
"Ya kita masih culun. Belum sekeren ini," jawab Leo.
"Tapi menurutku Sascha bisa tertawa lepas ketika dirinya bertemu dengan keluarga besarnya," jawab Leo.
"Apalagi ditambah Dewa," ucap Ian.
"Apakah Sascha akan tertawa lepas seperti ini?" tanya Bima.
"Ya... Memang bisa. Asalkan jangan sama Billi lagi," jawab Erick.
"Apakah kamu yakin jika Dewa menikahi Sascha?" tanya Bryan yang sedari tadi melihat foto Sascha dan Dewa di foto profil salah satu media sosial milik Dewa.
"Kalau mereka menikah aku sangat bersyukur sekali. Bahkan akulah orang yang pertama yang mengharapkan mereka menikah," sahut Tommy.
"Dari segi wajah mereka sangat mirip sekali. Bahkan wajah mereka seperti sebelas dua belas. Kamu tahukan kalau Dewa memang keras tapi enggak pernah kasar kepada Sascha. Bagaimana caranya Dewa sangat mencintai Sascha? Inilah yang menjadi pertanyaan. Sekarang saja Dewa sangat posesif sekali jika Sascha sendiri," ungkap Timothy yang paham akan sifatnya Dewa.
"Terlalu posesif bahkan menjadi bucin," celetuk Tommy.
"Aish... Kalau sudah menjadi bucin ini sangat memberatkan sekali. Bisa-bisanya Dewa menjadi bucin?" kesal Erick.
Mereka tertawa karena Eric kesal terhadap Dewa. Entah kenapa kata-kata budak cinta sudah menjamur di dalam diri Dewa. Bahkan Dewa sendiri sudah menjadikan dirinya sebagai budak cinta dan mengekori Sascha dimana saja.
"Enggak usah kesal begitu. Lagian juga kamu pake jomblo enggak punya pacar sama sekali," ledek Bima.
"Salah sendiri enggak punya pacar sampe sekarang. Wajah ganteng tapi enggak laku," ucap Bryan.
"Ada info Billi menikah dengan Risa," ucap Timothy.
"Ya baguslah. Biar Billi enggak mengganggu Sascha saat ini," ujar Ian.
"Jangan bilang bagus. Belum tentu bagus itu baik. Siapa tahu pernikahan ini hanyalah settingan alias gimmick," sahut Tommy.
"Hmmp.... Sepertinya itu yang menyeramkan sekali," sahut Eric.
"Sebentar Risa itu anaknya siapa?" tanya Bryan yang penasaran dengan idenditas Risa.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" tanya Timothy.
"Kok aku curiga dengan pengusaha yang namanya Anggoro ya?" tanya Bryan.
"Setahu aku sih Risa itu anaknya Anggoro sama Melly Tritania," jawab Timothy. "Anggoro adalah pengusaha batu bara yang terkenal di negara Indonesia. Bukankah Risa pernah dijodohkan sama Ian?"
"Aku menolaknya," jawab Ian.
"Kenapa kamu menolaknya?" tanya Timothy.
"Dia udah enggak segel ketika masih sekolah. Aku sudah menyelidikinya jauh-jauh hari bersama Dewa," jawab Ian.
"Gue hampir lupa kalau Risa itu. Ah enggak usah diperjelas. Sekarang ditambah lagi Risa bekerjasama dengan Jaya," tambah Tommy.
"Ini sepertinya masalah semakin rumit. Aku merasa Jaya, Risa, keluarga Billi akan bersatu. Jika mereka bersatu akan membuat squad. Nah inilah yang menjadikan titik balik serangan untuk Sascha dan Dewa. Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah mereka akan menyerang satu sama lain ke Dewa atau Sascha?" tanya Timothy. "Apalagi Jaya dikenal sebagai ketua mafia distributor organ tubuh manusia."
"Ini cukup sulit. Bahkan sangat sulit. Kamu tahukan sedari dulu Dark Impulsif selalu mencari masalah dengan Black Tiger?" tanya Ian balik.
"Kalau rekam jejaknya sih iya. Jaya selalu membuat masalah dengan Black Tiger," jawab Eric. "Lalu sekarang apa masalahnya?"
"Kita harus membicarakan semua ini dengan Dewa. Biar semua masalah ini jelas dan tidak berkelanjutan," ucap Eric.
"Tenanglah. Nanti malam Dewa akan kesini. Kita akan membicarakan semua ini," jawab Ian.
"Gue pamit dulu mau istirahat," pamit Ian.
Sore yang cerah. Sascha memutuskan untuk pulang namun sang kakek dan nenek menyuruhnya tinggal di sini. Sascha akhirnya menuruti keinginan mereka menginap di sini. Sascha menatap Dewa sambil tersenyum, "Kak, bisakah kakak memberikan aku ponsel baru? Aku enggak bisa menghubungi ibu dan ayah. Aku merasa mereka sedang mencariku."
"Besok kakak belikan. Malam ini kamu tidur sendiri ya," ucap Dewa.
"Memang aku tidur sendirian disini. Tapi kenapa kakak bilang begitu?" tanya Sascha.
"Aku pulang ke mansion milik papa Devan. Kemungkinan besar aku akan kembali besok pagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku bicarakan sama anak-anak sehubungan dengan kasus pemecatan Santi," jawab Dewa terhadap Sascha.
"Memangnya ada apa dengan Santi?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Kamu tahukan sebentar lagi Santi akan playing victim. Cepat atau lambat Santi menyerang kamu dan perusahaan. Setelah itu Santi akan membuat pernyataan dan itu membuat reputasi perusahaan hancur berkeping-keping. Kamu tahu setelah aku masuk ke perusahaan, aku sengaja membangun perusahaan itu dengan baik-baik. Aku mulai mengenalkan perusahaan itu ke masyarakat. Kemudian aku mulai dekat dengan masyarakat untuk memberikan bantuan uang untuk membuka usaha. Seandainya kalau reputasi perusahaan hancur bagaimana karier aku kelak? Aku juga sedang memikirkan kamu sayang. Santi seharusnya tidak membuli kamu seperti itu," jelas Dewa panjang lebar.
"Kalau aku kangen gimana?" tanya Sascha sambil menggoda Dewa.
Dewa hanya tersenyum manis dan melihat Sascha yang berhasil menggodanya. Dewa mendekatkan dirinya sambil membisiki sesuatu, "Jangan salahkan aku jika jiwa lakiku keluar."
"Kakak mau apa?" tanya Sascha yang polos.
"Pokoknya jangan salahkan aku jika nanti kamu berbadan dua," jawab Dewa.
"Ah... Yang penting kakak mau tanggung jawab soal itu," ucap Sascha.
"Apakah kamu sudah siap menanggung semuanya?" tanya Dewa.
"Maksudnya apa?" tanya Sascha.
"Masa tidak tahu sih jika nanti sekamar?" tanya Dewa balik.
Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa Sascha terjebak dengan pertanyaannya sendiri? Akhirnya Sascha menekuk wajahnya dan melihat ke bawah agar tidak ketahuan sama Dewa.
"Ah... Kak Dewa membingungkan," kesal Sascha. "Jika kakak mau keluar maka keluarlah."
Dewa hanya terkekeh melihat wajah Sascha yang ditekuk. Dewa memeluk Sascha dari samping berkata, "Aku pergi hanya sebentar. Besok pagi aku kembali. Apakah kamu curiga jika aku bertemu dengan perempuan?"
"Ah.... Enggak. Aku enggak curiga. Lagian dari kita bertemu di Jakarta. Kakak adalah tipe pria yang arogan. Banyak sekali anak-anak SMA yang jaman itu mengejar-ngejar kakak. Tapi kakak menolaknya. Entah apa yang membuat kakak menolak mereka?" jawab Sascha dengan jujur.
"Aku enggak menolaknya. Tapi aku sudah berjanji dalam hati ingin mencari kamu sampai ketemu. Maka aku enggak mau berpacaran," ucap Dewa sambil mengelus punggung Sascha.
"Apakah karena janji kakak sebelum aku menghilang?" tanya Sascha.
Flashback On.
Satu Minggu sebelum kejadian menghilangnya Aulia, Dewa menatap Aulia seakan merasa kehilangan. Dewa mendekati Sascha sambil memegang tangan mungil Aulia dengan penuh kesedihan. Dewa seakan tahu apa yang akan terjadi pada Aulia dan mengucapkan sesuatu, "Jika sesuatu yang akan terjadi. Maka aku yang akan bersalah kepadamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau itu hanya sedetik."
"Kak Dewa ngomong apa? Kok Aulia jadi aneh begini?" tanya Aulia yang menatap wajah Dewa.
__ADS_1