Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
REAL.


__ADS_3

“Buka


saja,” suruh Dewa sembari mendekati Sascha.


sengaja membuka pimtu itu dengan pelan. Lalu ia tidak sengaja melihat ruangan


itu terang benderang. Matanya membulat sempurna. Di dalam sana ada suara orang


sedang meminta pisau. Ia mundur satu langkah dan membiarkan Dewa berjalan


terlebih dahulu.


“Kamu


jalan gih terlebih dahulu,” pinta Sascha.


“Kamu


kenapa?” tanya Dewa yang maju ke depan.


“Bau


darah,” jawab Sascha yang berkata jujur.


“Apa?’


pekik Dewa yang sengaja membuka pimtu itu.


Dewa


sengaja membuka pintu itu sambil melihat orang-orang yang memakai pakaian serba


putih. Mereka sedang membedah tubuh seseorang. Ia sadar kalau mereka membedah


orang tersebut tanpa prosedur kedokteran.


Dewa


memberikan sebuah kode buat para pengawalnya untuk segera mendekat. Sementara


itu mereka yang sedang melakukan pembedahan tidak memperdulikan siapa saja yang


datang. Mereka pikir yang datang adalah pemilik markas ini. Tidak


“Benar


dugaanku!” geram dewa dalam hati.


Para


pengawal segera mendekati Sascha. Ia membungkukkan badannya untuk segera


menerima perintah. Tak lama Daniel datang dengan membawa senjata AK 47. Ia


segera masuk tanpa harus menunggu perintah. Namun Sascha menggelengkan


kepalanya. Ia segera menarik baju Daniel agar  segera mundur. Alhasil Daniel mundur sambil menatap Sascha.


“Ada


apa?” tanya Daniel.


“Pinjam


senjata kamu,” jawab Sascha sambil meminta senjata milik Daniel.


Dengan


suka hati Daniel memberikan senjata tersebut ke arah Sascha. Tak lama Sascha


meraihnya sambil tersenyum iblis. Tidak sengaja Dewa, Daniel dan para pengawal


langsung menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa sang Sascha


Herdiansyah lemah lembut berubah menjadi seorang iblis dalam hitungan detik.


“Biarkan


aku yang menhancurkan mereka dan menyanderanya,” ucap Sascha yang mendapat


anggukan dari mereka semuanya.


segera masuk dan menarik pelatuk otomatis senjata AK 47 itu. Hingga akhirnya


tidak bisa mengelak dan langsung merenggangkan nayawanya tanpa memberikan


sebuah pesan apapun.


Sementara


dokter yang masih asyik membedah seorang wanita muda tidak memperdulikan


kedatangan Sascha. Ia berharap dokter itu langsung mengenai jantung. Agar sang


dokter itu dengan mudah mengambil jantung tersebut.


“Rupanya


si dokter sialan ini tidak memperdulikan anggota timnya mati dengan konyol,”

__ADS_1


ucap Sascha dalam hati.


semakin kesal terhadap orang itu. Bahkan Sascha mendekatinya dan berkata,


“Pak... imi orang memiliki penyakit yang cukup serius.”


“Apa


maksudnya?” tanya dokter itu.


“Darahnya


sudah terkontaminasi oleh penyakit yang mematikan. Saya tahu kalau Pak Dokter


sedang mengambil jantungnya. Dan jantung itu juga terkontaminasi oleh suatu


prnyakit. Jika bapak mengambilnya. Organ tubuh wanita itu tidak sudah tercemar


banyak penyakit. Bukankah bapak lebih pandai ketimbnag saya?” tanya Sascha yang


sengaja mengerjai dokter itu.


“Siapa


tahu hatinya bisa kepake?” tanya Dokter itu.


“Hatinya


juga membusuk. Makanya wanita muda itu sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta,”


jelas Sascha yang membuat dokter itu sangat penasaran dengan siappa berbicara.


Mata


dokter muda itu menatap nanar tubuh wanita itu penuh dengan penyakit. Ia merasa


bersalah sekali sama pasien yang akan menerima donor beberapa tubuh dari wanita


tersebut.


Entah


kenapa tangis dokter itu pecah. Jujur selama bekerja disini si dokter itu tidak


pernah memeriksa keadaan manusia diambil organ tubuhnya.


“Lalu


aku harus bagaimana?” tanya dokter itu yang tubuhnya beringsut jatuh ke lantai


sambil menangis karena meratapi kegagalan.


“Buka


saja,” suruh Dewa sembari mendekati Sascha.


sengaja membuka pimtu itu dengan pelan. Lalu ia tidak sengaja melihat ruangan


itu terang benderang. Matanya membulat sempurna. Di dalam sana ada suara orang


sedang meminta pisau. Ia mundur satu langkah dan membiarkan Dewa berjalan


terlebih dahulu.


“Kamu


jalan gih terlebih dahulu,” pinta Sascha.


“Kamu


kenapa?” tanya Dewa yang maju ke depan.


“Bau


darah,” jawab Sascha yang berkata jujur.


“Apa?’


pekik Dewa yang sengaja membuka pimtu itu.


Dewa


sengaja membuka pintu itu sambil melihat orang-orang yang memakai pakaian serba


putih. Mereka sedang membedah tubuh seseorang. Ia sadar kalau mereka membedah


orang tersebut tanpa prosedur kedokteran.


Dewa


memberikan sebuah kode buat para pengawalnya untuk segera mendekat. Sementara


itu mereka yang sedang melakukan pembedahan tidak memperdulikan siapa saja yang


datang. Mereka pikir yang datang adalah pemilik markas ini. Tidak


“Benar


dugaanku!” geram dewa dalam hati.

__ADS_1


Para


pengawal segera mendekati Sascha. Ia membungkukkan badannya untuk segera


menerima perintah. Tak lama Daniel datang dengan membawa senjata AK 47. Ia


segera masuk tanpa harus menunggu perintah. Namun Sascha menggelengkan


kepalanya. Ia segera menarik baju Daniel agar  segera mundur. Alhasil Daniel mundur sambil menatap Sascha.


“Ada


apa?” tanya Daniel.


“Pinjam


senjata kamu,” jawab Sascha sambil meminta senjata milik Daniel.


Dengan


suka hati Daniel memberikan senjata tersebut ke arah Sascha. Tak lama Sascha


meraihnya sambil tersenyum iblis. Tidak sengaja Dewa, Daniel dan para pengawal


langsung menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa sang Sascha


Herdiansyah lemah lembut berubah menjadi seorang iblis dalam hitungan detik.


“Biarkan


aku yang menhancurkan mereka dan menyanderanya,” ucap Sascha yang mendapat


anggukan dari mereka semuanya.


segera masuk dan menarik pelatuk otomatis senjata AK 47 itu. Hingga akhirnya


tidak bisa mengelak dan langsung merenggangkan nayawanya tanpa memberikan


sebuah pesan apapun.


Sementara


dokter yang masih asyik membedah seorang wanita muda tidak memperdulikan


kedatangan Sascha. Ia berharap dokter itu langsung mengenai jantung. Agar sang


dokter itu dengan mudah mengambil jantung tersebut.


“Rupanya


si dokter sialan ini tidak memperdulikan anggota timnya mati dengan konyol,”


ucap Sascha dalam hati.


semakin kesal terhadap orang itu. Bahkan Sascha mendekatinya dan berkata,


“Pak... imi orang memiliki penyakit yang cukup serius.”


“Apa


maksudnya?” tanya dokter itu.


“Darahnya


sudah terkontaminasi oleh penyakit yang mematikan. Saya tahu kalau Pak Dokter


sedang mengambil jantungnya. Dan jantung itu juga terkontaminasi oleh suatu


prnyakit. Jika bapak mengambilnya. Organ tubuh wanita itu tidak sudah tercemar


banyak penyakit. Bukankah bapak lebih pandai ketimbnag saya?” tanya Sascha yang


sengaja mengerjai dokter itu.


“Siapa


tahu hatinya bisa kepake?” tanya Dokter itu.


“Hatinya


juga membusuk. Makanya wanita muda itu sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta,”


jelas Sascha yang membuat dokter itu sangat penasaran dengan siappa berbicara.


Mata


dokter muda itu menatap nanar tubuh wanita itu penuh dengan penyakit. Ia merasa


bersalah sekali sama pasien yang akan menerima donor beberapa tubuh dari wanita


tersebut.


Entah


kenapa tangis dokter itu pecah. Jujur selama bekerja disini si dokter itu tidak


pernah memeriksa keadaan manusia diambil organ tubuhnya.


“Lalu

__ADS_1


aku harus bagaimana?” tanya dokter itu yang tubuhnya beringsut jatuh ke lantai


sambil menangis karena meratapi kegagalan.


__ADS_2