
"Maaf... Aku sudah tidak mau gabung lagi dengan organisasi bahwa tanah manapun. Aku ingin sekali Hidup normaldan merasakan memiliki keluarga yang utuh tanpa harus ada peperangan dan pertumbuhan darah sekalipun," tolak Jaya.
"Nggak apa-apa. aku nggak akan maksa siapapun untuk masuk ke dalam. Aku hanya menawarkan saja. Jika masih tertarik Masuklah ke dalam organisasi gelapku. Jika kamu tidak tertarik aku tidak memaksamu," jelas Dewa yang tidak ingin memaksa Jaya masuk ke dalam organisasinya.
"Terima kasih. Kamu tidak memaksaku untuk hal-hal yang aneh," ujar Jaya sambil berterima kasih kepada Dewa.
"Aku tidak ingin memaksa kehendak orang lain hanya demi kepentinganku sendiri. Sebentar lagi kita akan sampai Tokyo. Lebih baik kita bersiap-siap terlebih dahulu agar tidak ketinggalan sama rombongan lainnya," balas Dewa.
Dewa segera mempersiapkan tasnya dan mengecek seluruh bawaannya. Untung saja Dewa menyelipkan senjata api di dalam tasnya itu. Tujuan utamanya adalah untuk memburu siapa itu Jayden.
Tepat jam sepuluh malam kereta Shinkansen telah berhenti di stasiun terakhir. Mereka segera turun dan dipandu oleh seseorang mengajak ke hotel. Namun Dewa menarik Sascha untuk tidak ikut bersama mereka. Dewa memisahkan diri dari rombongan sambil mengirim pesan ke anggota lainnya agar segera berkumpul di suatu tempat.
"Ada apa aku tidak boleh berkumpul sama mereka?" tanya Sascha.
"Ada yang harus aku beritahukan kepada kamu dan lainnya. Ini sangat penting sekali. Aku harap media tidak membesar-besarkan berita ini di rumah kakek Aoyama," jawab Dewa yang membuat sang istri tidak mengerti.
"Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti sama sekali," tanya Sascha lagi.
"Tunggu sebentar. Mereka akan segera ke sini. Apakah kamu mau makan?" tanya Dewa.
"Sepertinya aku harus mengisi perutku. Padahal tadi aku sudah makan," jawab Sascha.
"Memangnya kamu makan apa tadi? Perasaan kamu nggak makan apa-apa," tanya Dewa sambil menggenggam tangan kanan Sascha dan menciumnya.
"Makan roti yang diberikan oleh Mama. Kemungkinan besar aku akan diet. Biar terlihat ramping," jelas Sascha.
"Pakai diet segala. Giliran aku ajak ke mana. Ujung-ujungnya kamu meminta makan terlebih dahulu," ledek Dewa.
Beberapa saat kemudian Bima dan Tommy datang mendekati mereka. Lalu Dewa bertanya, "Kenapa kalian hanya berdua saja?"
"Kami disuruh bang Kobe untuk mewakili Black Tiger. Kita nggak mungkin bersama. Nanti kakek curiga kepada kami yang tiba-tiba saja menghilang semuanya," jawab Bima.
"Memangnya ada apa?" tanya Tommy yang penasaran sekali dengan Dewa.
__ADS_1
"Di mana Jaya?" tanya Dewa balik.
"Jaya sudah dalam satu rombongan bersama anak-anak lainnya," jawab Bima.
"Syukurlah... Orang itu tidak akan menghilang lagi," ucap Dewa.
"Kasihan Jaya. Kita harus membantunya dan tidak boleh membullynya," ujar Tommy yang mengetahui kisah Jaya dari Bima.
"Aku juga ingin membantu Jaya. Agar Jaya semakin jaya. Gara-gara keluarga sialan itu Jaya membuat keputusan gila," sergah Dewa.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Bima.
Dewa sedang mencari rumah makan yang sepi. Namun dirinya tidak menemukan sama sekali. Dengan terpaksa Dewa mencari tempat makan yang agak jauh dari area itu.
Setelah berjalan Dewa menemukan sebuah tempat makan yang baru saja sepi dari pengunjung. Kemudian dirinya mengajak istrinya dan lainnya masuk ke dalam.
"Lebih baik kita pesan terlebih dahulu.selesai makan nanti aku ceritakan, ada apa sebenarnya?" jelas Dewa.
Mereka menuruti apa kata Dewa. Lalu mereka pesan mie ramen agar dapat menghangatkan tubuhnya di saat musim dingin seperti ini. Untung saja tempat itu belum tutup dan masih segelintir orang sedang menikmati malam yang indah ini.
"Maksud kamu apa?" tanya Bima.
"Rumah kakek diserang. Harus berapa kali sih aku ngomong sama kalian ini. Masa nggak ngerti-ngerti juga. Kamu tahu kita berada di mana? Aku nggak berani ngomong keras. Banyak CCTV di ruangan ini," kesel Dewa.
Bima, Tommy dan Sascha mengangguk kepalanya karena paham apa yang dimaksud oleh Dewa. Mereka bertiga memandang Dewa secara bergantian.
"Jadi masalahnya apa?" tanya Bima.
"Aku sudah bersabar untuk mengejar Jayden. Sekarang aku mau minta bantuan kalian untuk melacak keberadaan Jayden," jawab Dewa sambil meminta mereka melacak keberadaan Jayden.
"Aku masih penasaran Siapa itu Jayden? Bisa-bisanya Jayden yang ingin menghabisi kakek Aoyama," kesel Tommy.
"Kamu pasti terkejut dengan apa yang aku katakan. Kamu tahu kan siapa suami Kinanti itu?" tanya Dewa sambil memberikan teka-teki agar mereka berpikir sejenak.
__ADS_1
"Bukankah suami Kinanti itu adalah Ricky?" tanya Sascha.
"Yang kamu katakan itu benar. Ternyata Ricky sedang menyamar menjadi Jayden untuk memuluskan misi kedua orang tuanya. Aku mendapatkan informasi itu dari Jaya. Dia mengatakan kalau Ricky itu memiliki dua identitas. Aku nggak tahu mana nama aslinya atau yang bukan yang sering dipakainya itu," jelas Dewa lagi yang membuat sang istri terkejut.
"Jadi selama ini Ricky telah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain?" tanya Sascha yang melacak keberadaan Ricky.
"Ya itu benar. Jika Jaya tidak memberitahukanku. Maka kita tidak bisa melacaknya," jawab Dewa.
"Apakah mereka sudah bercerai?" tanya Bima.
"Aku nggak tahu kabar Kinanti setelah bertemu dengan kedua orang tua asliku," jawab Sascha.
"Kalau begitu kamu lost contact sama Kinanti?" tanya Tommy.
"Aku akan jujur semuanya. Aku nggak pernah akur dengan Kinanti. Masalahnya Kinanti selalu menindasku," jawab Sascha dengan jujur. "Kabar terakhirnya adalah Kinanti masuk penjara gara-gara menjual anak gadis orang. Sudah itu saja."
"Kabar terakhirnya kami tahu," jelas Bima.
"Lalu setelah ini kita ngapain?" tanya Tommy.
"Sebentar... Aku masih melacak keberadaan Ricky. Kalian tenanglah jangan berisik terlebih dahulu. Aku harus berkonsentrasi untuk mendapatkan informasi tersebut," balas Sascha yang meminta mereka tidak berisik.
Dalam waktu sepuluh menit, Sascha menemukan di mana Ricky berada. Senyum manisnya membuat Dewa bergidik ngeri. Hanya Dewa yang tahu tentang senyuman manis sang istri.
"Aku tahu sekarang dia berada di mana," ucap Sascha.
"Berada di mana sekarang?" tanya Dewa.
"Sepertinya Ricky tahu di mana kakek Aoyama berada. Ia sedang menuju ke sini dan memburu sang kakak," jawab Sascha yang membuat tangan dewa mengepal kuat.
"Gawat kalau begini caranya. Bisa-bisa kakek dalam bahaya besar," ujar Dewa.
"Anak-anak masih ada yang berada di sana. Aku akan mengaktifkan pesan khusus dan menyebarkannya kepada mereka. Setelah itu aku akan menyuruh mereka untuk menjaga kakek," ujar Tommy yang mendapat persetujuan dari Dewa.
__ADS_1
Tommy segera mengaktifkan pesan itu dan mengirimkan sebuah kalimat untuk mereka. Selesai mengirimkan pesan tersebut, Tommy kembali tenang dan menunggu keputusan dari Dewa.
"Aku sudah mengirimkannya. Sekarang kita mau ngapain?" tanya Tommy.