Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
DEWA BERSAMA DEVAN.


__ADS_3

Apa yang dikatakan oleh Eric benar adanya. Yang namanya hidup di dunia mafia harus ada yang dikorbankan. Tapi Eric tidak mau sama sekali. Eric sangat beda dengan sang ayah.


Pria berdarah Meksiko Italia itu adalah pria memiliki kelembutan jiwa. Ia gampang menangis jika sedang mengeksekusi korbannya. Saat mengeksekusi Eric meminta Bima atau Iyan untuk melaksanakannya. Setelah itu Eric memilih untuk pergi.


Nganjuk Indonesia.


Selesai dari pasar, keempat wanita itu langsung mengeksekusi barang belanjaannya. Mereka sangat kompak sekali ketika sedang memasak. Mereka berbagi tugas agar cepat selesai. Mereka sengaja memasak banyak untuk dibagikan kepada para pengawal. Karena para pengawal itu sangat setia menjaga putra-putrinya.


Dewa dan Devan sedang berkeliling melihat sawah. Kedua pria berbeda generasi itu sangat menikmati indahnya pemandangan alam. Mereka saling mengobrol dengan damai. Seperti biasa, mereka sengaja membicarakan bisnis. Soal urusan keluarga, Devan tidak mau mencampuri urusan rumah tangga putranya itu.


"Bagaimana perasaanmu setelah menikah?" tanya Devan.


"Ada yang spesial. Aku rasa waktuku sudah tepat untuk menikah. Aku tidak pernah menyangka kalau bisa menemukan Aulia. Meskipun berbeda nama, sifat asli Aulia selalu hadir," jawab Dewa.


"Kamu sangat beruntung bisa menemukannya. Papa tahu kalau kamu setia menunggunya dan akan kembali kepadamu. Penantianmu tidak sia-sia. Aulia dulu dan sekarang sangat berbeda. Aulia sekarang lebih dewasa dan lebih bar-bar dari mamamu. Kita nggak tahu mengapa memiliki seorang istri yang sangat bar-bar sekali. Setiap bahaya bukannya menghindar malah mendekatinya dan menghadangnya sendiri."


"Kok papa tahu semuanya tentang Aulia?"


"Ya. Kamu tahu ketika Papa sedang memegang cabang Finlandia. Cabang pusat sedang dalam bahaya besar. Papa bersama Kobe langsung menanganinya. Tapi kami tidak pernah menemukan asal muasalnya. Kobe meminta Aulia datang ke pusat untuk membantunya. Waktu itu Aulia bersama kami menganalisis keadaan. Nggak lama Aulia menemukan suatu kejanggalan dalam laporan keuangan global. Setelah itu Aulia mulai menelusurinya satu persatu dan mengerucutkan siapa tersangka utamanya? Ternyata tersangka utamanya bekerja sama dengan para gangster di Jepang. Bukannya mundur Aulia malah maju. Papa dan kakek langsung melarang Aulia. Tapi Aulia tidak mau sama sekali. Aulia langsung pergi ke markasnya dan mengancam ingin menghabisi mereka. Para gangster itu tidak pernah gentar sama sekali. Malahan para gangster tersebut sudah mengancam Aulia terlebih dahulu."


"Ternyata hidupnya Aulia sangat bahaya sekali saat itu."


"Kamu benar."


"Endingnya bagaimana?"


"Yang namanya Aulia orangnya sangat kocak sekali. Akhirnya Aulia mencari kesalahan dari gangster tersebut. Ternyata gangster itu sudah mengobrak-abrik kenyamanan kota Tokyo. Setiap malam dia selalu menyelidikinya satu persatu hingga mendetail. Hingga ditemukan pembunuhan seorang CEO dari perusahaan makanan terkenal. Aulia memiliki cukup banyak bukti. Aulia menyerahkan itu ke tangan para jenderal kepolisian untuk menangkap para gangster tersebut. Akhirnya para kepolisian itu pun mau dan langsung mengejar mereka. Akhir kisah cerita ini, Aulia diberikan hak veto untuk memecat mereka semuanya yang telah berkhianat di Nakata's Groups."


"Aku yakin para gangster tidak akan mau lagi melihat wajah Aulia. Kalau dipikir-pikir sih Aulia sendiri memiliki jiwa keberanian yang tajam."

__ADS_1


"Lalu bagaimana kabar tentang kabar tentang perusahaanmu di cabang Surabaya? Apakah perusahaanmu itu akan bangkrut?"


"Perusahaan itu tidak akan bangkrut sama sekali. Aku sudah menjemput mereka satu persatu. Tommy dan Timothy sudah aku tugaskan hanya demi mencari seluruh bukti. Aku yakin mereka bisa menemukan bukti-bukti itu meskipun disembunyikan di suatu tempat."


"Memang kamu bisa diandalkan. Apalagi kamu bersama Aulia bisa membuka kasus lama. Bagaimana dengan perusahaan istrimu itu?"


"Aku sudah membiarkan ini tentang perusahaan Aulia sama papa hanya berdua saja. Aulia tidak mengetahuinya sama sekali. Papa memang sengaja menutup perusahaan itu untuk sementara waktu. Masalahnya ini sangat genting sekali. Nenek-nenek itu memiliki banyak cara agar bisa menghancurkan perusahaan tersebut. Kalau dipikir-pikir ini sangat aneh sekali. Nenek-nenek berusia senja ingin sekali melihat keluarga Atmaja hancur berantakan. Motifnya Aku nggak tahu sama sekali. Apakah nenek-nenek itu memiliki penyakit yang parah? Hingga orang lain harus merasakannya juga."


"Ini hanya kesenjangan sosial saja. Keluarga Chloe dan keluarga Gerre memang sedari dulu orangnya pekerja keras. Mereka sangat menikmati Jika pekerjaan berada di depan mata. Pekerjaan apapun mereka mau mengerjakannya. Meskipun begitu mereka tidak akan lupa mengisi tabungan di foundation yang sudah dibangunnya sedari dulu."


"Untuk saat ini apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan mungkin membantai nenek-nenek yang memiliki usia senja seperti itu."


"Saran papa carilah berita kebohongan tentang kematiannya. Kalau nggak salah sih, kamu saat itu masih berusia tujuh tahun. Papa masih mengingat kejadian tentang pemberitaan pembunuhan palsu tersebut."


"Katanya mati karena penyakit?"


"Ya aku tahu itu pa. Aku sendiri sudah mengetahui dari papa semuanya. Akhirnya sudah ada titik terangnya. Aku akan meminta Aulia saling bekerja sama satu sama lain. Aku yakin kasus tersebut akan dibuka kembali oleh pihak kepolisian. Apakah ada korban dalam masalah ini? Maksudku Apakah nenek-nenek tua itu mengkambing hitamkan seseorang untuk menjalankan aksi rencananya?"


"Jelas ada. Dia itu pria bernama Aston. Kalau nggak salah sih Aston dituduh sebagai pembunuh nenek-nenek itu. Padahal Aston sendiri adalah seorang pelajar di salah satu sekolah di kota New York. Nenek itu sengaja mencari seseorang untuk dikambinghitamkan melalui random."


"Kalau melalui random sih aku percaya. Dia memilih nama-nama tersebut melalui kocokan arisan. Setelah mendapatkan nama itu. Nenek itu mencari orang yang memiliki nama tersebut."


"Sungguh nenek-nenek itu sangat cerdas sekali untuk melakukan aksinya."


"Setelah mendapatkan berkasnya, kamu cari seluruh bukti-bukti kesalahannya. Papa yakin kalau nenek-nenek itu sudah memiliki banyak korban. Setelah kesalahannya disebar ke internet. Mereka bisa melakukan masalah ini ke kepolisian."


"Apakah nenek Itu bisa ditangkap?"


"Kamu belum tahu seberapa hebatnya para korbannya untuk membantu pihak kepolisian untuk menangkapnya."

__ADS_1


"Oh iya aku baru saja melupakan hal itu."


"Sekarang bagaimana? Setelah mengetahui Fatin sudah meninggal."


"Aulia sudah bahagia pa. Aulia sekarang tidak takut lagi untuk menjalani hidup. Yang namanya Fatin tidak akan pernah berubah sedikitpun. Bahkan perusahaan milik Aulia juga ingin dikuasai di cabang Jakarta."


"Kok bisa begitu ya?"


"Yang namanya Fatin tetaplah Fatin. Dia tidak akan pernah berubah sama sekali. Jika kematian belum datang menghampirinya. Sedari dulu Fatin ingin sekali memiliki barang-barang mewah. Namun dirinya tidak perlu susah payah untuk mendapatkannya. Untuk saat ini juga, Fatin sudah berencana untuk mengeruk uang kas milik perusahaan Papa Gerre. Untungnya Aulia sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Jadi rencana untuk mengambil uang itu tidak jadi."


"Syukurlah kalau begitu. Aulia sudah keluar dari badai menghadang. Jika saja kalau kamu nggak pergi ke sini. Kamu nggak akan pernah bertemu dengan Aulia. Feelingmu ternyata sangat kuat sekali. Kamu bisa menemukan Aulia hanya dengan memiliki feeling."


"Aku sudah bersumpah dalam hatiku. Aku akan menemukan Aulia dengan cara apapun. Aku sangat berterima kasih kepada papa. Karena papa sudah memberikanku waktu untuk mencari keberadaan Aulia."


"Yah dulu memang papa agak egois sama kamu. Saat itu Papa tidak ingin melepaskanmu. Karena Papa tahu di luar sana masih banyak musuh-musuh berkeliaran. Tapi kamu sudah membuktikannya. Kalau kamu memang benar-benar ingin mencari keberadaan Aulia. Kamu bisa bertahan hidup dengan baik di luar sana. Orang tua mana yang akan ikhlas melepaskan putranya di alam liar seperti ini."


"Semuanya nggak ada. Justru orang tua harus melindungi anak-anaknya kelak."


"Tapi kamu memang anaknya bandel dan suka memberontak. Kalau kamu nggak suka langsung saja pergi. Banyak orang-orang yang segan terhadapmu. Jadi mereka minggir dan membiarkanmu berkembang apa adanya."


"Itulah pah namanya hidup. Takdirku harus mengikuti ke mana tujuannya akan berakhir. Tapi kita sebagai manusia tidak boleh terlalu pasrah. Jalani apa adanya tanpa harus mengganggu ketentraman orang lain. Sebentar lagi aku akan menyandang predikat seorang papa. Aku ingin belajar dari papa. Bagaimana menjadi orang tua yang sangat baik sekali untuk anak-anakku kelak."


"Hanya satu caranya. Kamu harus memahami karakter anak-anakmu. Kamu harus bertanggung jawab terhadap mereka. Kamu jangan pernah lepas dari mereka. Semakin sering kamu berinteraksi. Semakin sering juga kamu menjadi seorang pria yang sangat baik sekali di mata anak-anakmu sendiri."


"Apakah aku harus mengenal karakter mereka?"


"Ya kamu harus mengenalnya. Setiap manusia tidak ada yang sama dengan karakternya. Kamu dan Papa sangat beda sekali. Begitu juga dengan kamu bersama Dita."


"Bagaimana caranya aku harus mengenal karakter mereka?''

__ADS_1


__ADS_2