Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KETAKUTAN PAK DESTA.


__ADS_3

"Apakah itu benar?" bisik Dewa yang sangat terkejut dengan pernyataan Sascha.


Beberapa saat kemudian datang para pengawal Black Tiger yang memakai baju serba hitam. Di belakangnya ada Bryan, Bima, Leo dan Tommy. Mereka masuk dan menunggu perintah dari Dewa. Mereka menunduk dan berdiri tegak dan tidak bergerak.


"Segera geledah ruangan ini! Aku tidak mau terlewatkan begitu saja!" perintah Dewa dengan tegas.


Mereka tidak menjawab perintah dari Dewa. Mereka langsung bekerja untuk menggeledah ruangan itu.Barang sekecil apapun pasti digeledah dan dipegang oleh mereka.


Pak Desta yang melihat keadaan kantornya digeledah hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka kalau Dewa akan melakukannya. Ya... sedari dulu Pak Desta menganggap Dewa adalah seorang bocah ingusan. Yang dimana Pak Desta pernah meremehkan Dewa yang tidak bisa memimpin perusahaan.Namun nyatanya Dewa sangat hebat dan bisa membawa perusahaan ini menjadi besar dan terkenal hingga ke luar negeri.


"Kamu!" bentak Pak Desta yang menatap wajah Dewa dengan sinis.


"Kalau memanggil Pak Dewa jangan memakai kamu. Beliau adalah atasan bapak sendiri," jelas Sascha yang tidak ingin Pak Desta memanggil nama saja.


"Ternyata kamu masih hidup!" ejek Pak Desta yang membuat Sascha tersenyum sinis.


"Ada apa pak?" tanya Sascha yang mendekati Pak Desta lalu memutarinya.


"Bukankah kamu sudah meninggal karena kecelakaan tunggal di jalan xxx?" tanya Pak Desta yang menatap wajah Sascha.


"Meninggal? Oh.. iya aku belum cerita ke Pak Dewa dan para petinggi lainnya. Akau tidak menyangka kalau otak pembunuhan itu adalah rencana dari Pak Desta," jawab Sascha yang terkekeh sambil mengejek Pak Desta.


"Apakah itu benar rubah kecilku?" tanya Dewa yang penasaran dengan kasus pembunuhan itu.


"Ya itu benar. Aku sudah menyelidikinya setelah ada kejadian itu.Bukan aku yang mati. Melainkan anak kecil yang menjadi korban. Untungnya Pak polisi mengatakan kalau kecelakaan ini adalah kecelakaan laka.Yang dimana sang ibu tidak berhati-hati menjaga anaknya. Tapi aku curiga dengan itu semuanya. Masa iya sih kecelakaan murni? Lalu aku meminta Pak Leo untuk menyelidikinya. Ternyata bukan kecelakaan murni. Kecelakaan ini adalah kecelakaan yang disengaja oleh seseorang yang sudah dipesan Pak Desta untuk membunuhku. Setelah itu aku kembali ke pusat karena Pak Eric membutuhkan aku untuk menjadi asistennya," jelas Sascha yang berkata jujur di hadapan mereka.


"Apa?" pekik Pak Desta yang benar-benar terkejut apa yang dikatakan oleh Sascha.


"Itu benar Pak Desta. Kenyataannya memang begitu.Itu mobil yang aku pakai adalah mobil kantor ya pak. Bukan mobil pribadi. Sepertinya itu mobil yang sering dipakai oleh para petinggi perusahaan pusat. Yang ringsek hanya belakangnya saja," tambah Sascha yang membuat Pak Desta ketakutan.


"Pantas saja itu mobil enggak ada," celetuk Leo.


"Yang namanya ringsek mau bagaimana lagi. Aku sendiri yang menjualnya dengan kesepakatan dengan Pak Eric sama Pak Tommy," jelas Sascha. "Uangnya masuk ke dalam perusahaan pusat."

__ADS_1


"Kenapa kamu enggak memasukkan ke cabang Surabaya?" tanya Dewa yang menatap wajah Sascha.


"Karena aku tidak mau tersangkut masalah dengan Pka Desta. Aku enggak pengen tahu kalau Pak Desta mengetahui soal itu.Nanti aku dituduh sebagai pencuri," jawab Sascha yang mengetahui tabiat Pak Desta.


"Selama ini seluruh karyawan yang jujur banyak sekali yang dituduh sebagai pencuri. Mereka tidak melakukan pencurian di perusahaan ini. Melainkan Pak Desta mencuri semuanya. Pak Desta memang sengaja melakukannya demi menutup jejak langkahnya. Agar kalian tidak tahu dengan sepak terjangnya," tambah Sascha yang membuat pernyataan dengan jujur.


"Itu bohong!" teriak Pak Desta yang tidak mau dituduh sebagai pencuri.


"Dari mana saya bohong pak? Memangnya saya kalau bekerja tidur," tanya Sascha yang tidak ingin kalah.


"Kamu telah menuduhku sebagai pencuri. Kamulah yang pencuri!" bentak Pak Desta yang menunjuk Sascha.


"Marty!" teriak Sascha.


Marty yang sedang memeriksa seluruh dokumen terkejut dengan teriakan Sascha. Ia segera melepas semua pekerjaannya itu. Ia segera mendekati Sascha lalu menunduk, "Ada apa nyonya?"


"Tolong kamu geledah semua laci di bawah sini! Aku yakin semua bukti berada disini!" perintah Sascha dengan tegas.


Marty akhirnya menuruti apa perintah Sascha. Ia jongkok lalu membuka laci itu. Meskipun laci itu terkunci rapat, Marty dengan mudah membukanya, Ia memakai alat rahasia yang telah diciptakan oleh Dewa untuk membuka kunci apapun itu. selain itu juga alat itu bisa digunakan untuk mendeteksi kode. Secanggih apapun sistem keamanan dilapisi oleh kode, alat itu bisa membuka berangkas itu.


Sedangkan Pak Desta sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang namanya Sascha bukanlah gadis mudah ditipu. Ia juga menganggap remeh atas kemampuan Sascha. Namun sebenarnya tidak tahu siapa Sascha.


"Rubah kecil," panggil Dewa yang melambaikan tangannya. "Ngapain kamu di situ? Aku enggak mau kamu di situ."


"Aku masih menunggu Marty sedang membuka laci bawah.Aku sangat penasaran sekali apa yang berada di sana," jawab Sascha yang menatap laci itu sedang dibongkar.


Klik.


Terdengar suara dari bawah sana. Marty berhasil membuka brangkas itu tanpa susah payah bertanya tentang kode di sana. Ia membuka pintu itu lalu melihat banyaknya dokumen tersebut.


"Ambil semuanya saja. Aku memiliki firasat yang dimana semuanya adalah rekam jejak milik Pak Desta," jelas Sascha.


"Baik nyonya," balas Marty lalu mengambil satu persatu berkas-berkas itu.

__ADS_1


Sascha akhirnya pergi dari sana untuk bergabung dengan Dewa. Ia sangat bahagia sekali ketika mendapatkan banyak kejahatan Pak Desta. Memang sifat licik Gerre ini telah membuat Sascha berani membuat nyali PakDesta menciut.


"Oh... ya... Selamat Datang di Hutan Kematian adalah moto saya ketika telah berhasil menjebak musuh yang masuk ke dalam perangkap. Sedari awal bapak sudah tahu dengan slogan itu, Kenapa bapak tidak menghentikan kejahatan bapak hingga sekarang ini?' tanya Sascha yang sebenarnya kesal dengan Pak Desta.


Slogan itu memang terdengar hanya omongan belaka. Karena jarang ada yang melakukan kejahatan dengan tingkat parah seperti Pak Desta. Slogan itu sering dipakai di luar Indonesia.Karena Sascha adalah pasukan khusus yang sengaja ditugaskan oleh Kobe untuk membuat para petinggi atau siapapun yang melakukan kecurangan.


Selesai mendapatkan dokumen-dokumen tersebut, Sascha langsung tersenyum manis. Ia menatap Pak Desta dengan penuh sinis sambil meraih satu dokumen itu. Lalu ia membuka dokumen itu sambil membacanya dan menemukan banyak kejanggalan di dalam sana.


Sascha tahu kode apa yang digunakan oleh Pak Desta untuk membuat buta akan kode itu. Tapi Sascha tidak bodoh apa yang dibayangkan oleh Pak Desta.


"Coba bapak lihat!" tegas Sascha ke Dewa sambil menyodorkan dokumen itu ke arah Dewa.


"Apa itu?" tanya Dewa yang meraih dokumen itu dan membacanya.


"Pak Desta sengaja memakai huruf braille untuk menutupi kejahatan. Huruf itu sengaja ditujukan untuk orang yang tidak bisa melihat. Aku sering mempelajari huruf ini. Pada waktu itu aku memiliki seorang teman tidak bisa melihat," jelas Sascha yang membuat semuanya kagum kecuali Pak Desta ingin membunuhnya untuk saat ini juga.


"Baiklah... nanti kamu bersamaku memecahkan kode itu. Aku juga paham dengan kode itu," ucap Dewa yang menatap wajah Kobe.


Kobe yang ditatap seperti itu hanya bisa menghela nafasnya. Ia tahu sang keponakannya itu memberikan sebuah perintah hanya dengan tatapan matanya. Ia akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju untuk membantunya memecahkan semua kode seperti itu.


"Sepertinya kalau kita bekerja bertiga sepertinya itu tidak mungkin," celetuk Sascha sambil menatap wajah Leo dan lainnya. "Mengingat banyaknya dokumen sialan ini."


Mereka terkekeh karena melihat Sascha kesal terhadap dokumen itu. Mau tidak mau Dewa menyuruh para pengawalnya untuk ikut andil membantunya dan memecahkan apa saja yang berada di dokumen itu.


"Pak Desta," panggil Dewa dengan nada tegas.


Sedari tadui Pak Desta diam terkejut apa yang didengarnya itu. Ia tidak menyangka kalau Dewa memanggilnya dan membuatnya mengangkat wajah. Lalu Pak Desta menyahutinya dan berkata, "Iya pak."


"Tunggu aku mendapatkan semuanya!" tegas Dewa. "Jika bapak tidak melakukan semuanya, aku akan melepaskannya. Jika tidak, seluruh bukti akan aku serahkan ke aparat terkait untuk mengusut tuntas kejahatan bapak di perusahaan."


"Saya tidak mungkin melakukannya," jelas Pak Desta yang masih bergeming dengan lugasnya.


"Ini masih dalam pencarian siapa pelaku sebenarnya." ucap Sascha yang mengetahui Pak Desta mengelak.

__ADS_1


"Tunggu kisahnya pak," ujar Kobe.


"Kapan itu?" tanya Pak Desta yang sudah panas dingin.


__ADS_2