
"Aku belum makan. Mau makan bagaimana? Habis pulang dari sini ganti baju tidur lagi. Bangun-bangun menyiapkan bahan materi. Setelah itu Dita datang ngasih tahu Risa dan Billi," jawab Sascha.
"Lebih baik kamu enggak usah mikirin dia. Buat apa kamu mikirin itu orang," kesal Dewa.
"Siapa yang mau mikirin dia kak? Lagian ngapain juga mikirin itu orang. Sekarang lagi mikirin bagaimana cara mendapatkan restu," ucap Sascha.
"Restu nikah. Ya udah kita nikah yuk," celetuk Dewa.
Pletakkkkk.
Sascha menatap tajam wajah Dewa. Lalu Sascha menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Bisa enggak hubungan ini tidak ditambah dengan bumbu asmara? Aku ingin kita menjadi adik kakak?"
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Aku tidak ingin jika bercerai nanti jadi orang lain. Biarkan aku menikah dengan orang lain. Begitu juga dengan kakak menikah dengan wanita lain. Kita bisa menjadi teman curhat yang baik," jawab Sascha yang serius.
"Tapi aku tidak mau menganggap kamu sebagai sahabat. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku," batin Dewa.
"Ok. Kita buat perjanjian. Aku akan memberikan kamu waktu lima tahun. Jika kamu tidak menikah juga. Aku akan menikahimu!" titah Dewa.
"Begitu juga dengan kakak," ujar Sascha.
"Ok... Deal," balas Dewa.
"Deal," balas Sascha lagi.
"Aku akan membuat teman pria kamu meninggalkanmu. Walau dengan cara kotor sekalipun! Aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan pria lain! Camkan itu Sascha Herdiansyah!" batin Dewa dalam hati sambil tertawa jahat.
"Kenapa kamu ke sini? Bukannya Pak Tommy ke rumah?" tanya Sascha.
"Pak Tommy sudah pulang dari tadi. Ya sudah aku beliin makanan. Jangan kemana-mana!" perintah Dewa.
"Ada-ada aja ini orang. Mana bisa kemana-mana? Perut rasanya masih perih. Kalau begitu aku akan menyiapkan bahan meeting," sahut Dewa.
Dewa menganggukan kepalanya lalu berdiri. Lalu Dewa meninggalkan Sascha sendirian di rumah. Di tempat lain Risa merencanakan sesuatu dengan anak buahnya. Risa ingin melihat Sascha semakin menjauhi Billi dan membuatnya sangat menderita. Dari jaman kuliah dulu Risa memang tidak menyukainya. Karena Sascha adalah perempuan yang cerdas dan jenius. Bahkan Sascha memiliki badan yang bagus. Wajah yang sangat cantik dan sangat ramah kepada siapapun. Ditambah Sascha adalah orang yang suka menolong sesama.
Ketika tahu Sascha mempunyai kekasih. Diam-diam Risa mendekati sang kekasih itu. Risa memakai berbagai cara agar sang kekasih Sascha berpaling darinya. Dengan tekad yang penuh Risa melakukan segala kecurangan-kecurangan. Yang di mana Sascha tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Nanti jam dua malam bakar itu rumah Sascha! Aku ingin melihat dia terbakar hangus. Setelah itu kamu lapor ke Billi. Agar Billi tidak kembali lagi ke sisinya!" titah Risa.
Mereka menggangguk paham dan membeli bensin untuk persiapan membakar rumah Sascha. Setelah itu mereka menunggu malam yang telah ditentukan oleh Risa. Risa berharap rencana ini berjalan lancar.
Selesai membeli makan siang, Dewa kembali ke rumah Sascha. Dewa segera mencari keberadaan Sascha. Dewa segera menyerahkan makan siang itu ke Sascha.
"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Dewa.
"Sudah. Beberapa hari kita ke sana?" tanya Sascha balik.
"Kurang lebih empat hari kalau cepat. Sekalian laporan anak-anak kamu bawa," ujar Dewa.
"Kalau begitu ya sudahlah. Jadi aku hanya membawa baju sedikit," kata Sascha.
"Selemari kamu bawa enggak apa-apa," celetuk Dewa.
"Idih.... Ngapain juga ke sana lama-lama," kesal Sascha.
"Terserah mau ngapain kamu di sana," celetuk Dewa.
"Pulang lagi ngambil baju berangkat lagi ke Amsterdam. Setelah itu pulang ke kampung bertemu ibu dan merayakan malam tahun baru di sana. Ah... Rasanya enak sekali hidupku," ucap Sascha.
"Udah dua tahun aku enggak pulang. Aku menghindar dari adikku. Kamu tahu kalau adikku memang enggak suka aku berada di kampung. Banyak hinaan dan cacian yang aku dapatkan darinya. Ibu dan bapak enggak pernah mengijinkanku pulang. Karena mereka tidak ingin aku menangis," kata Sascha secara blak-blakan.
"Kalau adikmu ke sana lebih baik kamu ikut aku ke Tokyo. Atau kamu mau ke mana?" tanya Dewa.
"Mungkin aku di Jakarta," jawab Sascha.
"Apakah kamu yakin sendiri di sini?" tanya Dewa.
"Ya aku yakin," jawab Sascha.
"Makanlah. Nanti malam aku jemput jam delapan. Sekalian nemenin Dita lihat pasar malam," perintah Dewa. "Aku mau pulang ke rumah. Aku sangat mengantuk sekali."
"Baik," balas Sascha.
***
__ADS_1
Malampun tiba Dewa datang menjemput Sascha. Lalu Sascha mendekati Dewa dan berkata, "Aku sangka enggak datang. Kalau enggak datang Dita akan menjemputku."
"Bagaimana dengan lukamu? Apakah kamu sudah membersihkannya?" tanya Dewa.
"Sudah. Tapi belum kering banget," jawab Sascha.
"Kalau begitu sesampainya di Seoul aku mengajakmu ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku ingin kamu diobati tim medis yang terpercaya," ucap Dewa.
"Enggak perlu repot-repot. Obat yang kamu berikan sudah cukup membantu. Kalau begitu kita berangkat sekarang. Kasihan Dita sudah kelamaan menunggu!" ajak Sascha.
Dewa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Sebentar. Kamu tahu kalau Tommy suka sama Dita?"
"Apa?" pekik Sascha yang sangat terkejut sekali. "Pak Tommy?"
"Iya Tommy lagi pdkt sama Dita. Makanya aku ulur waktuku," jawab Dewa. "Memangnya kamu mau melihat kemesraan Tommy dan Dita?"
"Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin mengajakmu naik biaglala," jawab Sascha.
"Ayo dech kalo begitu. Sekarang saja ke sana," ajak Dewa.
Mereka akhirnya berangkat ke pasar malam yang berada di pusat kota. Sedangkan Dita sangat kesal sekali dengan kelakuan Sascha yang datang terlambat. Dita mulai bosan di area sana meskipun ada Tommy yang mendampinginya. Dita tidak bisa leluasa melakukan hal yang konyol. Karena Dita selalu menjaga image dirinya di hadapan Tommy.
"Gimana sih nich mbak Sascha enggak datang?" keluh Dita.
"Kamu mau ke mana? Aku temani kamu," kata Tommy.
"Ah... Enggak perlu. Aku tidak bisa bermain yang aneh-aneh. Aku tidak ingin kamu melihat kegilaanku," kesal Dita.
"Bukannya kita sudah saling mengenal sejak dulu?" tanya Tommy.
"Memang sih kita saling mengenal sejak dulu. Tapi aku sedang menjaga imageku di hadapanmu," kesal Dita.
"Maksudnya?" tanya Tommy yang enggak paham.
"Cerita juga percuma," jawab Dita yang mencebikkan bibirnya.
Tak perlu menunggu waktu lama Dewa dan Sascha datang. Mereka langsung bergabung dan masuk ke dalam. Di dalam sana banyak baju-baju yang dijual, barang-barang dijual dengan harga murah, ada juga cemilan hingga makanan. Semuanya serba ada. Di belakang sana ada macam-macam mainan rakyat yang disukai Dita dan Sascha. Terkadang mereka menghabiskan banyak waktu di sana untuk menyalurkan hobinya itu. Dewa sudah biasa melihat mereka yang bermain seperti anak kecil. Dewa juga tidak protes karena mereka menghabiskan waktu di sana.
__ADS_1
Sedangkan Tommy memperhatikan mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Tommy baru tahu kalau mereka melakukan aksi konyol yang belum pernah dilihatnya. Bahkan Tommy sangat terhibur sekali melihat aksi kocak mereka.