Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
IZIN DARI PAPA.


__ADS_3

POV 1.


Ketika aku sudah sampai di mansion milik mama. Aku teringat memori lama terbuka kembali. Kenangan masa kecil di mansion ini sangatlah indah. Aku merasakan kasih sayang dari mama dan papa. Disinilah aku bisa tersenyum, tertawa dan bernyanyi walau suaraku tidak seindah mama.


Papa mengajakku masuk ke dalam dengan hati bahagia. Aku tidak pernah melihat Papa sebahagia itu ketika berada di media. Sifatnya yang dingin sedingin salju membuat papa menjadi pria dingin dan arogan. Aku hanya mengatakan wajar jika papa menjadi dingin. Karena papa adalah pembisnis yang disegani.


Semenjak aku bekerja di D'Stars Inc aku sering mengintip papa melalui sosmed. Jujur saja aku sangat terpesona atas kepemimpinannya di perusahaan. Aku mulai menerapkan jiwa kepemimpinan di dalam hidupku. Aku bermimpi bisa menjadi seorang pemimpin di perusahaanku kelak.


Ketika memasuki mansion aku melihat para pelayan sedang berbaris. Aku melihat wajah mereka dan mengenalinya beberapa dari mereka. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka. Lalu papa memutuskan untuk pergi bersama kak Dewa. Kemudian mama mengajakku ke taman bunga. Aku langsung memeluk mama dan menangis.


Luruh sudah airmataku sekarang. Ternyata seluruh bunga yang di taman ini adalah bunga favoritku. Beberapa pelayan yang sudah mengenalku ternyata merawatnya. Mereka menggantinya ketika tanaman itu tidak berbunga. Aku meminta mama memanggil mereka semua. Mama pun menyanggupi permintaanku.


Aku melihat mereka yang sedang berdiri di depanku. Aku memeluk mereka dengan hangat sambil memanggilnya bibi. Mereka juga terharu karena rindu padaku. Aku tidak menyangka kalau mereka mendoakanku agar bisa kembali ke sini. Ternyata doa mereka terkabulkan.


Mama sangat senang melihat para pelayannya mulai tersenyum. Mereka sangat kehilanganku. Mama bersyukur aku bisa kembali ke tanah kelahiranku. Jujur saja aku memiliki darah Jerman. Aku dilahirkan di tanah ini. Selain itu juga aku memiliki darah Jawa dari sang papa. Papa juga blasteran Jepang, Jawa dan Finlandia. Namun papa didominasi oleh wajah Asia. Mata papa sipit tetapi memiliki bola mata abu-abu. Entah kenapa mataku sangat mirip sekali papa. Ah... Memang aku adalah anak papa.


"Nona Aulia," sapa kepala pelayan yang bernama Thomas.


Sascha membalikan badannya dengan tersenyum sumringah sambil mendekati Thomas, "Paman."


"Apakah nona ingin makan?" tanya Thomas dengan ramah.


Sascha menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Aku belum lapar paman. Nanti kalau sudah lapar aku akan laporan. Bagaimana kabar paman?"


"Saya baik nona. Syukurlah nona sudah kembali ke mansion ini. Kami sangat merindukan nona," ujar Thomas.


"Aku juga rindu pada paman dan para bibi di sini. Paman sudah banyak berubah. Apakah paman sudah menikah?" tanya Sascha.


"Sudah nona. Saya sudah memiliki dua orang putra yang masih kecil," jawab Thomas.


"Ah... Syukurlah. Semoga bahagia bersama keluarga kecilnya. Kapan-kapan ajaklah mereka kesini," ucap Sascha dengan lembut.


Thomas mengangguk bahagia, "Baiklah nona. Saya akan membawanya kesini. Kalau begitu saya kembali ke dapur."

__ADS_1


"Baiklah," balas Sascha.


Thomas akhirnya pergi dari sana. Sascha tersenyum bahagia melihat kepala pelayannya yang masih mengenalinya. Sascha belum paham kenapa jalan hidupnya begini. Sascha akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma," panggil Sascha mendekati Chloe.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Chloe.


"Apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Sascha balik.


"Apa itu?" tanya Chloe dengan mengerutkan keningnya.


"Aku ingin di taman ini disediakan tempat duduk seperti sofa dan meja atau juga kursi. Aku ingin belajar dan santai di sini," jawab Sascha dengan mata berbinar.


"Itu benar ma. Sascha sering sekali menghabiskan waktu di taman ketika belajar dan santai," sahut Dewa yang berada di ambang pintu.


Dewa paham betul tempat favorit Sascha. Dewa sering sekali berdiskusi, belajar dan bersantai bersama Sascha di taman. Kemudian Chloe menatap Sascha sambil tersenyum, "Kalau begitu mama akan membuatkan gazebo di tengah taman ini. Biar kamu bisa bersantai dan belajar di sini."


"Kak Dewa," pekik Sascha.


"Kamu dipanggil papa sebentar!" ajak Dewa.


"Ma... Aku tinggal dulu," pamit Sascha ke Chloe.


"Pergilah. Temui papamu terlebih dahulu. Mama akan mengatur gazebo di sini," suruh Chloe.


Sascha menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan mendekati Dewa, "Ada apa?"


"Ada yang ingin dibicarakan," jawab Dewa yang mengajaknya masuk ke dalam.


Sascha terlebih dahulu menuju ke atas. Sascha masih ingat dimana letak ruang kerja milik Gerre. Dewa hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata dalam hati, "Ternyata Auliaku sudah kembali. Terima kasih Tuhan... Engkau telah mengembalikan Auliaku."


Dewa bergegas menyusul sang kekasih ke atas lalu mengekori Sascha. Sesampainya di sana Sascha membuka pintu sambil melihat Gerre, "Papa."

__ADS_1


"Masuklah," pinta Gerre dengan lembut.


Sascha masuk ke dalam lalu mendekati Gerre. Begitu juga dengan Dewa masuk ke dalam. Mereka duduk menghadap ke arah Gerre.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Gerre kepada Sascha.


"Aku ingin melanjutkan sekolah lebih tinggi. Kemungkinan besar aku ikut bersama kak Dewa ke Amerika," jawab Sascha.


"Kalau begitu kalian menikahlah. Papa sudah memberikan kamu izin," ucap Gerre dengan tersenyum sumringah.


"Ah... Apakah aku akan menikah secepat ini?" tanya Sascha.


"Ya. Jika tidak menikah sekarang bisa dipastikan kalian akan melakukan yang tidak boleh dilakukan. Kamu akan satu apartemen bersama Dewa," jawab Gerre.


Sascha mengerti kenapa harus menikah secepatnya. Bukan karena Dewa sangat menginginkan Sascha. Dewa ingin melindungi Sascha dari Billi dan keluarganya. Cepat atau lambat Keluarga Billi akan menyerangnya. Ditambah lagi dengan bergabungnya Risa. Jika Dewa tidak cepat menikahi Sascha bisa dipastikan nyawa sang kekasih terancam.


Jakarta Indonesia.


Billi terbangun dari tidurnya sambil melihat ruangan yang remang-remang. Billi terkejut dan menatap ruangan kecil tersebut. Billi mulai mencoba menarik kedua tangannya. Namun ia tidak bisa melakukannya. Billi menatap tangannya yang terikat dengan rantai besi.


"Argh.... Kenapa tangan gue terikat? Gue berada di mana sih?" teriak Billi.


Kedua pengawal yang menjaga langsung melaporkan ke Jaya. Setelah mendapatkan laporan dari mereka, Jaya memutuskan untuk masuk ke dalam. Betapa bahagianya Jaya ketika melihat Billi.


"Hallo Billi," panggil Jaya.


Sontak saja Billi terkejut dua kali. Billi tidak menyangka bisa bertemu dengan Jaya Gunadi. Billi sangat menghindari Jaya karena memiliki hutang banyak. Billi hanya bisa terdiam untuk mencari cara agar kabur dari Jaya.


"Kaget ya lu?" tanya Jaya yang mendekati Billi. "Selama ini gue udah ngasih peringatan sama lu. Kalau lu harus bayar hutang. Tapi kenapa lu kabur?"


Billi hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Billi lupa dengan hutang-hutangnya itu. Selama Billi mendapatkan uang dari Sascha, Billi selalu menghabiskan tanpa sisa. Uang yang diperolehnya selalu dibuat membeli minuman keras yang harganya sangat mahal. Billi memang sangat menyukai minuman keras dari luar. Lalu apakah Sascha tahu? Tidak, Sascha tidak pernah tahu.


"Sekarang gue tanya kenapa lu enggak mau bayar hutang ke gue?" tanya Jaya dengan suara tegas.

__ADS_1


__ADS_2