
"Sepertinya Anda terkena penipuan?" Tanya saja langsung meninggalkan Dewa.
Melihat kepergian Sasha, Dewa hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Ingin rasanya mengerjai malah dikerjain balik. Setelah itu Dewa memutuskan untuk kembali ke kantor. Sebelum kembali ke kantor Dewa menatap Erik yang tidak semangat.
"Ada apa lagi bro?" Tanya Dewa.
"Gue masukin Dewi ke divisi keuangan tanpa pengetahuan Sascha. Gue bener-bener ngecewain Sasha," jawab Erik dengan kecewa.
"Tidak perlu kamu memikirkan terlalu dalam. Meskipun itu temannya Risa atau Billy sekalipun yang namanya orang kerja tidak boleh pilih kasih. Mereka juga cari makan buat keluarganya. Lalu, Kenapa kamu sangat kecewa sekali? Kamu tahu kan kalau Sasa itu sudah memiliki hak veto? Cepat atau lambat Jika Dewi tidak bekerja dengan baik, Tasya akan mengeluarkan surat pemecatan tanpa persetujuan Tommy. Lagian hak veto itu tidak aku saja yang memberikannya. Kakek Aoyama yang memberikannya secara penuh. Bila ada kesalahan fatal maka saya akan mengeluarkan surat pemecatan tanpa menghubungi pihak HRD," jelas Dewa ke Erik. "Apakah kamu paham soal itu? Jika kamu menginginkan hak veto itu, aku bisa memberikannya. Ada tapinya, hak veto itu akan berlaku pada lingkungan perusahaan di sini saja. Kalau untuk cabang atau perusahaan besar lainnya, Kamu harus menjadi atau memiliki jabatan penting di perusahaan pusat. Begitu juga dengan saja. Dia adalah pasukan khusus yang dibentuk oleh kakek. Pasukan khusus itu berada di tangan aku ataupun Kobe. Kamu bisa masuk ke dalam sana tapi pekerjaannya sangat berat sekali. Wajahmu adalah wajah malaikat. Sementara yang dihadapinya adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan wajah sadis. Dengan kata lain kamu harus bisa melawannya sendiri. Itulah yang sering dialami oleh Sasha. Bahkan saja sendiri adalah seekor rubah licik. Aku harap kamu paham soal itu."
"Paham sih paham. Tapi bagaimana dengan perusahaanku? Jika aku masuk sana maka pekerjaanku semakin bertambah," kesel Erik.
Dewa hanya mengedipkan bahunya lalu meninggalkan Erik yang masih duduk dengan santai. Sebelum pergi Dewa mengingatkan Erik agar tidak terlambat makan. Erik hanya tersenyum simpul melihat sang teman sangat perhatian sekali.
"Aku hanya menawarkan saja. Bukan menyiksa kamu. Ya sudahlah aku mau kerja lagi. Kasihan nanti istriku yang sebentar lagi hamil," ucap Dewa yang membuat Erik ingin melemparkan sepatunya.
Dewi yang melihat saja sedang berkeliaran di ruangan divisi sangat kesal sekali. Bisa-bisanya saja keluar masuk dari ruangan itu tanpa seijinya. Dewi akhirnya mendekati saja sambil menarik rambutnya. Iya menantang Sasha dengan penuh keberanian.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Mereka hanya diam saja karena sudah mendapat ancaman dari Dewi. Lalu saya hanya bisa tersenyum mengejek sambil berkata, "kalau kamu teruskan, Aku tidak akan bertanggung jawab kepadamu. Cepat atau lambat surat pemecatan kamu akan datang. Aku nggak peduli kamu temennya siapa. Anaknya siapa juga aku nggak peduli. Asal kamu tahu saja di sini itu sistem yang dianut untuk bekerja adalah kekeluargaan. Bukan menindas menindas orang seenaknya. Lepas atau teruskan?"
Dua pertanyaan itu sangat mengerikan bagi para anggota divisi keuangan. Mereka sangat takut ketika dua suku kata itu dilontarkan oleh saja. Mereka sudah sering melihat keberanian Sasha untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Di sisi lain mereka juga takut dengan Dewi. Hampir setiap hari mereka selalu mendapatkan ancaman. Setiap kali mengancam keluarganya akan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka sangat pusing menghadapi Dewi yang menjadi bos di sana. Namun mereka harus melawan Dewi karena demi keselamatan.
"Lepas atau lanjut?" Tanya saja.
"Lu sekarang sudah macam-macam ya! Kerja di sini dengan jabatan tinggi. Sekarang lu perintah-perintah gue. Memangnya lu siapa? Perkenalkan nama gue Dewi. Gue adalah pemimpin di bagian divisi keuangan. Oh… ya tugas lu sekarang jadi pembantu gue. Dan lu sekarang nggak boleh macam-macam lagi. Kalau nggak gue bisa bunuh lu dengan sebuah belati," ancam Dewi yang membuat saya tidak takut sama sekali.
"Ancaman lo nggak berguna sama sekali. Sekarang lepasin gue sebelum surat pemecatan lu datang," ancam saja dengan penuh penekanan.
Bukannya dilepas Dewi malah mendorong saja dengan kuat. Sebelum terjatuh saja sudah ditolong oleh Dewa. Dengan wajah murkanya Dewa mendekati Dewi sambil menampar pipinya. Iya tidak terima kalau calon istrinya disakiti seperti itu. Lebih baik dia ingin tersakiti asalkan jangan saja. Memang mereka adalah pasangan yang romantis. Saking romantisnya banyak yang iri melihat mereka.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Dewa.
"Aku memang baik-baik saja," jawab saja sambil memegang dada Dewa. "Biar aku yang mengurus. Aku baik-baik saja."
"Singkirkan tanganmu sekarang juga!" bisik Dewa sambil menatap saja dengan sayu.
__ADS_1
Glodak.
Tak sengaja saja menatap wajah Dewa sayu. Dengan cepat iya menyingkirkan tangannya itu. Jujur saja dalam mode begini, saja menjadi ketakutan. Lalu Dewa mulai menetralkan jiwanya itu. Setelah selesai Dewa menatap Dewi sambil mengancam, "kalau kamu terus mengancam saja seperti itu. Cepat atau lambat aku yang akan memecatmu. Mulai sekarang kamu dalam pengawasaku. Jika kamu terus-terusan kayak gini Aku yang akan memecatmu. Tanpa harus melewati meja HRD! Bubar kalian! Bekerjalah dengan giat!"
Mereka akhirnya bubar dengan sendirinya. Dewa mengajak saja pergi dari sana. Namun matanya tetap menyala ke arah Dewi. Iya tidak akan melepaskan Dewi begitu saja. Cepat atau lambat Dewa akan memberikan perhitungan kepada Dewi.
Rasa yang merasa Tidak enak hati hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak menyangka Dewi menyayangi secara brutal. Akan tetapi saya tetap memaafkannya. Dirinya tidak akan menanjak Dewi. Karena saya tahu bagaimana keadaan Dewi sekarang.
"Apakah kamu masih ingin membiarkan Dewi bertahan di sini?" Tanya Dewa.
"Mungkin saja. Aku ingin melihat bagaimana cara kerjanya? Kalau bagus okelah. Kalau jelek bisa jadi aku membuangnya. Apakah itu boleh?" Tanya saja.
"Terserah kamu. Pokoknya kamu harus menjauhi Dewi. Aku nggak mau kamu membuat drama yang aneh-aneh sama dia. Yang aku tahu teman kamu itu kurang ajar terhadapmu. Jujur selama kamu kuliah, hubungan kalian tidak pernah akur. Jika diteruskan maka Dewi akan terus-terusan menindas kamu. Oh ya ditambah lagi sama Santi. Mereka itu ternyata seorang ambisi ingin mendapatkan barang-barang mahal. Sepertinya aku menemukan siapa yang mencuri uang 3 miliar," ucap Dewa.
"Memangnya Kakak tahu semua itu? Jika ingin mencuri orang dalam bagaimana? Kalian mencuri orang luar bagaimana?" Tanya saja dengan serius.
"Jalan satu-satunya adalah menyerahkan kepada polisi," jawab Dewa.
__ADS_1
"Apakah kakak tidak ingin menyiksanya terlebih dahulu?" Tanya saja lagi.