Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TERBANG.


__ADS_3

"Jangan pernah menyerah sekalipun pada keadaan. Jika kamu menyerah, mereka akan bertepuk tangan dan merebut semua yang kamu punya. Nenek sudah tahu tabiat Cathy dan keluarganya itu. Entah kenapa nenek tidak akan pernah mengiklaskan perusahaan tersebut kepada mereka. Karena mereka memiliki sifat serakah yang ingin menguasai semuanya. Padahal dulu nenek sudah pernah memberikan satu perusahaan untuk dikelolanya. Namun mereka tidak pernah mengurusnya malah membuatnya bangkrut. Bagaimana jika mereka mengurus perusahaan sebesar Khans Company seperti itu?" tanya sang nenek.


"Apakah nenek pernah marah kepada papa?" Tanya Sascha.


"Nenek tidak pernah marah kepada papamu. Waktu itu memang kejadiannya sangat cepat sekali. Cathy sengaja menjebak mamamu agar nama perusahaan tercoreng. Tapi Tuhan mengirimkan seseorang untuk mengurus perusahaan keluarga. Awalnya papamu itu adalah pria brengsek. Lama kelamaan papamu jatuh cinta sama mamamu dan bersedia menggabungkan perusahaannya dan perusahaan kami menjadi satu. Memang sangat aneh sekali bagi semua orang. Papamu tertarik menciptakan oli untuk kendaraan. Sedangkan kami sengaja membuat perusahaan dengan sektor makanan kering. Tak apalah. Meskipun beda sektor, papamu berhasil membawa perusahaan kami menjadi sangat besar. Soal penculikan kamu nenek sudah tahu. Itu hanyalah akal-akalan Cathy dan juga Damar. Mereka sengaja membuangmu agar tidak memiliki ahli waris," jelas sang nenek.


"Yang menjadi pertanyaan, Kenapa mereka menyakiti hati keluargaku? Ditambah lagi dengan mereka ingin menguasai semuanya. Aku tidak jadi masalah Nek kalau mereka menginginkannya semua. Tapi bagaimana dengan para karyawan yang sudah mengabdi di perusahaan kita. Mereka akan menjadi pengangguran dan tidak bisa memiliki biaya untuk hidup. Inilah yang sedang aku pikirkan," tambah Sascha.


"Yang kamu katakan benar. Nenek tidak akan pernah mau merelakan perusahaan," jawab sang nenek.


"Aku harus mencari cara untuk melawan mereka," ucap Sascha.


"Tenanglah. Jangan kamu gegabah menyerang mereka. Bicarakan semua ini dengan suamimu itu. Suamimu seperti papamu yang memiliki sifat kuat untuk mempertahankan sesuatu," ujar sang nenek.


"Apakah nenek merestui aku bersama Kak Dewa?" tanya Sascha.


"Ya... Kalian sudah berjodoh semenjak kecil. Dewa adalah pria yang bertanggung jawab untuk melindungimu. Nenek harap kamu bahagia bersama Dewa," jawab Sascha.


Hampir tiga jam Sascha terbangun dari tidurnya. Dirinya melihat Dewa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kemudian Sascha melepaskan selimut itu dan duduk di samping sang suami.


"Baru saja aku bermimpi dengan nenekku.nenek menyuruhku untuk mempertahankan perusahaan miliknya. Katanya aku nggak boleh gegabah untuk melawan mereka. Jika aku gegabah sedikit kemungkinan mereka akan menyerangku dengan kasar," ucap Sascha dengan jujur.


"Itu benar. Ingatlah perkataan nenekmu adalah benar. Jika kamu gegabah sedikit mereka akan menyerangmu secara brutal. Kamu harus bersabar menghadapi mereka," jelas Dewa.


"Aku harus bagaimana?" tanya Sascha.


"Tenanglah. Jangan menyerah sedikitpun. Cepat atau lambat aku akan berkoordinasi dengan papa agar mendukung rencanaku," jawab Dewa sambil mengelus rambut lembut Sascha.


"Baiklah Kak aku setuju. Ternyata Mama sangat mirip sekali dengan nenek. Nenek juga adalah wanita yang lembut. Soal musibah yang menimpa mama, nenek sudah tahu. Begitu juga dengan penculikanku."


"Sebenarnya nenekmu sangat sayang sama kamu. Nenekmu itu sudah pernah mewariskan seluruh aset-asetnya ke kamu semua bukan kepada Cathy dan keluarganya itu. Makanya sampai sekarang nenekmu tidak akan pernah tenang di alam sana."


"Aku paham soal itu Kak. Jujur aku sangat sedih sekali mendengar nenek tidak bisa tenang."


"Kalau begitu nggak usah dipikirkan terlalu dalam. Jika sudah waktunya kemungkinan besar aku yang akan membantumu melemparkan seluruh musuh yang ingin menyerangmu."

__ADS_1


"Apakah kakak ingin membeli rumah?"


"Kata siapa aku membeli rumah?"


"Kata Kak Eric."


"Aku nggak akan membeli rumah."


"Lalu kenapa Kak Eric mengatakan Kak Dewa ke sini hanya membeli rumah?"


"Memang ahli waris diwajibkan memiliki rumah di mana-mana di setiap negara. Sedari dulu peraturan dari perusahaan keluarga memang seperti itu. Tapi aku nggak mau membeli rumah. Sudah cukup rumahku yang berada di Bekasi itu. Ditambah lagi dengan apartemen yang aku miliki di Amerika. Jujur aku sangat pusing memikirkan aset-aset seperti itu."


"Bukankah kamu memiliki hotel di setiap negara?"


"Ingat gitu loh. Kenapa juga Aku membeli rumah?"


"Nah itu dia. Bukankah kamu memiliki kamar pribadi yang berada di lantai atas yang tidak diperbolehkan para pengunjung masuk ke sana?"


"Itu benar. Makanya aku tidak ingin membeli rumah."


"Tidak. Rumah ini sudah cukup besar sekali. Di belakang rumah ini ada beberapa bangunan yang di mana dikhususkan untuk kami. Seharusnya aku tidur di belakang dengan bangunan yang bercat coklat itu. Tetapi kakek melarangku tidur di sana."


"Kenapa?"


"Karena kakek sangat menyayangimu. Semenjak kedatanganmu di pusat, Kakek sudah jatuh cinta kepadamu. Kakek ingin meminangmu menjadi seorang cucu. Tapi sayang."


"Sayangnya sudah keduluan menjadi istrimu."


"Kamu benar. Jujur saja sedari dulu aku ingin menjadikan kamu seorang Istri."


"Berarti kamu sengaja mengerjai kakek?"


"Ya iyalah. Aku memang sengaja menjadikanmu seorang Istri."


"Habis ini kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Pengen ke pusat males. Tapi kita harus ke sana."


"Aku sangat merindukan kantor pusat. Di sana aku mendapatkan reward. Tapi aku tidak pernah mengambilnya."


"Kenapa kamu tidak mengambilnya?"


"Aku memang sengaja tidak mengambilnya. Aku mengumpulkannya satu demi satu. Entah buat apa reward itu aku gunakan."


"Reward itu sengaja kakek berikan kepadamu. Agar kamu bisa ke sini. Jika berhubungan dengan pusat Aku selalu mengirimkanmu ke sana."


"Kenapa kamu tidak pernah mengirimkan orang lain?"


"Aku tidak pernah. Kakek marah dan tidak mau menerima laporan itu. Yang tambah lucunya lagi kakek marah-marah sama aku ditelepon."


"Ternyata oh ternyata ada udang di balik batu."


"Ya begitulah sifat kakek jika sudah jatuh cinta pada seseorang."


"Tapi tak apa. Aku di sini juga mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menguasai ilmu pebisnisan dari kakek. Kakek sengaja memberikannya kepadaku secara gratis."


"Hanya kamu yang beruntung bisa dekat dengan kakek. Seluruh orang-orang yang bekerja di pusat maupun cabang tidak bisa mendekatkan dirinya ke kakek."


"Kok bisa? Padahal aku adalah seorang wanita biasa."


"Kamu adalah wanita yang sangat istimewa. Meskipun dandananmu sederhana dan tidak mencolok. Kamu memiliki wajah yang sangat cantik. Hatimu juga sangat cantik sekali."


"Jangan terlalu memujiku seperti itu! Nanti kalau aku terbang bagaimana?"


"Kamu boleh terbang hari ini. Tapi aku minta sama kamu. Pulanglah nanti malam. Soalnya aku tidak mau tidur sendirian."


"Bagaimana bisa terbang? Kalau kamu memberikanku sebuah perintah yang tidak masuk akal."


"Kan bener. Kamu boleh terbang hari ini. Tapi nanti malam kamu harus kembali lagi. Tidur bersamaku dan berpelukan."


"Sama saja. Kalau begitu Aku tidak jadi terbang."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dewa sambil terkekeh.


__ADS_2