
"Jangan kamu lakukan apa yang dikatakan oleh Bima. Bima memiliki saran untuk meracuni kamu," kesal Dewa terhadap Bima yang sudah meracuni otak sang adik.
Lalu Sascha tertawa terbahak-bahak. Mengingat dirinya pernah diberikan satu tips untuk mengejar Dewa. Namun tips itu tidak berguna sama sekali. Malahan tips itu menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak ada gunanya.
"Yang dikatakan Kak Dewa benar. Aku pernah diberikan satu tips untuk mengejar Kak Dewa. Eh ujung-ujungnya aku yang sial. Padahal waktu itu aku sengaja membuat kakakmu tergila-gila. Malah aku yang terjebak dalam hal gila itu," ucap Sascha.
Seketika Dewa dan Dita tertawa. Jujur pas saat Bima memberikan tips, Dita berada di tempat. Lalu kita berkata, "Sepertinya itu bukan tips deh. Itu mah hanya mengerjai Kakak biar bisa deket sama Kak Dewa."
.
"Sekarang... Ceritakan kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupmu? Jujur pas kamu kirim pesan itu aku sangat terkejut sekali. Ada apa sebenarnya di sini?" tanya Sascha.
"Aku enggak tahu apa yang terjadi di sini. Diam-diam mereka memerasku," jawab Dita dengan wajah sendu.
"Siapa orangnya?" tanya Dewa yang penasaran dengan orang itu.
"Pasti kakak tahu siapa orangnya. Dulu pernah menjebakku dan melemparkan aku ke pria hidung belang. Lalu kalian memasang jebakan buat menghancurkan orang itu," jawab Dita.
"Apakah orang yang sama?" tanya Sascha yang menebak orang itu.
"Bisa jadi," jawab Dewa. "Apakah kamu memiliki musuh?"
"Sebenarnya Dita tidak memiliki musuh," jawab Sascha.
"Ada sih. Tapi aku enggak memperhatikan siapa mereka sebenarnya," ucap Dita.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Dewa. Lalu Dewa meraih ponselnya dan membaca pesan tersebut. Matanya membulat sempurna dan memberikan pesan itu kepada Sascha.
__ADS_1
"Baca pesan ini!" perintah Dewa.
Sascha segera mengambil ponsel Dewa dan membacanya. Matanya membulat sempurna lalu menatap wajah Dewa. Kemudian Sascha tersenyum manis sambil berkata, "Ternyata yang memeras adik Perempuanku ini masih ada hubungannya dengan Cathy."
"Siapa itu Cathy?' tanya Dita yang penasaran dengan namanya Cathy.
"Cathy adalah musuh bebuyutan Papa Gerre. Yang di mana musuh itu sedang mengincar Kakak perempuanmu itu," jawab Dewa.
"Ish... Hidup Kakak sangat mengerikan sekali. Bisa-bisanya itu orang ingin mengincar nyawa kakak!" geram Dita. "Apa hubunganku sama orang itu? Kok aku diperas seperti itu?" tanya Dita yang tidak mengerti dengan masalahnya itu.
"Apakah kamu masih mengingat tentang keluhan yang pernah kamu bicarakan pada kakak? Maksudku keluhan tentang rumah kamu yang berada di New York. Ketika kamu ingin berlibur ke New York, rumahmu ditempati oleh mereka. Sehingga kamu tidak bisa menempatinya," jawab Dewa.
"Mereka itu siapa? Kok aku nggak paham sama sekali?" tanya Dita yang tidak tahu apa maksud Dewa.
"Okelah Kakak ceritakan kepadamu. Tapi kamu jangan marah ya," pinta Dewa yang membuat kita menganggukkan kepalanya.
kemudian Dewa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Dewa menceritakan secara detail tentang rumah itu dan juga Cathy. Di saat mendengar cerita itu, dirinya tidak menyangka kalau rumahnya ditempati oleh orang asing yang tidak dikenalnya. Bahkan mereka tidak izin terlebih dahulu kepada dirinya.
"Tenanglah... Jangan gegabah seperti itu. Mumpung sang pemilik rumah gadungan itu berada di rumah Fatin. Tunggu laporan selanjutnya. Apa yang dilakukan oleh mereka itu? Tapi yang lucunya lagi. Saat aku tanya tentang rumah itu. Cathy berpura-pura tidak tahu siapa sang pemilik rumah tersebut," ujar Sascha.
"Apa yang harus kamu lakukan? Aku rasa kedua wanita iblis itu sedang merencanakan sesuatu.kemungkinan besar Fatin sudah mengetahui identitas dirimu sebenarnya. Cepat atau lambat Fatin akan memutar balikan fakta yang sebenarnya. Ditambah lagi dia memang lihai untuk menjerat musuhnya," jelas Dewa sambil memperingatkan Sascha agar berhati-hati.
"Tenanglah. Aku tidak akan gegabah seperti itu. Aku yakin mereka tidak akan mengejarku. Karena aku memiliki seribu cara untuk menghalaunya," ucap Sascha yang mendapatkan acungan jempol dari Dita.
"Sepertinya aku harus belajar dari kakak soal mendeteksi musuh dengan cepat," celetuk Dita.
"Kamu benar.memang seharusnya kamu belajar dengan giat soal pendeteksian musuh. Kalau begitu mintalah kepada kakak perempuanmu itu. Pasti kamu akan diberi kiat-kiatnya agar mengetahui Di mana keberadaan musuh," jelas Dewa yang melemparkan senyumnya dengan manis ke arah Dita.
Melihat sang kakak tersenyum, Dita langsung membuang wajahnya.Dita sangat sebal sekali kepada sang kakak itu. Bisa-bisanya di samping ada istrinya masih sempat melemparkan senyumnya itu.
__ADS_1
"Kakak," panggil Dita.
"Ada apa sih?" tanya Dewa.
"Kalau ada Kak saja di samping. Jangan pernah tersenyum seperti itu kepada wanita lain. Nanti jatah Kakak dikurangi selama tiga bulan ke depan," jawab Dita.
Langsung saja Dewa membungkam mulutnya. Kalau seperti ini Dewa tidak akan mendapatkan jatah dari sang istri. Lalu bagaimana jika pria bertubuh tinggi itu sangat menginginkannya? Ia harus merayu sang istri agar mencabut peraturan itu.
"Enggak kok Dita. Kak Dewa jarang sekali tersenyum kepada wanita lain. Kak Dewa orangnya sangat dingin dan tidak mengenal perempuan," jelas Sascha yang sedang membela Dewa.
"Jangan percaya omongannya. Lagian juga Kakak percaya banget sama Kak Dewa," kesal Dita.
"Jangan memprovokasi keadaan Dita. Kasihan kakakmu langsung berdiam seperti itu," ucap Sascha yang membuat Dita semakin kesal.
"Kamu kok marah gitu sama kakak. Apakah kamu rindu pada Kakak di saat jalan-jalan bersama?" tanya Dewa.
Dita menganggukkan kepalanya. Jujur dirinya sangat rindu sekali kepada sang kakak. Hampir dua tahun, mereka tidak pernah berjalan bersama. Jujur karena kesibukan masing-masing, hubungan mereka menjadi renggang. Ditambah lagi mereka tidak memiliki waktu yang cukup.
Ketika bertemu mereka jarang sekali mengobrol dengan lama. Kedua Kakak adik itu cuman say hello lalu pergi ke tempat tujuan masing-masing. Itulah kenapa Dita sering ngambek ke Dewa. Bagaimana dengan tanggapan Sascha?
Sascha tidak keberatan sama sekali. Bahkan wanita itu membiarkan suaminya dekat dengan adik kandungnya sendiri. Terkadang Sascha mendukung mereka untuk berjalan-jalan berdua. Namun Dita memiliki perasaan yang tidak enak kepada Sascha. Jika ingin berjalan-jalan, Dita akan mengajak keduanya.
"Memangnya kalian mau jalan-jalan ke mana?" tanya Sascha.
"Aku akan berjalan-jalan ke Maldives atau Bali," jawab Dita.
"Kamu mau main ke sana?" tanya Dewa.
"Iya aku ingin main ke sana," jawab Dita cepat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Bali bersama? Aku akan mentraktirmu makan sepuasnya dan memberikan akomodasi yang terbaik buat kamu," tanya Sascha.