Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MASIH RAGU.


__ADS_3

"Kalau aku nggak jadi masalah. Yang jadi masalahnya adalah keluarganya itu. Aku telah menyelidiki mereka satu persatu. Kedua orang tuanya itu sangat materialistis. Jujur, kriteria untuk menjadi suaminya Tommy itu. Harus memiliki aset di atasnya Kak Tommy. Makanya aku sekarang ragu untuk memberikan Dita ke Tommy. Keraguan itu bisa membuat aku mati berdiri," jawab Dewa.


"Apa Iya Kak? Tapi kak Tommy orangnya santai soal aset. Kak Tommy tidak pernah membuat statement seperti itu. Dia rendah hati dan tidak sombong," Tanya saja yang sepertinya ragu atas pernyataan dari Dewa.


"Kamunya belum tahu sih. Aku sudah memilikinya sendiri. Aku meminta pengawal untuk datang ke rumah Tommy. Rencananya dia aku tugaskan untuk menjadi asisten rumah tangga. Saat dia datang ada pemilihan calon istri buat Tommy. Kedua orang tuanya, terutama ibunya pertama kali yang dilihat adalah penampilannya yang seksi dan glamor. Yang lebih parahnya lagi, Ibunya itu meminta dari kalangan atas atau sosialita yang gajinya Wow sangat fantastis sekali. Inilah yang membuat aku ketar-ketir. Saya dari dulu aku mau minta Dita untuk tidak memamerkan seluruh kekayaannya itu. Aku malah memintanya untuk menjadi gadis yang rendah hati dan mau berteman dengan siapapun. Dan kamu tahu sendiri kan kita seperti apa sekarang?" jelas Dewa yang membuat Sascha akhirnya paham.


"Kalau begitu ya susah. Jujur aku juga jadi bingung kalau begini. Ditambah lagi Dita akan menderita sepenuhnya. Aku nggak mau itu. Dita adalah gadis yang ceria. Aku sudah mengangkatnya sebagai adik angkatku. Dia penuh senyum dan manis," ucap Sascha yang sedih atas penderitaan Dita.


''Ya Nggak segitunya kali. Jika papa dan mama dengar pasti sedih. Seumur-umur Dita itu menjadi putri yang sangat istimewa di mata mereka. Meskipun jauh mereka itu selalu memantau keadaan Dita. Aku nggak mau jika Dita di peralat seperti itu. Resikonya sangat besar sekali. Aku atau Papa Devan yang akan marah kepada mereka. Atau juga kita kolaborasi untuk menghancurkan bisnis mereka. Kalau soal Tommy Aku nggak jadi masalah. Bisa saja Tommy kembali ke perusahaanku dan bekerja. Terus dia bisa membangun kerajaan bisnis dengan sendirinya. Soalnya dia itu pantas untuk memimpin sebuah perusahaan," jelas Dewa.


"Kalau begitu akan aku rekrut untuk menjadi seorang CEO di perusahaanku. Dia bisa memilih bekerja di manapun yang dia suka. Begitu juga dengan Dita. Dita juga boleh membangun rumah mode di negaranya di mana Kak Tommy bekerja. Semuanya itu nggak jadi masalah buat kita. Nanti kalau soal itu kita bisa bicarakan. Aku sendiri masih bertanya-tanya. Ada apa dengan keluarga Kak Tommy sebenarnya?" ungkap Sascha yang merasa curiga terhadap keluarga Tommy.


"Kalau begitu ya sudahlah. Nanti kita pikirkan langkah selanjutnya. Semoga Tuhan bisa memberikan jalan keluarnya," kata Dewa yang berharap ada jalan keluarnya.

__ADS_1


"Kakak benar. Kenapa kita mikirnya terlalu jauh ya. Kalau sudah ada yang diperlihatkan maka kita harus santai terlebih dahulu. Kita nggak boleh gegabah untuk memutuskan selanjutnya. Yang sekarang biarlah berjalan terlebih dahulu. Kalau Dita berjodoh dengan kak Tommy, Kita bisa memutuskan Bagaimana jalan keluarnya," pintas Sascha agar Dewa tetap tenang.


"Tenang sih tenang. Tapi aku berharap kedua orang tuanya cepat sadar. Kalau nggak sadar, jangan salahkan kami jika sudah berbicara. Soalnya aku tidak tanggung-tanggung untuk menghabisi orang dalam waktu sekejap," terang Dewa yang membuat Sascha menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Itu terserah kamu saja. Aku juga begitu kok. Kalau gitu aku pergi mandi dulu ya. Setelah itu aku ingin pergi ke minimarket," pamit Sascha.


Beberapa detik kemudian, tangan kekar Dewa langsung menghalanginya. Dewa tidak ingin kalau sang istri pergi begitu saja. Akhirnya Dewa meraih ponselnya lalu memberikan ke Sascha.


"Kenapa juga kamu menahan aku seperti itu?" tanya Sascha yang bingung kepada Dewa.


"Terserah kamulah. Aku hanya menurut saja. Begini ya rasanya kalau orang udah menikah. Apapun akhirnya ditahan oleh suami," keluh Sascha yang membuat Dewa tersenyum mengangguk.


"Itu benar. Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja pada orang-orang yang sudah menikah. Terutama pada perempuan-perempuan yang sudah menjadi istri. Nanti jawabannya sama," sahut Dewa.

__ADS_1


"Iya di awal. Coba ujung-ujungnya lima tahun kemudian. Mau ke mana pun dibiarkan saja. Anak nangis maupun rewel Kamunya masih tidur. Atau enggak banyak cucian masih tidur juga. Apa itu benar?" tanya Sascha yang membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.


Sascha malas menatap wajah Dewa untuk hari ini. Bisa-bisanya Dewa malah tertawa terbahak-bahak ketika Sascha sedang curhat. Namun kenyataannya benar. Bahkan banyak wanita yang menderita karena ulah sang suami. Mereka harus dituntut memiliki waktu yang cukup buat merawat dirinya, rumah maupun anak-anaknya. Tidak jarang jika sang suami menuntutnya lebih. Pihak perempuan harus tetap cantik dan kinclong. Tapi, pria tidak pernah memperdulikannya itu. Bahkan para pria tidak mau memberikan nafkah kepada sang istri untuk membuat tubuhnya menjadi kinclong.


"Kamu benar. Tapi aku nggak seperti itu. Aku pengen jadi pria yang mau bertanggung jawab kepada sang istri. Kamu tahu, Kalau aku itu pengen menjadi pria yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Aku tidak akan melepaskan tanggung jawabku ini. Masak nikah mau enaknya doang. Terus aku akan membiarkanmu sendiri. Apapun sendiri dan lepas tugas gitu. Aku bukan begitu. Kamu tahu ceritanya papaku sama mamaku. Mereka selalu kompak untuk menjaga aku dan juga Dita. Mereka berbagi tugas untuk merawat kami. Bahkan Kami sering dibawa ke kantor. Seluruh karyawan di sana banyak yang kagum kepada papa. Seorang CEO dengan perusahaan besarnya kalau kerja membawa anak. Mereka malah menyebutnya hot daddy. Makanya aku sangat bangga jika bertanggung jawab kepadamu dan juga anak-anakku," Jelas Dewa yang membuat Sascha tersenyum.


''Akan aku pegang janjimu itu Kak. Apakah kita akan memiliki babysitter?" tanya Sascha.


"Sepertinya nggak perlu. Kita bisa Mamanya ke kantor dan berbagai tugas untuk merawatnya. Atau juga para orang tua kita saling berbagi satu sama lain. Mereka sangat bahagia ketika memiliki seorang cucu atau dua orang cucu atau banyak. Jujur saja aku tidak berencana ingin memiliki babysitter," jelas Dewa yang tidak ingin memiliki baby sitter.


"Apakah kita tidak merepotkan mereka?" tanya Sascha.


"Justru itu. Mereka ingin merawat anak-anak kita. Malah para Mama sangat semangat sekali merawatnya. Biarkanlah anak-anak kita berada di tangan yang tepat. Kita beramai-ramai untuk membimbingnya," jelas Dewa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan mereka kak?" tanya Sascha yang tidak ingin merepotkan mereka.


__ADS_2