Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SASCHA ADALAH KARTU AS DEWA.


__ADS_3

Memang Dewa selalu berkata jujur. Tapi ini kelewat jujur sama sang papa. Bisa-bisanya ia mengatakan kalau dirinya ingin memakan Sascha. Duh... sudah kebelet pengen nikah. Lalu Devan, Devan hanya menggelengkan kepalanya dan ingin melemparkan sang putra ke antah berantah. Namun dirinya tidak tega harus kehilangan putra tengilnya itu.


“Bisa enggak sih kamu kalau bicara disaring terlebih dahulu?” kesal Devan.


“Saringannya jebol papa,” jawab Dewa secara blak-blakan hingga membuat Devan semakin geram.


“Semoga Sascha tegar menghadapi kamu hingga akhir hayatnya,” kesal Devan.


“Amin,” teriak Kobe dengan tulus.


Selesai memasak Sascha menyuci semua peralatan memasaknya. Ketika menyuci Sascha mendengar perdebatan antara Devan, Dewa dan Kobe. Ia pun tersenyum manis melihat ketiga pria itu. Sejenak Sascha berpikir jika hidup bersama Dewa. Kemungkinan setiap hari Sascha akan tertawa secara terus menerus. Akan tetapi Sascha mengingat pertanyaan dari karyawan yang dimana Dewa memiliki image buruk. Hal itu memang berbanding balik dengan apa yang dilihat lalu dirasakannya. Namun Sascha tak ambil pusing mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari para karyawannya itu.


Selesai mencuci peralatan memasaknya, Sascha langsung keluar dan melihat ketiga pria itu santai dengan ponselnya masing-masing. Sascha mendekati mereka sambil menggelengkan kepalanya.


“Apakah kalian sibuk?” tanya Sascha.


“Apakah kamu sudah selesai memasak?” tanya Dewa balik.


“Sudah. Aku memasak sup ayam,” jawab Sascha.


“Apakah kamu tidak memasak sup ceker ayam?” tanya Dewa yang rindu akan masakan sup cakar ayam.


“Aku tidak memasak itu. Di kulkas hanya ada ayam fillet. Jika ada pasti aku akan memasaknya,” jawab Sascha.


“Ini bocah... sudah dimasakin sup daging ayam malah minta sup ceker,” keluh Devan.


“Nanti jika kita pergi ke Indonesia pasti aku memasak sup ceker itu," sahut Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.


"Memang itu pa makanan favoritku," ucap Dewa.


“Jika kamu enggak makan aku bobol ponselmu itu untuk membuat akun game kamu hilang!” ancam Sascha yang membuat Dewa kelabakan lalu membuang ponselnya itu.

__ADS_1


“Gawat! Kalo nyonya besar sudah marah,” keluh Dewa yang membuat Devan dan Kobe tertawa terbahak-bahak.


Selama ini Devan tidak tahu kalau Dewa takut Sascha. Tapi yang anehnya Dewa malah menuruti keinginan Sascha. Lalu bagaimana ketika pacaran sama Billi? Sascha tidak pernah berubah perhatian sama Dewa. Tapi Billi tidak memiliki umpan balik kepada Sascha. Ya... kita tahu jika tidak mendapat perhatian dari sang kekasih, maka sang cowok itu langsung cari perhatian dan cemburu atau juga protes.


“Benar-benar dech kalau Dewa sangat menurut keinginan kamu,” puji Devan.


“Kakak tahu kalau Saschalah orang pertama yang paling ditakuti,” celetuk Kobe.


“Sialan lu tepung Kobe! Bisa-bisanya kamu membuka kartu asku ke papa. Bakalan Sascha akan menjadi senjata yang ampuh buat meluluhkan aku,” kesal Dewa.


Semua orang berada di sana tertawa terbahak-bahak mendengar Dewa yang memiliki kartu as. Ya beginilah jika ketiga pria itu bertemu. Bahkan mereka suka membuat lawakan tidak jelas. Setelah itu mereka makan bersama.


POV 1.


Aku sudah mengenal Dewa sejak kecil. Aku tahu sifat-sifatnya Dewa mulai dari positif hingga negatif. Dewa memiliki sifat positif karena dirinya baik dan humble bagi orang yang mengenalnya. Sisi negatifnya dia adalah orang yang suaah ditebak. Jika marah maka Dewa melampiaskannya ke orang sekitarnya atau karyawannya. Salah sedikit saja semua terkena amukan. Meskipun aku adalah kartu Asnya, aku tetap tidak berani mendekatinya apalagi bertegur sapa. Untung saja aku tidak menjadi sekretarisnya atau asisten pribadinya. Lalu aku melihat sudut pandang yang dimiliki Eric. Eric adalah atasanku yang menaungi seluruh keuangan dalam dua perusahaan. Jika tidak mengenal Eric, maka orang berpendapat kalau dia adalah intorvert. Namun aslinya tidak. Eric adalah pria yang menyenangkan dan baik. Aku sudah mengenal Eric sejak di fotokopi sebelah sekolah. Ia adalah seorang penjaga di sana ketika belum bekerja. Di depan teman-teman sekolahku Eric adalah pria yang sangat asyik sekali.


Akan tetapi menurutku mereka memiliki nilai plus minus. Jujur aku tidak ingin membandingkan antara Dewa dan Eric, Aku tidak memilih mereka. Karena mereka memiliki keunikan masing-masing.


Ketika memasukkan suapan pertama dalam mulutnya, Devan merasakan sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Devan terdiam sambil menikmati makanannya tersebut. Sedangkan Dewa dan Kobe merasa khawatir dengan Devan. Karena Devan sangat sulit menerima makanan asing seperti ini. Lalu mereka berdua? Mereka sudah terbiasa dengan masakan Sascha. Bahkan Kobe sendiri ketagihan dengan masakan Sascha.


“Pa,” panggil Dewa.


Devan menatap tajam wajah Dewa karena tidak suka acara makannya diganggu, Tapi Devan tersenyum manis dan mengalihkan tatapannya itu ke arah Sascha. Devan menyunggingkan senyumnya sambil berkata, “Masakan ini sangat enak sekali. Kamu memasaknya memakai dengan resep tulus.”


“Terima kasih pa,” ucap Sascha dengan malu-malu.


“Kamu sangat pandai memasak,” puji Devan. “Aku yakin setelah Dewa menikah dengan kamu selama lima tahun kemudian. Dewa tidak akan memiliki perut six pack lagi.”


“Itu benar pa. Setelah kuliah dari sini aku sering mengunjungi Sascha di rumahnya. Aku hanya meminta sarapan dan makan siang. Hampir setahun aku telah kehilangan perut six pack,” celetuk Dewa.


“Bagus itu,. Berarti kamu berhasil merawat anakku menjadi besar,” kekeh Devan.

__ADS_1


“Bagus apanya? Aku malah diamuk Sascha karena terlalu banyak makan. Setelah itu diet dan nge-gym lagi untuk mengembalikan bentuk tubuhku seperti dulu,” ungkap Dewa.


“Kamu melarangnya?” tanya Devan.


“Iya pa... Aku enggak mengizinkan Kak Dewa berubah,” jawab Sascha dengan polos.


“Tapi kenapa ya Mas Kobe enggak bisa gemuk?” tanya Dewa.


“Mas Kobe segitu-gitu saja kalau makan banyak. Padahal Mas Kobe adalah seorang mereviuw  makanan di Jepang dan Asia. Bahkan Mas Kobe memiliki pengikut yang banyak,” jawab Sascha.


“Aku memang sedari dulu tubuhku mungil dan kecil. Bahkan ketika aku lahir berat tubuhku di bawah normal. Mama malah menangis karena aku tidak bisa hidup lama. Tapi Tuhan mengizinkan aku hidup sampai detik ini,” jawab Kobe.


“Tapi syukurlah paman selalu sehat terus,” ucap Sascha dengan tulus.


“Kapan-kapan mainlah ke Jepang. Ayako sangat merindukan kamu,” pinta Kobe.


“Entah... aku belum ada waktu luang. Aku ingin sekali main kesana,” sahut Sascha.


“Apakah mas Kobe sudah menikah?” tanya Dewa.


“Diundur hingga pergantian bangun,” jawab Kobe.


“Dihabiskan semuanya,” suruh Sascha.


“Oke,” balas mereka serempak.


Makan malam ini penuh dengan kehangatan. Devan sang pemilih makanan sangat cocok dengan menu dihidangkan oleh Sascha. Sementara Dewa dan Kobe sangat merindukan masa-masa seperti ini. Dahulu ketika makan bertiga, mereka sering bercerita dan berdebat yang tidak ada manfaatnya. Namun dengan adanya makan malam ini bisa mengeratkan hubungan persahabatan menjadi kental.


 


  

__ADS_1


__ADS_2