Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENEMUI SESEORANG.


__ADS_3

"Memang benar apa yang dikatakan oleh kamu. Dewa memiliki pukulan yang tidak bisa dielak oleh banyak orang. Jika itu terjadi maka korbannya masuk ke rumah sakit. Dewa tidak mau sama sekali merawat orang tersebut jika sudah terjadi," jelas Bima.


"Ternyata sangat mengerikan tangannya itu," celetuk Sascha.


"Bukan mengerikan. Tapi lembut saat kamu pegang. Bahkan tangan kekar itu bisa membuat kamu nyaman ketika tidur," ucap Dewa dengan jujur.


"Sepertinya itu sangat mengasyikkan sekali. Rasanya aku ingin tidur kembali," ucap Sascha.


"Kamu itu ada-ada saja. Ya sudah kalau begitu. Pokoknya kamu harus menekan orang itu agar jujur kepada kita. Kalau tidak maka pisau Bima yang akan berbicara," perintah Dewa.


Setelah mendapatkan perintah mereka akhirnya paham. Sascha si rubah kecil akan membuat orang itu bertekuk lutut dan mengakui semuanya. Sedangkan Bima sudah tidak lama memiliki korban baru. Bima sendiri adalah seorang pria yang suka mengancam para korbannya.


Perjalanan menuju markas ke rumah orang tersebut sangatlah jauh. Sascha sangat bosan sekali di dalam mobil. Mengingat dirinya sedang mengandung, ia jaring jenuh berada di dalam mobil. Ia lebih memilih untuk berdiam diri di rumah.


Untung saja sang sopir bisa memotong jarak tersebut. Sang sopir tersebut memiliki pengalaman dan mengenal beberapa jalan yang akan dilaluinya itu. Tetapi Dewa berharap bisa menemukan si nenek sihir itu di jalanan. Namun dirinya tidak dapat menemukannya sama sekali.


"Kalau kita bertemu nenek sihir di sini apa yang harus kalian lakukan?" tanya Dewa.


"Pengen menganiayanya. Berhubung itu nenek-nenek, berita itu akan menjadi sangat viral. Seorang Playboy cap kakap tega menganiaya nenek-nenek di jalanan. Itu tidak mengasyikkan sama sekali. Bahkan orang-orang tersebut bisa saja membela si nenek-nenek. Padahal mereka tidak tahu masalahnya apa sebenarnya," jawab Bima.


"Kak Bima salah. Seharusnya Kak Bima mengajaknya masuk ke dalam mobil. Bilang saja sang supir mau ke mana. Terus Kak Bima bisa menganiaya si nenek sihir itu. Jadinya Kak Bima tidak menjadi bahan omongan untuk seluruh manusia yang berada di luar," jelas Sascha yang membuat Bima tersenyum.


"Kenapa nggak berpikirkan olehku? Kenapa aku harus mengeksekusi si nenek sihir tersebut di jalanan," tanya Bima.

__ADS_1


"Nah itu dia. Makanya Kak Bima harus mencari cara agar bia mengeksekusi nenek sihir tersebut," jawab Sascha.


"Iya kamu benar juga. Ketimbang viral dan dihujat para masyarakat," kata Sascha.


"Ternyata istriku sangat hebat sekali. Kenapa tidak terpikirkan olehku soal ini," sahut Dewa.


"Sangat cocok sekali menjadi seorang penasehat untuk kamu Wa," sambung Bima.


Beberapa saat kemudian sang sopir menoleh dan melihat Dewa. Ia berkata kalau sudah sampai ke tempat tujuan. Mereka memutuskan untuk turun dan terkejut kecuali Sascha.


"Tempat apa ini?" tanya Bima.


"Tempat dimana orang itu tinggal disini. Ini menurut informasi yang aku dapatkan," jawab Sascha.


"Hmmp... Ini sangat aneh sekali. Bahkan aku ingin sekali membunuhnya!" geram Bima yang ingin membunuhnya.


Mereka menuju ke pintu masuk. Sascha sangat terkejut sekali karena tempat ini sangat parah sekali. Bahkan dirinya sangat jijik sekali.


"Ini tempat sangat parah sekali. Aku tidak tahu apakah orang ini sangat malas sekali untuk membersihkan rumah ini," kesal Sascha yang tidak menyukai rumah kotor ini.


"Ya... memang sangat parah sekali. Jujur seumur-umur aku sering datang ke tempat seperti ini. Tapi aku tidak melihat tempat seperti ini yang kotor parah," keluh Bima.


Sascha mengetuk pintu dan menunggu orang tersebut keluar. Semenit dua menit tiga menit orang itu tidak keluar juga. Ia terpaksa mengetuk pintu itu sangat kencang sekali. Hingga orang tersebut membukakan pintu sambil menggerutu, "Bisakah kamu menunggu sampai esok hari?"

__ADS_1


"Rasanya menunggu kamu dalam sehari itu tidaklah mudah. Aku sangat merindukan kamu," ucap Bima yang menatap tajam pria itu.


"Hmmmp... kalian siapa?" tanya pria itu.


"Aku suruhan Anette," jawab Sascha dengan spontan.


"Masuklah ke dalam. Aku tidak bisa membicarakan hal ini di luar," jelas pria itu.


"Baiklah," ucap Sascha.


Mereka akhirnya masuk ke dalam dan melihat ruangan itu banyak kotoran sampah. Sascha dan Bima hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak mereka harus pergi ke tempat seperti ini.


"Kan sudah aku bilang. Kalau dokumen milik Khans Company itu baru saja diselesaikan. Pergantian nama sudah aku lakukan. Memangnya mudah apa yang dilakukan!" bentak pria itu.


Tiba-tiba saja Sascha sangat kesal terhadap orang itu. Ia segera mendekatinya dan mendorongnya ke tembok. Meskipun sedang hamil, Sascha bukanlah orang yang sangat lemah sekali. Ia memang semakin berani dan kuat untuk menghadapai sang musuh.


"Kamu bilang apa?" tanya Sascha.


"AKu hanya bilang pekerjaanku belum selesai," jawab pria itu.


"Pekerjaan apa?" tanya Sascha yang melepaskan pria itu.


"Masa kamu enggak tahu apa yang dikatakan oleh Anette?" tanya pria itu balik.

__ADS_1


"Mana aku tahu. Selama ini nenek sihir itu tidak pernah mengatakan sama aku," jawab Sascha dengan serius.


"Apakah itu benar? Bukannya kamu bernama Aulia?" tanya pria itu yang membenarkan pakaiannya.


__ADS_2