Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEGILAAN SASCHA.


__ADS_3

"Membobol apa yang telah terjadi padaa nenek sihir," jawab Dewa.


Sascha mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Dewa. Ia tidak paham apa yang dikatakan oleh sang suami. Ia memilih untuk mengambil air mineral di atas nakas lalu meminumnya.


"Maksud aku berikan aku informasi tentang nenek sihir itu." pinta Dewa.


"Soal itu? Aku udah mendapatkannya. Kmau tenang saja karena aku sendiri mencarinya di dunia bawah tanah," jelas Sascha.


"Apakah kamu sudah siap untuk muncul di depan publik?" tanya Dewa.


"Siap enggak siap harus siap. Jika aku tidak muncul di hadapan publik. Si nenek sihir itu akan menguasai perusahaan dengan seenaknya. Dia harus masuk ke dalam penjara dan tidak boleh keluar lagi. Karena si nenek sihir itu telah menipu banyak orang," jelas Sascha.


"Apakah rencana kamu malam ini?" tanya Dewa yang berharap Sascha berada di dalam kamar.


"Rencana malam ini adalah duduk di tepi ranjang. Lalu aku ingin melihat sesuatu yang membuat bahagia," jawab Sascha dengan jujur.


"Apa itu?" tanya Dewa.


"Melihat tubuh seksei kamu," jawab Sascha dengan mata berbinar sambil mengelus perutnya.


"Hmmmp... hanya itu kegiatan kamu malam ini?" tanya Dewa yang bingung dengan Sascha.


"Ya... cuma itu. Aku memang ingin melihat tubuh indah kamu itu," jawab Sascha.


"Hmmmp... bagaimana ya? Sebenarnya kamu enggak bisa melakukannya," ucap Dewa.


Tiba-tiba saja Sascha kesal dan langsung marah. Ia segera mengerucutkan mulutnya sepanjang sepuluh senti meter. Ia akhirnya keluar dari kamar untuk mengadu ke Devan.


"Sayang," panggil Dewa yang melihat Sascha keluar.


"Odob!" kesal Sascha sembari meninggalkan Dewa sendirian di dalam kamar.


"Apakah ini yang dinamakan pria sangat menderita sekali ketika istrinya sedang hamil?" tanya Dewa yang menelan salivanya dengan susah payah.


Sascha telah meninggalkan Dewa sendirian di rumah. Ia tidak sengaja melihat beberapa orang sedang bergerombol sambil memegang senjata api satu persatu. Hal ini yang membuat Sascha menjadi bingung. Ia mengira mereka adalah pengawal Black Tiger. Namun nyatanya,


"Upz... mati aku," ucap Sascha yang terkejut.

__ADS_1


"Feeeling aku enggak enak. Mereka bukan anggota Black Tiger. Mereka adalah penyusup. Bagaimana bisa terjadi?" tanya Sascha dalam hati.


Mau tidak mau Sascha kembali ke suatu ruangan kosong tersebut. Sascha sangat bersyukur sekali karena mereka tidak melihatnya. Ia harus mencari cara agar lewat dengan aman.


"Tuh kan mimpiku semalam benar.Markas diserang sama orang-orang tidak berguna seperti ini," batin Sascha.


Dewa yang baru saja sadar dengan adanya penyusup terkejut. Ia barru menyadari kalau sang istri kabur entah kemana. Dengan cepat Dewa mencarinya dan merasakan kalau Sascha tidak akan pernah jauh dari sini.


"Hmmmp... dia tidak akan jauh disini," batin Dewa.


Dewa terus saja melangkahkan kakinya. Ia memasang mode alarm yang sangat kencang. Ia ingin menemukan Sascha dengan cepat. Karena masalah ini adalah masalah cukup besar.


Sascha segera mencari cara agar bisa menuju ke Devan. Ia mencari barang-barang yang berada di ruangan itu. Namun dirinya tidak bisa menemukan apapun.


"Kenapa aku sial begini ya?" tanya Sascha yang menggeram.


Sascha mencoba berjalan dan menemukan sesuatu di ruangan kosong itu. Ia tidak sengaja menendang benda keras.


Tung.


Sascha membungkukkan tubuhnya sambil meraih benda tersebut. Lalu ia teringat dengan ruangan ini. Ia meraba benda tersebut sambil tersenyum manis.


Memang tempat itu adalah gudang perakitan senjata. Namun dalam beberapa minggu ini, para pengawal tidak merakit senjata itu. Hal ini dikarenakan pasokan senjata di gudang sangatlah banyak. Bahkan untuk saat ini, Black Tiger tidak menjual senjata itu.


Sebelum keluar dari sana, Sascha mulai mengecek kondisi senjata api tersebut. Ia merasa sangat sedih sekali, bahwa senjata yang akan dipakainya adalah cacat produksi. Dengan terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk membabat habis mereka.


Entah ada setan apa yang merasuki tubuh Sascha. Dengan beraninya ia mengelilingi tempat tersebut. Ia mencari cara untuk bisa membunuh orang saat ini juga.


Kluntang.


Sascha menendang suatu alat. Yang dimana alat itu adalah tongkat bisbol. Namun ia sedang berpikir untuk melawan mereka. Ia akhirnya menunduk dan kecewa.


"Sungguh sial diriku ini. Bisa-bisanya aku melupakan di dalam perut ada dua calon bayi yang sangat lucu sekali. Aku tidak akan mau kehilangan mereka. Karena mereka tercipta dari benih unggul,'' batin Sascha.


Sungguh bingung dirinya. Ia memutuskan untuk duduk di lantai dan memikirkan caranya untuk bisa ke Devan. Ia sangat kesal dan menggerutu habis-habisan.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka.


Beberapa saat kemudian, Tara bersama Bima keluar dari ruangan rahasia. Sascha sangat terkejut dan menatap mereka. Lalu dengan senyumannya yang menawan, Sascha mendekati mereka, "Ma."


"Kamu?" pekik Tara.


"Apakah mama memiliki senjata AK 47?' tanya Sascha.


"Ada apa kamu bertanya seperti itu?" tanya Tara yang mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Sascha.


"Aku sangat membutuhkan itu ma?" tanya Sascha yang mulai mendekati Tara.


"Ini nich... aada maunya," celetuk Bima yang mengetahui sifat Sascha satu ini.


"Memang aku ada maunya. Aku ingin menghabisi mereka saat ini juga," jawab Sascha sambil tersenyum manis.


Terpaksa Tara memberikan senjata itu yang berada di tangannya. Sascha segera mengambilnya dan pergi ke luar.


Sedangkan para penyusup yang sedang bersantai tidak mengetahui ada bahaya mengancamnya. Mereka masih saja asyik bercerita dan membiarkan kedatangan Sascha.


Sascha yang mulai mengarahkan pistolnya ke arah mereka langsung menarik pelatuknya. Ia menembaki semuanya dengan brutal. Bunyi yang dihasilkan oleh senjata itu sangatlah kencang. Hingga dari radius tiga ratus meter masih terdengar jelas.


Dor... Dor... Dor... Dor...


Mereka sedang berkumpul langsung mati mengenaskan. Tanpa perlu persiapan apapun, nyawa mereka tidak tertolong sama sekali. Bahkan mereka merenggangkan nyawanya di tempat itu.


Dewa yang belum menemukan keberadaan Sascha, mendengar suara tembakan secara beruntun. Jantungnya berdetak kencang dan otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ia mengira kalau yang terkena tembak adalah Sascha. Ia berlari mencari keberadaan Sascha saat ini juga.


Tara dan Bima hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mereka tidak sengaja melihat Sascha menghabisi para penyusup yang sedang bersantai.


"Kamu tidak apa-apa?' tanya Tara yang sengaja mengambil senjata itu dari tangan Sascha.


"Aku baik-baik saja ma," jawab Sascha.


"Kalau begitu biar mama saja menghabisi mereka. Mama enggak mau kamu terluka sedikit pun," jelas Tara.


Terpaksa Sascha menghentikan aksinya itu. Ia memutuskan untuk mengalah dan memasang wajah sendu. Jujur saja hal seperti itu sangat mengasyikkan sekali. ia sedang membayangkan kalau dirinya sedang berperang dan melawan musuh dengan cara menembakinya.

__ADS_1


"Sascha," teriak Dewa yang belum menemukan Sascha.


__ADS_2