
“Buka
saja,” suruh Dewa sembari mendekati Sascha.
sengaja membuka pimtu itu dengan pelan. Lalu ia tidak sengaja melihat ruangan
itu terang benderang. Matanya membulat sempurna. Di dalam sana ada suara orang
sedang meminta pisau. Ia mundur satu langkah dan membiarkan Dewa berjalan
terlebih dahulu.
“Kamu
jalan gih terlebih dahulu,” pinta Sascha.
“Kamu
kenapa?” tanya Dewa yang maju ke depan.
“Bau
darah,” jawab Sascha yang berkata jujur.
“Apa?’
pekik Dewa yang sengaja membuka pimtu itu.
Dewa
sengaja membuka pintu itu sambil melihat orang-orang yang memakai pakaian serba
putih. Mereka sedang membedah tubuh seseorang. Ia sadar kalau mereka membedah
orang tersebut tanpa prosedur kedokteran.
Dewa
memberikan sebuah kode buat para pengawalnya untuk segera mendekat. Sementara
itu mereka yang sedang melakukan pembedahan tidak memperdulikan siapa saja yang
datang. Mereka pikir yang datang adalah pemilik markas ini. Tidak
“Benar
dugaanku!” geram dewa dalam hati.
Para
pengawal segera mendekati Sascha. Ia membungkukkan badannya untuk segera
menerima perintah. Tak lama Daniel datang dengan membawa senjata AK 47. Ia
segera masuk tanpa harus menunggu perintah. Namun Sascha menggelengkan
kepalanya. Ia segera menarik baju Daniel agar segera mundur. Alhasil Daniel mundur sambil menatap Sascha.
“Ada
apa?” tanya Daniel.
“Pinjam
senjata kamu,” jawab Sascha sambil meminta senjata milik Daniel.
Dengan
suka hati Daniel memberikan senjata tersebut ke arah Sascha. Tak lama Sascha
meraihnya sambil tersenyum iblis. Tidak sengaja Dewa, Daniel dan para pengawal
langsung menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa sang Sascha
Herdiansyah lemah lembut berubah menjadi seorang iblis dalam hitungan detik.
“Biarkan
aku yang menhancurkan mereka dan menyanderanya,” ucap Sascha yang mendapat
anggukan dari mereka semuanya.
segera masuk dan menarik pelatuk otomatis senjata AK 47 itu. Hingga akhirnya
tidak bisa mengelak dan langsung merenggangkan nayawanya tanpa memberikan
sebuah pesan apapun.
Sementara
dokter yang masih asyik membedah seorang wanita muda tidak memperdulikan
kedatangan Sascha. Ia berharap dokter itu langsung mengenai jantung. Agar sang
dokter itu dengan mudah mengambil jantung tersebut.
“Rupanya
si dokter sialan ini tidak memperdulikan anggota timnya mati dengan konyol,”
__ADS_1
ucap Sascha dalam hati.
semakin kesal terhadap orang itu. Bahkan Sascha mendekatinya dan berkata,
“Pak... imi orang memiliki penyakit yang cukup serius.”
“Apa
maksudnya?” tanya dokter itu.
“Darahnya
sudah terkontaminasi oleh penyakit yang mematikan. Saya tahu kalau Pak Dokter
sedang mengambil jantungnya. Dan jantung itu juga terkontaminasi oleh suatu
prnyakit. Jika bapak mengambilnya. Organ tubuh wanita itu tidak sudah tercemar
banyak penyakit. Bukankah bapak lebih pandai ketimbnag saya?” tanya Sascha yang
sengaja mengerjai dokter itu.
“Siapa
tahu hatinya bisa kepake?” tanya Dokter itu.
“Hatinya
juga membusuk. Makanya wanita muda itu sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta,”
jelas Sascha yang membuat dokter itu sangat penasaran dengan siappa berbicara.
Mata
dokter muda itu menatap nanar tubuh wanita itu penuh dengan penyakit. Ia merasa
bersalah sekali sama pasien yang akan menerima donor beberapa tubuh dari wanita
tersebut.
Entah
kenapa tangis dokter itu pecah. Jujur selama bekerja disini si dokter itu tidak
pernah memeriksa keadaan manusia diambil organ tubuhnya.
“Lalu
aku harus bagaimana?” tanya dokter itu yang tubuhnya beringsut jatuh ke lantai
sambil menangis karena meratapi kegagalan.
“Buka
saja,” suruh Dewa sembari mendekati Sascha.
sengaja membuka pimtu itu dengan pelan. Lalu ia tidak sengaja melihat ruangan
itu terang benderang. Matanya membulat sempurna. Di dalam sana ada suara orang
sedang meminta pisau. Ia mundur satu langkah dan membiarkan Dewa berjalan
terlebih dahulu.
“Kamu
jalan gih terlebih dahulu,” pinta Sascha.
“Kamu
kenapa?” tanya Dewa yang maju ke depan.
“Bau
darah,” jawab Sascha yang berkata jujur.
“Apa?’
pekik Dewa yang sengaja membuka pimtu itu.
Dewa
sengaja membuka pintu itu sambil melihat orang-orang yang memakai pakaian serba
putih. Mereka sedang membedah tubuh seseorang. Ia sadar kalau mereka membedah
orang tersebut tanpa prosedur kedokteran.
Dewa
memberikan sebuah kode buat para pengawalnya untuk segera mendekat. Sementara
itu mereka yang sedang melakukan pembedahan tidak memperdulikan siapa saja yang
datang. Mereka pikir yang datang adalah pemilik markas ini. Tidak
“Benar
dugaanku!” geram dewa dalam hati.
__ADS_1
Para
pengawal segera mendekati Sascha. Ia membungkukkan badannya untuk segera
menerima perintah. Tak lama Daniel datang dengan membawa senjata AK 47. Ia
segera masuk tanpa harus menunggu perintah. Namun Sascha menggelengkan
kepalanya. Ia segera menarik baju Daniel agar segera mundur. Alhasil Daniel mundur sambil menatap Sascha.
“Ada
apa?” tanya Daniel.
“Pinjam
senjata kamu,” jawab Sascha sambil meminta senjata milik Daniel.
Dengan
suka hati Daniel memberikan senjata tersebut ke arah Sascha. Tak lama Sascha
meraihnya sambil tersenyum iblis. Tidak sengaja Dewa, Daniel dan para pengawal
langsung menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa sang Sascha
Herdiansyah lemah lembut berubah menjadi seorang iblis dalam hitungan detik.
“Biarkan
aku yang menhancurkan mereka dan menyanderanya,” ucap Sascha yang mendapat
anggukan dari mereka semuanya.
segera masuk dan menarik pelatuk otomatis senjata AK 47 itu. Hingga akhirnya
tidak bisa mengelak dan langsung merenggangkan nayawanya tanpa memberikan
sebuah pesan apapun.
Sementara
dokter yang masih asyik membedah seorang wanita muda tidak memperdulikan
kedatangan Sascha. Ia berharap dokter itu langsung mengenai jantung. Agar sang
dokter itu dengan mudah mengambil jantung tersebut.
“Rupanya
si dokter sialan ini tidak memperdulikan anggota timnya mati dengan konyol,”
ucap Sascha dalam hati.
semakin kesal terhadap orang itu. Bahkan Sascha mendekatinya dan berkata,
“Pak... imi orang memiliki penyakit yang cukup serius.”
“Apa
maksudnya?” tanya dokter itu.
“Darahnya
sudah terkontaminasi oleh penyakit yang mematikan. Saya tahu kalau Pak Dokter
sedang mengambil jantungnya. Dan jantung itu juga terkontaminasi oleh suatu
prnyakit. Jika bapak mengambilnya. Organ tubuh wanita itu tidak sudah tercemar
banyak penyakit. Bukankah bapak lebih pandai ketimbnag saya?” tanya Sascha yang
sengaja mengerjai dokter itu.
“Siapa
tahu hatinya bisa kepake?” tanya Dokter itu.
“Hatinya
juga membusuk. Makanya wanita muda itu sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta,”
jelas Sascha yang membuat dokter itu sangat penasaran dengan siappa berbicara.
Mata
dokter muda itu menatap nanar tubuh wanita itu penuh dengan penyakit. Ia merasa
bersalah sekali sama pasien yang akan menerima donor beberapa tubuh dari wanita
tersebut.
Entah
kenapa tangis dokter itu pecah. Jujur selama bekerja disini si dokter itu tidak
pernah memeriksa keadaan manusia diambil organ tubuhnya.
“Lalu
__ADS_1
aku harus bagaimana?” tanya dokter itu yang tubuhnya beringsut jatuh ke lantai
sambil menangis karena meratapi kegagalan.