
Sascha meraih air mineral itu dan meminumnya hingga sisa setengah. Setelah itu Sascha memberikan air mineral itu ke Dewa, "Terima kasih."
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dewa.
"Aku baik-baik saja," jawab Sascha. "Dimana mama sama papa?"
Mata Sascha mulai mencari keberadaan Gerre dan Chloe. Namun Sascha tidak menemukannya sama sekali.
"Maksudnya Pak Andika dan Ibu NIrmala?" tanya Dewa yang tersenyum manis.
Sascha menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Dewa, "Bukan... Papa Gerre dan Mama Chloe."
"Mereka berada di luar bersama kedua orang tuaku." jawab Dewa yang bingung.
Sascha melihat Dewa yang bingung. Lalu Sascha menatap wajah Dewa sambil mengerutkan keningnya, "Kamu kenapa? Lalu bagaimana dengan kepalamu?"
"Kamu sangat aneh sekali. Sepertinya kamu mulai mengingat Papa Gerre dan Mama Chloe. Bukankah jika kamu bangun selalu menanyakan keberadaan Pak Andika?" tanya Dewa balik.
"Aku enggak aneh. Aku merindukan Papa dan Mamaku. Aku ingin bertemu mereka. Apakah aku salah?" tanya Sascha.
"Tidak. Kalau begitu aku akan panggilkan dokter sama kedua orang tuamu," jawab Dewa.
Melihat kepergian Dewa, Sascha menjadi bingung dengan Dewa. Sebenarnya sih ingatan Sascha sudah mulai kembali. Ketika membuka mata Sascha akan teringat senyum lembut Chloe. Sascha berharap bisa bertemu dengan Chloe dan bisa memeluknya. Akan tetapi Sascha malah bertemu dengan Dewa.
Saat keluar dari ruangan tersebut, Dewa melihat Tara dan Chloe sedang duduk di kursi tunggu. Dewa mendekati mereka sambil bertanya, "Apakah mama tidak istirahat?"
"Sudah bangun dari jam tiga tadi. Kami langsung saja kesini ingin melihat Sascha. Tapi kamu tadi terlelap tidur. Jadi mama memutuskan untuk menunggu disini," jawab Tara.
"Apakah Sascha sudah sadar?" tanya Chloe yang berharap Sascha sadar.
"Sascha sudah sadar dari tadi. Sascha ingin bertemu dengan mama Chloe," jawab Dewa. "Aku akan panggil Dokter Ming untuk memeriksa keadaan Sascha."
"Baik," balas Chloe yang menyunggingkan senyumnya.
Dewa segera meninggalkan mereka untuk memanggil Dokte Ming. Sementara kedua wanita paruh baya memutuskan untuk masuk melihat keadaan Sascha. Mereka mendekati Sascha sambil tersenyum.
"Sa," panggil Chile.
__ADS_1
Mata Sascha berbinar ketika melihat Chloe. Sascha berusaha bangun lalu merentangkan kedua tangannya sambil memanggil, "Mama."
Chloe tersenyum melihat Sascha yang menyambut kedatangan dirinya. Seketika Chloe berhambur memeluk Sascha, "Sa... Apakah kamu sudah mengingat nama?''
Tangis Sascha pecah seketika. Sascha sangat merindukan sang mama. Tiga belas tahun telah berlalu Sascha telah kehilangan sang mama yang telah melahirkan dirinya.
Tara yang melihat Sascha melepaskan rindu merasa terharu. Tara tidak menyangka kalau Sascha menemukan kembali ingatannya. Tara berharap Sascha akan kembali ke mansion Atmaja.
Tak lama datang Dewa datang bersama Dokter Ming. Namun sebelum dokter. Ming mendekat, dewa membuyarkan acara pelukan Mama dan anak itu. Chloe mundur beberapa langkah hanya demi memberikan ruang agar bisa memeriksa Sascha.
"Apa yang anda rasakan nona?" tanya Dokter Ming dengan serius.
"Aku merasakan kepalaku terasa ringan seperti kapas. Bahkan rasa sakitku hilang," jawab Sascha dengan ramah.
"Siapakah namamu nona?" tanya Dokter Ming.
"Namaku Aulia Atmaja," jawab Sascha. Tapi kenapa mereka memanggilku Sascha?"
Mereka tersenyu mendengar pertanyaan Sascha. Mereka saling memandang sambil menganggukan kepalanya. Lalu Dewa menjelaskan inti dari nama Sascha. Awal pertemuannnya hingga saat ini secara singkat. Dewa bercerita kalau Sascha memiliki keluarga yang telah merawatnya dan menyekolahkannya. Sascha akhirnya paham apa yang dijelaskan oleh Dewa. Setelah mendengar penjelasan dari Dewa, Dokter Ming akhirnya paham amnesia yang dialami oleh Sascha dan belum bisa menyimpulkannya secara langsung. Bahkan Dokter Ming kan mengobservasi Sascha hingga benar-benar pulih.
"Lakukanlah yang terbaik dok," sahut Chloe.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan usahakan secepatnya sampai hasil tesnya keluar," jawab Dokter Ming dengan sopan. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Silahkan dok," balas Dewa yang mengantarkan ke liuatr ruangan.
Kedua wanita itu akhirnya menjaga Sascha. Sedangkan Dewa masih berdiri di depan ruangan sascha. Dewa mengambil ponselnya sambil menghubungi Timothy untuk menghandle semua pekerjaannya beberapa hari ke depan. Dewa berharap Sascha tidak akan melupakannya.
Pagi yang cerah. Sascha sudah bersih dan rapi. Sascha telah dirawat oleh Chloe dengan penuh kasih sayang. Sascha sangat bahagia menerima kelembutan dari Chloe.
"Kamu tahu, pria yang sedang menunggumu semalaman adalah teman masa kecilmu." ucap Chloe.
"Bukannya pria yang semalam di dalam kamar adalah bosmu yang agak nyebelin itu. Namanya Pak Arie Dewantara," sahut Sascha.
"Nyebelin gimana?" tanya Chloe yang bingung.
"Karena dia sering memaksa," jawab Sascha.
__ADS_1
"Tidak seperti itu. Dia adalah pria yang sangat baik. Mama rasa kalian ada kecocokan satu sama lain dalam saling melengkapi," ujar Chloe dengan senyum yang merekah.
"Apakah mama setuju aku menikah dengan pria itu?" tanya Sascha. "Aku telah dipaksa untuk menikah dengannya."
Chloe menyunggingkan senyumnya sambil bersorak kegirangan. Namun Chloe bersedih tidak akan mengijinkan putrinya menikah dalam waktu dekat ini.
"Sepertinya kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Paling lama kamu akan menikah dengannya tiga tahun ke depan. Karena kamu harus tinggal sama mama papa," Jawa Chloe.
"Rasanya tidak mungkin. Pak Dewa ingin sekali menikah." kesal Sascha.
"Baguslah kalau begitu. Mama sudah tidak sabar ingin pensiun dari dunia entertainment. Mama ingin menghabiskan waktu bersama para cucu," ungkap Chloe yang membayangkan dirinya di kelilingi banyak cucu.
Di luar Dewa tidak sengaja mendengar apa yang didengar olehnya. Dewa sedikit kesal ketika Sascha menyebutkan pria yang menyebalkan dan pemaksa. Memang kenyataannya begitu Dewa adalah tipe pria yang menyebalkan dan pemaksa. Bahkan sikapnya sedikit angkuh menjadikannya sebagai pria arogan dan sombong. Ingin rasanya Dewa membawa Sascha ke kantor catatan sipil dan menyematkan cincin di jari manis Sascha itu. Memang gercep itu Dewa. Rasanya Dewa anakan segera menikahinya.
"Bisakah kamu minggir dari pintu itu? Aku mau lewat ingin melihat putriku!" geram Gerre.
Dewa menyunggingkan senyumnya sambil menatap wajah Gerre. Tanpa merasa bersalah Dewa menarik tangan Gerre untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Hey... lepaskan tanganku!" seru Gerre.
"Oh... tidak pa. Aku ingin mengajak papa sarapan," ucap Dewa yang sedang bahagia.
"Maksud kamu?" tanya Gerre.
"Ada yang harus kita bicarakan," jawab Dewa.
"Sakarepmulah. Untung saja kamu anaknya Devan. Kalau bukan anaknya Devan sudah aku tendang ke Sungai Brantas," rutuk Gerre.
Sesampainya di kantin mereka memesan sarapan pagi. Mereka duduk santai sambil menunggu kedatangan pesanannya tersebut.
"Katakanlah padaku! Apakah kamu memiliki senjata baru?" tanya Gerre.
"Bukan. Aku hanya meminta izin kepada papa. Sebentar lagi aku akan menikahi Sascha secara diam-diam. Tekadku sudah bulat untuk membahagiakan Sascha. Jika perlu hari ini aku akan menikahinya," ucap Dewa dengan mantap.
Gerre hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Gerre bingung harus menjawab apa. Gerre benar-benar harus membicarakan dengan serius.
"Aku tidak setuju dengan keputusamu itu!" geram Gerre.
__ADS_1