Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KAMU ADALAH CALON ISTRIKU.


__ADS_3

Memang Dewa berencana ingin membentuk karakter Sascha. Suatu hari nanti Sascha akan tahu siapa Dewa sebenarnya? Namun Dewa masih merahasiakannya. Dibalik itu semua Dewa sangat mencintai Sascha bahkan melebihi nyawanya.


Siang itu Dewa mengajak Sascha pergi ke butik. Sascha menggelengkan kepalanya karena tidak mau memakai baju perempuan. Dewa hanya tersenyum manis dan memandang wajah sang sahabatnya itu. Dewa paham apa yang akan dipakai Sascha nanti malam. Sebuah gaun yang elegan tetapi tertutup.


Dewa menjatuhkan pada gaun dengan lengan tertutup. Dewa menjatuhkan pada gaun berwarna hitam selutut. Dengan dipadukan lengan lonceng yang agak melebar. Lalu bagian lehernya dipadukan dengan gaya v-neck menambah kesan elegan. Ditambah lagi dengan tinggi badan Sascha yang 176 cm. Membuat Sascha menjadi anggun.


Setelah memesan gaun nanti malam Dewa kembali ke hotel. Namun sebelum itu Dewa merasakan ada sesuatu. Dewa terdiam dan memegang tangan Sascha sambil berbisik, "Berhenti!"


"Kenapa kita berhenti?" tanya Sascha.


"Sedari tadi ada yang mengikuti kita. Aku yakin orang itu bukan dari papa maupun kakek," jawab Dewa.


"Lalu, apakah kita dalam bahaya?" tanya Sascha yang sudah sigap.


"Entahlah. Sepertinya orang itu tidak berbahaya," jawab Dewa yang menganalisis orang itu.


"Kalau tidak bahaya ya sudahlah. Kita kembali lagi," ujar Sacha.


"Kamu enggak makan lagi?" tanya Dewa yang menawarkan makan lagi.


"Astaga?" pekik Sascha. "Kamu membuatku gemuk! Fiuh! Jika aku gemuk, aku tidak bisa belajar bela diri lagi."


Dewa terkekeh mendengar Sascha yang tidak suka dengan namanya gemuk. Dewa mendekati Sascha dan menciumnya lagi. Hingga membuat Sascha menjadi kesal. Akhirnya Sascha memukul lengan Dewa. Sementara itu Dewa tersenyum dan mengajak Sascha kembali ke hotel.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Dewa memberikan kode ke seseorang. Dewa meminta untuk menyelidiki orang itu tanpa sepengetahuan Sascha. Malam yang cerah acara makan malam pun tiba. Setelah selesai Sascha berdandan Dewa mendekatinya. Dewa tersenyum melihat Sascha yang anggun dan cantik hingga membuatnya jatuh cinta lagi.


"Kamu sangat cantik sekali," puji Dewa yang tulus.


"Terima kasih," balas Sascha.


"Ayo kita berangkat!" ajak Dewa sambil mengulurkan tangannya.


Sascha langsung meraih tangan kekar Dewa. Sascha menggenggamnya seperti merasakan nyaman di dalam hati. Semenjak pacaran sama Billi, Sascha tidak pernah digandeng seperti ini. Billi memang sengaja tidak menggandeng Sascha. Karena Billi sendiri tidak pernah mengakui kalau Sascha adalah kekasihnya.


Sementara itu Dewa sering menyuruh orang selalu mengawasi Sacha dari jauh. Dewa tahu kalau Billi tidak pernah memperlakukan Sascha seperti bidadari. Dewa menghembuskan nafasnya sambil mengepalkan tangannya. Mulai hari ini Dewa akan memperlakukan Sascha seperti bidadari.


Dewa mengajak Sascha ke ballroom hotel milik keluarga Nakata. Yang di mana Nakata adalah keluarga besar milik Dewa. Dari awal Dewa tidak bilang ke Sascha akan menginap di Nakata Hotel's. Bukannya Dewa tidak ingin merahasiakan kepada Sascha. Menurutnya itu tidak penting.


Dewa paham tentang berita itu. Semakin erat Dewa memegang tangan Sascha untuk memberi kode. Agar Sascha tidak terpengaruh oleh siapapun. Sascha hanya mengangguk paham. Di ambang pintu seseorang pengusaha yang bernama Gerre Atmojo menatap Sascha. Namun sebelum melangkah Devan mendekatinya sambil menyambut kedatangan Gerre, "Hi... Gerre."


Senyum merekah menghiasai bibir Gerre. Devan sengaja mengundangnya ke acara Nakata. Suatu kehormatan besar bagi Devan bisa mengajaknya makan malam. Pasalnya Gerre adalah seorang Khans Companya disektor makanan kaleng dan juga catering. Sedangkan keluarga Nakata sendiri bekerja sama sudah sejak lama untuk memasok makan siang untuk para karyawan.


Aoyama terkejut melihat kedatangan Gerre. Aoyama mendekati Gerre dan menyuruhnya masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam Dewa memperhatikan wajah Gerre. Lalu berganti melihat wajah Sascha. Dalam hatinya Dewa mengucapkan kalau Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre. Tanpa sengaja Gerre melihat Sascha dengan mata berbinar. Gerre merasakan kalau Sascha adalah putrinya yang hilang.


Seketika Sascha terkejut menatap wajah Gerre. Ada perasaan aneh yang berada dalam dirinya. Entah perasaan itu sangat kuat sekali. Bahkan mereka memiliki sesuatu ikatan batin. Sascha tersadar lalu meminta maaf kepada Gerre.


"Maaf," ucap Sascha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kamu bisa memandangku jika mau," pinta Gerre dengan ramah.


"Maafkan calon istriku Tuan Gerre," ucap Dewa yang berbasa-basi.


Saat Dewa mengklaim Sascha sebagai calon istrinya. Gerre memiliki rasa tidak tega kepada Sascha. Ingin rasanya Gerre melemparkan Dewa ke daerah konflik. Dewa tersenyum mengejek ke arah Gerre dan meninggalkannya. Dewa bersorak kegirangan karena telah meledek Gerre. Seorang pengusaha yang kaku seperti bongkahan es batu. Tidak dapat disentuh bahkan dicolek seperti sabun colek.


"Kamu tahu dia siapa?" tanya Dewa.


"Dia adalah pengusaha sukses yang sombong. Kaku dan seperti bongkahan batu es. Dipegang enggak bisa... Dicolek juga enggak bisa," kesal Sascha kepada Gerre. "Tapi kenapa aku mempunyai perasaan aneh? Dan kenapa wajahku sangat mirip sama dia? Seharusnya aku mirip dengan ayah?"


"Beberapa hari terakhir aku memandang wajahmu yang mirip sekali dengan Gerre Atmojo. Kamu memang sangat mirip dengannya. Bahkan kecantikan kamu membuat aku jatuh cinta," batin Dewa.


"Ya kemungkinan besar dia adalah ayahmu," celetuk Dewa.


Mata Sascha membola sempurna. Bagaimana bisa Dewa mengatakan kalau Gerre adalah ayahnya? Rasanya tidak percaya akan hal itu. Seluruh keluarga besar Dewa mulai memadati area ballroom. Ternyata Sascha baru mengetahui kalau Dewa memiliki keluarga yang sangat besar sekali.


Acara malam itu sangat meriah sekali. Bagi yang belum kenal mereka berkenalan satu sama lain. Ada yang baru sadar selama ini teman bisnis ternyata kerabatnya. Semua berkumpul untuk memeriahkan makan malam selama dua jam itu.


Lalu di ujung sana Gerre selalu memandang Sascha. Gerre tidak ingin melewatkan dirinya kehilangan momentum yang ada. Sementara itu Devan merasa curiga terhadap Gerre yang menatap sang calon menantunya dengan serius. Kemudian Devan mendekatinya dan bertanya, "Gerre... Kenapa kamu memandang wajah calon menantuku? Lama-lama aku laporin kamu ke Chloe!"


"Hey... Devan! Kamu harus tahu kalau wajah menantumu mirip denganku," jawab Gerre.


Mata Devan membulat sempurna. Lalu Devan semakin bingung dengan Gerre, "Kamu jangan mengada-ada. Kamu tahu calon menantuku adalah anaknya Pak Andika. Yang di mana Pak Andika pernah bekerja di perusahaanku dulu."

__ADS_1


Gerre mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Apakah itu benar?"


__ADS_2