
"Ada apa memangnya?" tanya Dewa yang menoleh ke arah Sascha.
"Perusahaan papa Devan sedang diserang oleh orang tidak dikenal. saat ini Kak Timothy sedang mencari pelakunya," jawab Sascha.
"Ada-ada saja sih masalah di perusahaan se-elit ini. Ayo kita bangun dan berangkat menuju ke perusahaan," ajak Dewa.
"Sepertinya kakak harus diam di rumah deh. Biar aku saja yang melakukannya," ucap Sascha sambil menatap wajah Dewa.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah aku masih tampan seperti dulu lagi? Kalau aku tampan berarti aku masih muda dong?" tanya Dewa sambil narsis sedikit.
"Astaga kak Dewa ini. Sejak kapan Kak Dewa belajar narsis seperti itu. Kira-kira belajar dari mana ya? Kok aku jadi penasaran sekali," jawab Sascha sambil bertanya balik ke Dewa .
"Aku nggak belajar narsis. Aku memang tampan Sedari Dulu. Ayolah bangun! Kita akan pergi ke perusahaan pada pagi ini juga," ajak Dewa sambil beranjak berdiri menuju ke toilet.
Sementara di tempat lain, Devan baru saja mendapatkan laporan dari Timothy. Ia sangat terkejut sekali dan menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian Devan melihat sang istri sedang menumis sayuran.
__ADS_1
"Perusahaan tidak baik-baik saja. Perusahaan sedang goyah. Semalam ada yang menyerang Perusahaan kita secara besar-besaran," ucap Devan yang membuat cara menghentikan memasaknya terlebih dahulu.
"Sudah aku duga. Pasti ini rencananya nenek sihir. Kita menunggu Dewa saja bangun dari tidurnya. Aku nggak akan bisa mengajakmu keluar dari markas. Soalnya aku sendiri masih mengikuti perkembangan nenek sihir itu di dalam markas ini. Di sisi lain, Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan nenek sihir itu. Akan mencari kelemahannya terlebih dahulu setelah memasak buat kamu dan anak-anak," jelas Tara yang menebak apa yang telah terjadi selama ini.
"Kalau menurutku nenek sihir itu akan menghancurkan satu persatu yang membantu Gerre dan Aulia. Seperti contohnya saja keluarganya Leo. Terus Bima, Ian dan lainnya!" geram Devan.
"Memang sangat aneh sekali. Niat kita itu memang membantu Gerre. Kita itu sudah menjadi sahabat sejak lama banget. Kita nggak bisa memutuskan untuk meninggalkan mereka. Kalau kita kesusahan mereka langsung turun tangan tanpa harus berbicara apapun. Sama halnya dengan Aulia. Ketika hilang Aulia dapat berada di tangan yang benar. Almarhum Pak Andika maupun Bu Nirmala orangnya sangat baik sekali. Jadinya mereka bisa mengajari Aulia menjadi orang baik. Kamu mau kan di sini bersamaku?" tanya Tara.
"Ya sudah kalau itu keinginanmu. Aku akan menyerahkan perusahaan ini ke tangan dewa terlebih dahulu. Aku yakin mereka berdua bisa membereskan masalah ini,'' ucap Devan yang menyerah.
"Perusahaan sedang diserang orang yang tidak dikenal. Papa yakin yang menyerang perusahaan adalah nenek sihir itu," jelas Devan.
"Aku juga merasakan hal yang sama dengan papa. Punya aku harus turun tangan sendiri. Aku harus menghabisi nenek sihir saat ini juga. Kasihan mereka yang telah membantuku dihabisi secara perlahan. Yang lebih parahnya lagi si nenek sihir itu menyerang langsung ke mental. Aku nggak habis pikir dengan mereka semuanya," ucap Sascha penuh dengan keyakinan.
"Maafkan mama dan papamu ini. Kami tidak bisa keluar dari markas. Kami sedang menganalisa kejadian demi kejadian yang dilakukan oleh nenek sihir ini. Mulai dari awal hingga detik ini. Mama sudah mengumpulkan semua berkas-berkasnya," beber Tara.
__ADS_1
"Duh kalau mama sudah turun tangan habislah mereka semuanya," keluh Dewa yang mengetahui sifat kejam sang mamanya sendiri.
"Kamu kenapa mengeluh seperti itu? Bukankah kamu sudah tahu tentang kekejaman Mama seperti apa?" tanya Tara sambil menatap wajah sang putranya dan terkekeh.
"Memangnya Mama kejam ya?" tanya Sascha yang baru saja sadar.
"Kamu baru tahu ya. Sepertinya kamu harus belajar dari mamamu itu. Kamu harus menciptakan jiwa kejam di dalam tubuhmu itu. Kamu bisa menggunakannya dengan sebaik mungkin. Siapa tahu nanti kamu bisa menggunakannya dalam hal-hal seperti ini," saran Devan.
"Aulia itu memiliki jiwa malaikat. Pengen jadi kejam susahnya minta ampun. Aku sendiri sedang membentuk karakter iblis di dalam jiwanya Aulia," ucap Dewa.
"Masalahnya cuman satu saja. Kamu tahu masalahnya apa? Bisa saja Aulia menjadi kejam ketika ada waktunya," sahut Tara.
"Jiwa iblis datang ketika ada waktunya Kak. Kalau disuruh datang sekarang itu tidak akan mungkin bisa. Kalau dipaksa juga tidak bisa sama sekali. Nanti jika jiwanya rubah kecil masuk ke dalam tubuhku. Pasti deh rubah kecil akan muncul dengan sendirinya," ungkap Sascha yang membeberkan fakta dirinya sebenarnya.
"Waduh. Habislah aku setelah ini," keluh Dewa.
__ADS_1