
“Sepertinnya ada yang aneh,” jawab Sascha.
“Lebih baik kamu selidiki. Ketimbang kamu diam saja di sini,” pinta Dewa.
“Lalu bagaimana dengan Damar dan David?” tanya Sascha yang menghempaskan
bokongnya di tepi ranjang.
“Cobalah kamu percaya dengan mereka. Mereka adalah pasukan khusus yang
sudah aku percaya. Mereka tidak akan berkhianat dengan kita,” jawab Dewa yang
meminta Sascha percaya.
“Lalu dengan Dita?” tanya Sascha.
“Dita?” jawab Dewa yang melipat kedua tangannya sambil berpikir.
“Apakah kita akan meninggalkan Dita di sini?’ tanya Sascha.
“Sepertinya dia harus ikut dengan paapa Devan. Biarkan papa yang
mengurusnya.”
“Kamu enggak butuh Kak Timothy di sini?” tanya Sascha yang membutuhkan
kekuatan lebih.
“Bryan,” jawab Dewa.
“Kalau Kak Bryan disini berarti, Dita tidak boleh pergi dari sini. Masalah
hukum di sini harus selesai,” ucap Dita yang menganggukan kepalanya.
“Hmmpp... sepertinya Bryan akan mengurus badan hukum milik perusahaan. Dia
harus membersihkan beberapa pengacara yang berkhianat kepada kita. Karena
mereka sudah membelot hal yang tidak benar,” ujar Dewa. “Kalau masalah ini
lebih baik aku yang mengurusinya.”
“Maksudnya?” tanya Sascha yang tidak paham.
“Lebih baik aku yang mengurusi Lita. Mereka akan pergi ke New York besok
pagi,” jawab Dewaa yang sangat geram dengan masalah Lita.
Sascha menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia mulai melihat perutnya dan
berpikir, “Aku ingin meereka cepat besar.”
Dewa tersenyum manis sambil mendekati Sascha. Ia jongkok di hadapan Sascha
sambil berkata, “Mimpi kita jadi kenyataan.”
“Kamu kali. Kamu yang ingin memiliki banyak anak sekitar lima belas anak,”
ucap Sascha yang membuat Dewa tertawa.
“Aku hanya bercanda saja,” ujar Dewa sambil memegang perutnya Sascha.
“Aku ingin kita memiliki anak sebanyak tiga saja,” pinta Sascha.
“Tidak apa-apa.... aku tidak menuntut banyak kok. Dikasih dua kita terima,”
kata Dewa yang tidak mempersalahkan semuanya.
“Kalau begitu ayo kita tidur. Kita akan ke Surabaya,” ajak Dita.
“Kapan kita akan ke Surabaya?” tanya Dewa.
“Besok ppagi,” jawab Sascha.
Tak lama kemudian ponsel Sascha berdering. Ia segera melepaskan tangan
Dewa dan berdiri sambil mengulurkan tangannya, “Berdirilah.”
Dewa memegang tangan Sascha lalu berdiri sambil menatap Sascha, “Ada
telepon.”
__ADS_1
“Tidurlah,” pinta Sascha sambil mendekati nakas dan meraih ponselnya.
“Siapa yang menelepon kamu malam-malam begini?’ tanya Dewa yang
menghempaskan bokongnya.
Sascha melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia segera menggeser
ikon hijau itu dan menyapanya orang yang berada di sana, “Halo.”
“Kamu lagi apa?” tanya Gerre yang sedang duduk berada di ruangan keluarga
bersama Devan.
“Lagi di kamar. Mau tidur bersama Kak Dewa,” jawab Sascha.
“Lebih baik kamu ke sini,” Gerre menyuruhnya menemuinya sebentar. “Sekalian
kamu ajak Dewa. Ada yang ingin kami bicarakan.”
“Memangnya papa berada di mana?” tanya Sascha yang tidak tahu keberadaan
sang papa sekarang.
“Kami berada di ruang keluarga,” jawab Gerre.
“Oke,” balas Sascha yang mematikan pponselnya.
Sascha melemparkan ponselnya di atas ranjang. Ia menatap wajah Dewa sambil
berkata, “Kita disuruh menemui papa.”
“Hmmppp... ada apa ya?’ tanya Dewa.
“Enggak tahu kak,” jawab Sascha.
“Ya... sudahlah,” Dewa sebenarnya sudah malas dan tidak mau bertemu dengan
siapapun.
Mau tidak mau harus menemui Devan dan Gerre. Kalau sudah begini ada yang
ingin dibicarakan. Lebih baik Dewa harus bertemu dengan mereka. Akhirnya mereka
“Ada yang janggal dengan laporan yang dibuat oleh divisi laporaan keuangan
di cabang,” kesal Gerre.
“Makanya kamu manggil mereka untuk kesini,” ucap Devan.
“Mereka berdua harus menyelasaikan masalah ini. Aku ingin mereka menemukan
pelaku sebenarnya,” jawab Gerre yaang menaruh laporan itu.
“Ini ngeri buat mereka,” celetuk Devan.
“Iya kamu benar,” jawab Gerre.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Devan.
“Terpaksa membiarkan mereka membereskan masalah disini,” jawab Gerre. “Aku
tidak ingin masalah ini semakin besar.”
“Baiklah,” balas Devan yang membenarkan ucapan Devan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Sascha dan Dewa masuk ke dalam. Mereka menatap wajah kedua pria paruh baya
itu sedang tegang. Mereka mengerutkan keningnya sambil bertanya dengan
serempak, “Ada apa sebenarnya?”
“Ada yang mencuri uang perusahaan cabang sebesar lima milyar,” jawab
Gerre.
Mata Sascha membulat sempurna. Ia tidak menyangka kalau di perusahaan
__ADS_1
cabang ada yang mencuri uang sebesar lima milyar. Akhirnya Sascha dan Dewa
saling memandang dan bertanya-tanya, “Ada apakah ini?”
“Ada yang tidak beres dengan laporan bulan ini,” jawab Gerre.
“Maksud papa?” tanya Sascha yang memandang wajah Gerre.
“Ada yang mencuri uang perusahaan. Aku enggak tahu kenapa bisa terjadi
seperti ini,” jawab Gerre. “Padahal semua fasilitas yang diminta sama karyawan
sudah aku kasih. Lalu apa masalahnya apa?”
“Benar dugaanku,” celetuk Sascha.
“Maksud kamu apa?” tanya Devan yang meraih air mineral di meja.
“Aku menemukan secarik kertas yang berada di meja kosong,” jawab Sascha
yang memberikan kertas itu ke arah Devan.
Devan mengambil kertas itu lalu membacanya. Matanya membulat sempurnaa. Ia
tidak percaya apa yang dilihatnya itu. Ternyata Sascha dalam bahaya.
“Ada yang tidak beres dengan kertas ini,” ucap Devan.
“Maksud kamu apa?” tanya Gerre.
“Maksud aku, ada yang ingin membunuh Sascha. Tapi ini sepertinya sih
memaksa Sascha unutk mengikuti keinginannya,” jawab Devan.
“Ini sangat aneh sekali,” ucap gerre.
“Apakah mereka sudah tahu kalau Sascha adalah putri kamu?” tanya Devan
sambil melihat Gerre.
“Aku belum meresmikan putriku sebagai ahli waris Khans Company,” jawab
Devan.
“Aku tahu siapa yang menulis itu. Dia bernama Fatin. Sedari dulu Fatin
memintaku untuk menjadi istri Billi,” ucap Sascha yang membuat kedua pria itu
terkejut.
“Aish... enggak puas-puasnya dia membuat putriku menderita lagi,” kesal
Gerre yang sudah geram dengan apa yang telah terjadi pada Sascha. “Dimana orang
itu?”
“Dia berada di penjara,” jawab Dewa. “Aku yang melaporkannya ke polisi.”
“Baguslah,” puji Gerre yang neraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sedetik kemudian Gerre berbiacara dengan seseorang yang berada di sana. Ia
meminta menyebarkan skandal Fatin di internet. Mulai dari pemerasan hingga
penipuan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukannya saat ini. Ia
ingin masyarakat tahu kalau Fatin memiliki banyak kasus. Setelah selesai Gerre
menatap Sascha lalu berkata, “Lebih baik kamu adakan meeting bersama divisi
keuangan untuk membahas kasus ini. Papa yakin mereka tidak mengetahuinya.
Sekalian sama orang HRD. Nanti kan ketahuan siapa yang meloloskan Fatin masuk
ke dalam perusahaan ini.”
“Baik pa,” balas Sascha yang paham atas tindakannya.
“Pa,” panggil Dewa yang mengalihkan matanya mengarah ke Devan.
“Ada apa?” tanya Devan.
__ADS_1
“Aku titip Dita pa. Aku ingin Dita pulang ke New York besok,” jawab Dewa.
“Apakah kamu enggak sadar kalau Dita pengen ikut kalian?” tanya Devan.