Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BERTEMU DENGAN AMAR DAN LUCAS.


__ADS_3

"Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka,'' jawab Dewa.


"Jangan-jangan mereka tahu apa yang kita lakukan sekarang,'' ucap Sascha.


"Tidak penting bagi mereka. Ini perusahaan milik papa. Bukan milik mereka,'' ucap Dewa dengan datar.


"Kalau begitu mereka telah lancang untuk memasuki kawasan area!" kesal Sascha.


Sascha sangat serius memperhatikan mereka. Mata Sascha tidak lepas dari pandangan layar monito. Secara sadar Sascha melihat mereka yang menuju kesini. Sascha berteriak dengan kencang agar mereka kabur dari ruangan ini.


Saat mereka kabur Dewa, Gerre, Choi dan Devan lupa menarik Sascha. Sehingga Sascha masih berada di ruangan tersebut. Akhirnya Sascha memaki mereka dan membawanya wajah kesal.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seorang pria berkebangsaan India dan Perancis masuk ke dalam. Mereka menatap tajam Sascha seakan ingin melahapnya. Namun wajah Sascha tidak menunjukkan ketakutan melainkan kesal.


"Kamu siapa?" tanya pria bertubuh tambun itu.


Mata Sascha membelalak sempurna dan melihat mereka yang sudah di depan mata, "Tak tahu aku siapa.''


Sekenanya Sascha menjawab pertanyaan dari mereka. Karena Sascha masih kesal terhadap Dewa. Ditambah lagi Sascha diharapakan oleh dua orang yang menurutnya tidak tampan sama sekali.


"Kamu siapa!" bentak pria itu lagi.


"Kalau ngomong jangan membentak apa! Udah tahu aku lagi kesal ditinggal malah membentak!" bentak Sascha dengan nada tinggi.


"Maaf,'' ucap pria yang memakai kacamata itu. "Perkenalkan namaku Lucas pria tertampan di perusahaan ini.''


"Cih tampan. Masih tampan papaku,'' kesal Sascha dengan yang namanya Lucas yang penuh percaya diri.


"Terserahlah. Kalau ini kamu jangan pernah bilang tampan. Panggil dia Amar asli India,'' ucap Lucas yang tiba-tiba ramah.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" tanya Amar pria bertubuh tambun itu.


"Aku anak baru disini. Aku dipaksa lembur sama Tuan Devan,'' kesal Sascha yang mulai drama.


Sontak saja mereka terkejut terutama pada Amar. Tiba-tiba saja Amar mengingat kalau hari ini tidak ada penerimaan karyawan maupun magang. Namun Amat menaruh curiga terhadap Sascha. Sementara itu Sascha mulai paham akan situasi ini. Sascha akan pura-pura bodoh dengan semuanya.


"Kamu tahu penerimaan pegawai melalui saya!" tegas Amat.


"Ya... tahulah. Terus ada masalah ya! Oh... ya aku bukan pegawai tapi peserta magang yang mendapatkan tiket masuk dari Tuan Devan. Kata Tuan Devan aku tidak perlu susah-susah menghubungi bapak karena bapak sibuk bertemu dengan CEO Masters Corps,'' jawab Sascha dengan asal.


Entah kenapa Sascha menebak begitu saja tentang kegiatan Amar maupun Lucas. Sascha memang memiliki firasat kuat kalau mereka sering berhubungan dengan Theodore Yi. Seketika mereka terkejut dengan apa yang didengar mereka. Bagaimana mereka tahu kalau menemui Theodor Yi?


"Bagaimana kamu tahu kalau aku sering menemui Theodore Yi?" tanya Amar.


"Ya... tahulah. Aku memang menebak saja,'' jawab Sascha.


"Kamu bukan anak magang! Tapi kamu adalah mata-mata!" bentak Amar yang mulai emosi.


"Kamu menuduhku! Hey... bung! Aku memang anak magang! Kalau kamu menuduhku seperti itu aku pastikan hidupmu membusuk di penjara!" bentak Sascha yang tidak mau dituduh.


"Kalau bukan mata-mata kamu harus menunjukkan identitas dirimu!" geram Amar.


"Eh... sabar bos. Jangan marah-marah. Aku akan menunjukkan kartu idenditasku,'' jawab Sascha dengan mata menyalang.


Jujur saja Sascha masih memakai idenditas nama pemberian Ibu Nirmala. Sascha tidak mau membuka identitas aslinya karena nanti mereka akan kabur. Sascha mengambil kartu identitas dan kartu akses perusahaan. Tanpa disadari oleh Sascha, Devan memberikan kartu akses masuk perusahaan khusus. Yang dimana kartu itu khusus dimiliki oleh keluarga Devan. Memang benar apa adanya kalau Sascha adalah calon menantunya. Tapi Devan lebih enak menyebutnya sebagai putri kedua setelah Dewa.


Amar yang telah memperoleh kartu identitas dan kartu akses khusus itu sangat terkejut. Gadis yang berada di depannya adalah keluarga Devan. Amar tahu kalau kartu akses khusus itu yang berhak mengeluarkannya adalah Devan sendiri.


"Kamu siapanya Devan?" tanya Amar.


"Kalau ngomong yang sopan ya. Kalau kamu menyebut Devan saja itu tidak sopan. Bukannya kamu seorang manager HRD yang bisa menjaga atittude?" ucap Sascha.


"Itu bukan urusanmu!" bentak Akar.

__ADS_1


"Itu urusanku! Kamu itu harusnya memberikan contoh yang baik buat para peserta magang. Bukannya memprovokasi mereka untuk berani pada atasan,'' bentak Sascha.


Lucas hanya terdiam melihat perdebatan dengan Sascha. Menurut Lucas, Sascha itu sangat lucu sekali. Sangking lucunya Lucas terpesona pada pandangan pertama. Jujur saja Lucas jatuh cinta sama Sascha.


"Oh... Tuhan... kenapa gadis itu sangat lucu sekali? Aku jatuh cinta pandangan pertama!" batin Lucas.


"Apakah kamu keluarga Devan?" tanya Amar.


"Aku sudah bilang kalau memanggil Devan harus pakai Tuan. Kamu itu kurang sopan banget sih!" geram Sascha dengan nada ngegasnya.


"Apakah kamu adalah keluarga Tuan Devan?" tanya Amar yang malas memanggil Devan dengan sebutan tuan.


"Sepertinya kamu enggak ikhlas memanggil nama Devan memakai Tuan,'' ucap Sascha yang seperti menyelidiki Amar.


Amar sungguh stres debat dengan Sascha. Baru kali ini seumur hidupnya bertemu dengan perempuan gila. Ditambah lagi ketemunya malam hari. Bagi Amar kejadian ini sangat horor sekali. Kalau boleh memilih Amar akan bertemu dengan hantu ketimbang Sascha atau mantan pacarnya.


"Aku bukan keluarganya Tuan Devan,'' jawab Sascha. "Memangnya kenapa?"


"Kamu tahu ini kartu apa?" tanya Amar.


"Kartu akses keluar masuk perusahaan,'' jawab Sascha dengan mata berbinar.


"Dengerin baik-baik ya. Ini kartu akses yang khusus dipegang untuk keluarganya Tuan Devan. dan kartu ini sengaja dikeluarkan oleh Tuan Devan jika ada keluarganya yang datang,'' jelas Amar.


Sascha tersenyum sumringah dan berkata, "Wah... berarti aku sangat spesial sekali ya.''


Amar memberikan identitas dan kartu akses itu ke Sascha. Tanpa menaruh curiga mereka akhirnya membalikkan badan. Saat membalikkan badan Sascha tersenyum kemenangan. Untung saja Amar tidak memfoto dua kartu penting milik Sascha. Namun sebelum keluar Amar membalikkan badannya sambil bertanya, "Ada apa kamu disini?"


"Aku memang tidur disini karena tidak memiliki tempat penginapan,'' jawab Sascha dengan jujur.


Memang kali ini Sascha berkata jujur karena memakai idenditasnya lama. Jadi mereka tidak menaruh curiga sama sekali pada Sascha. Dan membiarkan tinggal disini. Setelah itu mereka melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan IT.


Beberapa saat kemudian Sascha melihat ada seseorang pria yang seperti pencuri mengikuti mereka. Sascha tahu kalau itu Dewa sang kekasih. Sascha hanya bisa mengembuskan nafasnya dan mulai berdoa. Agar Dewa mendapatkan perlindungan.

__ADS_1


"Hampir saja ketahuan,'' ucap Sascha dengan lirih.


"Hallo Sascha,'' panggil Devan dengan lembut.


__ADS_2