Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KECURIGAAN SASCHA.


__ADS_3

"Ya itu benar. Aku memang belum bermain anu-anuan," jawab Dewa. "Jika kamu mau melakukannya malam ini. Aku akan mengratiskanmu."


"Apa?" pekik Sascha yang mulai melihat Dewa yang membuat ulah.


Sumpah demi apapun Dewa menjadi aneh seperti ini. Bukannya memikirkan uang dua milyar hilang. Malah ngomong yang aneh. Tahan Sa... Tahan semuanya. Jangan marah jangan ngambek. Itu bosmu lagi error, kemungkinan otaknya belum di setting ulang.


"Anu apa ya?" tanya Sascha yang serius mencari uang yang hilang.


"Ah... Masa kamu enggak tahu. Bukannya kamu sudah dewasa?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.


"Memang aku belum dewasa. Aku hanya seorang bocah," jawab Sascha yang memutar bolanya dengan malas.


"Ya sudah deh. Setelah kita menikah aku akan mengajari kamu," pinta Dewa.


"Ah... Terserah kamu dech," kesal Sascha.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Dewa.


"Seseorang sudah mengambil uang sebesar dua milyar," jawab Sascha.


"Coba kamu hubungi Bima suruh ke sini!" perintah Dewa.


Sascha meraih ponselnya dan mencari nomor Bima. Setelah itu Sascha menghubungi Bima dan mengatakan kalau Dewa ingin bertemu. Bima pun menyanggupi permintaan Sascha. Lalu Sascha mematikan ponselnya dan bertanya, "Apa yang akan kakak lakukan?"


"Cari si pencuri uang dua milyar itu sampai ketemu! Jika dia bersembunyi di lubang semut pun aku akan menangkapnya!" perintah Dewa.


"Enak saja mengambil uang dua milyar dari kas perusahaan. Jika dapat aku yang akan membunuhnya," batin Dewa.


Tak lama ada suara ketukan pintu terdengar. Dewa berdiri dan menuju ke pintu tersebut dan membukanya, "Masuklah."


Bima akhirnya masuk dan melihat Sascha yang serius. Lalu Bima menghempaskan bokongnya duduk di sofa single, "Ada orang yang mengambil uang dari perusahaan."


"Sedang dicari orangnya. Akhir-akhir ini aku memang curiga," kata Sascha.


"Menurutmu siapa?" tanya Dewa.


"Aku sudah mencurigai Santi," jawab Sascha. "Beberapa hari ini aku mencurigai gerak-gerik Santi."


"Bukannya Santi adalah adiknya Billi?" tanya Bima yang mengerutkan keningnya.


"Iya," jawab Sascha.


"Bukannya kamu mengenalnya secara baik?" tanya Bima yang curiga.

__ADS_1


"Enggak... Aku enggak terlalu kenal dekat sama Santi. Kalau berbicara dia sangat ketus sekali," jawab Sascha.


"Lalu, bagaimana caranya dia mengambil uang?" tanya Bima lagi.


"Aku enggak tahu," jawab Sascha.


"Bukannya Santi sudah pernah aku pecat karena kasus yang sama? Bahkan kasus yang pertama secara terang-terangan?" tanya Dewa.


"Bukannya kita selama ini tidak pernah membuka lowongan pekerjaan?" tanya Sascha.


"Tanya sama bosmu itu," tunjuk Bima ke Dewa.


"Ya... Aku enggak pernah meminta pegawai kecuali beberapa pegawai yang resign," jawab Dewa.


"Sekarang jadi pertanyaan dari mana Santi bisa masuk? Apakah Tommy yang memasukkan ke dalam perusahaan?" tanya Bima.


"Panggil Tommy ke sini!" titah Dewa.


Sascha segera mengambil ponselnya dan menghubungi Tommy. Lalu beberapa saat kemudian Tommy mengangkat ponselnya dan menyanggupi permintaan Dewa. Seperti inilah Dewa sang bos jika ada masalah. Sang bos tidak kenal waktu memberikan perintah ke seluruh kaki tangannya. Mau tidak mau seluruh kaki tangannya menghadap ke hadapannya. Walau itu malam hari atau dini hari. Dewa mempunyai sifat sekarang harus sekarang.


Beberapa saat kemudian datang Tommy yang masih dalam mode mengantuk. Dengan wajah yang ditekuk Tommy menghempaskan bokongnya di sofa singel.


"Ada apa?" tanya Tommy yang menatap Dewa.


Seketika ruangan yang tadi hangat menjadi membeku. Dewa menatap tajam dengan wajah yang sulit diartikan. Lalu Tommy membuka matanya dengan lebar dan menjawab, "Aku belum memecatnya."


"Enggak maksudku, bukannya dia pernah dipecat? Lalu bagaimana dengan Santi yang bisa masuk ke dalam? Sudah hampir beberapa bulan aku memperhatikannya?" tanya Dewa.


"Lalu, siapa dia?" tanya Sascha.


"Iya aku sudah memecatnya. Mungkin dia masuk memakai idenditas lain. Kemungkinan besar yang menerima Santi bukan aku. Bisa saja Pak Hadi yang menggantikan aku ketika berada di Birmingham," jawab Tommy yang benar-benar kecolongan.


Mereka mencerna apa yang dikatakan oleh Tommy. Ada benarnya juga alasan Tommy. Kalau dianalisis Tommy waktu dulu memang masih berada di Birmingham untuk mengambil gelar doktor. Jadi bagaimana bisa Tommy mengangkat orang pada waktu itu? Beberapa saat kemudian Sascha teringat seseorang yang bernama Hadi. Otak Sascha mulai berpikir tentang hubungan Hadi dan Santi.


"Bukannya sebelum kak Tommy adalah pak Hadi?" tanya Sascha.


"Lalu?" tanya Bima.


"Akhir-akhir ini aku sering melihat Pak Hadi bersama Santi," jawab Sascha.


"Terus?" tanya Dewa.


"Bukannya Pak Hadi sudah dipecat ya?" tanya Sascha lagi.

__ADS_1


"Enggak. Pak Dewa memutasi Pak Hadi ke Bandung," jawab Tommy.


"Bisa enggak aku menyelidiki hubungan Santi dan Pak Hadi?" tanya Sascha.


"Ok. Kamu boleh melakukannya. Aku akan menghubungi orang untuk mengikuti Santi dan Hadi," ujar Dewa yang sedari tadi curiga.


"Terima kasih kakak," balas Sascha yang tersenyum.


"Hmmp," jawab Dewa yang kesal lagi terhadap Sascha.


"Kebiasaan nih kalau diajakin bicara jawabnya hmmp... Membuatku ingin memakan orang sekarang," kesal Sascha.


Tommy dan Bima langsung berdiri dan tersenyum. Mereka ingin tertawa karena melihat Sascha yang kesal. Sebelum pergi Bima berpesan kepada Sascha, "Sa... Jika kamu enggak ingin pak bos hmmp... secara terus-menerus. Aku saranin ciumlah bibirnya. Atau enggak kamu panggil sayang."


Dewa mengacungkan jempolnya sambil memuji Bima. Kemudian Dewa mengusir mereka pergi dari kamar. Dewa tersenyum melihat Sascha, "Saran dari Bima boleh juga."


Sascha berjingkat kaget karena ulah Dewa. Untung saja jantungnya tidak keluar dari tempat. Dengan penuh percaya dirinya Dewa menerima usulan Bima, "Apakah aku harus mengajarimu berciuman dengan sangat hot!"


"Cabe kali," cebik Sascha sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu itu kalau marah sangat lucu sekali. Aku beruntung sekali mendapatkan kamu bidadari," ucap Dewa.


"Bidadari turun dari mana?" tanya Sascha yang malas sama Dewa.


Jujur saja Sascha sangat malas sekali kepada Dewa. Bukan karena wajah tampannya melainkan rayuannya yang sangat garing seperti gorengan itu. Sascha ingin dirayu seperti film-film drakor yang ujung-ujungnya berakhir manis. Namun malah pahit seperti jamu hitam yang dijual di tukang jamu. Walau begitu Sascha tetap sayang sama Dewa.


"Turun dari kahyangan seperti Nawang Wulan," jawab Dewa yang mulai gas merayu Sascha.


"Lalu yang jadi Jaka Tarubnya?" tanya Sascha yang mengakses data keuangan.


"Aku. Siapa lagi? Lha... Selendang kamu ada di aku," jawab Dewa secara jujur.


"Selendang? Memangnya aku mempunyai selendang?" tanya Sascha.


"Iya. Aku memang sengaja mengambilnya ketika kamu mandi di sungai pas waktu di desa," jawab Dewa asal.


"Apa!" pekik Sascha. "Apa-apaan ini? Kamu mengambil selendangku pas waktu mandi di sungai?"


"Iya itu benar. Aku tidak bohong. Selendang itu selalu dibawa ke manapun aku pergi," ujar Dewa tersenyum manis.


"Astaga ini orang. Apa-apaan ini? Dia kira aku pergi ke sungai apa kalau pulang ke desa!" kesal Sascha.


Dewa terkekeh mendengar Sascha yang benar-benar kesal. Sudah beberapa kali dalam jangka waktu dua jam Dewa membuatnya sangat kesal. Menurut Dewa, Sascha itu sangat menggemaskan sekali. Bahkan wajahnya yang imut meneduhkan membuat Dewa semakin jatuh cinta.

__ADS_1


"Memangnya aku pernah ke sungai ya?" tanya Sascha yang di kepalanya banyak pertanyaan.


__ADS_2