
"Aku tidak pernah ragu kek. Kak Bryan memang sangat hebat sekali. Aku tahu Kak Bryan itu pengacara yang bisa diandalkan. Bahkan aku sering sekali belajar ilmu tentang hukum sama Kak Bryan," puji Sascha kepada Bryan.
"Okelah. Mulai saat ini kalian harus berjuang. Jika rencana A sangat buruk buat kamu. Kamu bisa mendiskusikan rencana b yaitu rencana cadangan. Rencana cadangan masih bisa menjadi rencana utama. Dan rencana a bisa menjadi rencana cadangan. Tinggal kamu bolak-balik saja semuanya akan beres satu persatu," pesan kakek Aoyama. "Di mana Devan? Kok aku tidak melihatnya sama sekali?"
"Papa sedang berada di desa. Di sana mereka sedang menikmati keindahan alam desa yang asri. Aku tidak mengajaknya agar bisa menjaga Mama dengan sebaik mungkin," jelas Dewa.
"Tidak apa-apa. Asalkan kamu bisa bekerja dengan baik. Biarkan mereka berdua memadu kasih agar hubungan semakin akrab. Soal rumah kamu jangan terlalu memikirkannya. Jika mereka membuat ulah, masih ada Kobe di Nagoya. Jarak antara rumah Kobe dan rumah kakek sangatlah dekat. Jika ada apa-apa, Kobe yang akan menjadi perisaiku. Rumah itu sudah dilindungi oleh hukum. Mau tidak mau mereka harus tunduk kepada hukum tersebut. Apalagi Rossi akan memecahkan masalah ini," jelas kakek Aoyama.
"Kakek harus semangat untuk melanjutkan hidup ini tanpa nenek. Aku yakin Kakek bisa bahagia. Sebentar lagi kami akan kembali ke Nagoya. Kami berencana ingin tinggal di sana hingga Sascha melahirkan," jelas Dewa yang membuat kakek Aoyama tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah. Pergilah bekerja. Berikan semua laporan itu kepada kakek. Nanti kakek akan mengambil keputusan dengan cepat," pinta kakek Aoyama terhadap Dewa.
Mereka akhirnya pergi dari kamar itu. Mereka menuju ke ruangannya dan saling berdiskusi satu sama lain. Para petinggi D'Stars Inc sepakat mengganti rencana a untuk dibuat cadangan. Rencana b akan dibuat rencana utama. Memang Dewa selalu saja memiliki banyak rencana. Kemungkinan besar Dewa Sudah menyusun beberapa rencana. Tapi ia sangat cerdik sekali tanpa harus berbicara kepada siapapun.
Sore yang penuh dengan awan hitam. Mereka memutuskan untuk bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Dewa dan Sascha masuk ke dalam kamar. Di sana Sascha merasakan kegelisahan yang mendalam. Mau tidak mau Sascha menatap sang suami sambil berkata, "Kayaknya kita harus pergi deh dari sini untuk sementara waktu.''
"Memangnya ada apa?" Tanya Dewa.
"Kita nggak bisa berangkat sekarang. Kota Surabaya sedang turun hujan deras. Kita terpaksa di sini hingga esok hari. Kemungkinan besar cabang Surabaya akan kita berikan kepada mereka. Kita sampai di sana langsung menyelesaikan masalah itu," ungkap Dewa merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku ingin tidur. Aku tidak ngapa-ngapain tapi tubuhku sangat capek sekali. Semua pekerjaan telah menguras otakku satu persatu. Apakah ini yang dinamakan wanita sedang mengandung? Jadi semuanya serba terbatas," tanya Sascha yang mendapatkan anggukan dari Dewa.
"Nggak semuanya wanita hamil seperti itu. Kamu sekarang sedang menyelesaikan diri. Karena kamu membawa dua bayi sekaligus. Saat bekerja kamu harus makan yang banyak. Agar energimu tidak terkuras hingga selesai," pinta Dewa yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Kamu ngomong gitu enak. Kalau aku gemuk gimana?" tanya Sascha dengan nada kesalnya.
"Semuanya itu nggak jadi masalah buat aku. Mau gemuk mau nggak itu terserah. Asalkan kamu selalu berada di sampingku. Jangan minder seperti itu. Nanti kasihan bagi kamu," jawab Dewa yang tidak memperdulikan dengan tubuh Sascha.
"Baiklah kalau begitu. Aku ingin tidur terlebih dahulu," pamit Sascha terhadap Dewa.
__ADS_1
Setelah itu Sascha menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terlelap langsung tidur dengan pulas. Sedangkan Dewa hanya tersenyum saja melihat kelakuan Sang istri. Bahkan Dewa sendiri memaklumi akan hal itu.