
Sascha tidak main-main dengan omongannya itu. Ia akan tetap membersihkan orang-orangnya Damar dari perusahaan tersebut. Ia juga tidak akan gentar melawan damar dan juga Cathy. Meskipun Damar bekerja sama dengan mafia kartel obat-obatan terlarang di Meksiko sana. Sascha tidak akan pernah mundur dan malah menantangnya.
"Aku tahu kamu bekerja sama dengan siapa saja. Aku tahu kamu sama Cathy sedang merancang kejahatan yang sangat sempurna sekali. Kamu ingin membunuh papaku. Dan Cathy ingin membunuh mamaku. Kamu menyuruh orang yang bernama Fatin sialan itu untuk membunuhku. Memang kamu itu orang yang tidak tahu berterima kasih sama sekali. Kamu itu adalah seorang benalu di dalam keluargaku. Bahkan istrimu lebih parah lagi. Pokoknya kalian adalah keluarga yang paling parah yang pernah menumpang di keluargaku!" bentak Sascha yang membuat Bima tersenyum sinis ke arah Damar.
"Apakah kamu sudah mendengarnya Damar? Kalau saja itu adalah Aulia. Aulia adalah seorang gadis yang di mana kamu pisahkan dari kedua orang tuanya. Oh ya satu lagi... Biar Sascha tahu siapa kamu sebenarnya dengan fakta yang berada di lapangan. Aku akan mengucapkannya sekarang. Damar ini seorang penipu. Dia hampir saja menipu kedua orang tuaku. Untung saja jika suami kamu itu tidak membantuku. Damar bisa mengambil seluruh aset milik keluargaku. Dan kamu harus tahu sesuatu. Kamu jangan pernah memberikan kata maaf buat dia!" tegas Bima yang tidak ingin Sascha memberikan kata maaf buat Damar.
"Sangat parah sekali hidupnya. Sudah berapa orang yang ditipunya itu. Bisa-bisanya Damar melakukan hal yang keji seperti itu," ujar Sascha.
"Apa yang harus kamu lakukan untuk hari ini?" tanya Bima.
"Berikan aku kayu!" pinta Sascha dengan tegas.
"Okelah kalau begitu. Pengawal!" teriak Bima.
Salah satu pengawal yang berada di depan langsung masuk ke dalam. Bima meminta kayu yang kuat dan tidak mudah patah. Bima tahu yang akan dilakukan oleh Sascha setelah ini. Hingga akhirnya pengawal itu membawa kayu sejenis kayu jati.
"Ini tuan," udah pengawal itu sambil memberikan kayu tersebut.
Sascha segera mengambilnya dan memainkannya sebentar. Bima menyuruh pengawal itu keluar. Akhirnya Sascha memandang David dan Damar dengan penuh dendam.
"Kamu tahu, saat ini mood ku berubah menjadi tidak baik. Kamu tahu apa yang harus aku lakukan untuk saat ini?" Tanya Sascha sambil melihat mereka terdiam.
Bima memilih diam dan tidak ikut campur dengan masalah ini. Sepertinya Bima merasakan ada sesuatu di dalam diri Sascha. Bima bisa menilai kalau Sascha memiliki dendam kesumat terhadap Damar. Ditambah lagi dengan David. Entah ada apa dengan Sascha kali ini?
"Apakah kamu pernah merasakan rasa sakit hati ini?" tanya Sascha kepada Damar dengan wajah memerah marah.
"Apakah aku harus mengetahui semuanya? CK... aku tidak pernah memperdulikan soal itu," jawab Damar yang tidak memiliki beban sedikitpun.
"Ya... kamu memang sengaja tidak memiliki peduli sama anak kecil!" bentak Sascha.
"Kenapa aku harus perduli soal itu?" tanya Damar sambil tertawa menatap wajah Sascha.
"Rasakan ini!" terutama Sascha.
__ADS_1
Bugh....
Bugh....
Bara api di dalam dada Sascha membara. Ia benar-benar sangat marah sekali terhadap Damar. Ia sangat membenci Damar dan ingin menghabisinya saat ini juga.
"Apakah kamu ingat saat aku meminta minum di ruangan pantry saat itu? Kamu malah tidak mengambilkannya! Kamu malah memukulku dengan memakai kayu. Aku sampai menangis kesakitan. Tapi kamu tidak menghentikan pukulan itu terjadi!" bentak Sascha.
Bima terkejut dengan pernyataan Sascha. Ia tidak menyangka kalau Sascha sangat marah sekali. Ternyata semenjak kecil Damar sudah memperlakukan Sascha tidak baik.
Di ambang pintu Dewa dan Gerre tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Sascha. Mereka saling menatap dan menahan luka yang sangat perih di dalam hatinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Dewa.
Gerre hanya mengedikkan bahunya. Jujur ia tidak mengetahui peristiwa itu. Memang saat itu Gerre sering mengajaknya ke kantor. Namun kejadian itu tidak pernah diketahui.
Gerre masuk ke dalam dan melihat keadaan Sascha. Ketika masih terkena amarah Gerre tidak mendekatinya. Ia membiarkan Sascha mencurahkan isi hatinya.
Bima dan Dewa menunduk dan merasakan kesedihan Sascha. Mereka menahan air matanya karena tidak kuat menahan penderitaan Sascha.
"Kamu menyekapku! Kamu menyembunyikan aku di suatu tempat! Aku ingin bertemu papa! Tapi kamu tertawa dan mengejekku! Setelah mengejekku kamu memukul tubuhku dengan kayu!" bentak Sascha.
Bugh...
Bugh....
Habis sudah kesabaran Sascha selama ini. Bagaimana tidak luka yang tertoreh dibuat oleh Damar semakin menganga. Luka itu tidak akan bisa sembuh. Jika Sascha tidak menyiksanya.
"Berikan kayu itu kepadaku!" teriak Gerre yang sudah tidak sanggup menahan penderitaan Sascha.
Sascha menggelengkan kepalanya. ia masih belum puas untuk menghajar Damar. Ia menatap tajam ke arah Gerre untuk mundur. Terpaksa Gerre mundur dan membiarkan Sascha menghajarnya.
Bugh...
__ADS_1
Bugh....
Bugh....
Bugh....
Bugh....
Argh......
Argh......
Sudah sepuluh kali Sascha memukul Damar. Namun semuanya tidak sepadan buat Damar. Namun kali ini Sascha cukup merasakan beban yang selama ini dipendamnya.
"Ini Pa. Aku sudah puas melakukannya. Beban di dalam hatiku sudah terangkat. Aku sudah memiliki beban apapun itu," ucap Sascha yang menyerahkan kayu itu ke arah Gerre.
Namun Dewa yang merasa sakit hati kepada Damar dan merebutnya. Pria bertubuh kekar itu akan menghajar Damar membabi buta.
Teringat jelas tentang peristiwa di masa lalu. Sascha pernah bilang kalau tubuhnya merasa sakit. Ia tidak paham apa yang terjadi saat itu. Ia hanya memeluk Sascha sambil menangis karena tidak tega.
Sekarang Dewa paham apa yang telah terjadi saat itu. Dewa kecil tidak memiliki perasa sedikit pun. Akan tetapi jika Sascha bersedih, hatinya langsung berdenyut hebat.
Selesai memukul Damar, Dewa berkata, "Sekarang aku tahu Aulia kesakitan dan tubuhnya memerah. dan kamu pelakunya. Kamu tidak mengerti apa yang dirasakannya. Kamu terus memukulnya jika membuat kesalahan. Apakah kamu sengaja menyiksanya hingga kematian menjemputnya!" bentak Dewa.
Dewa menatap Gerre langsung menyerahkan kayu itu. Gerre langsung meraihnya dan maju. Setelah itu Gerre langsung menghajarnya.
Sebagai papa, Gerre mengetahui kalau Putri kesayangannya itu tidak pernah melakukan kesalahan. Kalau nakal Sascha jarang sekali melakukannya.
Di kantor Sascha adalah anak yang cukup baik. Banyak sekali para karyawan menyukainya. Bahkan Sascha sering sekali diajak main oleh mereka. tak lupa juga mereka juga melayani Sascha dengan baik.
Gerre jarang sekali mengeluh kedatangan Sascha. Jika Sascha tidak datang mereka sering bertanya kepada Gerre atau juga Chloe. Gerre tidak mempermasalahkan soal itu. Gerre malah bahagia ketika Sascha menjadi penyemangat bagi mereka.
"Apakah itu benar yang dikatakan oleh Sascha?" tanya Gerre.
__ADS_1