Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TRAUMA.


__ADS_3

“Kapan.. Kapan... kita akan mencarinya,” jawab Sascha yang sembari menyanyi.


“Kok jadi bingung ya?” tanya Dewa.


“Memang kasus ini seperti benang kusut,” jelas Sascha.


Tak lama seorang pramugari memberitahukan kalau sebentar lagi pesawat akan mendarat. Mereka akhirnya bersiap-siap duduk dengan rapi. Sementara Kobe sudah berada di ruang tunggu VVIP. Ia sengaja menunggu lebih awal karena tidak ingin terlambat sedikit pun.


“Tuan,” panggil Yamada yang membungkukkan badannya.


“Ada apa?” tanya Kobe.


“Anda harus bersiap-siap untuk terbang bersama Tuan Dewa,” jawab Yamada.


“Jaga mereka baik-baik. Kalau Fuhki atau lainnya datang ke apartemen untuk mencari papa. Kamu harus mencegahnya. Aku tidak ingin Fuhki menyakiti mereka!” perintah Kobe.


Yamada menuruti apa yang diperintahkan oleh Kobe. Lalu Kobe akhirnya pergi menuju ke apron demi menunggu pesawat Dewa tiba. Ia juga tidak pergi sendiri. Ia sengaja membawa dua pengawalnya demi mengawal Dita.


Ketika ingin terbang, pesawat milik Dewa ditahan terlebih dahulu. Karena jadwal penerbangan penuh dan harus bergantian satu sama lain. Akhirnya pilot dan Timothy berkoordinasi dengan pihak bandara. Agar pesawatnya ini harus keluar hari ini. Namun, pihak bandara tidak mengizinkan untuk terbang sekarang. Mereka akan terbang esok hari. Terpaksa mereka mengalah dan menginap di bandara.


“Bagaimana?” tanya Dewa ke Timothy sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


“Kita harus mematuhi peraturan disini. Hari ini jam penerbangan sedang penuh. Jadinya kita enggak akan terbang hari ini,” jelas Timothy.


“Tidak apa-apa. Meskipun kita pengusaha besar, kita tidak boleh bersikap arogan,” sahut Devan yang mendekati Dewa dan Timothy.


“Apakah kita akan pergi ke apartemen bang Kobe?” tanya Dewa.


“Untuk saat ini jangan dulu,” ucap Devan.


“Aku takut nanti kakek marah,” ujar Dewa yang tidak ingin kakek Aoyama kecewa.


“Ya sudah kalau begitu. Salah satu dari kami ke rumah utama. Untuk perwakilan saja menemui kakekmu. Papa juga begitu. Papa tidak akan pulang sebelum kedua keluarga itu menyingkir dari rumah utama,” sahut Devan yang mengijinkan Dewa pergi sebentar.


Dewa akhirnya mencari keberadaan Sascha. Ia melihat sang istri sedang bersama para mama. Lalu Dewa mendekatinya sambil berbisik, “Ikut aku bertemu dengan kakek sebentar.”


Dewa pun tersenyum dan mengajak mereka pergi ke rumah utama. Sepanjang perjalanan mereka memilih untuk diam dan menikmati jalanan yang sangat sepi sekali. Mereka juga merasa tidak enak jika tidak mampir ke rumah utama terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah utama, mereka disambut oleh para pengawal yang sedang berjaga. Di sana mereka langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan kakek Aoyama. Namun ada salah satu wanita muda yang menatap Sascha dengan sinis. Sascha menatap balik dengan tatapan mengintimidasi wanita muda itu. Akhirnya wanita itu menunduk ketakutan melihat Sascha benar-benar menyeramkan. Dengan senyumnya yang mengandung arti, wanita itu langsung pergi meninggalkan rombongan Dewa.


Melihat wanita itu pergi, Dewa hanya menghela nafasnya dengan kasar. Dewa bisa menebak kalau Sascha akan menyingkirkannya dengan cepat. Hanya tatapan matanya saja, wanita muda itu langsung pergi meninggalkannya.


“Di mana kakek?” tanya Sascha.

__ADS_1


“Biasanya kakek berada di taman belakang. Kakek sangat menikmati suasana taman belakang yang sangat sejuk sekali,” jawab Dewa.


Dewa akhirnya mengajak mereka ke taman belakang. Ternyata rumah ini tidak ada yang berubah sama sekali. Namun suasana sangat berbeda ketika datang ke sini beberapa waktu yang lalu. Apakah ini hanya perasaannya saja atau tidak? Dewa tidak bisa menebaknya begitu saja.


“Tuan,” panggil Taro.


Kakek Aoyama yang sedang duduk melihat kedua anjingnya sedang bermain itu terkejut. Sang kakek mengangkat wajahnya dan menatap wajah Taro.


“Ada apa?” tanya kakek Aoyama.


“Sudah saatnya kita berangkat ke apartemennya Tuan Kobe. Tuan di sana bisa menenangkan diri bersama Nona muda dan juga menantu yang sangat sayang kepada anda,” jawab Taro.


Mendengar nama Nona muda, pria berusia senja itu kembali tersenyum. Kakek Aoyama bahagia bisa bertemu dengan Dita. Jujur Dita adalah cucu yang sangat dirindukannya. Meskipun berada di Indonesia, kakek Aoyama sering mendapatkan kabar dari Dita.


Kabar terakhir yang menyangkut Dita, kabar yang di mana Dita sedang dijebak oleh temannya itu. Namun masalah itu tidak berlangsung lama. Dewa dan Sascha sudah turun tangan terlebih dahulu. Jadinya masalah itu tidak membuat pikirannya semakin gelisah.


“Kenapa Dita tidak mau tinggal di sini?” tanya kakek Aoyama.


“Menurut kabar informasi yang beredar, Nona muda tidak akan mau ke sini Jika ada mereka semuanya. Mereka pernah memberlakukan Nona muda dengan sangat buruk sekali. Kemungkinan besar Nona muda mengalami trauma,” jawab Taro.


“Kapan kita akan berangkat ke sana?” tanya kakek Aoyama.

__ADS_1


 


 


__ADS_2