Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SANDERA.


__ADS_3

"Aneh bagaimana?" tanya David yang menahan amarahnya.


"Kamu itu aneh. Saking anehnya menuduhku sebagai benalu. Bayangkan saja sang pemilik perusahaan dituduh sebagai benalu di perusahaannya sendiri. Tapi yang mengucapkan benalu itu dia sendiri. Kamu berusaha untuk bermain licik ternyata. Hai David... Aku nggak akan pernah menyerah kepadamu. Aulia gadis yang kau buang sekarang menjadi liar. Aulia yang manja kepada orang tuanya. Sekarang berubah menjadi wanita kuat. Aulia yang selalu di pojokan oleh anak-anak para pegawai perusahaannya sendiri. Sekarang bisa menjatuhkan mental lawan dengan waktu sekejap. Sekarang kamu tahu kan siapa Aulia sebenarnya? Jangan pernah berpikiran untuk menjatuhkan Aulia Atmaja!" geram Sascha yang tidak terima dengan ucapan David.


David semakin tidak terima. Ia ingin memegang tangan Sascha lalu membantingnya. Dengan cepat wanita berparas cantik itu langsung menghindarinya. Entah kenapa Sascha memiliki teknik untuk menghindari orang dalam waktu beberapa detik. Padahal teknik ini sering dipakai oleh ketua mafia Black Tiger. Tanpa diduga Sascha segera mengeluarkan kekuatannya dan menarik baju David dari belakang. Seketika Sascha melemparkannya ke arah pria yang sedang berbaris memanjang. 


Hanya beberapa detik saja seluruh orang menghindar. Tentu saja tubuh David menghantam pintu kaca ruangan Dewa.


Pyaar!


Otomatis David langsung merasakan tubuhnya terkena serpihan kaca. Amarah Sascha memuncak drastis dalam waktu sekejap. Mata indahnya berubah menjadi merah seketika. Ia tidak mau jika sang suami di sandera begitu saja. Ia mulai menantang pria berbaju hitam itu pun satu persatu.


"Kalau kalian masih ingin menghirup udara pagi, menikmati kopi panas dan cemilan. Pergilah dari sini. Jika kalian tidak ingin itu semuanya. Maka bertarunglah denganku secara gentle. Aku tahu kalian adalah orang-orang yang dibayar oleh mereka," ucap Sascha dengan suara tegasnya.


Para pria itu langsung melemparkan senjatanya di lantai. Mereka langsung melipat lengan bajunya dan berhitung satu sampai tiga. Yang lebih herannya lagi, salah satu dari mereka berteriak memilih untuk kabur dari sini.


Melihat mereka kabur dari pandangannya, Sascha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mengapa ini terjadi? Mengapa mereka bisa pergi seenaknya saja? Padahal pesta pengrusakan properti di ruangan Dewa belum selesai.


Sascha melihat David yang sudah tidak berdaya lagi. Ia mendekati dan jongkok ke bawah. Sascha menggelengkan kepalanya sambil menarik rambut David.


"Kamu mau melawanku ya? Kamu ingin menghancurkan aku? kamu ingin memisahkan aku dari kedua orang tuaku lagi? Kamu ingin menduduki jabatan CEO? Aku bisa memberikannya. Tapi aku perlu tahu bagaimana kamu bekerja di perusahaanku? Dari matamu kamu menyembunyikan sesuatu. Dan aku akan mencari sesuatu itu apa? Jangan biarkan aku menjadi seorang rubah kecil. Camkan itu David! Oh ya... Soal Damar... Damar sudah tidak bisa aku lepaskan lagi. Begitu juga dengan Fatin. Yang katanya kamu mengakui bahwa Fatin itu anak buahmu. Tapi Fatin sudah berada di dalam penjara sana. Cepat atau lambat akan banyak korban yang melapor ke sana. Banyak sekali korban yang ditipu olehnya. Terus Cathy, Cathy juga sudah aku pegang di dalam genggamanku. Aku sengaja melepaskannya begitu saja. Aku belum ingin menangkapnya. Sekarang dia tidak bisa memiliki akses apapun. Karena akses itu sudah aku cabut," beber Sascha sambil menatap tajam ke mata David yang sudah terluka.


David sudah tidak bisa berbicara apapun. Banyak serpihan yang sudah menempel di tubuhnya. Entah kenapa Sascha memiliki tenaga yang begitu kuat. Amarahnya semakin menjadi ketika David tidak mau melepaskan Dewa begitu saja.

__ADS_1


"Seharusnya akulah yang mengambil keputusan. Kamu tidak berhak mencampuri keputusanku ini. Aku nggak kenal siapa kamu. Tapi kamu kenal aku. Aku akan di sini menunggu para pengawalku untuk menangkapmu," bisik Sascha yang melemparkan kepala David ke lantai.


Duakkkkkkkkkk!


Begitulah bunyi yang dihasilkan ketika kepala David menempel dengan kasar di lantai. Sascha meraih ponselnya dan menghubungi Marty.


Sebelum telepon itu tersambung, Sascha melihat beberapa rombongan yang mendekatinya.


"Aulia," panggil Gerre.


"Papa!" pekik Sascha. 


Jujur Sascha terkejut dan merubah dirinya menjadi anak manja. Ia berdiri sambil memeluk sang papa. Diam-diam Sascha mencium aroma maskulin dari tubuh Gerre. 


"Syukurlah... Kamu baik-baik saja," ucap Gerre sambil mengelus punggung Sascha.


"Perasaan Papa sedang berada di Amerika? Kok sekarang sudah berada di hadapanku?" tanya Sascha. 


"Urus itu Dewa dulu. Dewa sedang dalam bahaya besar. Di dalam ada musuh bebuyutannya," ucap Gerre yang membuat Sascha tersenyum sambil melepaskan pelukannya. 


Di dalam sana Dewa masih tidak dapat bergerak sama sekali. Sascha menatapnya dari kejauhan. Kemudian Devan meraih airsoftgun di belakang punggungnya. Lalu Devan menyodorkan ke arah Sascha, "Dia adalah musuh bebuyutan Dewa. Dia sering mengincar nyawanya. Jika ingin tahu, dia juga mengincar kursi CEO perusahaan."


"Ada tambahan lagi. Orang itu adalah dewan direksi dalam perusahaan. Dia memang sengaja menutup perusahaanmu dan menimbulkan demo di mana-mana," jelas Timothy.

__ADS_1


"Dewan direksi di perusahaan ku. Lalu dia adalah musuh bebuyutan suamiku sendiri. Dia juga menimbulkan demo di mana-mana," ucap Sascha yang masih belum mengerti akan keadaan ini.


"Dia memang musuh bebuyutan suami kamu. Terus dia kerjanya di Khans Company sebagai dewan direksi. Dia juga yang mengendalikan pabrik dan perusahaan tutup sampai sekarang. Terus pada karyawan juga demo. Lebih baik kamu bereskan saja dia. Jangan sampai bapak turun tangan dan membunuh orang itu!" gertak Gerre.


"Ya aku paham sekarang. Sepertinya dia ingin bermain denganku," ucap Sascha yang membuat mereka paham.


"Syukurlah kalau kamu mengerti. Kamu harus menyelesaikan masalah ini," suruh Devan sambil mendorong tubuh Sascha ke dalam.


Sascha diam-diam berfikir dan menatap ke belakang. Ia sadar jika para Papa sedang membuat rencana besar. Bisa-bisanya seorang anak perempuan disuruh menyelesaikan masalah di perusahaan.


"Hah berat juga jadi ahli waris Khans Company," celetuk Sascha. 


Gerre dan Devan bersama lainnya meninggalkan ruangan itu. Mereka berharap masalah ini cepat selesai. Yang jadi pertanyaannya adalah Kenapa mereka tidak turun tangan? Karena mereka sengaja melepaskan Sascha untuk belajar menghadapi masalah besar seperti ini. 


Apakah mereka adalah orang suruhan Devan atau Gerre? Bukan, mereka adalah benar-benar murni musuh bebuyutan Dewa. Memang ini sangat lucu bagi Sascha. Ia harus menghadapi mereka semuanya.


"Ya Tuhan... Cobaan apalagi ini?" kesal Sascha yang melihat Dewa tidak berkutik.


"Astaga! Kenapa ada istriku di sini?" tanya Dewa.


"Aku bukan istrimu tahu!" kesal Sascha sambil melihat Dewa.


"Janganlah kamu berbicara seperti itu. Jika kamu memiliki senjata api. Berikan kepadaku sekarang," ucap Dewa melalui hati nuraninya.

__ADS_1


"Tanda tangan ini semuanya!" suruh pria itu melihat ke Dewa dengan suara berat dan tegas.


__ADS_2