
"Aku sudah menyelidiki kasus ini," jawab Bryan. "Maaf aku telah lancang dan menyalahi aturan."
"Maksud kamu apa?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.
"Ya... gue sudah menyalahi aturan. Gue enggak bilang sama siapapun. Sascha juga enggak tahu tentang kasus ini," jawab Bryan.
"Lu... enggak pernah salah Bryan. Memangnya gue marah apa? Kalau lu mau berbuat baik. Kenapa lu harus takut? Lagian Kinanti masih satu saudara sama Sascha. Meskipun tidak ada hubungan darah sekalipun. Sascha juga enggak marah sama Kinanti. Malahan dia sedang mencari apa yang telah terjadi selama ini? Yang namanya takdir harus dijalani bro. Jangan nyesel gitu," jelas Dewa yang membuat Bryan yang sampai detik ini masih bingung.
"Lu... tahu masalah ini dari mana sebenarnya?" tanya Bryan.
"Gue enggak tahu," jawab Dewa.
"Sebenarnya masalah Kinanti ini cukup sederhana. Jujur ada aktor yang sengaja menghancurkan Kinanti sendiri. Tapi masalahnya bukan siapapun," jelas Bryan.
"Lalu?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.
"Dia dijebak oleh keluarga besarnya Pak Andika," jawab Bryan.
__ADS_1
"Eh... setahu gue, Pak Andika itu tidak memiliki keluarga."
"Beliau mengakui memang enggak punya keluarga. Tapi cerita aslinya beliau memiliki keluarga besar. Sedari dulu beliau dijebak sama adiknya sendiri. Yang dimana adiknya memang suka tidak suka melihat kesuksesan Pak Andika. Bahkan adiknya dulu memang suka sama Bu Nirmala. Tapi saat itu Bu Nirmala sengaja memilih Pak Andika. Sebab sedari dulu Bu Nirmala menaruh hati untuk Pak Andika. Jadinya si adiknya itu dendam banget sama si Pak Andika."
"Bukannya di Nganjuk, Sascha satu rumah bersama Pak Adika dan Bu Nirmala?"
"Meskipun satu rumah, tapi adiknya memilih Kinanti. Sebab Kinanti sendiri pure anaknya Pak Andika. Kehancuran mulai terjadi. Ketika Kinanti menginjak SD. Nah... saat itu Kinanti mulai berkenalan dengan hal-hal yang tidak terduga. Apa yang belum boleh dilakukan maka akan dilakukannya. Saat itu Sascha tahu semuanya. Jadi ketika ingin melapor, Sascha orangnya sudah diancam sama orang yang tidak dikenal. Jangankan lapor polisi. Lapor sama Bu Nirmala maupun Pak Andika saja sudah diancam," jelas Bryan.
"Ternyata ribet juga ya," jawab Dewa.
"Gue sudah mengirimkan dokumen itu ke email ku dan Sascha. Sebenarnya sih dia belum bisa bebas betul. Dia harus menjalani hukuman karena pembunuhan Pak Andika dan Bu Nirmala."
"Kalau itu gue enggak tahu lagi dech? Masalahnya semakin ribet. Gue enggak bisa bantu. Soalnya dia sendiri mengatakan kalau sudah direncanakan. Nanti menunggu keputusan dari pengadilan bagaimana?"
"Bagaimana kasusnya Dita?"
"Beres bro. Lita sudah masuk ke dalam penjara. Sekarang media sosial sedang dihebohkan oleh skandal yang dilakukan Lita."
__ADS_1
"Apakah itu skandal yang dimiliki oleh Sascha?"
"Sepertinya tidak. Ada satu perempuan yang menurutku suaminya menjadi korbannya Lita. Aku enggak tahu kasusnya apa? Hingga akhirnya Lita ditambahin lagi hukumannya."
"Bukannya sudah sidang?"
"Bukankah kasus ini sedang berjalan. Pihak aparat masih menyelidikinya satu persatu. Mulai dari korban hingga para saksi. Kemungkinan besar Dita akan menjadi saksi."
"Kamu benar juga. Oh... ya kamu selidiki Fatin saat bekerja di Khans Company cabang Jakarta."
"Dia bekerja disana?"
"Iya itu benar. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Aku takut kalau kasus tentang pengambilan uang secara halus. Yang saat itu sering dilakukan oleh Santi."
Mendengar nama Santi, Bryan terkejut. Kasus itu bergulir sampai saat ini. Pihak kepolisian masih menyelidikinya. Hingga menunggu korban lainnya terkumpul.
"Kasus itu masih berjalan. Hingga saat ini kasus itu belum berhenti. Kemungkinan besar orang dari luar juga Selena imbasnya<" sahut Bryan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" tanya Dewa.