aku memiliki kalian yang selalu sikap dalam bencana apapun. Kalau tidak besok aku yang akan mati terlebih dahulu. Tubuhku sudah renta nggak kayak dulu lagi. Aku sekarang juga lemah jago dalam ilmu bela diri. Makanya Tuhan memberikan kalian untuk menolong aku," puji Kakek Aoyama dengan jujur.
"Kalau begitu aku akan menemui Dewa dan lainnya. Kami harus berdiskusi terlebih dahulu mau diapain itu orang?" tanya Bima sambil berpamitan keluar.
__ADS_1
Selesai berpamitan Bima menuju ke suatu ruangan yang terdapat para anggota inti sudah berkumpul. Anggota tersebut sangat santai menikmati kopi panas. Di sisi lain Kobe dan Taro ikut bergabung dengan mereka. Meskipun mereka berbeda organisasi bawah tanah, mereka sangat solid sekali. Mereka juga tidak pernah bermusuhan satu sama lain. Terkadang seluruh anggota mafia yang berada bumi ini sangat iri terhadap mereka. Kenapa mereka bisa bersatu? Mereka tidak tahu jawabannya. Jawabannya sih cukup sederhana. Yaitu mereka melepaskan ego dalam diri masing-masing. Ketika mereka tidak sejalan, mereka mengumpulkan diri dan bercerita. Entah apa yang diceritakannya itu akan bermanfaat untuk masa depan hubungan mereka. Itulah Black Tiger dan White Tiger.
"Akhirnya kalian sudah berkumpul di sini. Aku sangka kalian masih dugem di klub milik bang Kobe," udah Bima yang melangkahkan kakinya lalu menghempaskan bokongnya di sofa single.
"Setelah kamu pergi, kami memutuskan untuk ke markas ini. Kami berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama menuju ke sini," ujar Timothy.
"Kalian balapan ya?" tanya Bima dengan nada kesal karena tidak diajak.
"Jangan ngambek gitu ah. Lagian biar aku yang melakukannya. Malah kamu yang mengeksekusinya. Lain kali kita akan kebut-kebutan di Jerman," balas Ian yang membuat Bima menganggukkan kepalanya.
"Ada juga Sascha! Sepertinya semakin hari kemampuan Sascha sangat hebat untuk mengendalikan mobil. Apalagi mobil besar. Aku yakin Dewa tidak bisa melakukannya. Ditambah dengan cara parkirnya yang asik itu," jelas Tommy yang membuat mereka menyetujui pendapatnya.
Jakarta Indonesia.
Devan bersama Gerre sedang menikmati kopi cappucino. Mereka sangat santai sambil melihat indahnya kota Jakarta ketika pagi hari.
"Apakah masalah papa Aoyama sudah selesai ya?" tanya Devan.
"Entahlah. Aku harap masalah itu cepat selesai. Aku tidak menyangka kalau Sascha memiliki seorang teman berjiwa psikopat. Untung saja selama aku berpisah dengannya, Dewa selalu menjaganya dari hal-hal yang buruk," jawab Gerre.
"Tenanglah. Mereka adalah orang gila. Motifnya hampir sama dengan Billi dan keluarganya. Namun yang ini lebih berani lagi," jelas Devan yang mendapatkan informasi dari Leo.
"Maksudnya apa?" tanya Gerre yang tidak paham dengan Devan.
__ADS_1
"Akan aku kirimkan file-file mereka dari yang kecil maupun besar. Kamu akan bingung membaca semuanya," jawab Devan yang masih asik dengan komputernya itu.
"Apa maksud kamu Devan?" tanya Gerre.