
*Ya aku memang mengajaknya masuk ke dalam rumah mode. Sebab Dita lebih terarah ke dunia fashion," jawab Sascha dengan serius.
"Baguslah kalau begitu. Kelak suatu hari nanti, Dita akan menjadi seorang desainer yang membuat orang terkagum-kagum," ucap Kobe sambil mendoakan Dita.
''Aku boleh ngajuin diri nggak?" tanya Ayako sambil menatap Dita.
"Apakah kakak juga membuat gambar-gambar desain baju sepertiku?" tanya Dita.
"Tidak. Kakak ingin mengajukan diri sebagai seorang model terkenal. Dan kamulah orangnya mendesain baju-bajuku kelak," jawab Ayako dengan serius.
"Kamu benar," sahur Kobe. "Kamu nggak perlu mematok harga tinggi. Harga keluarga saja sudah cukup."
"Memangnya ada ya harga keluarga?" tanya Dita.
"Ada. Nanti dibicarakan kalau rumah mode yang kamu bangun di Asia sudah jadi. Aku berharap kalian semuanya lancar untuk menjalani bisnis," jawab Kobe.
"Tapi aku nggak tahu entah kapan didirikannya rumah mode itu. Semuanya ini masih planning untuk kedepannya. Pokoknya setelah ini aku akan mengurus semua perusahaanku. Itulah kenapa aku belum bisa membuat rancangannya terlebih dahulu," ucap Sascha dengan sendu.
"Katanya kamu mau nyari Nasi Padang!" tanya Kobe.
"Mas kopi kok tahu kalau aku sudah nyari nasi padang?" tanya Sascha balik.
"Tahulah. Aku kan habis lihat statusnya Dita di ponsel," jawab Kobe yang mengambil kunci mobilnya di dalam kantong dan melemparkannya ke arah Sascha.
Dengan cepat Sascha menangkapnya. Ia segera mengajak Dita dan Ayako pergi ke rumah Padang. Sascha menelusuri jalan untuk menemukan Masakan Padang. Lalu Dita dan Ayako memandang ke arah luar. Mereka juga mencari keberadaan nasi Padang.
Mata Dita melihat masih saja memperhatikan warung demi warung ketika melewatinya. Ia juga terkadang menawarkan makanan sebagai alternatif lainnya. Namun Sascha dan Ayako tidak bergeming dan masih menuju ke warung Padang.
__ADS_1
Sementara itu Dewa masih merengek meminta mie rebus buatan Kobe. Mau tidak mau Kobe membuatkan mie rebus satu porsi saja. Dewa duduk di meja makan seperti anak kecil. Yang di mana anak kecil itu duduk anteng sambil menunggu ibunya yang selesai memasak.
"Kamu nggak cari istrimu?" tanya Kobe sambil memeriksa tekstur mie yang berada di panci.
"Biarkan saja. Jika ada istrimu, istriku lupa dengan aku," jawab Dewa dengan asal.
"Mereka sedang mencari Nasi Padang di daerah sini," ucap Kobe yang membalikkan badannya sambil memandang wajah Dewa.
"Biarkan saja. Sedari dulu istrimu kan suka punya nasi Padang," celetuk Dewa.
"Memang sih," sahut Kobe sedang meracik bumbu.
"Apa rencanamu kali ini bang?" tanya Dewa. "Apakah kamu akan keluar dari White Tiger?"
"Terpaksa aku keluar dari sana. Terpaksa aku harus bubarkan. Aku sudah berjanji pada istriku. Kalau aku harus meninggalkan dunia mafia. Jika tidak istriku akan marah kepadaku. Dan nggak ingin aku kenapa-napa," jawab Kobe yang memberikan badan untuk mematikan kompor.
"Kamu benar. Itulah yang dinamakan dengan fase yang buruk buatku. Terpaksa aku akan memberikan White Tiger untukmu. Aku harap kamu jangan membubarkannya. Aku ingin kamu menggabungkannya menjadi satu bersama Black Tiger," jawab Kobe yang meminta Dewa untuk menyatukan dua kekuatan menjadi satu.
"Nanti aku bicarakan pada mama. Enaknya bagaimana? Soalnya aku sendiri belum sepenuhnya memegang Black Tiger. Aku memegang Black Tiger bagian Asia saja," jelas Dewa.
"Kamu benar. Aku harap mamamu mengerti akan persoalan ini," sahut Kobe. "Lalu bagaimana dengan Cathy?"
"Masih membingungkan. Aku harap ada secercah harapan Untuk masalah ini. Jujur saja Aku muak dengan kelakuannya mereka. Firasat ku mengatakan Cathy memiliki rencana besar untuk menghabisi Sascha," jawab Dewa.
"Aku juga seperti itu. Lebih baik kamu tuntaskan saja masalah ini. Jika tidak masalah ini akan berlarut-larut hingga kamu memiliki anak dan cucu. Jika kamu harus membunuh maka lakukanlah. Soalnya dunia mafia adalah dunia yang memiliki hukum rimba sendiri. Bagi yang menyenggol atau membuat gesekan, mau tidak mau mereka harus mati di tanganmu. Ingatlah jadi orang kamu jangan terlalu baik. Karena kalau kamu terlalu baik. Mereka tidak akan terima dan membuat keluargamu hancur berantakan seperti keluarga Aulia," pesan Kobe.
"Bukankah jadi orang baik itu lebih bagus?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Memang bagus. Tapi seenggaknya kamu harus milih orang yang benar-benar tidak ingin memanfaatkan kebaikan kamu. Sudah aku berpesan itu saja," jawab Kobe.
Dewa mulai mencerna jawaban Kobe. Ia akhirnya paham dan menetap wajah pamannya itu. Kemudian Dewa menarik kesimpulan tentang keluarga Atmaja dan Sascha. yang di mana mereka berdua terperangkap oleh orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.
"Abang benar. Nggak seharusnya mereka menderita. Aku tahu keluarganya Aulia itu adalah keluarga dermawan. Tapi mereka hanya dimanfaatkan oleh sekelompok orang. Padahal keluarga Atmaja itu sangat tulus sekali jika menolong seseorang," ucap Dewa.
"Di dunia bisnis juga kamu harus berhati-hati. Banyak sekali kawan menjadi lawan hanya karena kesuksesan seseorang. Ingatkan juga Sascha agar terus berhati-hati untuk menghadapi banyak orang. Nggak semuanya orang yang dihadapi itu adalah orang baik. Mereka sering berkamuflase menjadi orang baik," tambah Kobe yang selesai membuatkan mie lalu menyodorkan ke arah Dewa. "Bila perlu kamu gembleng Sascha menjadi wanita tangguh."
"Baiklah akan aku lakukan permintaan Abang," jawab Dewa. "Lalu Abang bagaimana?"
"Bekerja seperti biasanya. ada juga pulang ke desa untuk mengurusi kebun keluarga. Itu tergantung pada istriku," jawab Kobe.
"Apakah Abang tidak ingin memegang perusahaan pusat?" tanya Dewa lagi.
"Aku nggak tertarik sama sekali. Dari usia remaja hingga detik ini aku selalu ditawarkan oleh papa untuk menduduki jabatan presiden direktur. Tapi aku tolak habis-habisan. Lebih baik aku menjadi pegawai saja dan menabung uang sebanyak-banyaknya. Setelah itu aku pensiun untuk tinggal di desa bersama istriku dan juga anak-anakku kelak," jelas Kobe yang membuat Dewa bertanya-tanya.
"Ada apa sebenarnya di perusahaan pusat itu?" tanya Dewa.
"Perusahaan pusat sedang tidak aman. Banyak sekali orang-orang yang ingin menduduki jabatan tertinggi hanya sebuah gengsi semata. Di sana juga banyak persaingan ketat dan saling menjatuhkan berbagai pihak. Bisa dikatakan perusahaan pusat lagi tidak aman untuk sekarang ini," Kobe membeberkan satu fakta yang di mana membuat Dewa tercengang.
"Apakah saat ini atau yang sudah sudah pernah terjadi?" tanya Dewa lagi.
Kobe menghempaskan bokongnya dan memandang wajah Dewa. Dengan terpaksa dirinya harus menceritakan semuanya. Ia tidak ingin menutup-nutupi apa yang telah terjadi di perusahaan pusat itu.
"Baiklah… kamu harus tahu semuanya," ucap Kobe.
"Ada apa sih Bang? Kok sepertinya abang menutup-nutupi masalah pusat ke aku. Padahal aku sendiri adalah calon CEO baru di sana," tanya Dewa yang benar-benar ingin mengetahui masalah sesungguhnya.
__ADS_1