Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENEMUKAN PELAKU SESUNGGUHNYA.


__ADS_3

"Semuanya itu tidak menjadi masalah. Mereka sangat iri kepadamu. Kamu bisa dekat dengan kakek tanpa harus menyogoknya atau apapun itu. Jika kamu tidak mau tinggal di rumah itu, lebih baik kita akan menyewa rumah dan stay di sana saja. Aku ingin membuat kamu nyaman dan tidak menjadi beban di dalam hatimu. Nanti aku akan mendiskusikannya semoga dengan orang rumah. Mau tidak mau rumah itu akan kosong dari mereka. Merekanya saja tidak tahu malu tinggal di rumah orang. Mulai dari pagi hingga malam, seluruh kebutuhannya dipenuhi oleh kakek. Aku sudah muak sama mereka sebenarnya. Jika tidak, biarkanlah Bryan yang akan mengurusnya. Aku harap kamu bisa bersabar untuk menghadapi semua ini," jelas Dewa.


"Aku nggak habis pikir dengan orang-orang seperti itu Kak. Bukannya menjelekkan sih? Tapi gimana ya? Kok perilaku mereka sangat sombong. Tinggal di rumah mewah dan tidak tahu terima kasih sama sekali. Memang sih di sana banyak pelayan. Kalau ada tamu, tidak pernah disambut sama sekali. Mereka memandangnya sebelah mata. Sudah waktunya mereka harus berpisah dari kakek," ucap Sascha yang memikirkan dampak kedepannya.


"Kalau kita tinggal di sana? Terus orang itu akan berbicara kepada publik. Kalau kita mengusirnya bagaimana?" tanya Sascha lagi.


"Aku nggak mengusirnya. Siapa juga mengusirnya? Sudah cukup tinggal di sana. Mereka tidak pernah mengurusi kakek. Mereka hanya tutup mata saja dan menginginkan uang kakek. Kalau ada yang bilang aku mengusirnya. Aku bisa menyeretnya ke dalam penjara. Kamu tenang saja. Gadis kecil bermulut pedas itu, hidupnya tidak beres. Diam-diam dia sudah memiliki seorang anak. Kedua orang tuanya tidak tahu sama sekali. Aku bisa melacak keberadaan anaknya. Gadis itu sengaja membuangnya di panti asuhan. Agar tidak ketahuan oleh kedua orang tuanya. Nanti sekali aku buka, borok dua keluarga itu habis. Mereka bisa saja dikuliti sama masyarakat Jepang di sana. Akulah yang berkuasa. Dunia bawah tanah sana sudah ku pegang. Sudah cukup untuk bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Sekarang pikirkan apa yang akan terjadi? Kamu nggak boleh takut melawan mereka. Kamu juga punya hak di rumah itu. Karena kamu adalah istri sah aku sendiri," jelas Dewa yang sembari minum air.


Sascha akhirnya bisa tenang menghadapi orang-orang seperti itu. Sekarang dirinya harus tenang dan tidak boleh gegabah sedikitpun. Jadinya adalah urusan Dewa.


Saat Sascha memasak, Dewa dengan jahilnya mengambil satu kantong plastik yang berisi wortel. Lalu Dewa sengaja menyembunyikannya. Karena wortel itu akan dijadikan sebagai jus. Sascha tidak sadar jika ada sayur yang telah menghilang dari pandangan matanya.


Dengan asyiknya Dewa mengambil alat jus lalu mempersiapkan bahan-bahannya. Memang, Dewa selalu saja menyukai jus buah asli atau sayur. Ia ingin memiliki hidup sehat. Di Jepang sana, pakai sudah memberikan peraturan kepada dirinya maupun Dita. Kakek Aoyama menyuruhnya untuk kembali ke alam. Yang dimana kakek menyuruhnya untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang masih sangat baik. Itulah kakek Aoyama yang sangat protektif sekali kepada dua cucunya.


Di tengah perjalanan memasaknya, Sascha sedang mencari keberadaan wortelnya. Namun ia tidak menemukannya sama sekali. Wortel empat biji besar-besar lenyap seketika. Hal ini sangat aneh sekali bagi dirinya. Lalu Sascha menoleh dan melihat Dewa.


"Dimana wortelku?" tanya Sascha.


Tanpa menjawab, Dewa menunjuk wortel itu sedang berada di tempat dua gelas jumbo. Namun dengan cepat, Dewa kabur dari dapur. Agar tidak dimarahi oleh Sascha. Ia cepat-cepat bersembunyi di kamar dan meraih ponselnya berpura-pura mengecek harga saham.


"Semoga saja rubah kecil tidak marah-marah. Jujur aku sudah lama tidak membuat minuman kesehatanku sendiri. Semoga saja rubah kecilku mau meminum itu semuanya," jelas Dewa dalam hatinya sendiri.


"Arie Dewantara!" teriak Sascha dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


Dewa tersenyum sambil mendengar teriakan sang istri. Bisa-bisanya wortel empat biji dipakai semuanya. Harusnya mengisahkan satu saja, malahan semuanya dibuat jus.


"Waduh rubah kecil marah," celetuk Dewa.


Sejam telah berlalu. Dewa malah ketiduran di dalam kamar. Dan nasib jus wortelnya sudah dirawat dengan baik oleh sang istri. Bahkan sudah tersusun indah di dalam kulkas.


Lalu bagaimana dengan Sascha? Wanita itu hanya menggerutu saja karena ulah sang suami. Ia tahu kalau Dewa sedang tertidur pulas. Ia hanya menghela nafasnya dan membersihkan seisi dapur.


Sascha akhirnya memutuskan untuk sarapan sendiri. Ia tidak membangunkan Dewa sama sekali. Bahkan ia sangat menikmati sup ayam yang sudah dibuatnya tadi.


Selesai sarapan, Sascha mendapatkan laporan dari Timothy ada uang masuk ke dalam rekening hitam. Ia langsung mengambil tab-nya dan mengecek seluruh rekening itu. Ternyata rekening Itu adalah milik dari manajer keuangan secara pribadi. Ia tersenyum sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Oh Ternyata, Pak Desta. Baiklah... Kamu pernah membuat aku ditendang dari perusahaan cabang ini. Sekarang aku yang akan menendang dan menyeretmu masuk ke dalam penjara. Camkanlah itu Pak Desta!" ancam Sasha dengan penuh penekanan.


"Akhirnya terjawab sudah. Ketika aku bekerja dengan jujur. Dia tidak terima sama sekali. Dia meminta Ibu Silvia untuk memutasi aku ke Jakarta. Belum pergi mereka sudah mengancamku terlebih dahulu. Okelah kalau begitu. Cepat atau lambat kalian yang akan berlibur di hotel prodeo hingga beberapa tahun ke depan," ucap Sascha dalam hati.


Dewa yang merasakan perutnya lapar langsung terbangun. Ia menatap matahari sudah naik ke atas. Lalu dirinya teringat pada jus wortelnya itu. Ia cepat-cepat turun dari ranjang dan menuju ke dapur. Saat turun dari ranjang, Dewa teringat atas teriakan Sascha saat itu juga. Bukannya takut Dewa malah tersenyum. Ia sudah tidak memperdulikan sang istri marah. Ia sudah mendapatkan ide yaitu mengajaknya berjalan-jalan ketika sedang marah.


"Semoga saja jus kesehatanku tidak dibuang sama sekali. Sayang... Buah wortelnya sangat langka sekali kalau dicari," batin Dewa yang masuk ke dalam dapur dan melihatnya dengan bersih.


"Waduh, berarti rubah kecilku marah? Seluruh jus wortelku dibuang begitu saja," gerutu Dewa hingga terdengar ke telinga Sascha.


"Aku nggak membuangnya. Tuh lihat di kulkas. Aku telah menyaringnya dan memberikannya air. Sebelumnya aku menambahkan pepaya sedikit. Agar kulitmu bertambah halus," ucap Sascha sambil menepuk pundak Dewa.

__ADS_1


Dewa membuka kulkasnya lalu melihat empat botol yang berisikan jus kesehatan. Ia tersenyum lucu sambil menatap wajah sang istri. Lalu Dewa memegang tangan Sascha sambil berkata, "Terima kasih ya. Kamu sudah merawat wortel wortelku ini hingga menjadi seperti minuman."


"Ngomong kalau pengen. Aku kan bisa membuatkan Kamu itu seperti ini. Kenapa juga kamu diam-diam mengambil wortelku semuanya? Hingga sup ayamku tidak ada yang berwarna merah sama sekali," ucap Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.


"Aku takutnya kamu repot," sahut Dewa.


"Dari mana kerepotannya? Cuma membuat begini saja repot. Dulu aku sering membuatnya. Ini mah mudah," pinta Sascha yang ingin direpotkan oleh sang suami.


"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih banyak sayang," ucap Dewa lalu melepaskan Sascha dan memegang perutnya. "Aku lapar.''


"Makan sana," ujar Sascha yang mengajak Dewa untuk duduk di kursi meja makan


"Apakah kamu sudah makan?" tanya Dewa.


"Sudah. Aku tidak membangunkanmu. Semalam kamu berdiskusi melalui virtual bersama anak-anak. Jadinya aku tidak akan membangunkanmu sama sekali," jawab Sascha sambil meraih piring lalu mengisinya dengan nasi.


"Ya begitu deh. Kamu tahu sendiri kalau cabang Surabaya sudah tidak berhak dipertahankan," ucap Dewa.


"Aku mendapatkan informasi. Kalau Pak Desta adalah biang keladinya. Dia yang berani mengusirku dari cabang Surabaya. Dengan dalih aku telah memalsukan banyak informasi keuangan. Padahal aku sendiri sudah menganalisis semuanya. Begitulah kisah Pak Desta selama di perusahaan," jelas Sascha yang menaruh piring itu di hadapan Dewa.


"Oh jadi dia. Dia mah orangnya cari muka di hadapan kakek. Aku pernah mengajaknya berantem. Tapi Pak Desta mengajak anak buahnya berantem sama aku habis-habisan," jelas Dewa.


"Apakah itu benar?" tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2